Share

Desahan dalam Tidurnya

Penulis: Mommykai22
last update Tanggal publikasi: 2026-05-09 12:39:09
"Eddy! Eddy!"

Elisa memanggil nama suaminya di telepon, tapi terlambat. Eddy sudah menutup teleponnya. Dengan gusar, Elisa mencoba menelepon Eddy lagi, tapi Eddy tidak mengangkatnya lagi.

Jantung Elisa masih memacu begitu kencang. Entah apa yang suaminya lakukan dengan suara seperti tadi.

"Apa yang kau pikirkan, Elisa? Apa yang bisa suamimu lakukan di luar sana? Tidak ada. Ya! Tidak ada, Eddy sangat setia," gumam Elisa begitu yakin.

Elisa terdiam cukup lama di posisinya sampai saat suara pin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Bukan Dia

    "Tidak diangkat juga, Bos!" Gary mencoba menelepon Rahmat beberapa kali, tapi Rahmat tidak pernah mengangkat teleponnya. Leo pun mengernyit. "Apa kau yakin yang meneleponmu itu benar-benar Rahmat?" "Dia bilang begitu, dia bisa menyebutkan kejadian dulu dengan jelas, jadi siapa lagi kalau bukan Rahmat?" Leo mengangguk. "Kalau begitu, coba telepon lagi!" Gary mencoba, menelepon beberapa kali, tapi tidak diangkat juga, bahkan akhirnya ponsel Rahmat tidak aktif lagi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu telepon balik dari Rahmat, sambil meminta anak buah mengawasi kafe, siapa tahu mereka melihat kedatangan Rahmat. Namun, sampai sore menjelang, tidak ada berita dari Rahmat juga. "Dia tidak bisa dihubungi lagi, Bos," lapor Gary. "Mungkin dia berubah pikiran lagi, Gary. Tunggu saja dulu! Lebih baik kita ke Wijaya Group dulu untuk melihat perkembangan di sana." Gary dan Leo pun pergi ke Wijaya Group, tapi begitu turun dari mobil, Leo langsung diserbu para wartawan yang

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Tanpa Kabar

    "Berikan obatku, Wira! Berikan sini!" Darmawan sudah duduk di meja makan siang itu dengan sakit kepala yang begitu berat. Ia meminta obat sakit kepalanya, tapi ternyata minum satu tidak mempan. "Tidak mempan! Sialan! Berikan semua!" Darmawan meraih botol obat dari tangan Wira dan meminumnya lagi beberapa biji. "Pak, Anda bisa overdosis kalau meminum sebanyak itu," seru Wira. "Tidak minum obat pun aku bisa mati lebih cepat kalau begini caranya, Wira! Kau tahu apa yang dilakukan Leo sialan itu di kantor kan? Per pagi ini, dia sudah menghentikan semua manager di bawah kita, dia benar-benar ingin mengganti semua managemen. Tapi bukannya dibiarkan keluar, semua manager lama malah diinterogasi dan ditahan seolah kita semua penjahat!" "Dia memang sudah keterlaluan, Ayah!" sahut Arman. "Leo brengsek itu sudah keterlaluan! Begitu juga para polisi sialan yang beraninya menggeledah rumah kita!" "Itu penghinaan untuk kita, Arman! Tapi dalangnya tetap Leo! Ayah masih tidak percaya anak itu

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menunggunya

    Pagi itu, Rahmat bersiap ke kota. Ia dan Nila membawa tas berisi baju-baju yang lebih banyak karena mereka akan tinggal lama di kota. "Aku berdebar, Rahmat," seru Nila. "Aku juga, tapi kita sudah melakukan hal yang benar kali ini." "Tapi entah mengapa perasaanku tidak enak, Rahmat!" Nila memegangi dadanya yang terasa berat. Rahmat yang mendengarnya langsung menghela napas panjang. "Sekarang apa lagi, Nila? Saat aku diam, kau terus mengomel dan minta aku bicara. Sekarang aku sudah mau bicara, kau malah bilang perasaanmu tidak enak dan membuatku kembali galau. Jadi apa yang kau mau, hah?" omel Rahmat yang saking berdebar sampai menjadi sewot. "Aku hanya mengatakan apa adanya." "Aku juga mengatakan apa adanya. Aku sudah menelepon Pak Gary kemarin dan kita tidak bisa mundur lagi, jadi naiklah ke sepeda motor dan kita akan berangkat sekarang." Nila mengangguk patuh dan naik sepeda motor dibonceng suaminya. Sepanjang jalan, Nila terus memeluk pinggang suaminya, menyandarkan kepala ke

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menjaga Jarak

    Suasana kembali hening sejenak, sebelum Rahmat menjawabnya. Rahmat bukan pria yang sungkan-sungkan. Ia akan memberi kesaksian agar hidupnya tenang, tapi ia ingin timbal balik, ia tidak butuh banyak uang, ia hanya butuh istrinya mendapat perawatan yang layak dan sembuh. "Ya, ini benar aku," jawab Rahmat akhirnya. "Aku ... apa tawaran Anda waktu itu masih berlaku? Besok aku akan ke kota. Aku sudah memutuskan untuk speak up, aku melihat sendiri bagaimana Wira membakar semuanya dan sengaja membiarkan kebakaran itu terjadi. Bahkan Darmawan dan Arman ikut berdiri di depan gudang saat kebakaran itu terjadi. Aku tahu semua dan aku akan bersaksi untuk menjebloskan mereka ke penjara." Tawa Gary langsung sumringah mendengarnya, begitu juga Leo yang ikut mendengar karena Gary sudah menyalakan speakernya. "Itu keputusan yang tepat, Pak Rahmat. Sangat tepat," jawab Gary. Rahmat mengangguk. "Tapi Anda janji akan menjamin keselamatanku dan istriku kan? Istriku butuh perawatan karena ia sakit-saki

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Telepon di Malam Hari

    Elisa duduk di meja makannya malam itu. Tidak ada Gary, tidak ada Leo karena mereka sedang sangat sibuk. Elisa tidak tahu kesibukan apa itu, tapi Elisa yakin ini tentang perusahaan dan keluarga Wijaya. Elisa tidak nyaman, sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Darmawan dan Arman keluarganya, tapi bahkan Elisa tidak tahu sekarang harus membantu keluarganya atau diam saja seolah tidak tahu apa-apa. "Kak Elisa tidak makan?" Suara Rara tiba-tiba membuat Elisa tersentak. "Ah, iya, Kakak makan. Rara makan dulu. Tapi mana Nenek?" "Nenek keluar, tadi katanya mau membuang sampah." "Ah, begitu ya? Kakak ... Kakak akan menyusulnya." Elisa butuh mencari udara segar dan ia pun berniat keluar, tapi belum sempat ia keluar sepenuhnya, suara Daisy dan Bik Imah sudah terdengar tidak jauh darinya. Mungkin keduanya masih berada di tempat membuang sampah, tapi karena koridor yang sepi, Elisa bisa mendengar suara mereka dengan sangat jelas. "Jadi benar Bu Hilda dan Susan disekap? Bibik tidak menya

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Gudang Lama

    Albert yang sudah hampir melangkah keluar dari gudang mendadak menghentikan langkahnya. Matanya kembali tertuju pada baskom-baskom yang tergeletak di sudut ruangan.Satu baskom berisi air. Satu lagi berisi nasi yang sudah berubah menjadi bubur encer. Dan di lantai, ada noda darah kering. Walau warnanya sudah kecoklatan, tapi Albert tahu persis kalau itu darah. Albert pun menatap sekelilingnya. Anak buahnya keluar bersama anak buah Arman, sedangkan ia langsung bergerak cepat, mengambil foto dan video dari TKP, sebelum ia menyusul keluar dari gudang itu. "Jadi Anda tidak menemukan apa-apa kan? Karena itu, silakan pulang, Pak," kata salah satu anak buah saat Albert akhirnya keluar dari sana. "Ya, tidak ada, tapi aroma di gudang itu agak aneh, seperti aroma keringat dan anyir darah." "Mungkin darah tikus. Di gudang seperti itu banyak tikus," sahut anak buah Arman lagi. "Tikus? Jadi kalian memberi makan tikus juga? Aku melihat baskom berisi air dan nasi." "Itu untuk anjing, Pak. Ada

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Anak Tukang Selingkuh

    "Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Pria Lain di Kamarnya

    "Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Harus Segera Hamil

    "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status