Share

Bab 3

Author: Erha
Aku berdiri tepat di belakangnya, menempelkan dadaku rapat-rapat pada punggungnya hingga tak menyisakan celah sedikit pun.

Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Satu tangan menekan perut bawahnya dengan kuat, sementara tangan yang lain tanpa ragu meraup kelembutan tubuhnya yang terbuka. Tanpa belas kasihan, aku menjepit ujung dadanya yang sudah menegang, meremas dan memainkannya.

Tubuhnya kembali bergetar, lebih liar dan tak terkendali dari sebelumnya. Tangannya tanpa sadar ingin menggenggam tanganku, tapi aku menekannya tanpa ampun, memeras ujung lembut itu. Dia pun menjerit, lalu terkulai lemas di pangkuanku. Tangannya tak lagi berani menghalangi setiap gerakanku.

“Rasakan aku, ikuti aku.”

Bibirku menempel di telinganya, berbisik perlahan, napas hangat menyusup ke telinganya.

Perlahan, dia mulai rileks, membiarkan dirinya sepenuhnya terkurung dalam pelukanku.

“Sekarang… kita bertukar napas.”

Aku menyuruhnya berbalik, hidung kami nyaris bersentuhan.

Tanganku menahan wajahnya, ibu jariku lembut menyentuh bibir bawahnya, memaksanya membuka sedikit mulut.

“Aku hembus, kamu hirup,” bisikku.

Aku menyeret napasku perlahan masuk ke dalam mulutnya, membiarkan keintiman itu mengalir di antara kami.

Matanya melebar tak percaya. Namun di bawah tatapan intimidasiku, dia tampak gemetar menerima invasi yang hampir menyerupai ciuman ini.

Udara di sekitar kami dipenuhi hembusan napas yang saling bertukar, terasa begitu intim sekaligus erotis.

Jariku bergerak turun, membuka kancing celananya.

Suara ritsleting meluncur jelas di keheningan.

Tanganku dengan kekuatan yang tak bisa ditolak, menembus pakaian, menyentuh area paling intim dan hangat itu.

Dia mendadak menekuk tubuhnya, mengeluarkan erangan yang pecah.

“Terus napas… jangan berhenti…”

Aku memberi perintah. Jariku menelusuri area terlarang yang mulai basah. Menekannya perlahan, merasakan getaran dan kelembapan yang semakin terasa.

“Lihat, tubuhmu jauh lebih jujur daripada mulutmu.”

“Tarik napas… lepaskan… rileks,” perintahku.

“Sekarang, cobalah meresponsku dengan napasmu. Aku menarik napas, kamu hembus napas. Napasku panjang, napasmu pendek. Lakukan bergantian seperti tarian tanpa suara... ya, seperti itu...”

Aku terus membimbingnya dengan suara yang menghipnotis.

Napas kami berbaur begitu dekat, saling melilit, maju mundur seolah-olah sedang melakukan simulasi foreplay.

Matanya perlahan kehilangan fokus, tertutup kabut tipis, bibirnya sedikit ternganga, menyingkap sedikit gigi putihnya.

Dia benar-benar larut dalam pusaran sensual yang kubangun.

Tanganku dengan berani bergerak perlahan dari perut ke bawah.

Jemariku melewati batas pinggang celana, seolah tanpa sengaja tenggelam ke bagian bawah perutnya yang lembut, mendekati area segitiga yang misterius itu.

Tubuhnya seketika menegang, napasnya benar-benar kacau.

Kami terjerat dalam posisi yang sangat ambigu di depan cermin. Lututku seolah tanpa sengaja menekan bagian bawah bokongnya yang kencang, membentuk sebuah pose yang samar menyerupai intimidasi.

Setiap tarikan napasnya, dia bisa merasakan ekspansi dadaku dan tekanan tanganku di pinggangnya.

Setiap hembusan napasnya, napas panasku menyapu sisi lehernya yang paling sensitif.

“Bayangkan aku ada di dalam tubuhmu.”

Aku menggunakan kata-kata paling gamblang untuk merangsangnya.

“Napasmu… harusnya naik turun selaras denganku.”

Kakinya mulai lemas, hampir harus bersandar padaku agar tetap tegak.

Di cermin, matanya terlihat sayu, wajahnya merona merah padam, benar-benar menunjukkan sosok yang tengah dilanda gairah.

Telapak tanganku memberikan tekanan yang lebih jelas di bawah perutnya, mengikuti ritme tertentu.

Saat sesi berakhir, tubuhnya terasa lemas, mata berkaca-kaca, hampir tak bisa berjalan sendiri.

Ketika dia hampir jatuh di pelukanku, aku menarik diri dan merapikan pakaian serta celananya. Gerakanku sangat tenang, seolah-olah aku hanyalah orang asing yang tak terlibat.

“Bagus, kamu sudah bisa bernapas dengan tubuhmu.”

Dia duduk lemas di sofa, tatapannya kosong, napasnya terengah-engah seperti ikan terlepas dari air.

“Pak… sesi berikutnya, apa... nggak akan ada lagi yang harus ditahan?”

Aku tersenyum.

“Kalau seperti itu… kamu yakin sanggup tahan?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 9

    Tak butuh waktu lama.Nama “Ganu” dan gelar “sang penempa it-girl” yang dulu kubanggakan, kini berubah dari legenda kota menjadi kata paling menjijikkan di seluruh media sosial hanya dalam waktu satu hari.Di dunia maya, foto-fotoku diedit menjadi berbagai bentuk penghinaan.Alamat kantorku tersebar.Pintu kaca kantor dicoret dengan cat merah bertuliskan: [Sampah].Semua mitra yang bekerja sama denganku segera mengumumkan pemutusan kontak, sibuk menjaga jarak dan membuat pernyataan resmi lebih menusuk dari sebelumnya.Di dalam sel, lewat pengacara dan beberapa menit singkat mengakses dunia luar, aku menyaksikan reputasiku hancur perlahan.Reputasi dan jaringan yang dulu kubangun untuk menjerat mangsa, kini menjadi jerat yang melilit leherku sendiri.Semua “pelajaran intim” yang dulu membuatku bergelora, kini justru berubah menjadi bukti yang membuatku terpaku di tiang gantungan.Aku meringkuk di sudut sel, mencoba menutup telinga dari dunia luar.Namun tajuk-tajuk berita, makian netize

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 8

    Kata “ditangkap” seketika membuat tubuhku membeku. Aku jatuh terduduk di sofa, napasku tercekat, tepat ketika pintu ruang wawancara dibuka didobrak paksa. Dua polisi berseragam masuk, wajah mereka tegas. Salah satunya mengeluarkan surat penahanan.Semuanya terjadi begitu cepat, begitu tidak nyata.Suasana yang baru saja diliputi kehangatan dan ketegangan menggoda, dalam sekejap berubah menjadi lokasi penyelidikan yang dingin.Viona Foxy, atau lebih tepatnya, Pengacara Viona sudah mengenakan kembali kardigannya, menutupi gaun tidurnya yang hampir membuat siapa pun hilang kendali. Dengan gerakan tenang yang menusuk, dia menyerahkan alat perekam kecil itu kepada polisi. Tatapannya tak lagi kosong atau linglung seperti sebelumnya.“Nggak mungkin…” Suaraku serak, kerongkonganku kering.“Kamu sudah tanda tangan kontrak! Kamu setuju ikut pelatihan atas kemauanmu sendiri!”Viona berbalik, mengambil map dari tas kerja yang selalu dia bawa. Di dalamnya ada salinan kontrak dokumen yang kususun d

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 7

    Aku hampir saja menendang pintu rumahku hingga terbuka.Aku mendekap Viona dalam pelukanku, membungkusnya rapat-rapat dengan jas yang kukenakan.Sejak di lift tadi, dia tak bisa diam. Tangannya terus menyentuh area terlarangku.“Pak Ganu... ini yang namanya murid lebih hebat dari guru.”Aku menghempaskannya ke ranjang. Belum sempat dia bangkit, aku sudah menindihnya kembali.Tangannya menjalar di sekujur tubuhku, menyulut api di mana-mana dan akhirnya terhenti di pinggangku.“Pak Ganu… cepat masuk.”Sulit untuk menolak, aku pun melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku seperti binatang buas yang terkurung, merobek sisa-sisa penghalang terakhir di antara tubuh kami dengan membabi buta.“Ah!”Ciuman dan gigitanku meninggalkan jejak merah di sekujur tubuhnya, tapi Viona justru tertawa. Dia mengundangku lebih agresif, sampai mengangkat pinggulnya.Dia menggunakan cara yang pernah kuajarkan padanya. Menciumku, membelai setiap jengkal tubuhku, bahkan... memuaskanku.Tiba-tiba dia bangkit

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 6

    Di hari kencan itu, aku sengaja menjemput Viona di apartemennya.Di dalam mobil, sudah kusiapkan hadiah dan buket bunga yang kupilih khusus untuknya.Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan ke arahku sambil memeluk tumpukan dokumen, tampak sedikit kewalahan. Namun, saat melihatku, senyum merekah di wajahnya.“Pak Ganu.”Demi kencan hari ini, dia sengaja mengenakan gaun hitam ketat yang membungkus lekuk tubuhnya.“Panggil Ganu saja. Untuk hari ini, aku adalah pacarmu.”“Setelah sesi ini berakhir, aku akan carikan pasangan yang cocok untukmu. Jadi... pelajari dengan baik, rasakan dengan sungguh-sungguh.”Aku tba-tiba mendekat.“Mulai sekarang, kerahkan seluruh kemampuanmu. Gunakan semua yang pernah kuajarkan padamu. Napas, ciuman, tatapan mata... pikat aku!”Viona mengangguk, suaranya sedikit gemetar. Pipinya merah merona, lalu dengan cepat dia mengecup pipiku.Meski hanya sentuhan sesingkat kilatan capung di atas air, tapi sikapnya yang malu-malu membuat tenggorokanku langsung menegang,

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 5

    Dia mengeluarkan erangan panjang, terdengar antara sakit dan kenikmatan yang luar biasa.Tubuh Viona mulai bergetar hebat, seolah mencapai puncak tertentu.“Lihat, bahkan di sini… kamu merindukanku.”Aku berbisik terengah-engah di telinganya, sementara jariku bergerak keluar-masuk dengan lambat di dalam zona rahasia yang sempit dan licin itu.Saat aku melepaskan diri, dia terkulai lemas di sofa. Tatapannya kosong, tampak seperti boneka yang sudah dimainkan habis-habisan.Dia perlahan duduk, merapikan pakaiannya yang berantakan, lalu tiba-tiba berbisik rendah, “Pak Ganu... teknikmu… luar biasa.”Viona lalu mendongakkan lehernya, menempel padaku seolah sedang mempersembahkan dirinya, memohon agar aku memberinya sebuah ciuman.Namun, aku menghentikan gerakanku.Aku duduk di kursi berlengan kulit yang besar dengan santai, penuh aura dominan seperti raja.Viona berdiri di depanku, mengenakan kemeja longgar yang pas menutupi tubuh sintalnya.Matanya kini telah ternoda sepenuhnya, menyimpan j

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 4

    Tiga hari kemudian, tiba saat yang telah dijanjikan.Aku membatalkan semua urusan dan menunggu Viona di kantor. Namun, sampai jam pulang, aku tak melihat kedatangannya.Aku meminta asisten untuk menghubunginya, tapi tak dapat tersambung.“Hari ini ‘kan Valentine’s day, mungkin dia lagi kencan sama pacarnya.”Ucapan asisten seakan membuatku disambar petir!Seolah ada kekuatan yang mendorong, aku mengikuti informasi pada formulir dan tiba di depan pintu rumah Viona.Ting tong!Tanpa ragu, aku menekan bel pintu. Entah sudah berapa lama berlalu, tetap tak ada jawaban.Tepat saat aku hendak berbalik dan pergi…Ceklek!Pintu di belakangku terbuka.Saat melihat Viona, dia hanya mengenakan sehelai handuk sambil berdiri di ambang pintu, menatapku dengan tatapan kosong.“Pak Ganu?”Pipinya merah padam, tubuhnya masih bau alkohol, terlihat jelas dia baru saja pulang berkencan.“Kamu terlambat, melanggar perintahku. Jadi... nggak ada gunanya lagi melanjutkan sesi pelatihan ini.”Aku sedikit kesal,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status