Share

Bab 5

Author: Nikhil
Dalam situasi seperti ini, sebenarnya tidak sepenuhnya salahku.

Berbaring di atas tubuh yang lembut dan harum seperti itu, dorongan di dalam hati benar-benar sulit dikendalikan. Dalam kondisi seperti ini, pria mana pun pasti akan sulit menahan diri.

Hanya saja sebelum tanganku benar-benar menyentuhnya, ekspresi Maya tiba-tiba berubah. Raut wajahnya langsung menjadi tegas. Tiba-tiba dia mengangkat tangan. Seiring terdengarnya suara keras, dia menampar wajahku.

Aku langsung terpaku. Aku menatap Maya dengan bingung karena benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Maya melirik ke arah pintu, lalu berbisik pelan, "Dasar bajingan! Kamu lupa apa yang kamu janjikan sebelumnya? Kita cuma suami istri secara status. Kamu nggak boleh menyentuhku. Kamu mau apa?"

Aku tentu saja ingat soal menjadi suami istri secara status.

"Tapi, kamu ...."

"Shh ...." Maya menaruh jari di depan bibirnya, lalu menunjuk ke arah luar pintu.

Tanpa sadar aku menoleh dan melirik. Seketika, aku langsung merasa bingung. Di bawah celah pintu, terlihat jelas bayangan hitam yang terpantul.

"Ibuku lagi menguping dari luar. Mengerti?" bisik Maya dengan suara sangat kecil.

Baru saat itu aku paham. Jadi, Maya sedang pura-pura untuk mengelabui ibunya?

"Um .... Aargh ...."

Tiba-tiba aku mendengar suara aneh dari mulut Maya. Ekspresiku langsung menjadi aneh. Aku menatap Maya sambil bertanya, "Kamu lagi apa?"

"Masa nggak tahu? Kalau nggak bersuara, gimana terlihat meyakinkan?" ucap Maya dengan wajah agak memerah.

"Padahal kamu sudah pernah punya suami, masa nggak paham hal begini? Siapa yang bakal percaya dengan suaramu ini? Bohongnya terlalu jelas," ucapku dengan kesal.

Suara yang Maya buat benar-benar terdengar kaku. Entah bagaimana menjelaskannya. Pokoknya, tanpa emosi sama sekali.

Siapa pun yang sudah berpengalaman pasti tahu itu palsu.

Seharusnya dengan pengalaman menikah beberapa kali sebelumnya, Maya pasti memahami hal seperti ini, 'kan?

Kemudian, aku melihat wajah Maya makin merah. Dia memelotot ke arahku. "Jadi, kamu sangat paham ya?"

"Tentu saja. Dulu aku terkenal bisa menguasai satu jalanan penuh wanita sendirian. Siapa sih yang nggak kenal julukanku sebagai Raja Penakluk Wanita?" kataku dengan bangga.

Tatapan Maya langsung penuh rasa meremehkan. Dia berdecak pelan sebelum memaki, "Dasar nggak tahu malu."

Setelah terdiam sejenak, Maya berucap, "Karena begitu berpengalaman, kamu saja yang lakukan."

Aku mengangguk puas, lalu menyuruh Maya berbalik dan tengkurap.

Maya terlihat agak enggan, tapi tetap mengikuti. Wanita itu berbalik dan tengkurap di atas ranjang.

Aku lalu mengangkat tanganku dan menepuk pantat Maya yang montok. Suara keras sontak terdengar.

"Aaargh ...."

Maya langsung mengangkat kepala dan menatapku marah. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa memukulku?"

"Suaramu tadi sudah cukup meyakinkan, pasti bisa mengelabui orang. Mau gimana lagi?" kataku seolah-olah wajar saja. Padahal sebenarnya hanya untuk membalas tamparan yang barusan kuterima.

Baru saja dipukul pantatnya, wajah Maya langsung memerah, jelas itu campuran malu dan marah. Namun, karena dia memang tidak berpengalaman soal hal seperti ini, dia malah mengira ucapanku benar. Itu membuat rasa tertekan di hatinya makin kuat.

"Kalau kamu? Nggak perlu bikin suara juga?" tanya Maya.

Aku berpikir sejenak, lalu membalas, "Cuma suara tadi jelas nggak cukup. Kalau mau terlihat meyakinkan, harus ada suara napas pria, juga suara ranjang yang bergerak. Tapi kalau cuma menepuk pantat doang, jelas nggak bakal cukup untuk menciptakan itu."

"Jadi harus gimana?" Maya benar-benar seperti gadis polos. Sepasang matanya membelalak ketika menatapku dan bertanya demikian.

"Harus begini," ucapku sambil langsung menindih tubuh Maya. Ranjang pun langsung bergoyang.

Dari mulut Maya, tanpa sadar keluar suara lembut.

Maya langsung berbalik menatapku dengan marah. Dia jelas tidak puas dengan tindakanku.

Akan tetapi karena khawatir orang di luar menyadari adanya kejanggalan, Maya tidak berani benar-benar meluapkan emosinya.

"Mau begitu atau nggak, terserah kamu. Aku juga nggak punya cara lain," ucapku sambil mengangkat bahu.

Dengan terpaksa, Maya hanya bisa mengangguk dan menahan rasa terhina.

Kalau dipikir-pikir, akting seperti ini memang tidak mudah.

Bukan cuma harus pura-pura, tapi juga harus terlihat meyakinkan.

Mungkin karena merasa sangat tidak nyaman, Maya mengambil ponselnya dan mulai menekan-nekan layar, entah sedang mengobrol dengan siapa. Di sisi lain, dia juga berusaha mengeluarkan suara untuk menyesuaikan situasi.

Kedua tangannya yang tadinya menepuk untuk menciptakan suara pun menjadi makin pelan.

Alis Maya sedikit berkerut, lalu dia menoleh padaku sambil berbisik, "Eh, sudah cukup, 'kan?"

"Masih jauh. Aku bisa tahan lebih dari satu jam," jawabku.

Sayangnya, Maya tidak memberiku waktu selama itu. Setelah melirik sebentar dan melihat bayangan di depan pintu sudah menghilang, dia langsung berbalik dan menendang perutku. Hal itu membuatku jatuh dari ranjang.

Rasa jijik di wajah Maya sama sekali tidak disembunyikan. "Pria seperti kalian memang menjijikkan ...."

Perutku terasa sakit. Aku memegangi perut sambil berdiri.

Meski dia wanita, tendangannya barusan benar-benar kuat sampai wajahku sempat meringis.

"Pergi! Jauh-jauh sana! Jangan sampai aku lihat kamu lagi. Sungguh menjijikkan!" bentak Maya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Sementara itu, aku hanya bisa menahan amarah. Aku berjalan menuju lorong ke arah kamar mandi.

Aku ini cuma alat yang setelah dipakai akan langsung disingkirkan Maya. Mustahil aku bisa tidur di ranjang.

Lantai terasa dingin, jadi aku terpaksa mengambil handuk dari kamar mandi untuk membungkus tubuhku.

Sandiwara barusan memang sudah selesai dan masalah Maya teratasi sementara.

Namun, masalahku sendiri belum selesai.

Wanita itu benar-benar menyebalkan.

Sambil menggerutu dalam hati, saat itulah aku menyadari di dalam kamar mandi, tepatnya di keranjang pakaian, masih ada pakaian yang tadi dilepas Maya saat mandi. Sepasang stoking hitam tergantung di atasnya. Itu terlihat sangat mencolok.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aroma Sang Jelita   Bab 100

    Pelacur? Perempuan yang bisa ditiduri siapa saja?Kata-kata penuh hinaan seperti itu membuat wajahku langsung menjadi suram.Meskipun hinaan itu bukan ditujukan kepadaku, penghinaan terhadap Selena tetap membuat hatiku terasa tidak nyaman.Kenapa bisa begitu?Itu jelas tidak mungkin.Selena bukan gadis seperti itu.Aku memang belum lama mengenal Selena, mungkin juga aku belum terlalu memahami dirinya. Namun, naluriku mengatakan bahwa Selena bukan perempuan yang bisa disentuh siapa saja.Sebaliknya, bagiku Selena memberikan perasaan yang sangat murni, semurni kelopak bunga yang melayang tertiup angin.Kadang-kadang aku bisa melihat ekspresi kehilangan dan kesepian di wajah Selena, bahkan sedikit kemurungan.Kalau benar dia tipe perempuan yang sama sekali tidak peduli soal hal-hal seperti itu, seharusnya dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi seperti itu, 'kan?Masalah ini akan kuingat dalam hati. Setelah kembali ke kampus, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya aku

  • Aroma Sang Jelita   Bab 99

    Buset, memang tidak heran perempuan ya. Dalam hal seperti ini benar-benar memikirkan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Hanya saja, meskipun nanti saat tua bisa kendur, kalau bahkan kesempatan untuk kendur saja tidak punya, bukankah itu malah lebih menyedihkan?Tentu saja, semua itu hanya kupikirkan dalam hati, jelas tidak mungkin kuucapkan. Aku masih belum ingin mati.Setelah jeda sesaat, Gita melanjutkan, "Seksi, cantik, nilai bagus. Harusnya dia tipe perempuan sempurna. Meskipun gadis seperti itu biasanya membuat perempuan lain iri, mereka biasanya juga nggak akan menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi laki-laki, pasti seperti lalat yang terus mengerubungi Selena.""Tapi reputasi Selena justru sangat buruk. Bahkan di seluruh kampus, mungkin nggak ada satu orang pun yang benar-benar akrab dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.""Kenapa?""Karena jumlah pacarnya terlalu banyak.""Saking banyaknya, bahkan Selena sendiri juga mungkin nggak tahu sudah berapa.""Pada dasa

  • Aroma Sang Jelita   Bab 98

    Bersihkan leher mereka dan tunggu aku!Suara serak itu terdengar sangat dingin. Di mataku yang sedikit memerah bahkan terpancar sesuatu yang bisa disebut niat membunuh.Kali ini, aku benar-benar marah.Aku jelas bukan orang suci. Hal seperti membalas kebencian dengan kebaikan tidak mungkin terjadi padaku. Aku ini pendendam dan orang pendendam selalu membalas setiap dendam mereka, tidak peduli sekecil apa pun.Kalau sudah berani menyinggungku, bersiaplah menerima balasan seratus kali lipat. Aku akan membuat Lionel dan para idiot itu menyesal karena berani melawanku.Bahkan wajah Tandi langsung sedikit pucat melihat penampilanku. Meskipun niat membunuh itu bukan ditujukan padanya, dia tetap tak bisa menahan tubuhnya yang langsung gemetar, bahkan bulu kuduknya berdiri semua.Dia tersenyum kaku padaku, lalu meninggalkan ruang rawat bersama Nindy dan Selena. Sebelum pergi, Selena bahkan diam-diam melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan.Namun, gerakan itu langsung tertangkap oleh

  • Aroma Sang Jelita   Bab 97

    "Sudah jauh lebih baik ....""Dengar tuh, dia sudah jauh lebih baik. Kalau kalian nggak ada urusan lain, cepat pergi saja." Gita terus melambaikan tangan kecilnya sambil berkata tidak sabar.Sikap itu terlihat sangat tidak sopan, seolah-olah dia sangat memusuhi orang-orang di depannya. Lebih tepatnya, dia sangat memusuhi Selena.Sebaliknya, setelah mendengar perkataan itu, Nindy langsung menghela napas lega. Dia terlihat sangat senang. Gadis itu bahkan tidak berani menatapku secara langsung. Tatapannya kepadaku selalu dipenuhi rasa takut.Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, kalau langsung disuruh pergi memang rasanya tidak enak. Jadi, aku mengundang mereka masuk dan duduk sebentar. Mendengar itu, wajah Nindy langsung murung.Setelah duduk, Selena mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tas ranselnya dan bersiap menyerahkannya kepadaku."Kamu nggak masuk kelas, aku takut kamu ketinggalan pelajaran. Jadi aku rapikan catatan kelas ini untuk kamu. Kamu ....""Nggak perlu. Pelajarannya

  • Aroma Sang Jelita   Bab 96

    Setelah kejadian kali ini, jarak antara aku dan Gita juga sudah menghilang, hubungan kami berkembang pesat. Bagiku, Gita benar-benar sudah seperti keluargaku sendiri dan aku sama sekali tidak akan membiarkan Gita berada dalam bahaya.Kalau Lionel dan kelompoknya benar-benar berani datang mencari masalah, bahkan kalau harus mempertaruhkan segalanya, aku akan menghantamkan teko air panas di tanganku ini ke kepala mereka.Air di dalam teko ini baru saja direbus oleh Gita. Kalau benar-benar terkena, mungkin wajah orang itu akan langsung matang.Dengan wajah garang, aku langsung membuka pintu dan bergegas keluar.Namun, begitu sampai di luar, ekspresiku langsung berubah aneh.Situasinya ternyata sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kukira yang bertengkar dengan Gita adalah Lionel dan teman-temannya, tetapi setelah diperhatikan baik-baik, ternyata sama sekali bukan.Yang berdiri di depan Gita adalah tiga orang mahasiswa dan mereka terlihat cukup familier. Sepertinya mereka adalah teman sek

  • Aroma Sang Jelita   Bab 95

    Aku menatap punggung Amira yang semakin menjauh. Meskipun merasa agak memalukan, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya."Oh ya, Amira ... kakakmu mana?" Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung ingin menampar diriku sendiri. Ini sebenarnya apa sih?Siapa sangka setelah mendengar pertanyaanku, wajah Amira tiba-tiba membeku sesaat. Setelah tertawa kaku sebentar, tatapannya tanpa sadar menghindariku."Kamu juga tahu sendiri 'kan ... Kakak itu ketua yayasan, jadi pekerjaannya sangat sibuk. Dia harus pergi lebih awal.""Tapi Kakak juga menyuruhku bilang ke kamu supaya kamu istirahat yang baik. Soal lain nggak perlu khawatir, dia bilang semuanya akan dia urus." Amira berbicara dengan cepat."Sudah siang, aku harus pergi dulu. Nanti sore aku datang lagi." Setelah melambaikan tangan kepadaku, Amira pun meninggalkan ruang rawat. Aku pun tidak terlalu memikirkannya.Setelah adik iparku pergi, di ruang rawat hanya tinggal aku dan Gita.Aku melirik Gita. Mungkin karena kejadian tadi, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status