LOGIN"Maafkan aku, Ibu! Maafkan aku!" Melda akhirnya membawa Velia ke kamar dan Velia masih terus menangis di kamar. Bahkan akhirnya Velia berlutut di depan kaki ibunya sampai Melda begitu terharu. "Velia, bangunlah! Bangunlah, Nak!" Velia menggeleng. "Maafkan aku, Ibu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, tapi aku benar-benar tidak mau bangun. Aku minta maaf, Ibu." Melda masih menangis, membiarkan kakinya dipeluk oleh Velia, dan tidak meminta anaknya bangun lagi. Mungkin memang anaknya harus berlutut di kakinya. Anaknya sudah melakukan kesalahan yang bagi Melda sangat besar sampai membuat Melda sangat sedih. Ya, Velia harus diberi waktu menyesali semuanya, sebelum memulai kembali dari awal. "Kau sudah tahu salahmu, Velia! Kau salah! Kau salah! Sudah sepantasnya kau minta maaf! Kau membuat keluargamu malu setengah mati ...." "Maafkan aku, Ibu ...." Melda mengangguk tanpa mengatakan apa pun lagi, tapi ia menangkup puncak kepala anaknya, memejamkan mata, dan masih berdoa unt
Sebaik-baiknya orang tua, bukanlah orang tua yang selalu membela anaknya, tapi orang tua yang merelakan anaknya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena setiap keputusan atas tindakan kita selalu ada konsekuensinya. Begitu juga yang dipikirkan oleh Garren dan Melda. Tentu saja rasanya berat untuk Garren memutuskan ini, apalagi Velia adalah anaknya satu-satunya. Tapi perbuatan Velia sudah tidak bisa dimaafkan. Bahkan entah berapa tahun lamanya besok Garren dan Melda akan menunduk malu setiap bertemu Leo. Suasana pun langsung hening saat Garren memutuskan, tidak ada yang membantah, selain tangisan Velia yang makin keras. Velia memegangi perutnya, rasa mualnya sudah tidak bisa ia tahan, tenggorokannya sakit, tapi kakinya kaku. Ia tidak bisa bergerak sama sekali dan terpaksa mendengarkan semuanya sampai akhir. Sementara Leo dan Elisa saling melirik. Sejak semua terbongkar, mereka sudah memikirkan semuanya. Velia memang harus diberikan efek jera, harus diberikan hukuman atas kes
Plak!Belum cukup ditampar oleh Melda di mall, begitu tiba di rumah, Velia ditampar lagi oleh Liandro. Melda sudah tiba duluan di rumah. Dalam perjalanan, ia memanggil Garren pulang. Begitu semua orang berkumpul di rumah, ia langsung menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun lagi atau membela anaknya lagi. Apa yang sudah Velia lakukan sudah tidak dapat ditolerir sampai Melda ingin semuanya selesai sampai di sini. Tentu saja Liandro marah luar biasa sampai begitu Velia tiba di rumah, ia langsung disambut tamparan kakeknya itu. "Grandpa sudah memberimu kesempatan, Velia! Grandpa bahkan sudah berpikir untuk memaafkanmu, tapi ternyata semua terbukti hanya rekayasa darimu sendiri! Kalau semua tidak terbongkar, kau masih mau berakting sampai kapan, hah? Uhuk! Uhuk!" Liandro membentak sampai terbatuk saking kerasnya. "Ayah!" Garren berusaha menenangkan Liandro. Garren pun menatap anaknya dengan kemarahan yang sama. "Ayah benar-benar tidak menyangka kau bisa melakukan tindakan
Saat Melda tiba di koridor toilet dan melihat Velia di sana, Melda sudah ingin menghampiri anaknya itu. Ia melihat Velia tidak apa-apa dan ia hampir saja memarahi Leo karena sudah membuatnya cemas. Namun, Leo menahannya lagi, membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya pria itu lakukan. Sampai beberapa detik kemudian, ia mulai mendengar percakapan Velia dan Nico. Melda pun tidak tahan lagi mendengar semua pengakuan itu sampai akhirnya ia melangkah masuk ke koridor toilet dan menghampiri anaknya itu. "Cukup, Velia! Hentikan semua ini!" Velia membelalak begitu lebar saat melihat Melda melangkah ke arahnya. Jantungnya memacu kencang dan ia gemetar, takut Melda mendengar semua pembicaraannya dengan Nico. "I-Ibu? Ibu, mengapa Ibu ...." Belum sempat Velia menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan sudah dilayangkan ke wajahnya. Plak!"Akhh!" pekik Velia kaget dan makin ketakutan. Ia memegangi pipinya sambil menatap ibunya tidak percaya. "Ibu ... Ibu menamparku?" Melda menatap anakn
"Kau datang, Bos?" Begitu mengetahui rencana Gary, Leo dan Elisa langsung menyusul ke mall. Mereka pun segera menghampiri Gary. "Bagaimana? Sudah mendapat kesempatan?" "Velia sedang ke toilet dan Nico menyusulnya." "Lalu Bu Melda di mana?" "Sendirian di restoran, Bos." Leo terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Aku akan menyusulnya." Leo pun segera menghampiri Melda yang tidak jauh dari tempatnya. Melda sedang berkutat dengan ponselnya dan bersantai. Wanita itu sudah selesai makan. "Selamat siang, Bu Melda," sapa Leo. "Selamat siang, Bu Melda," sapa Elisa juga. Melda tersentak dan langsung menoleh. "Oh, Pak Leo dan Bu Elisa!" Melda bangkit berdiri dari kursinya. "Kebetulan sekali bisa bertemu kalian di sini." "Ya, tapi Anda datang bersama Velia kan?" "Ya, aku bersama Velia, hanya saja, Velia sedang ke toilet." Leo mengangguk lagi, melirik ke arah Elisa, sebelum mereka membagi tugas. Elisa akan tinggal untuk membayar makanan, sedangkan Leo akan membawa Melda ke
"Ya Tuhan, syukurlah, Leo! Syukurlah akhirnya kita mendapatkan semua bukti untuk membersihkan namamu." Leo pulang keesokan harinya setelah pertemuan dengan Nico. Ia langsung menceritakan semua pada Elisa dan Elisa mendesah lega. "Ya, Sayang, akhirnya semua masalah ini akan selesai. Velia benar-benar salah berurusan denganku. Aku bukan tipe orang yang akan menerima semua begitu saja." "Tapi dia pasti sudah tidak waras karena membiarkan dirinya benar-benar hamil tanpa suami." "Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi yang bisa aku lihat, Bu Melda senang sekali akan mendapat cucu." "Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini. Dan dalam setiap hal buruk, aku percaya selalu terselip hal baik." Leo mengangguk sambil menatap istrinya itu dengan penuh cinta. "Seperti dalam setiap hal buruk yang menimpa kita kan?" Elisa ikut mengangguk sambil tersenyum. Keduanya saling bertatapan sejenak, sebelum mereka saling berpelukan dan berciuman mesra. Memeluk dan mencium suaminya saat se
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







