Share

Bab 2

Author: Erha
Aku kembali bertemu Viona Foxy tepat tiga malam kemudian. Saat itu, aku baru saja menyelesaikan satu sesi intens bersama klien. Ketika mengantarnya keluar, aku tak sengaja mendapati Viona tengah menungguku di depan pintu kantor.

Kondisinya sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Aku tak tahu sudah berapa lama dia menunggu di sini. Kemeja yang menempel basah di tubuhnya tak bisa menutupi kulitnya yang pucat dan gemetar, juga bra hitam berenda yang begitu menggoda.

Pandanganku sempat terhenti di dadanya, dan dalam sekejap, aku merasakan getaran halus di tubuhnya. Namun kali ini, dia tak menghindar. Justru sedikit membusungkan dada, menerima tatapan hangatku.

“Sekarang bukanlah waktu yang kita janjikan, Nona Viona.”

Aku pura-pura melangkah pergi, tapi tiba-tiba dia maju, mencengkeram bajuku.

“Pak Ganu, aku mohon. Aku nggak bisa menunggu lagi. Aku ingin cepat menguasainya.”

Aku pun berbalik, Viona menatapku. Matanya masih polos, tapi ada keteguhan baru yang terpancar. Viona memberitahuku bahwa dia sudah memiliki target yang harus ditaklukkan.

Mendengar perkataannya, hatiku langsung tenggelam. Kenikmatan yang baru saja kurasakan dari klien sebelumnya seketika berubah menjadi kehampaan.

Kalau pria pujaan yang dia maksud lebih dulu bergerak, bukankah usahaku akan sia-sia?

Ceklek!

Begitu masuk ke kantor, aku mengunci pintu rapat-rapat.

Cahaya lampu di ruangan redup, aroma keintiman sesi terakhir masih menggantung di udara. Aku duduk di satu-satunya sofa, menunjuk ke arah jendela. Sebuah jendela kaca besar menjulang, menghadap langsung ke jalan yang dipenuhi kendaraan dan hiruk-pikuk kota.

“Mendekat ke sini,” perintahku.

Orang-orang di bawah cukup mendongak ke atas untuk melihat semua yang ada di ruangan ini. Saat itu, Viona dan mereka hanya terhalang oleh tirai tipis.

“Lalu… ulangi dan tunjukkan padaku, apa yang kuajarkan waktu itu.”

Aku tak ragu sedikit pun, langsung menyuruhnya mengikuti instruksiku.

“Tapi…”

Aku tak sesabar sebelumnya. Kali ini, yang ada di benakku hanyalah gambaran dia menyukai orang lain. Apalagi dia sengaja ingin menampakkan diri. Nada suaraku terdengar sedikit marah.

Ini pertama kalinya ritmeku dikacaukan oleh seseorang yang bahkan belum berhasil kudapatkan. Itu semua karena dorongan kompetitifku yang muncul.

“Nona Viona! Aku nggak punya waktu berlama-lama denganmu. Kalau belum siap, kembali saja tiga hari lagi. Kamu...”

Kata-kataku belum selesai saat dia melempar tas kanvas di tangannya dan menendang sepatunya. Kedua tangannya sedikit gemetar saat membuka kancing pertama. Kemudian kancing kedua dan ketiga.

Kain basah menempel di tubuhnya, tak lagi seperti sebelumnya yang setengah menutupi, tapi justru jauh lebih menggoda. Tangan yang gemetar terhenti di kancing bawah dadanya, matanya yang bingung menatap mataku.

Namun, begitu menyadari dinginnya tatapanku, dia menahan permintaan tolong yang nyaris keluar dari bibirnya.

Dia mulai menyentuh wajahnya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar. Pandanganku mengikuti gerakan tangannya, melayang di sepanjang tubuhnya.

Hingga tangannya menyentuh dadanya sendiri. Jari-jari gemetar menekan ujung dadanya lewat kain, dia pun tak tahan lagi dan mengeluarkan desahan sumbang. Lututnya lemas, dia terduduk di lantai.

Aku menyaksikan semuanya, dan nada bicaraku justru berubah lembut.

“Kerja bagus! Sekarang, berdirilah, serahkan padaku.”

Bulu matanya yang basah bergetar, tubuhnya tampak lemah. Namun, dia tetap patuh, berdiri sesuai instruksiku. Aku bangkit, berjalan perlahan mengitari tubuhnya, sekali, dua kali.

Pakaian basah membalut tubuh indahnya, seolah memancarkan aroma yang khas yang memikat. Aku berhenti di belakangnya, begitu dekat hingga dadaku hampir menempel di punggungnya. Lewat doronganku di pinggulnya, dia bisa merasakan keintiman dan ketegangan yang ada di antara kami.

Sejenak, tubuhnya langsung menegang.

“Rileks.”

Satu tanganku perlahan menekan bahunya, merayap ke tulang selangka, dan akhirnya ke dada. Sementara tangan satunya, dengan gerakan mahir menyentuh kaitan bra-nya.

Klek!

Ikatannya langsung terlepas, menyingkap gelombang emosi di tubuhnya yang ingin keluar. Aku pun segera menyalurkan kedua tanganku, menangkupnya, dan meremasnya perlahan tapi tegas. Naik-turunnya dada terasa jelas meski terhalang kain tipis.

“Rasakan di sini… sumber napasmu. Tarik napas dalam-dalam, biarkan napasmu meresap ke dalam.”

Dia mencoba melakukannya, tapi napasnya tetap pendek dan cepat.

“Terlalu… sesak.”

Aku menunduk, mendekatkan bibirku ke telinga kanannya. Suaraku berbisik rendah, membiarkan napas menyapu lembut lekuk telinga dan sisi lehernya. Aku sengaja menahan satu kata, membiarkan pikirannya larut dalam imajinasi liar.

“Bayangkan kamu sedang berhadapan dengan pria yang membuat hatimu berdebar. Napasmu nggak boleh memperlihatkan kegugupan, tapi harus menjadi ajakan tanpa kata.”

Aku mencontohkan ritme pernapasan tenang dan dalam, naik-turunnya dadaku tersampaikan padanya melalui sentuhan halus. Tanganku meremas dadanya dengan lembut, membimbingnya untuk mengikuti ritmeku.

“Begini seharusnya… kamu menyukainya, bukan?”

Secara perlahan, tubuhnya larut dalam pelukanku, napasnya mulai selaras dengan ritmeku.

“Bagus.”

Tanganku melingkari bahunya dengan santai, sambil mendorong kemejanya setengah turun ke pinggang. Keringat tipis mulai menetes di pelipis Viona. Tubuh bagian atasnya yang berlekuk sempurna terbentang di hadapanku.

Putih, masih polos, tak pernah tersentuh siapa pun. Aku mengulurkan tangan, menjadi penjelajah pertama dari keindahan ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 9

    Tak butuh waktu lama.Nama “Ganu” dan gelar “sang penempa it-girl” yang dulu kubanggakan, kini berubah dari legenda kota menjadi kata paling menjijikkan di seluruh media sosial hanya dalam waktu satu hari.Di dunia maya, foto-fotoku diedit menjadi berbagai bentuk penghinaan.Alamat kantorku tersebar.Pintu kaca kantor dicoret dengan cat merah bertuliskan: [Sampah].Semua mitra yang bekerja sama denganku segera mengumumkan pemutusan kontak, sibuk menjaga jarak dan membuat pernyataan resmi lebih menusuk dari sebelumnya.Di dalam sel, lewat pengacara dan beberapa menit singkat mengakses dunia luar, aku menyaksikan reputasiku hancur perlahan.Reputasi dan jaringan yang dulu kubangun untuk menjerat mangsa, kini menjadi jerat yang melilit leherku sendiri.Semua “pelajaran intim” yang dulu membuatku bergelora, kini justru berubah menjadi bukti yang membuatku terpaku di tiang gantungan.Aku meringkuk di sudut sel, mencoba menutup telinga dari dunia luar.Namun tajuk-tajuk berita, makian netize

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 8

    Kata “ditangkap” seketika membuat tubuhku membeku. Aku jatuh terduduk di sofa, napasku tercekat, tepat ketika pintu ruang wawancara dibuka didobrak paksa. Dua polisi berseragam masuk, wajah mereka tegas. Salah satunya mengeluarkan surat penahanan.Semuanya terjadi begitu cepat, begitu tidak nyata.Suasana yang baru saja diliputi kehangatan dan ketegangan menggoda, dalam sekejap berubah menjadi lokasi penyelidikan yang dingin.Viona Foxy, atau lebih tepatnya, Pengacara Viona sudah mengenakan kembali kardigannya, menutupi gaun tidurnya yang hampir membuat siapa pun hilang kendali. Dengan gerakan tenang yang menusuk, dia menyerahkan alat perekam kecil itu kepada polisi. Tatapannya tak lagi kosong atau linglung seperti sebelumnya.“Nggak mungkin…” Suaraku serak, kerongkonganku kering.“Kamu sudah tanda tangan kontrak! Kamu setuju ikut pelatihan atas kemauanmu sendiri!”Viona berbalik, mengambil map dari tas kerja yang selalu dia bawa. Di dalamnya ada salinan kontrak dokumen yang kususun d

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 7

    Aku hampir saja menendang pintu rumahku hingga terbuka.Aku mendekap Viona dalam pelukanku, membungkusnya rapat-rapat dengan jas yang kukenakan.Sejak di lift tadi, dia tak bisa diam. Tangannya terus menyentuh area terlarangku.“Pak Ganu... ini yang namanya murid lebih hebat dari guru.”Aku menghempaskannya ke ranjang. Belum sempat dia bangkit, aku sudah menindihnya kembali.Tangannya menjalar di sekujur tubuhku, menyulut api di mana-mana dan akhirnya terhenti di pinggangku.“Pak Ganu… cepat masuk.”Sulit untuk menolak, aku pun melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku seperti binatang buas yang terkurung, merobek sisa-sisa penghalang terakhir di antara tubuh kami dengan membabi buta.“Ah!”Ciuman dan gigitanku meninggalkan jejak merah di sekujur tubuhnya, tapi Viona justru tertawa. Dia mengundangku lebih agresif, sampai mengangkat pinggulnya.Dia menggunakan cara yang pernah kuajarkan padanya. Menciumku, membelai setiap jengkal tubuhku, bahkan... memuaskanku.Tiba-tiba dia bangkit

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 6

    Di hari kencan itu, aku sengaja menjemput Viona di apartemennya.Di dalam mobil, sudah kusiapkan hadiah dan buket bunga yang kupilih khusus untuknya.Dari kejauhan, aku melihatnya berjalan ke arahku sambil memeluk tumpukan dokumen, tampak sedikit kewalahan. Namun, saat melihatku, senyum merekah di wajahnya.“Pak Ganu.”Demi kencan hari ini, dia sengaja mengenakan gaun hitam ketat yang membungkus lekuk tubuhnya.“Panggil Ganu saja. Untuk hari ini, aku adalah pacarmu.”“Setelah sesi ini berakhir, aku akan carikan pasangan yang cocok untukmu. Jadi... pelajari dengan baik, rasakan dengan sungguh-sungguh.”Aku tba-tiba mendekat.“Mulai sekarang, kerahkan seluruh kemampuanmu. Gunakan semua yang pernah kuajarkan padamu. Napas, ciuman, tatapan mata... pikat aku!”Viona mengangguk, suaranya sedikit gemetar. Pipinya merah merona, lalu dengan cepat dia mengecup pipiku.Meski hanya sentuhan sesingkat kilatan capung di atas air, tapi sikapnya yang malu-malu membuat tenggorokanku langsung menegang,

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 5

    Dia mengeluarkan erangan panjang, terdengar antara sakit dan kenikmatan yang luar biasa.Tubuh Viona mulai bergetar hebat, seolah mencapai puncak tertentu.“Lihat, bahkan di sini… kamu merindukanku.”Aku berbisik terengah-engah di telinganya, sementara jariku bergerak keluar-masuk dengan lambat di dalam zona rahasia yang sempit dan licin itu.Saat aku melepaskan diri, dia terkulai lemas di sofa. Tatapannya kosong, tampak seperti boneka yang sudah dimainkan habis-habisan.Dia perlahan duduk, merapikan pakaiannya yang berantakan, lalu tiba-tiba berbisik rendah, “Pak Ganu... teknikmu… luar biasa.”Viona lalu mendongakkan lehernya, menempel padaku seolah sedang mempersembahkan dirinya, memohon agar aku memberinya sebuah ciuman.Namun, aku menghentikan gerakanku.Aku duduk di kursi berlengan kulit yang besar dengan santai, penuh aura dominan seperti raja.Viona berdiri di depanku, mengenakan kemeja longgar yang pas menutupi tubuh sintalnya.Matanya kini telah ternoda sepenuhnya, menyimpan j

  • Arsitek Kecantikan Para Dewi   Bab 4

    Tiga hari kemudian, tiba saat yang telah dijanjikan.Aku membatalkan semua urusan dan menunggu Viona di kantor. Namun, sampai jam pulang, aku tak melihat kedatangannya.Aku meminta asisten untuk menghubunginya, tapi tak dapat tersambung.“Hari ini ‘kan Valentine’s day, mungkin dia lagi kencan sama pacarnya.”Ucapan asisten seakan membuatku disambar petir!Seolah ada kekuatan yang mendorong, aku mengikuti informasi pada formulir dan tiba di depan pintu rumah Viona.Ting tong!Tanpa ragu, aku menekan bel pintu. Entah sudah berapa lama berlalu, tetap tak ada jawaban.Tepat saat aku hendak berbalik dan pergi…Ceklek!Pintu di belakangku terbuka.Saat melihat Viona, dia hanya mengenakan sehelai handuk sambil berdiri di ambang pintu, menatapku dengan tatapan kosong.“Pak Ganu?”Pipinya merah padam, tubuhnya masih bau alkohol, terlihat jelas dia baru saja pulang berkencan.“Kamu terlambat, melanggar perintahku. Jadi... nggak ada gunanya lagi melanjutkan sesi pelatihan ini.”Aku sedikit kesal,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status