Share

BAB 2 — DUA WAJAH ARA

Penulis: Pena_Peni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-22 22:47:32

Pukul lima sore.

Lampu-lampu kantor mulai meredup, seperti napas panjang yang dilepas seluruh lantai lima dua setelah hari yang melelahkan. Karyawan mengemasi barang dengan gerakan lambat; sebagian menguap, sebagian lain menyisipkan keluhan kecil soal deadline.

Hanya satu orang yang masih bekerja dengan ritme stabil, rapi, dan presisi: Ara.

Ia mengecek ulang laporan harian, memastikan jadwal Leonard untuk besok bersih tanpa tumpang tindih, lalu mengetuk pintu ruang direktur.

“Masuk,” terdengar suara berat dari dalam.

Ara membuka pintu. Leonard masih duduk tegak, jasnya terlipat rapi di sandaran kursi, kemeja tetap sempurna seolah waktu tidak berani menyentuhnya. Alisnya tertekuk—ekspresi fokus yang sudah familiar bagi Ara.

“Pak Leonard,” panggilnya pelan.

Leonard mengangkat kepala sedikit. “Ya?”

“Ada dokumen tambahan dari tim legal. Bapak ingin cek hari ini atau besok pagi?”

Leonard menghela napas pelan. “Letakkan di meja.”

Ara mendekat, menaruh map biru di permukaan meja kayu mahoni itu. Ketika ia hendak berbalik, suara Leonard terdengar lagi.

“Kamu belum pulang?”

Ara menoleh. “Belum, Pak. Saya ingin memastikan jadwal besok aman.”

Leonard menutup laptop perlahan—gerakan yang jarang ia lakukan saat masih ingin bekerja. Tatapannya terarah pada Ara, dalam tapi sulit diterjemahkan.

“Ara.”

“Ya, Pak?”

“Kamu tidak perlu bekerja sejauh itu.”

Nada Leonard masih datar, tetapi ada lapisan halus yang tidak biasanya—lirih, nyaris seperti kekhawatiran yang berhasil lolos sebelum dia sempat menahannya.

Ara terpaku sepersekian detik kemudian tersenyum.

“Ini tugas saya, Pak.”

Leonard menyandarkan tubuh ke kursi, ekspresinya sesaat melembut sebelum ia kembali menegakkannya.

“Kamu terlalu lama di kantor,” ucapnya. “Saya tidak ingin—”

Ia berhenti, menggeser pandangan.

“… asistennya tumbang.”

Hening menempel dingin di antara mereka.

Bagi orang lain, kalimat itu mungkin biasa saja.

Tapi bagi Ara—yang tahu betul betapa iritnya Leonard menunjukkan perhatian—itu sudah seperti satu paragraf penuh emosi.

Ara menahan senyum tipis. “Saya baik-baik saja, Pak.”

Leonard mengangguk kecil, canggung, seolah menyesal telah menunjukkan terlalu banyak sisi manusianya.

“Kamu boleh pulang. Sisanya biar saya yang kerjakan.”

“Baik, Pak.”

Ara menunduk, lalu keluar dengan langkah ringan. Namun begitu pintu tertutup, ia menarik napas panjang tanpa suara.

Kenapa… tiba-tiba perhatian begitu?

---

Di meja pribadinya, Ara membuka tas kerja. Di dalamnya, kotak kecil berisi anting perak, lipstik merah, dan kartu VIP Club Venom—kontras total dengan image “asisten paling sopan” yang dikenal satu kantor.

Ia menatap pantulan wajahnya di layar laptop: kemeja pastel, bibir natural, rambut terikat rapi.

Persona yang sudah ia bangun bertahun-tahun… sekaligus tembok antara dirinya dan dunia.

Lima menit lagi.

Dan versi ini akan selesai.

Ara melepas ikat rambutnya. Rambut hitam panjangnya jatuh lembut, mengubah wajahnya dari lembut menjadi lebih dewasa. Lipstik merah digoreskan perlahan, membunuh kesan polos dalam hitungan detik.

Ara kantor menghilang.

Ara asli muncul—lebih liar, lebih bebas, lebih jujur pada dirinya sendiri.

Ia menutup laptop, meraih tas, mengembalikan penampilan awal, lalu melangkah keluar.

---

Di lobi, beberapa karyawan masih mengobrol sambil merapikan tas.

“Mbak Ara pulang juga? Tumben cepet,” sapa seorang staf.

“Kami mau makan bareng nih. Mbak mau Ikut?” tanya yang lain.

Ara tersenyum sopan, kembali memainkan persona lemahnya. “Makasih, tapi aku ada urusan malam ini.”

Saat berjalan pergi, ia mendengar bisikan kecil dari belakang.

“Mbak Ara itu Perfect, tapi humble banget ya dia…”

“Kalo gue sepintar itu sih udah songong.”

Ara hanya mengangkat satu sudut bibir.
Kalau kalian tahu siapa aku sebenarnya… kaget ngga ya?

Di parkiran basement, dia membuka pintu mobil, akhirnya bisa mengembus napas panjang tanpa harus menjaga nada atau ekspresi. Mulai bersiap karna malam ini, dia akan menuju dunianya.

“Fiuh… akhirnya bebas.”

Playlist favorit diputar, lampu mobil menyala, dan Ara menatap dirinya di spion.

“Selamat datang kembali, Ara yang asli.”

Mobil melaju keluar dari gedung menuju tujuan favoritnya.

---

Club Venom.

Lampu neon ungu menyapu tubuhnya ketika ia masuk. Musik bass rendah bergetar di lantai. Mata-mata mengikutinya—bukan karena ia mencolok, tapi karena auranya berubah total: sensual, percaya diri, tak tersentuh.

Bartender menyapanya. “Ara? Lama banget nih lo nggak kelihatan.”

Ara duduk, menyilangkan kaki. “Kerjaan numpuk, Bang.”

“Kayak biasa?”

“Dua shot dulu deh.”

Bartender mengangkat alis. “Setress banget kayaknya sampai langsung dua?”

Ara menahan senyum sinis. “Bos gue lagi masuk fase ‘perfectionist level sepuluh’. Terus kalau dia stres, ya gue ikutan stres.”

Bartender tertawa kecil. “Ya tapi tetap aja, kayaknya lo sayang sama bos lo, Ra.”

Ara memainkan gelasnya. “Gue cuma ngehargain dia sebagai atasan ya, Bang.”

Namun tatapan Ara memantulkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.

Dan bartender tahu itu.

Shot pertama masuk.

Lalu shot kedua.

Dan justru ketika alkohol pertama menyentuh aliran darahnya… pikiran Ara melayang pada sosok itu.

Leonard.

Wajah tegangnya. Suara datarnya.

Perhatian kecilnya yang ia pura-pura tidak peduli.

Kenapa gue masih aja kepikiran dia…

---

Ara mencondongkan tubuh ke meja bar.

Lalu ia merasakan sesuatu.

Bukan sentuhan.

Bukan suara.

Tapi aroma.

Cologne mahal—aroma yang sama yang selalu menempel pada ruangan direktur.

Ara menoleh, setengah malas.

Dan darahnya langsung berhenti mengalir.

Leonard Arman Atmadja.

Duduk dua kursi darinya.

Dasi dilepas.

Kemeja terbuka dua kancing.

Satu tangan memijit pelipis, wajahnya tampak lelah dan… rapuh, sesuatu yang tak pernah terlihat di kantor.

Ara hampir menjatuhkan gelasnya.

Leonard tidak menyadarinya—belum.

Ia memesan minuman dengan suara rendah yang langsung tenggelam dalam musik klub.

Ara menempelkan jemari ke gelasnya, hati berdebar tidak sesuai rencana.

Kenapa dia ada di sini…?

Dan yang jauh lebih berbahaya:

Apakah aku harus menyapanya sebagai Ara kantor?

Atau… membiarkan dia bertemu “Ara” yang tidak pernah ia kenal?

Senyum liar muncul di sudut bibirnya—senyum yang tidak pernah ia izinkan keluar di area kantor.

Malam ini, topeng manisnya sudah mati.

Dan Ara ingin tahu…

apa yang akan terjadi ketika bos dinginnya akhirnya melihat wajah asli yang sudah ia sembunyikan dua tahun lamanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Asisten Sempurnaku Adalah Bos Besar   BAB 23 — Strategi Sunyi Leonard Atmadja

    Pagi di kantor Atmadja Group biasanya tenang.Tapi pagi itu… suasananya aneh.Ara datang dengan wajah datar, riasan minimal, dan langkah cepat seperti ingin menghilang di balik tumpukan pekerjaan.Ia tidak ingin berinteraksi.Tidak ingin bicara.Tidak ingin mengingat suara Leonard yang memanggil namanya di klub.Dia ingin bekerja.Pura-pura profesional.Sayangnya, Leonard Atmadja tidak pernah menjadi bagian dari rencana yang mudah.Begitu lift terbuka, Ara langsung melihat sosok pria itu berdiri di depan pintu ruangannya.Berdiri.Menunggu.Ara tertegun sepersekian detik.Leonard mengangkat wajah, menatapnya.Tatapan itu bukan tatapan bos pada asistennya.Tapi tatapan seseorang yang… mencari.Ara pura-pura sibuk membuka ponselnya.“Selamat pagi, Pak.”Leonard tidak membalas.Ia hanya menatap.Dan itu jauh lebih berbahaya daripada jawaban apa pun.---“Masuk,” katanya singkat saat Ara hendak menaruh dokumen di mejanya.Ara menelan ludah. “Saya belum—”“Masuk, Alea.”Nada itu rendah, le

  • Asisten Sempurnaku Adalah Bos Besar   BAB 22 — Malam Ketika Ara Hampir Hilang Kendali

    Bass musik mengguncang lantai Club Venom, lampu-lampu neon merah dan ungu menari liar. Malam itu, aroma alkohol dan parfum mahal bercampur dengan kebebasan yang terlalu mudah disalahartikan.Ara mendorong pintu lounge dengan langkah mantap.Sudah dua hari dia menghilang sejak pengumuman itu.Dua hari tanpa menatap Leonard.Dua hari mencoba melupakan suaranya, sentuhannya, tatapannya.Rhea menatapnya miring sambil memegang dua gelas tequila.“Bep… lo yakin ini solusi?”“Gue butuh mati rasa.” Ara mengambil gelasnya.“Setidaknya buat malam ini.”Rhea mengangkat bahu. “Kalau gitu… cheers.”Keduanya menenggak tequila dalam sekali minum.Di lantai dansa, tubuh Ara bergerak mengikuti musik. Lebih liar, lebih bebas, lebih penuh luka.Rhea memperhatikan dari samping, wajahnya cemas.“Bep… lo beda dari biasanya. Lo kelihatan—”“Hidup?” Ara tertawa pendek, hambar.“Kesel,” koreksi Rhea datar.“Lo kelihatan kesel setengah mati.”Ara menenggak minuman lagi. “Bagus.”Beberapa pria mulai melirik. Sa

  • Asisten Sempurnaku Adalah Bos Besar   BAB 21 — Leonard Mencari Alea Setelah Pengumuman

    Tepuk tangan yang memenuhi ruangan ballroom masih terngiang di telinga Leonard, tapi rasanya semua suara itu membentur dinding kepalanya tanpa makna. Sorot lampu kristal, senyum para tamu undangan, bahkan tangan Claire yang melingkar di lengannya… semua terasa seperti kabut.Yang tersisa hanya satu kenyataan menusuk:Ara melihat pengumuman itu.Dan dia pergi.Leonard bahkan masih bisa melihat kilasan ekspresi Ara—mata yang membulat tidak percaya, bibir yang mengeras, napas yang terhenti. Lalu langkah cepatnya meninggalkan ballroom sebelum siapa pun sempat menahan.Perut Leonard terasa seperti diikat simpul keras.“Ada apa? Kamu pucat.” Claire menatapnya cemas, masih menggenggam lengannya.Leonard menurunkan tangan Claire perlahan, berusaha sopan.“Aku harus mengecek sesuatu. Aku kembali.”“Leonard—”Namun dia sudah melangkah pergi tanpa menoleh.Dia keluar dari ballroom, menyapu pandang ke arah koridor hotel yang panjang dan remang. Tidak ada tanda Ara. Hanya suara langkah sepatu tamu

  • Asisten Sempurnaku Adalah Bos Besar   BAB 20 — Rencana Pernikahan

    Ruang tamu keluarga Atmadja tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Semua serba mahal, serba besar, serba sempurna—tapi dingin. Dingin seperti keputusan-keputusan bisnis yang dibuat di balik pintu tertutup.Leonard duduk dengan punggung lurus, sementara ayah dan ibunya berada di kursi seberang. Claire duduk di sisi Leonard, menyilangkan kaki dengan elegan, wajahnya tersenyum tenang—terlalu tenang.Percakapan baru saja dimulai, tapi suasana sudah terasa seperti sidang.“Baik,” Ayah Leonard membuka pembicaraan sambil menekan berkas tipis di meja. “Kita harus mulai menentukan tanggal.”Leonard mengerutkan alis. “Tanggal apa?”Ibunya menjawab seolah itu hal paling jelas sedunia. “Tanggal pernikahanmu dengan Claire.”Leonard membeku.Claire tersenyum lemah—senyum manis yang penuh perhitungan. Ia menyentuh lengan Leonard seakan mencoba menenangkan, padahal justru memperkuat pengaruhnya.“Kita sudah bicarakan sedikit minggu lalu, kan?” Claire berkata lembut. “Tentang kemungkinan

  • Asisten Sempurnaku Adalah Bos Besar   BAB 19 — Claire Mencurigai Sesuatu

    Ruang makan keluarga Atmadja selalu terasa menekan bagi Leonard. Lampu gantung kristal, meja panjang penuh peralatan makan perak, pelayan yang berdiri tegak di sudut ruangan—semuanya terlalu formal. Terlalu kaku. Terlalu mengingatkannya pada kehidupan yang ia tidak pernah pilih.Dan malam ini tekanan itu semakin intens, karena Claire duduk tepat di sampingnya.Ia datang dengan gaun hitam elegan, rambut pirang kecoklatan digulung rapi, dan parfum floral lembut yang selalu mengisi hidung Leonard sejak mereka remaja. Claire tersenyum manis sepanjang makan, tapi matanya… tidak pernah berhenti mengamati.Leonard tahu itu.Semua orang tahu itu.Claire bukan hanya calon pasangan yang dijodohkan keluarga—ia adalah seseorang yang selalu memegang kendali. Dan ia sangat tidak suka kehilangan apa pun.Termasuk Leonard.“Leo,” panggil Claire untuk ketiga kalinya malam itu.Leonard mengangkat kepala. “Ya?”“Kamu kelihatan gelisah.” Claire melirik ke ponselnya. “Sibuk?”“Cuma urusan kantor.”Claire

  • Asisten Sempurnaku Adalah Bos Besar   BAB 18 — Claire Mencium Pipi Leonard

    Ara berdiri di samping meja resepsionis lantai eksekutif, memegang tablet dan berusaha keras terlihat sibuk—padahal tangannya gemetar sejak pintu lift terbuka tadi.Claire masuk dengan langkah percaya diri yang tidak bisa diajarkan, hanya dimiliki. Rambut cokelat panjangnya jatuh sempurna di bahu, gaun putih elegan, heels yang berbunyi tuk, tuk, tuk seperti tanda penguasaan ruangan.Tentu saja semua staf menoleh.Claire Valenca—pewaris keluarga Valenca Group, wanita yang digosipkan sebagai calon tunangan Leonard Atmadja.Ara sudah mencari alasan untuk mundur.Terlambat.Claire sudah melihatnya.“Oh?” Claire tersenyum manis. “Kamu Ara, kan? Asistennya Leonard?”Ara mengangguk sopan. “Betul, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”Claire tertawa kecil, manis, lembut—tapi mengalirkan aura superior satu level di atas siapa pun. “Panggil saya Claire saja. Ah, jadi ini yang katanya membuat Leonard… terlihat lebih sibuk dari biasanya.”Ara menurunkan pandangannya. “Saya hanya bekerja seperti bias

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status