Share

Tawaran Absurd

Author: Mommykai22
last update publish date: 2026-05-04 23:59:28
Elisa buru-buru memalingkan wajahnya. "Hmm, sudah lebih baik. Terima kasih. Tapi ... kau bilang mau mencuci piringnya kan? Kau ... lanjutkan saja!" seru Elisa yang saking canggungnya mendadak mencuci tangannya.

Lagipula ia adalah bos dan Leo bawahan. Tidak mungkin ia yang mencuci piring untuk bawahannya. Elisa pun langsung menjauh dari Leo dan meninggalkan dapur.

Leo sendiri hanya menatap wanita itu yang kembali duduk di meja makan, sebelum ia mencuci beberapa piring itu hingga bersih. Namun, t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Nama Itu ....

    Elisa mengembuskan napas leganya begitu semua selesai. Sang sekretaris menghampirinya juga dengan senyum sumringahnya. "Akhirnya kita berhasil, Bu," seru wanita muda bernama Ririn itu. "Ya, akhirnya proyek kita bisa berjalan juga. Aku berdebar sekali. Tapi siapkan semuanya, Ririn. Begitu dananya cair, kita akan langsung memulai rapat proyek ini." "Baik, Bu!" Tawa Elisa pun tidak berhenti mengembang saat ia melangkah kembali ke ruang kerjanya sendiri. Ada Leo di sana, berdiri tidak jauh dari ruangan Elisa, menatapnya dengan senyuman kecilnya juga. Jantung Elisa berdebar lagi saat mendekati pria itu. Asisten yang tadinya terlihat cupu, makin lama malah terlihat makin tampan. Entah mengapa wajah dingin yang datar itu membuat Elisa kecanduan menatapnya. "Hmm, kau lagi, mau apa kau di sini? Eddy belum datang?" tanya Elisa mempertahankan ekspresinya. "Pak Eddy belum datang, Bu. Aku juga tidak tahu apa yang membuatnya begitu terlambat, tapi ... aku sudah mendengar hasil rapatnya. Sela

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kena Batunya

    Velia menggenggam flashdisknya sambil melangkah ke arah ruang kerja Elisa pagi itu. Ia tahu betul harus melakukan apa untuk mengacaukan presentasi Elisa nanti. Ia pun berniat mencari celah saat Elisa lengah, tapi siapa yang menyangka, kesempatan itu datang lebih cepat karena saat ia tiba, Elisa sedang keluar dari ruangannya untuk menemui tim legal. Bahkan sekretaris Elisa yang biasa duduk di depan ruangannya juga tidak ada. Velia pun tersenyum singkat dan buru-buru masuk ke ruangan itu. Laptop Elisa masih menyala di meja kerja karena tadinya Elisa sedang memeriksa revisi terakhir presentasinya."Bagus! Semesta pun membantuku," gumam Velia yang langsung duduk di kursi Elisa lalu mencolokkan flashdisk itu ke laptop Elisa. Sebuah loading kecil muncul di layar. Velia memperhatikan dengan puas saat beberapa folder mulai bergerak sendiri."Selesai."Ia buru-buru mencabut flashdisknya lagi lalu keluar dari ruangan Elisa sebelum ada yang melihatnya. Dan setelah ia pergi, Leo barulah keluar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Rusak Filenya

    "Terima kasih sudah mengantarku pulang." Elisa menatap Leo lebih tenang malam itu. Entah mengapa setelah menghabiskan waktu bersama Leo, kegelisahannya lenyap, seolah Eddy ada atau tidak, tidak terlalu berpengaruh saat ini. Leo sendiri mengangguk. "Kapan pun Anda butuh, telepon aku saja, Bu." Jantung Elisa memacu lagi dan ia menatap Leo cukup lama, sebelum memalingkan wajahnya. "Aku ... akan melakukannya, tapi sampai besok. Aku keluar dulu!" Buru-buru Elisa keluar dari mobil dan langsung masuk ke rumah dengan perasaan yang tidak menentu. Seharusnya ia masih penasaran di mana suaminya, tapi saat ini mendadak ada debaran lain yang lebih menguasainya. Dan perasaan ini makin tidak benar. Leo sendiri tersenyum kecil sebelum melajukan mobilnya pergi. Biasanya Elisa selalu ketus, tapi malam ini, wanita itu menjadi lebih jinak. Hari pun makin larut saat Elisa masih terjaga demi menunggu Eddy yang tidak kunjung pulang. Namun, rasa kantuk akhirnya membuat tertidur juga sendirian di ranjan

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Mulai Goyah

    "M-martabak? Leo, aku ini sedang mencari suamiku, bukannya memintamu membeli martabak kan?" omel Elisa gugup dan tidak menyangka. "Aku tahu, tapi ini inisiatifku sendiri. Ada martabak manis dan asin. Makan manis akan membuat mood Anda menjadi lebih baik dan Anda tidak akan gelisah lagi." Elisa terdiam sejenak mendengarnya. Melihat Leo yang biasa saja membuat jantungnya memacu kencang, apalagi Leo yang seperti ini. "Itu ... aku tidak mau. Kalau tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan ...." "Aku ingin makan bersama Anda," sela Leo lembut. Seharusnya Elisa marah, tapi entah mengapa ia malah berdiri diam. Sebelum Elisa sempat protes, Leo pun sudah melangkah mendekatinya, menggandeng tangannya dengan berani dan menuntun Elisa masuk ke mobil. Elisa seperti kena hipnotis. Ia juga tidak tahu mengapa akhirnya ia mau duduk berdua dengan Leo di mobil seperti ini, tapi ya, mereka berdua sekarang. Elisa membiarkan Leo menyetir sampai mobil mereka berhenti di sebuah taman, tidak jauh d

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Martabak

    "Eddy! Eddy!" Elisa memanggil nama suaminya di telepon, tapi terlambat. Eddy sudah menutup teleponnya. Dengan gusar, Elisa mencoba menelepon Eddy lagi, tapi Eddy tidak mengangkatnya lagi. Jantung Elisa masih memacu begitu kencang. Entah apa yang suaminya lakukan dengan suara seperti tadi. "Apa yang kau pikirkan, Elisa? Apa yang bisa suamimu lakukan di luar sana?" Elisa menyisir rambutnya frustasi. "Ya Tuhan, aku benar-benar ingin berpikir positif, tapi bagaimana caranya? Suara Eddy itu benar-benar ...." Elisa tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena tidak mau berpikiran buruk. Namun, ia segera mencari nomor Leo dan menelepon pria itu. Leo sendiri masih duduk bersama Gary menatap foto yang dikirim oleh anak buah mereka. Selain Gary, ia memang punya beberapa anak buah di sini karena ia juga sedang mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Itulah sebabnya, Leo bisa mendapatkan info tentang apa pun begitu cepat karena memang anak buahnya tersebar di mana-mana. "Baru saja kau memintaku

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Main Gila

    Susan menutup teleponnya sambil menyeringai. Rasanya bahagia sekali karena kakak iparnya itu selalu mencarinya dan membutuhkannya lebih dari membutuhkan istrinya sendiri. Ya, Susan dan Eddy memang berhubungan diam-diam. Dan hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun. Yang artinya, baru satu tahun pernikahan, Eddy sudah mengkhianati Elisa. Dan itu adalah keberhasilan bagi Susan. Susan sudah menyukai Eddy sejak Elisa pertama kali mengenalkan Eddy pada keluarga Wijaya. Entahlah, itu sungguhan suka atau hanya karena ingin menang dari Elisa. Menjadi anak kedua itu tidak pernah enak, apalagi menjadi anak dari istri kedua. Walaupun banyak yang membully Elisa karena ibunya, tapi Elisa tetap anak pertama dan Susan tetap bukan satu-satunya. Elisa masih berumur lima tahun saat ibunya ketahuan berselingkuh. Tidak butuh waktu lama bagi Arman untuk menikahi Hilda tanpa menceraikan ibu Elisa karena dulu bercerai itu aib. Ibu Elisa disiksa batinnya sampai depresi, sakit, tertekan, hingga m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status