INICIAR SESIÓNDalam setiap hal baik yang kita lakukan, mungkin tidak akan langsung dibalas dengan kebaikan saat itu juga, tapi percayalah, saat itu, hal buruk akan menjauhi kita dan hal baik akan mendekat.Dan pastinya, kebaikan yang kita tanam pada orang lain, suatu hari nanti pasti akan berbuah yang baik juga. Seperti pagi itu saat seorang wartawan bernama Rendra menelepon Gary. Rendra adalah wartawan yang pernah terkena kasus dengan Wijaya Group dan dipukuli oleh Wira. Waktu itu, Leo menyelamatkannya. Dan sekarang akhirnya Rendra punya kesempatan untuk membalas kebaikan Leo. "Selamat pagi, Pak Gary, aku Rendra. Anda ingat aku kan? Aku wartawan yang dulu mengangkat kasus perselingkuhan Pak Eddy dan berakhir dipukuli oleh anak buah Pak Darmawan." "Ah, selamat pagi, Pak Rendra, tentu saja aku ingat, bagaimana kabar Anda?" "Semuanya baik, berkat Anda dan Pak Leo yang sudah banyak membantuku. Tapi aku sudah mendengar berita tentang Pak Leo.m yang dituduh menghamili wanita lain. Walau aku belum m
"Akhirnya semua masalahnya selesai, Leo." "Ya, Sayang, akhirnya selesai juga." Leo dan Elisa akhirnya pulang ke rumah saat malam menjelang. Mereka tidak mau ikut campur lagi dalam masalah keluarga Velia, tapi Liandro menahan Leo di sana, menjamunya makan malam sekaligus terus mengucapkan maaf tanpa henti. Mereka tidak bisa pulang, tapi mereka lega karena semua berakhir dalam damai. "Bibik senang mendengarnya." "Apalagi aku, Bik. Aku sudah sangat lelah bolak-balik kesana kemari hanya untuk mengurus masalah ini." Bik Imah tersenyum. "Tenang saja, Leo pasti akan memberimu bonus besar, Gary." Tatapan Gary langsung berbinar-binar mendengarnya. "Bonus! Aku suka itu! Bos, jangan lupa bonusku ya."Leo mengangguk. "Tenang saja! Bonusmu on the way." Tatapan Gary makin berbinar-binar. "Oh, ini yang membuatku sangat suka bekerja bersamamu, Bos. Kau tidak pelit dan suka memberiku bonus, haha." Gary terdiam sejenak. "Hmm, tapi ... bolehkah aku meminta satu hal, Bos?" Leo mengernyit mendeng
"Maafkan aku, Ibu! Maafkan aku!" Melda akhirnya membawa Velia ke kamar dan Velia masih terus menangis di kamar. Bahkan akhirnya Velia berlutut di depan kaki ibunya sampai Melda begitu terharu. "Velia, bangunlah! Bangunlah, Nak!" Velia menggeleng. "Maafkan aku, Ibu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, tapi aku benar-benar tidak mau bangun. Aku minta maaf, Ibu." Melda masih menangis, membiarkan kakinya dipeluk oleh Velia, dan tidak meminta anaknya bangun lagi. Mungkin memang anaknya harus berlutut di kakinya. Anaknya sudah melakukan kesalahan yang bagi Melda sangat besar sampai membuat Melda sangat sedih. Ya, Velia harus diberi waktu menyesali semuanya, sebelum memulai kembali dari awal. "Kau sudah tahu salahmu, Velia! Kau salah! Kau salah! Sudah sepantasnya kau minta maaf! Kau membuat keluargamu malu setengah mati ...." "Maafkan aku, Ibu ...." Melda mengangguk tanpa mengatakan apa pun lagi, tapi ia menangkup puncak kepala anaknya, memejamkan mata, dan masih berdoa unt
Sebaik-baiknya orang tua, bukanlah orang tua yang selalu membela anaknya, tapi orang tua yang merelakan anaknya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena setiap keputusan atas tindakan kita selalu ada konsekuensinya. Begitu juga yang dipikirkan oleh Garren dan Melda. Tentu saja rasanya berat untuk Garren memutuskan ini, apalagi Velia adalah anaknya satu-satunya. Tapi perbuatan Velia sudah tidak bisa dimaafkan. Bahkan entah berapa tahun lamanya besok Garren dan Melda akan menunduk malu setiap bertemu Leo. Suasana pun langsung hening saat Garren memutuskan, tidak ada yang membantah, selain tangisan Velia yang makin keras. Velia memegangi perutnya, rasa mualnya sudah tidak bisa ia tahan, tenggorokannya sakit, tapi kakinya kaku. Ia tidak bisa bergerak sama sekali dan terpaksa mendengarkan semuanya sampai akhir. Sementara Leo dan Elisa saling melirik. Sejak semua terbongkar, mereka sudah memikirkan semuanya. Velia memang harus diberikan efek jera, harus diberikan hukuman atas kes
Plak!Belum cukup ditampar oleh Melda di mall, begitu tiba di rumah, Velia ditampar lagi oleh Liandro. Melda sudah tiba duluan di rumah. Dalam perjalanan, ia memanggil Garren pulang. Begitu semua orang berkumpul di rumah, ia langsung menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun lagi atau membela anaknya lagi. Apa yang sudah Velia lakukan sudah tidak dapat ditolerir sampai Melda ingin semuanya selesai sampai di sini. Tentu saja Liandro marah luar biasa sampai begitu Velia tiba di rumah, ia langsung disambut tamparan kakeknya itu. "Grandpa sudah memberimu kesempatan, Velia! Grandpa bahkan sudah berpikir untuk memaafkanmu, tapi ternyata semua terbukti hanya rekayasa darimu sendiri! Kalau semua tidak terbongkar, kau masih mau berakting sampai kapan, hah? Uhuk! Uhuk!" Liandro membentak sampai terbatuk saking kerasnya. "Ayah!" Garren berusaha menenangkan Liandro. Garren pun menatap anaknya dengan kemarahan yang sama. "Ayah benar-benar tidak menyangka kau bisa melakukan tindakan
Saat Melda tiba di koridor toilet dan melihat Velia di sana, Melda sudah ingin menghampiri anaknya itu. Ia melihat Velia tidak apa-apa dan ia hampir saja memarahi Leo karena sudah membuatnya cemas. Namun, Leo menahannya lagi, membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya pria itu lakukan. Sampai beberapa detik kemudian, ia mulai mendengar percakapan Velia dan Nico. Melda pun tidak tahan lagi mendengar semua pengakuan itu sampai akhirnya ia melangkah masuk ke koridor toilet dan menghampiri anaknya itu. "Cukup, Velia! Hentikan semua ini!" Velia membelalak begitu lebar saat melihat Melda melangkah ke arahnya. Jantungnya memacu kencang dan ia gemetar, takut Melda mendengar semua pembicaraannya dengan Nico. "I-Ibu? Ibu, mengapa Ibu ...." Belum sempat Velia menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan sudah dilayangkan ke wajahnya. Plak!"Akhh!" pekik Velia kaget dan makin ketakutan. Ia memegangi pipinya sambil menatap ibunya tidak percaya. "Ibu ... Ibu menamparku?" Melda menatap anakn
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar







