Share

Mengambil Hatinya

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-05-10 23:27:55
Leo mengguyur kepalanya saat mandi malam itu. Bahkan setelah Elisa keluar dari kamar mandi dan tidur, hasrat Leo masih belum juga padam.

Namun, Leo memutuskan untuk meredakannya dengan mandi air dingin. Walaupun sulit, akhirnya hasratnya padam juga. Bahkan ia bersikeras tidak mau menoleh ke arah punggung Elisa lagi, takut ia tidak bisa tidur malam itu.

Keesokan paginya, Elisa bangun dengan canggung dan sungkan setiap menatap Leo. Padahal dirinya tidak salah, ia wanita bersuami dan tidak seharu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dhimas Dhany
Leo gitu lho
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Bukan Orang Jahat

    Kedua mata Rahmat membelalak menatap pria di hadapannya, jantungnya memacu kencang. Dan untuk sesaat, ia hanya mematung, ia pun tidak tahu mengapa ia harus melakukannya. Hingga beberapa detik berlalu, Rahmat akhirnya sadar dan kembali menunduk. "Permisi!" seru Rahmat yang langsung melewati pria itu. Namun, pria itu kembali memanggilnya. "Tunggu, Pak!" Sontak Rahmat menghentikan langkahnya lagi dan sungguh, ia berniat untuk kabur saat ini. "Anda ... aku seperti mengenal Anda," seru pria muda itu. Dan pria muda itu adalah Gary. Gary tadinya ingin menyusul Leo dan Elisa untuk melihat kondisi Elisa, tapi langkahnya malah terhenti melihat sosok yang aneh di rumah sakit. Memakai baju serba hitam, topi hitam dan masker hitam, hanya saja tidak memakai kacamata. Gary merasa mengenali tatapan mata itu. Mungkin tubuh dan kulit bisa menua, tapi mata tidak. Dan Gary sudah cukup lama memperhatikan pria yang harus ia temukan, yaitu Rahmat. Rahmat makin berdebar mendengar ucapan Gary, tapi i

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria di Hadapannya

    Elisa goyah. Tubuhnya terhuyung sampai Leo memeluk dan menahannya. "Elisa!" "Itu tidak benar!" Elisa menggeleng. "Itu tidak benar! Kakek dan ayahku tidak akan mampu melenyapkan nyawa manusia, mereka bukan pembunuh!" seru Elisa keras. Handi sampai tidak enak hati mendengarnya. "Maafkan aku, Elisa. Tapi apa yang aku katakan adalah kenyataan. Aku tahu dari semua anggota keluarga itu hanya kau yang tidak banyak drama. Tapi banyak! Sangat banyak hal yang mungkin tidak kau ketahui tentang keluargamu ...." "Cukup! Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi!" sahut Elisa dengan napas yang tersengal. "Tujuanku kemari adalah untuk melihat kondisi Anda, Pak. Beruntung sekali Gary menemukan Anda dan menolong Anda dari jambret yang mengerikan itu. Aku ... aku hanya bisa bilang semoga Anda cepat sembuh, lalu hiduplah dengan baik, dan berhentilah memfitnah keluargaku!" Elisa berbicara begitu lancar dan cepat, tapi setelahnya, napasnya kembali tersengal. "Itu saja! Permisi! Ayo kita pergi, Leo!" Bu

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kenyataan

    "Apa? Percobaan apa? Percobaan pembunuhan? Siapa maksudmu yang mencoba membunuhnya? Jangan bilang Grandpa, Leo! Jangan bilang Grandpa!" Mungkin di hati kecil Elisa mulai ada keraguan. Rasanya sesak dan membingungkan untuknya. Kakek yang ia sayangi sejak kecil mendadak dijelekkan oleh banyak orang sekarang. Ya, sekalipun Darmawan kasar, Elisa menyayanginya. Dan walaupun Darmawan bukan pria baik, tapi Elisa menolak percaya kalau kakeknya itu seorang pembunuh. "Ini pasti salah, Leo! Bagaimana kalian bisa bilang percobaan pembunuhan? Aku ... aku mau menemui polisi itu, bawa aku ke sana, aku harus bertanya langsung padanya!" Elisa seperti orang kebingungan. Satu persatu masalah baru muncul di saat masalah yang lama belum selesai dan membuat Elisa tidak bisa bernapas lega. Ia pun memegangi perutnya dan ia merasa bersalah karena sudah membuat bayi di kandungannya ikut stres. Sementara itu, Darmawan lagi-lagi marah mendengar bahwa orang suruhannya gagal membunuh Handi. "Apa maksudmu, W

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Percobaan Pembunuhan

    "Sial! Mereka diserang!" pekik Gary emosi. Sejak diminta Leo untuk mengawasi Handi, Gary langsung mengutus anak buahnya untuk mengikuti Handi dan melindunginya dari kemungkinan serangan Darmawan. Hanya saja, malam itu, Gary ikut sendiri turun ke lapangan. Dan tepat sekali, ia melihat langsung bagaimana Handi diserang oleh dua pria berhelm. "Tabrak motor mereka sekarang!" titah Gary yang langsung menjadi mode serius. Anak buah yang menyetir langsung menabrakkan mobilnya ke motor yang tergeletak di jalan, lalu dengan cepat Gary dan dua anak buahnya turun dari mobil. Handi dan dua penjambret sempat kaget dan menoleh. Dua penjambret pun langsung panik saat anak buah Gary menyergap dan menghajar mereka. Sementara Gary sendiri langsung menghampiri Handi. "Anda tidak apa, Pak?" "Anakku! Anakku!" lirih Handi yang hanya memikirkan Daisy. Tepat saat itu, Daisy yang sudah dilepas oleh penjambret juga langsung berlari menghampiri Handi. Daisy duduk di jalan sambil memeluk ayahnya itu. "

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Suruhan Siapa?

    "Apa saja yang kau beli, hah? Banyak sekali!" Seorang pria paruh baya sedang berada di minimarket bersama putrinya malam itu. Dan pria itu adalah Handi. Ia melihat anaknya mengisi penuh keranjang belanjaannya. "Banyak yang mau aku beli, Ayah. Semua stok makanan di rumah sudah habis," jawab wanita muda itu. Dan wanita itu adalah anak Handi, namanya Daisy, bukan anak kandungnya, melainkan anak Eko, bawahannya yang dibunuh secara kejam oleh Wijaya Group. Eko merupakan single parent karena istrinya sudah meninggal duluan. Eko pun begitu giat mencari kebenaran tentang kebakaran di Wijaya Group dengan harapan perjuangannya akan membuahkan hasil, naik jabatan, dan gaji lebih tinggi demi kehidupan Daisy. Namun, alih-alih naik jabatan, Eko malah mendapat teror dan ancaman. Tidak lama setelahnya, Eko meninggal dalam kecelakaan tragis. Sejak saat itu, Handi mengangkat Daisy menjadi anaknya dan ia benar-benar membesarkan anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang, seperti anak kandu

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Makin Marah

    Mobil Wira akhirnya melaju meninggalkan halaman rumah, tapi alih-alih Elisa, malah Bik Imah yang terlihat sangat lega sampai tubuhnya lemas. Elisa yang memeluk Bik Imah sampai langsung kaget dan memeluk wanita tua itu makin erat. "Nek, Nenek tidak apa?" "Ada apa, Nek?" tanya Leo juga. Bik Imah menggeleng menatap Leo, ada ketakutan di tatapan itu dan Leo sangat menyadarinya. Apa yang sudah Wira lakukan pada kedua orang tua Leo memang menimbulkan trauma yang begitu hebat sampai tubuh Bik Imah gemetar sendiri tanpa bisa ia cegah. "Nenek ... Nenek tidak apa. Nenek hanya lega karena pria jahat itu sudah pergi!" ucap Bik Imah terbata. Untuk sesaat, semua langsung terdiam mendengar Bik Imah mengatakan pria jahat. Tentu saja Leo dan Gary mengerti maksudnya, tapi Elisa langsung mengernyit bingung. "Pria jahat? Om Wira maksudnya, Nek?" Bik Imah yang tersentak dengan ucapannya sendiri langsung menoleh menatap Elisa dan kembali menggeleng. "Ah, maaf, Nenek pasti sedang melantur, Elisa. Ne

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status