로그인"Leo, kau baik-baik saja? Oh, aku takut sekali, Leo!" Elisa segera membuka kunci pintu kamar saat Leo mengetuknya. Ia menghambur keluar dan langsung menangkup wajah Leo, sebelum ia memeluk kekasihnya itu dengan lega. "Aku baik-baik saja, Sayang. Jangan khawatir!" "Bagaimana tidak khawatir? Aku melihat sendiri 3 orang pencuri masuk ke rumah kita, aku merasa buruk karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, Leo." "Elisa, kau hamil. Justru keselamatanmu adalah nomor satu. Tidak usah memikirkan yang lain." "Leo!" Elisa mempererat pelukannya. Gary sendiri langsung menghampiri Bik Imah dan Rara. "Kak Gary!" "Oh, Rara pasti takut ya?" "Takut sekali!" "Tidak apa, semua sudah selesai." "Bibik sampai gemetar, Gary." "Ah, tenang saja, Bik. Walau ini tidak masuk akal, tapi Bosku sudah mempersiapkan semuanya dan membaca gerakan mereka dengan sempurna. Dan untung saja aku cerdik, aku membeli semua barang yang mempunyai nilai guna sangat tinggi." Gary membanggakan dirinya sendiri.
Elisa membeku. Napasnya tercekat saat melihat tiga bayangan hitam bergerak perlahan tepat di depan jendelanya. Rumah mereka tidak besar, hanya ada pagar pendek di depan rumah dan kalau ada yang berjalan tepat di depan jendela akan terlihat jelas. Tiga bayangan itu berpakaian serba gelap. Ya, Elisa bisa melihatnya karena lampu teras menyala, memantulkan bayangan jelas ke dalam kamar. Wajah mereka tertutup masker. Salah seorang bahkan membawa tas ransel yang tampak berat.Elisa makin ketakutan dan ia langsung menoleh ke arah Leo yang masih terlelap. "Leo ...." Suaranya hanya berupa bisikan. Leo yang memang selalu siaga sejak Elisa hamil langsung tersentak bangun. "Ada apa, Sayang? Kau bermimpi? Atau ada yang sakit? Katakan padaku!" Leo langsung bangkit duduk. Elisa hanya menggeleng karena tidak bisa bicara. Ia pun langsung menunjuk ke arah jendela dengan tangan gemetar."Di ... di luar ...." Leo menatap ke jendela, bayangan orang sudah tidak ada di sana. "Ada apa di luar, Sayan
Setelah merasakan senang sejenak karena bayinya sehat, Elisa kembali murung karena berita yang viral di TV. Handi diserang dan hampir disuntik dengan cairan berbahaya yang bisa menghentikan jantung. Bahkan wajah pelakunya terekam dengan jelas dan membuat Elisa meneteskan air matanya. Elisa sendiri sudah duduk di ruang tamu bersama Bik Imah, Leo, dan Gary, dengan TV yang menyala. "Om Wira? Apa ... apa yang dia lakukan?" lirih Elisa. "Dia mau membunuh Pak Handi, mantan polisi yang sering bicara tentang Group Wijaya itu," sahut Bik Imah dengan merinding. Bik Imah sudah tahu tentang kejahatan Wijaya Group, tapi mendengar mereka kembali berusaha membunuh orang, tentu saja bukan hal yang menyenangkan untuk didengar. "Mereka kejam! Mereka sangat kejam! Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya, mereka tetap kejam," imbuh Bik Imah lagi sampai Elisa menoleh menatapnya. "Tidak! Itu tidak benar! Ini pasti ulah lawan bisnis yang ingin menjatuhkan Grandpa. Dia punya banyak musuh karena Grandpa
"Kandungannya sangat sehat dan bayi laki-laki kalian sangat aktif." Bayi Leo dan Elisa adalah bayi laki-laki. Mereka sudah melakukan pemeriksaan NIPT secara menyeluruh untuk mengetahui kelainan kromosom dan semuanya sempurna. Dari hasil pemeriksaan itu pun mereka tahu kalau bayi mereka adalah bayi laki-laki. Dan saat ini, bayi mereka sedang bergerak aktif di perut Elisa. Perasaan Elisa pun sumringah melihatnya. "Pantas saja aku merasakan kedutan-kedutan kecil, Dokter. Ternyata bayiku sedang bergerak aktif." "Ya, untuk kehamilan pertama biasanya ibu hamil baru merasakan tendangan bayinya secara jelas minimal di umur 20 minggu, walaupun tetap saja ada yang lebih cepat. Bersabar ya, Bu, tidak lama lagi, tendangan bayi Ibu akan terasa lebih jelas." "Aku tidak sabar menantikannya, Dokter." "Haha, untuk vitamin masih tetap sama, kontrol lagi bulan depan, Bu Elisa." "Terima kasih banyak, Dokter." Elisa keluar dari dokter dengan sumringah sambil menggandeng tangan Leo. "Aku sudah tida
Saat Leo dan Elisa sedang istirahat sejenak dari ketegangan, tidak begitu dengan Wira yang tidak bisa istirahat. Wira kembali menyelinap ke rumah sakit tengah malam itu, berharap bisa masuk ke kamar Handi lagi untuk menyelesaikan tugasnya sekaligus merebut kamera dari Gary karena ia yakin Gary masih ada di kamar itu. Namun, saat Wira tiba di sana, suasananya tidak memungkinkan baginya untuk menyelinap. Bukan hanya ada lebih banyak suster, tapi ada satpam, polisi, dan juga anak buah Leo di sana. Saat Wira kabur dari kamar tadi memang suasana rumah sakit langsung heboh, apalagi kamar rumah sakit berantakan dan Wira sempat menabrak beberapa trolly di koridor. Bahkan perawat pria dan satpam sempat ikut mengejarnya juga. Beruntung ia bisa kabur dengan cepat, walaupun kakinya sempat menendang benda keras dan sakitnya masih terasa sampai sekarang. "Sial! Penjagaan makin ketat!" seru Wira yang menggeram frustasi karena rencananya tidak berjalan lancar. Bahkan setelah menunggu sampai subu
Plak!Satu tamparan dilayangkan Darmawan ke wajah Wira begitu Wira kembali dengan bekas pukulan di wajahnya. Darmawan yang sebelumnya hanya bisa duduk bersandar di ranjangnya sekarang sudah lebih baik dan sudah bisa berdiri dengan tongkatnya. Ia pun berdiri berhadapan dengan Wira sambil menatapnya penuh amarah. "Sejak kapan kau menjadi bodoh begini, Wira? Sepanjang yang aku kenal, kau selalu menyelesaikan semuanya dengan sempurna, tapi mengapa begini, hah?" "Memangnya siapa yang sudah melindungi pria brengsek itu?" sahut Arman juga. "Apa polisi?" Wira mengembuskan napas panjangnya sebelum menjawab. "Yang melindungi Handi adalah Leo." Arman dan Darmawan langsung terdiam sejenak sambil membelalak. "Siapa katamu?" ulang Darmawan tidak percaya. "Leo dan temannya, mereka yang berjaga di sana dan melindungi Handi," jawab Wira lagi geram. Darmawan dan Arman kembali terdiam sambil membelalak. "Leo? Bagaimana Leo bisa melindungi Handi? Apa hubungannya Leo dengan semua ini?" seru Arma
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya







