LOGIN
Pukul delapan tepat.
“Pak Leonard udah naik lift!”
Dalam beberapa detik, suasana kantor berubah seperti time-lapse: kemeja ditarik rapi, tumpukan kertas diratakan, gelas kopi disembunyikan, dan semua orang duduk tegap seolah tidak pernah bernapas sejak tadi.
Pintu kaca berlogo ATMADJA CORP. terbuka.
Sosok yang paling ditakuti sekaligus paling dikagumi itu masuk dengan aura dingin yang membuat AC kantor kalah telak.
Leonard Arman Atmadja.
Kemeja putihnya tersetrika sempurna, dasi hitamnya jatuh lurus, dan tatapannya—tajam, datar, menilai. Cara berjalannya membuat lantai seakan memberi ruang untuknya lewat.
Tidak ada yang menyapa.
Kecuali satu orang.
“Selamat pagi, Pak Leonard.”
Suara lembut itu datang dari sebelah kiri.
Alea Arananda—yang seluruh kantor kenal sebagai Ara, asisten pribadi sang CEO. Rambut coklatnya diikat rapi, make-up natural, kemeja pastel, dan clipboard di tangan. Tidak pernah telat. Tidak pernah salah. Tidak pernah terlihat goyah.
Ara berjalan di samping Leonard dengan langkah yang otomatis menyamai ritmenya.
“Agenda hari ini sudah saya siapkan, Pak,” katanya sambil menyerahkan tablet. “Ada meeting internal pukul sembilan, lalu presentasi investor pukul sebelas. Setelah itu—”
“Ada dua dokumen legal yang belum ditandatangani,” potong Leonard datar, tanpa menoleh.
Ara tidak tersinggung. “Sudah saya taruh di meja Bapak.”
Leonard mengangguk kecil—respon yang jarang ia beri pada siapa pun.
---
Begitu mereka memasuki ruang kerja besar bercahaya natural dari jendela setinggi dua lantai, Ara langsung menyiapkan kopi hitam tanpa perlu ditanya. Kebiasaan yang ia lakukan sejak hari pertama.
Leonard duduk, membuka laptop, kemudian berkata tanpa mengangkat kepala,
Ara tersenyum kecil—senyum profesional yang lembut.
Leonard sempat terdiam.
“Taruh di sini,” ucapnya pendek.
Ara meletakkan cangkir itu di sisi kanan meja. Ketika ia hendak mundur, Leonard kembali bersuara.
“Jangan lupa revisi proposal kemarin. Banyak bagian yang tidak presisi.”
Ara menatapnya sejenak. Bingung. “Proposal yang mana, Pak?”
Tatapan Leonard terangkat pelan. Nadanya turun setengah oktaf.
Ara tidak pernah lupa.
“Proposal pemasaran dari tim brand?” tanyanya lembut.
“Ya. Itu.” Leonard kembali menatap layar.
“Saya revisi, Pak.”
Ara menunduk sopan, lalu keluar dengan langkah ringan. Tidak ada rasa takut. Seolah dia sudah hapal kapan Leonard ketus karena stres dan kapan karena memang sifatnya begitu.
Begitu pintu tertutup, Leonard menarik napas panjang.
Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan… bahkan sebelum aku sadar.
Pikiran itu segera ia tepiskan.
---
Di luar, Ara berjalan melewati deretan meja dengan aura yang langsung membuat para karyawan bernapas lega.
“Mbak Araaa… tolong. Presentasi kita mepet banget,” keluh salah satu staf.
“Santai. Nanti siang aku bantu beresin slide kalian,” jawab Ara sambil menepuk bahunya.
Dia menenangkan yang panik, merapikan dokumen karyawan lain, mengingatkan deadline, bahkan meminjamkan jaket pada staf yang kedinginan.
Ara benar-benar seperti malaikat kantor.
Tidak ada yang tahu bahwa begitu jam kerja selesai, “malaikat” itu berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap pagi ia berdiri di samping Leonard… sambil menyembunyikan debaran kecil yang tidak pernah hilang.
Tidak ada yang tahu bahwa Alea—si asisten sempurna—sebenarnya bukan sekadar asisten.
Dan Leonard…
Pagi di kantor Atmadja Group biasanya tenang.Tapi pagi itu… suasananya aneh.Ara datang dengan wajah datar, riasan minimal, dan langkah cepat seperti ingin menghilang di balik tumpukan pekerjaan.Ia tidak ingin berinteraksi.Tidak ingin bicara.Tidak ingin mengingat suara Leonard yang memanggil namanya di klub.Dia ingin bekerja.Pura-pura profesional.Sayangnya, Leonard Atmadja tidak pernah menjadi bagian dari rencana yang mudah.Begitu lift terbuka, Ara langsung melihat sosok pria itu berdiri di depan pintu ruangannya.Berdiri.Menunggu.Ara tertegun sepersekian detik.Leonard mengangkat wajah, menatapnya.Tatapan itu bukan tatapan bos pada asistennya.Tapi tatapan seseorang yang… mencari.Ara pura-pura sibuk membuka ponselnya.“Selamat pagi, Pak.”Leonard tidak membalas.Ia hanya menatap.Dan itu jauh lebih berbahaya daripada jawaban apa pun.---“Masuk,” katanya singkat saat Ara hendak menaruh dokumen di mejanya.Ara menelan ludah. “Saya belum—”“Masuk, Alea.”Nada itu rendah, le
Bass musik mengguncang lantai Club Venom, lampu-lampu neon merah dan ungu menari liar. Malam itu, aroma alkohol dan parfum mahal bercampur dengan kebebasan yang terlalu mudah disalahartikan.Ara mendorong pintu lounge dengan langkah mantap.Sudah dua hari dia menghilang sejak pengumuman itu.Dua hari tanpa menatap Leonard.Dua hari mencoba melupakan suaranya, sentuhannya, tatapannya.Rhea menatapnya miring sambil memegang dua gelas tequila.“Bep… lo yakin ini solusi?”“Gue butuh mati rasa.” Ara mengambil gelasnya.“Setidaknya buat malam ini.”Rhea mengangkat bahu. “Kalau gitu… cheers.”Keduanya menenggak tequila dalam sekali minum.Di lantai dansa, tubuh Ara bergerak mengikuti musik. Lebih liar, lebih bebas, lebih penuh luka.Rhea memperhatikan dari samping, wajahnya cemas.“Bep… lo beda dari biasanya. Lo kelihatan—”“Hidup?” Ara tertawa pendek, hambar.“Kesel,” koreksi Rhea datar.“Lo kelihatan kesel setengah mati.”Ara menenggak minuman lagi. “Bagus.”Beberapa pria mulai melirik. Sa
Tepuk tangan yang memenuhi ruangan ballroom masih terngiang di telinga Leonard, tapi rasanya semua suara itu membentur dinding kepalanya tanpa makna. Sorot lampu kristal, senyum para tamu undangan, bahkan tangan Claire yang melingkar di lengannya… semua terasa seperti kabut.Yang tersisa hanya satu kenyataan menusuk:Ara melihat pengumuman itu.Dan dia pergi.Leonard bahkan masih bisa melihat kilasan ekspresi Ara—mata yang membulat tidak percaya, bibir yang mengeras, napas yang terhenti. Lalu langkah cepatnya meninggalkan ballroom sebelum siapa pun sempat menahan.Perut Leonard terasa seperti diikat simpul keras.“Ada apa? Kamu pucat.” Claire menatapnya cemas, masih menggenggam lengannya.Leonard menurunkan tangan Claire perlahan, berusaha sopan.“Aku harus mengecek sesuatu. Aku kembali.”“Leonard—”Namun dia sudah melangkah pergi tanpa menoleh.Dia keluar dari ballroom, menyapu pandang ke arah koridor hotel yang panjang dan remang. Tidak ada tanda Ara. Hanya suara langkah sepatu tamu
Ruang tamu keluarga Atmadja tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Semua serba mahal, serba besar, serba sempurna—tapi dingin. Dingin seperti keputusan-keputusan bisnis yang dibuat di balik pintu tertutup.Leonard duduk dengan punggung lurus, sementara ayah dan ibunya berada di kursi seberang. Claire duduk di sisi Leonard, menyilangkan kaki dengan elegan, wajahnya tersenyum tenang—terlalu tenang.Percakapan baru saja dimulai, tapi suasana sudah terasa seperti sidang.“Baik,” Ayah Leonard membuka pembicaraan sambil menekan berkas tipis di meja. “Kita harus mulai menentukan tanggal.”Leonard mengerutkan alis. “Tanggal apa?”Ibunya menjawab seolah itu hal paling jelas sedunia. “Tanggal pernikahanmu dengan Claire.”Leonard membeku.Claire tersenyum lemah—senyum manis yang penuh perhitungan. Ia menyentuh lengan Leonard seakan mencoba menenangkan, padahal justru memperkuat pengaruhnya.“Kita sudah bicarakan sedikit minggu lalu, kan?” Claire berkata lembut. “Tentang kemungkinan
Ruang makan keluarga Atmadja selalu terasa menekan bagi Leonard. Lampu gantung kristal, meja panjang penuh peralatan makan perak, pelayan yang berdiri tegak di sudut ruangan—semuanya terlalu formal. Terlalu kaku. Terlalu mengingatkannya pada kehidupan yang ia tidak pernah pilih.Dan malam ini tekanan itu semakin intens, karena Claire duduk tepat di sampingnya.Ia datang dengan gaun hitam elegan, rambut pirang kecoklatan digulung rapi, dan parfum floral lembut yang selalu mengisi hidung Leonard sejak mereka remaja. Claire tersenyum manis sepanjang makan, tapi matanya… tidak pernah berhenti mengamati.Leonard tahu itu.Semua orang tahu itu.Claire bukan hanya calon pasangan yang dijodohkan keluarga—ia adalah seseorang yang selalu memegang kendali. Dan ia sangat tidak suka kehilangan apa pun.Termasuk Leonard.“Leo,” panggil Claire untuk ketiga kalinya malam itu.Leonard mengangkat kepala. “Ya?”“Kamu kelihatan gelisah.” Claire melirik ke ponselnya. “Sibuk?”“Cuma urusan kantor.”Claire
Ara berdiri di samping meja resepsionis lantai eksekutif, memegang tablet dan berusaha keras terlihat sibuk—padahal tangannya gemetar sejak pintu lift terbuka tadi.Claire masuk dengan langkah percaya diri yang tidak bisa diajarkan, hanya dimiliki. Rambut cokelat panjangnya jatuh sempurna di bahu, gaun putih elegan, heels yang berbunyi tuk, tuk, tuk seperti tanda penguasaan ruangan.Tentu saja semua staf menoleh.Claire Valenca—pewaris keluarga Valenca Group, wanita yang digosipkan sebagai calon tunangan Leonard Atmadja.Ara sudah mencari alasan untuk mundur.Terlambat.Claire sudah melihatnya.“Oh?” Claire tersenyum manis. “Kamu Ara, kan? Asistennya Leonard?”Ara mengangguk sopan. “Betul, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”Claire tertawa kecil, manis, lembut—tapi mengalirkan aura superior satu level di atas siapa pun. “Panggil saya Claire saja. Ah, jadi ini yang katanya membuat Leonard… terlihat lebih sibuk dari biasanya.”Ara menurunkan pandangannya. “Saya hanya bekerja seperti bias







