Share

Bab 4

Author: Nikhil
Dalam sekejap itu, aku dan Amira sama-sama terpaku dan saling menatap satu sama lain dengan ekspresi yang benar-benar datar.

Amira bahkan tidak sadar bahwa handuk yang dia pakai untuk mengeringkan rambutnya sudah jatuh ke lantai.

Amira .... Wanita itu ternyata adiknya Maya? Berarti, dia calon adik iparku?

Aku datang untuk menjadi menantu Maya, tapi sebelum bertemu dengannya, aku justru sudah melakukan hal seperti itu dengan adiknya?

Sementara itu, reaksi Amira juga tidak lebih baik. Tangannya sedikit gemetar, wajahnya memucat, dan ekspresinya terlihat tegang.

Maya mulai merasa ada yang tidak beres. Sepasang matanya yang tajam melihat kami berdua secara bergantian.

"Kalian berdua saling kenal?"

"Aku ...."

Aku baru saja membuka mulut dan hendak menjawab, tapi Amira yang berdiri di tangga langsung menyelaku. Wajahnya yang tadi penuh keterkejutan, sekarang berubah jadi penuh senyum manis. "Kami saling kenal kok."

"Nggak disangka, ternyata ini calon kakak iparku. Kita memang berjodoh ..." ucap Amira sambil menganggukkan kepala mungilnya dan tersenyum manis.

"Waktu di jalan, aku sempat diganggu tiga preman." Sorot mata Amira dipenuhi rasa senang. Dia berbicara sambil tersenyum, "Untung ada Kak Ervin yang menolongku dan mengusir mereka. Kalau nggak, aku pasti sudah dalam masalah."

Apa yang Amira katakan memang tidak salah, tapi dia menyembunyikan semua yang terjadi di antara kami.

Aku pun menatap Amira. Dia hanya melirikku sebentar, lalu segera mengalihkan pandangan.

Walaupun Amira berusaha terlihat biasa saja, rasanya tetap sedikit canggung.

Apakah Amira ingin menganggap semua itu tidak pernah terjadi?

Tanganku tanpa sadar mengepal.

Ada rasa tidak rela di dalam hati, tapi akhirnya aku melepaskan kepalan itu. Aku butuh uang.

Selain itu karena ini keputusan Amira, aku memilih untuk menghormatinya. Kalau dia ingin merahasiakan semuanya, biarlah tetap rahasia.

Kalau sampai terbongkar dan membuat keluarga ini hancur, mungkin itu juga bukan hal yang Amira inginkan.

"Oh, begitu ya." Terdengar suara Maya dan ibunya.

Tatapan mereka padaku terlihat cukup puas. Menyelamatkan Amira jelas menjadi nilai tambah di mata mereka.

Maya tidak memperpanjang masalah ini, lalu mulai memperkenalkan keluarganya.

Aku sudah mengenal Amira. Wanita yang tadi kukira kakak Maya, ternyata adalah ibu mereka yang bernama Nadya Pangarep. Selain itu, Maya juga punya anak perempuan berusia 17 tahun bernama Gita Pangarep, tapi saat ini dia tidak berada di rumah.

Gara-gara identitas Amira, pikiranku masih kacau. Aku merasa canggung dan tidak nyaman melakukan apa pun.

Hanya saja, reaksi ini tidak dianggap aneh oleh Maya dan Nadya. Mereka hanya mengira aku gugup karena berada di tempat baru dan akan menjadi menantu yang tinggal di rumah istrinya.

Tatapan Nadya padaku terlihat cukup puas. Seperti kata orang, ibu mertua biasanya makin lama akan makin menyukai menantu laki-lakinya.

"Hehe. Kak, kamu benar-benar dapat suami yang hebat. Waktu itu, Kak Ervin keren banget. Tiga preman langsung dikalahkan olehnya. Jago banget pokoknya," ucap Amira sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Dia terlihat sangat bersemangat.

"Kalau dia bukan calon kakak iparku, aku mungkin sudah ingin merebutnya," canda Amira.

Aku tahu Amira sengaja berkata begitu supaya suasana di antara kami tidak canggung dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Aku hanya bisa tersenyum canggung. Nadya yang berada di samping Amira pun menepuknya ringan. "Dasar anak nakal! Omong kosong apa yang kamu bicarakan?"

Amira terkekeh-kekeh. "Hehe. Aku nggak ganggu kalian lagi. Aku ngantuk, mau tidur dulu."

Usai berbicara, Amira berdiri dan bergegas berjalan ke atas. Namun saat menaiki tangga, entah karena fisik atau pikirannya, dia tiba-tiba tersandung.

Aku langsung menghampiri untuk membantunya berdiri, tapi Amira malah menepis tanganku dan berujar sambil tersenyum, "Jangan terlalu baik sama aku, nanti kakakku cemburu."

Amira memang berkata begitu, tapi di sepasang matanya yang jernih, aku sempat melihat sedikit rasa sedih dan sakit.

Kemudian, Amira buru-buru bangkit dan naik ke atas tanpa berani menatapku lagi.

Nadya juga berdiri dan meregangkan badan, lalu berkata sudah malam dan menyuruh kami beristirahat.

Maya mengatakan akan menyiapkan kamar untukku.

"Masih mau repot-repot menyiapkan kamar segala? Tinggal sekamar saja, nggak perlu seribet itu," kata Nadya.

Maya menggigit bibirnya. Dia tampaknya tidak bisa menolak ibunya, jadi akhirnya menurut.

Kamar Maya bernuansa merah muda. Kesannya seperti kamar seorang gadis.

"Sana mandi. Di lemari, ada baju tidur baru. Setelah mandi, tidur di ranjang dan tunggu aku." Begitu masuk kamar, karena sudah tidak ada orang lain, ekspresi Maya langsung kembali dingin.

Tubuhku sedikit gemetar dan ekspresiku sangat bingung. Bukannya Maya tidak mengizinkanku menyentuhnya? Kenapa sekarang malah menyuruhku menunggu di ranjang?

Jangan-jangan karena melihat aku yang begitu tampan dan berbadan kuat, hormon Maya jadi meningkat sampai sulit ditahan?

Dengan pikiran aneh seperti itu, aku masuk ke kamar mandi untuk mandi, lalu mengenakan set piama sutra yang jelas sangat mahal dan akhirnya berbaring di ranjang.

Di atas ranjang, masih tersisa aroma lembut. Sepertinya, itu wangi tubuh Maya. Harumnya menenangkan.

Sementara itu, Maya juga membawa piama dan pergi mandi. Mendengar suara air yang mengalir dari kamar mandi, dalam hatiku muncul dorongan ingin mengintip diam-diam. Aku sangat penasaran seperti apa tubuh di balik setelan formal itu.

Namun pada akhirnya, aku tidak punya keberanian itu. Kurasa, Maya pasti akan langsung mengusirku nantinya.

Tak lama kemudian, Maya pun selesai mandi. Dia keluar dengan mengenakan piama putih bersih.

Saat melihat penampilan Maya sekarang, jakunku sampai bergerak tanpa sadar.

Tubuhnya yang ramping terlihat samar-samar di balik kain tipis. Lehernya anggun dan panjang seperti angsa putih.

Bahkan di dalam kamar pun, auranya tetap elegan.

Hanya saja ketika melihatku, jelas ada rasa jijik di mata Maya.

Meski sangat tidak suka, Maya tetap menahan perasaan itu dan berbaring di sampingku.

Aku bisa mencium samar aroma harum dari dekat.

"Kemarilah, rebah di atasku," bisik Maya dengan nada dingin di telingaku.

Hmm?

Aku belum sempat mengerti maksudnya.

"Nggak dengar? Cepatan," ucap Maya lagi dengan suara rendah.

Dadaku terasa panas. Dorongan di dalam hatiku tidak bisa ditahan lagi. Aku langsung bergerak dan menindih tubuhnya. Gairah di dalam diriku seperti tersulut, sementara tanganku pun mulai bergerak ke arahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aroma Sang Jelita   Bab 100

    Pelacur? Perempuan yang bisa ditiduri siapa saja?Kata-kata penuh hinaan seperti itu membuat wajahku langsung menjadi suram.Meskipun hinaan itu bukan ditujukan kepadaku, penghinaan terhadap Selena tetap membuat hatiku terasa tidak nyaman.Kenapa bisa begitu?Itu jelas tidak mungkin.Selena bukan gadis seperti itu.Aku memang belum lama mengenal Selena, mungkin juga aku belum terlalu memahami dirinya. Namun, naluriku mengatakan bahwa Selena bukan perempuan yang bisa disentuh siapa saja.Sebaliknya, bagiku Selena memberikan perasaan yang sangat murni, semurni kelopak bunga yang melayang tertiup angin.Kadang-kadang aku bisa melihat ekspresi kehilangan dan kesepian di wajah Selena, bahkan sedikit kemurungan.Kalau benar dia tipe perempuan yang sama sekali tidak peduli soal hal-hal seperti itu, seharusnya dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi seperti itu, 'kan?Masalah ini akan kuingat dalam hati. Setelah kembali ke kampus, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya aku

  • Aroma Sang Jelita   Bab 99

    Buset, memang tidak heran perempuan ya. Dalam hal seperti ini benar-benar memikirkan jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Hanya saja, meskipun nanti saat tua bisa kendur, kalau bahkan kesempatan untuk kendur saja tidak punya, bukankah itu malah lebih menyedihkan?Tentu saja, semua itu hanya kupikirkan dalam hati, jelas tidak mungkin kuucapkan. Aku masih belum ingin mati.Setelah jeda sesaat, Gita melanjutkan, "Seksi, cantik, nilai bagus. Harusnya dia tipe perempuan sempurna. Meskipun gadis seperti itu biasanya membuat perempuan lain iri, mereka biasanya juga nggak akan menunjukkannya secara terang-terangan. Apalagi laki-laki, pasti seperti lalat yang terus mengerubungi Selena.""Tapi reputasi Selena justru sangat buruk. Bahkan di seluruh kampus, mungkin nggak ada satu orang pun yang benar-benar akrab dengannya, baik laki-laki maupun perempuan.""Kenapa?""Karena jumlah pacarnya terlalu banyak.""Saking banyaknya, bahkan Selena sendiri juga mungkin nggak tahu sudah berapa.""Pada dasa

  • Aroma Sang Jelita   Bab 98

    Bersihkan leher mereka dan tunggu aku!Suara serak itu terdengar sangat dingin. Di mataku yang sedikit memerah bahkan terpancar sesuatu yang bisa disebut niat membunuh.Kali ini, aku benar-benar marah.Aku jelas bukan orang suci. Hal seperti membalas kebencian dengan kebaikan tidak mungkin terjadi padaku. Aku ini pendendam dan orang pendendam selalu membalas setiap dendam mereka, tidak peduli sekecil apa pun.Kalau sudah berani menyinggungku, bersiaplah menerima balasan seratus kali lipat. Aku akan membuat Lionel dan para idiot itu menyesal karena berani melawanku.Bahkan wajah Tandi langsung sedikit pucat melihat penampilanku. Meskipun niat membunuh itu bukan ditujukan padanya, dia tetap tak bisa menahan tubuhnya yang langsung gemetar, bahkan bulu kuduknya berdiri semua.Dia tersenyum kaku padaku, lalu meninggalkan ruang rawat bersama Nindy dan Selena. Sebelum pergi, Selena bahkan diam-diam melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan.Namun, gerakan itu langsung tertangkap oleh

  • Aroma Sang Jelita   Bab 97

    "Sudah jauh lebih baik ....""Dengar tuh, dia sudah jauh lebih baik. Kalau kalian nggak ada urusan lain, cepat pergi saja." Gita terus melambaikan tangan kecilnya sambil berkata tidak sabar.Sikap itu terlihat sangat tidak sopan, seolah-olah dia sangat memusuhi orang-orang di depannya. Lebih tepatnya, dia sangat memusuhi Selena.Sebaliknya, setelah mendengar perkataan itu, Nindy langsung menghela napas lega. Dia terlihat sangat senang. Gadis itu bahkan tidak berani menatapku secara langsung. Tatapannya kepadaku selalu dipenuhi rasa takut.Mereka sudah jauh-jauh datang kemari, kalau langsung disuruh pergi memang rasanya tidak enak. Jadi, aku mengundang mereka masuk dan duduk sebentar. Mendengar itu, wajah Nindy langsung murung.Setelah duduk, Selena mengeluarkan beberapa lembar fotokopi dari tas ranselnya dan bersiap menyerahkannya kepadaku."Kamu nggak masuk kelas, aku takut kamu ketinggalan pelajaran. Jadi aku rapikan catatan kelas ini untuk kamu. Kamu ....""Nggak perlu. Pelajarannya

  • Aroma Sang Jelita   Bab 96

    Setelah kejadian kali ini, jarak antara aku dan Gita juga sudah menghilang, hubungan kami berkembang pesat. Bagiku, Gita benar-benar sudah seperti keluargaku sendiri dan aku sama sekali tidak akan membiarkan Gita berada dalam bahaya.Kalau Lionel dan kelompoknya benar-benar berani datang mencari masalah, bahkan kalau harus mempertaruhkan segalanya, aku akan menghantamkan teko air panas di tanganku ini ke kepala mereka.Air di dalam teko ini baru saja direbus oleh Gita. Kalau benar-benar terkena, mungkin wajah orang itu akan langsung matang.Dengan wajah garang, aku langsung membuka pintu dan bergegas keluar.Namun, begitu sampai di luar, ekspresiku langsung berubah aneh.Situasinya ternyata sedikit berbeda dari yang kubayangkan. Kukira yang bertengkar dengan Gita adalah Lionel dan teman-temannya, tetapi setelah diperhatikan baik-baik, ternyata sama sekali bukan.Yang berdiri di depan Gita adalah tiga orang mahasiswa dan mereka terlihat cukup familier. Sepertinya mereka adalah teman sek

  • Aroma Sang Jelita   Bab 95

    Aku menatap punggung Amira yang semakin menjauh. Meskipun merasa agak memalukan, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk bertanya."Oh ya, Amira ... kakakmu mana?" Begitu kata-kata itu keluar, aku langsung ingin menampar diriku sendiri. Ini sebenarnya apa sih?Siapa sangka setelah mendengar pertanyaanku, wajah Amira tiba-tiba membeku sesaat. Setelah tertawa kaku sebentar, tatapannya tanpa sadar menghindariku."Kamu juga tahu sendiri 'kan ... Kakak itu ketua yayasan, jadi pekerjaannya sangat sibuk. Dia harus pergi lebih awal.""Tapi Kakak juga menyuruhku bilang ke kamu supaya kamu istirahat yang baik. Soal lain nggak perlu khawatir, dia bilang semuanya akan dia urus." Amira berbicara dengan cepat."Sudah siang, aku harus pergi dulu. Nanti sore aku datang lagi." Setelah melambaikan tangan kepadaku, Amira pun meninggalkan ruang rawat. Aku pun tidak terlalu memikirkannya.Setelah adik iparku pergi, di ruang rawat hanya tinggal aku dan Gita.Aku melirik Gita. Mungkin karena kejadian tadi, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status