Masuk"Pria man.."
"....." Gadis itu tertegun menghentikan ucapannya, sekilas mengingat salah satu kejadian yang terbesit dalam benak.
"Saya mencari gadis baju kuning,"
"Hhh. Sial! Aku yakin tadi denger kalo pria tua itu bilang, nyari gadis baju kuning!"
"Kebetulan nenek ngasih baju kuning polos. Terus dia barusan menelpon dan tiba tiba nenek nelpon aku--"
"Arhg, tapi masa nenek nyariin jodoh tua kek gitu sih?! Aku ga salah lihat. Mukanya kek seumuran bahkan lebih tua dari nenek!" gerutu Thea dalam hati.
"Ngga!! aku harus pergi sekarang,"
Berkat rasa panik gadis itu memilih untuk segera beranjak dari tempat duduk dan melangkah pergi, namun tidak sengaja menabrak salah satu karyawan. Membuat beberapa pesanan yang dibawa berserakan ke atas lantai,
"Maaf…" ucap karyawan itu dengan kepala tertunduk,
"Gapapa gapapa." Melambaikan tangan dengan cepat sebelum merogoh uang dari dalam dompet,
"Nih buat ganti pesanan yang barusan tumpah." tegas Thea bergegas melangkah pergi setelah menyodorkan lembar kertas tadi.
"Plis, jangan lihat!!" pikirnya berjalan sambil menutupi wajah dengan telapak tangan.
Berharap tidak ada masalah ketika berjalan melewati pria tua tadi. Berlari secepat mungkin setelah berhasil keluar dari dalam ruangan,
Dikemudikannya kembali kendaraan tadi menuju apartemen Manda.
****
Brak...
Menutup pintu mobil dengan keras. Meski telah selamat dari bahaya, gadis itu masih tergesa gesa berjalan masuk ke dalam lift. Berhasil membawa kantong belanjaan lalu menekan salah satu angka yang akan membawanya ke lantai atas,
Drap..
Drap..
Drap..
Thea berlari secepat mungkin sambil melepas rambut palsu yang ia pakai. "Ck. Gatel banget!" gerutunya,
Sekejap tersentak ketika menyadari beberapa orang yang tengah berjalan ke arahnya, membuat Thea berhenti berlari dan melangkah dengan cepat.
Seluruh mata menatap risih sekaligus heran melihat kedatangan wanita aneh di tempat itu. Disesalkannya wig tadi ke dalam tas belanjaan sebelum sampai di depan pintu,
Tring...Tring...Tring…."Aduh, ayo dong cepet buka!" gerutu Thea, berulang kali menekan bel.
Harapan tadi berhasil terkabul ketika pembatas di depannya perlahan terbuka. Menampilkan seorang gadis yang baru saja tersentak kaget berkat penampilan Thea saat ini,
"Aaaa!" pekik Manda nyaris membulatkan mata,
"Hhh, ya ampun! Jantungku hampir copot." Mengusap bagian tubuh yang tengah berdetak kencang, segera menghela nafas sebelum berbalik masuk dengan kaki lemas.
Seakan membuka jalan, tanpa segan Thea berjalan mengikuti punggung yang nyaris menghilang.
"Jangan lupa ditutup lagi!" seru Manda, telah menempatkan diri di atas sofa sambil bersandar guna melanjutkan aktivitasnya tadi.
Sekilas melirik ke arah gadis yang tengah melangkah mendekat. "Sebentar banget ketemuannya, dia pasti kabur ya, habis ngeliat kamu?"
"Engga. Justru aku yang kabur ngeliat dia," bantah Thea memasang raut kecewa, melempar tubuh demi mengisi tempat kosong di samping temannya.
"Lah, kenapa gitu---emang apa aja yang terjadi?" Begitu penasaran melihat aura kekalahan yang terpancar kuat dari wajah Thea.
"Masak yang mau dijodohkan denganku, pria yang umurnya udah tua banget! Padahal aku sempet ngira, kalo dia kesana sama cucunya." sahut Thea menjelaskan.
"A-apa? masak sih? Kamu yakin ga salah lihat,"
"Enggak. Aku yakin banget! dia ngomong kalo nyari gadis pake baju kuning----dan lihat!" seru Thea,
Begitu tergesa gesa memilah seraya melirik satu persatu paper bag demi mencari benda yang tepat. Hingga menemukan sebuah dress kuning, tanpa segan merogoh lalu disodorkannya ke hadapan Manda, "Nih.."
"Terus bukan cuma ini! Aku lihat kakek itu langsung menghubungi seseorang, habis itu beberapa detik setelahnya nenek langsung nelpon aku!"
"Ng, kebetulan mungkin.." sanggah Manda memikirkan peluang yang terjadi,
"Ga mungkin! Aku yakin kakek itu orang yang nenek maksud."
"Ya udah, terus kenapa lari? Toh dandananmu udah jelek. Dia pasti ga akan mau, dilihat dari umurnya----pria itu pasti belum menikah karena terlalu pemilih." seru Manda berspekulasi,
"Iya, tapi itu mah milihnya waktu dia masih muda dulu. Kalo sekarang! Cantik atau nggak, pasti tetap dinikahi. Dia juga kaya---kalo dapet cewek jelek tinggal disuruh oplas! Beres,"
"Bener juga sih!" gumamnya mengangguk paham,
"Hhh, untung aja keburu kabur dari sana!" seru Thea menghela nafas lega, merasa begitu lelah hingga reflek menyandarkan diri ke pundak temannya.
Perlahan Manda merasakan hal aneh tengah menyiksa indra penciumannya. Menerbitkan kerutan alis setelah menghirup aroma busuk yang cukup menyengat, segera mengendus asal bau asing yang perlahan menuntunnya ke tubuh Thea.
"Huek--Thea! Kamu ga mandi ya? bau banget!" celetuk Manda mendorong paksa tubuh gadis tadi hingga menjauh,
"Masa sih? aku udah mandi kok." sanggah Thea mulai mengendus kuat. Segera mengernyit ketika menyadari bau tak sedap yang membuatnya sesak,
"Ih, bau banget. Aku baru ingat, sebelum masuk restoran! Aku sempet make parfum bau yang kita beli tadi."
"Iyuh. Pantesan! udah sana buruan mandi terus bersihin make upnya-----Aku tadj hampir terkena serangan jantung, gara gara wajah itu!" gerutu Manda dengan raut kesal,
"Ck, iya iya. Tapi dimana handuknya?" decak Thea merendahkan suara,
"Itu ada di dalam rak. Ambil aja,"
"Oke," lugasnya bergegas beranjak dari tempat duduk,
Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi sambil meraih salah satu kain putih yang tertata rapi di dalam rak. Benda dengan pembatas kaca dua arah itu menyimpan tumpukan handuk serta beberapa keperluan lain yang dibutuhkan untuk merawat kebersihan tubuh,
Berbekal kain kaki Thea mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
30 menit kemudian,
Dengan sedikit usaha akhirnya dia berhasil menghapus bersih noda riasan untuk mengembalikan wajah cantiknya. Sebuah handuk terlilit demi menutupi tubuh serta rambut yang terurai basah, Thea berjalan keluar hingga melewati ruang tv.
Sorot mata teralih tak kuasa menahan rasa penasaran melihat satu kantong plastik berukuran besar di atas meja, serta seorang gadis yang terlihat tengah bersiap untuk menata benda di dalamnya. "Apaan tuh?"
"Hei! udah selesai?" Menoleh dengan kedua alis terangkat,
"Ini aku mesen makanan, kalo sudah ayo makan!" ajaknya tersenyum lebar.
"Iya bentar. Aku belum pake baju---eh! Aku ga bawa baju tidur," Menghentikan langkah yang hendak mendekati pembatas kamar.
"Aku pinjem baju tidurmu ya?"
"Iya, ambil aja di lemari." angguk Manda enggan menoleh, sibuk menata bungkus makanan ke atas meja.
"Makasih!" Tersenyum lebar setelah mendapat persetujuan.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar, menatap sekilas susunan tempat yang telah dihapalnya. Berjalan ke arah lemari kayu, segera membuka salah satu pintu dan mendapati berbagai tumpuk piyama berbagai model.
Begitu mudah mengetahui letak barang milik temannya. Tanpa ragu memilih satu setelan,
"Udah ketemu?" pekik suara gadis dari luar kamar,
"Udah.." sahut Thea mengeraskan suara,
"Cepetan! aku udah laper banget!"
"Iya iya, sebentar!" ujarnya semakin tergesa gesa membalut tubuh dengan piyama sutra tadi.
Nyaris dalam waktu lima menit dia telah berhasil menyelesaikan semua hal lalu bergegas keluar kamar dan berjalan ke arah sofa,
Menatap gadis yang telah menunggu, "Udah!"
"Ya udah. Tunggu apalagi? Buruan duduk.." pinta Manda antusias, merasakan getaran dari cacing pita yang memenuhi perutnya.
Thea tersenyum, tanpa ragu menempatkan diri ke atas lantai. "Beli apaan?"
***Bersambung.
"Apa ada informasi?" Menggenggam erat telfon di tangannya."Ya, setelah lama mencari akhirnya ada petunjuk tentang kecelakaan itu. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ayah tanyakan.." sahut Zen terdengar serius berhasil membuat Nathan penasaran."Dimana kamu saat kecelakaan terjadi?""Romi bilang pada ayah kalau kamu ada urusan bisnis. Tapi setelah ayah telusuri, perusahaanmu sedang sibuk mengurus peluncuran produk baru dan tidak mungkin pimpinan perusahaan pergi meninggalkannya begitu saja." "Mm, aku sedang ada urusan lain." ucap Nathan terdengar ragu,"Apakah kamu bertemu dengan Rena?" Kedua manik Nathan membulat sempurna setelah ditodong dengan pertanyaan tadi. Tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak dengan tepat,"Dia terdiam?" batin Zen menggertak geram"Jadi benar, dugaanku---kamu masih berhubungan dengan gadis itu.""Aku hanya menerima undangan dari teman lama, dan datang ke pameran seninya." lugas Nathan membela diri,"Apa kamu lupa apa yang terjadi dulu? Bisa-bisanya kalian
"Berhubungan---sepertinya tidak salah kalau dicoba, aku akan membicarakannya dengan Thea." Pria itu bergumam sambil melangkah ke depan pintu kamar yang tertutup rapat."Apa yang Bapak lakukan disini?" Celetuk Thea terkejut mendengar suara di ujung kamar. "Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu," sahutnya menatap gadis yang tengah berdiri di depan cermin."Buat apa?" menjawab dengan ketus,"Memastikan agar kamu nyaman disini," mengamati sekeliling. "Tapi ruangan ini lebih luas dari milikku. Pasti tidak nyaman,""Tidak, saya menikmatinya. Jadi tidak perlu berpikir berlebihan," imbuh Thea dengan raut datar.Walau bukan kamar utama, tapi ruangan itu memiliki luas paling besar karena baru saja direnovasi dan sejak lama sengaja dibuat sebagai kamar keluarga Adelard beserta anak anaknya."Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?""Masalah apa? Saya tidak ingat apapun." ungkap Thea penuh lantang."Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja, kamu gadis pertama yang menyatakan cinta
Srash....Rintikan hujan terus berjatuhan membasahi taman, membuat ribuan lahan hijau berhias bunga itu bergoyang lirih. Terlihat Thea tengah berdiri berpangku tangan di depan pintu memandangi suasana disekitar, bola matanya mematung tak menghiraukan percikan air yang sesekali menyentuh kulitnya."Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan yang baru saja sampai menghampiri istrinya.Sedari tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sempat tertinggal hingga baru menyadari jika gadis itu tidak berada di kamarnya,"......" Thea terdiam membelakangi pria yang masih berdiri tegak menatap punggungnya.Nathan melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh dari mereka, seakan meminta penjelasan atas kebungkaman Thea."Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mengajak Nyonta masuk.." sahut pelayan muda dengan kepala tertunduk,Pria itu menghela nafas lalu berkata, "Ya sudah, kau boleh pergi. Siapkan baju ganti, biarkan saya yang mengurusnya."Pelayan itu mengangguk sebelum pergi menin
"Sepertinya, Nyonya masih lelah karena terlalu lama berenang. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda?""Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat," tolak Thea bersikap tak acuh,"Tidak enak badan? Apa itu parah--kalau kau sakit, kenapa tadi keluar?" sontak Nathan merasa cemas,Bahkan nafsu makannya seketika menghilang setelah mengetahui keadaan gadis tadi, ingin rasanya memanggil seluruh staf rumah sakit guna memeriksa keadaan Thea."Saya pikir itu akan membantu, ternyata saya salah." sahutnya menghela nafas, masih menghindari kontak mata."Tentu saja salah. Sejak kapan lari pagi bisa menyembuhkan orang sakit?" timpal Nathan merasa geram, tak lagi mendapat sahutan.Seketika membuat pria itu sedikit mengoreksi kesalahan yang dilakukan, menganggap kalau orang sakit tidak bisa menerima perkataan kasar. Berusaha menahan juga bersikap lebih lembut, "Hh, sudahlah. Apa ada hal lain yang kau minta? Aku akan menurutinya,""Tidak ada," tegas Thea singkat,"M
"Itu tidak perlu," tolaknya dengan pasti, Jika dia setuju maka hal ini hanya akan menambah beban dalam hati, Thea memutuskan untuk tidak lagi berharap atau memupuk perasaan yang seharusnya tidak muncul dalam hubungan palsu. "Apa kau tidak tahu betapa bahayanya diluar?" "Kenapa Bapak berlebihan, lupakan masalah tadi. Yang penting saya sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja," seru Thea seakan menepis simpati yang didapat, "Kau selalu membangkang. Ini semua kulakukan untuk melindungimu," lugas Nathan begitu malas menjelaskan setiap tindakan yang diambil, "Hh, apa sebenarnya yang dia maksud? Melindungi dari siapa," benak Thea menghela nafas, Melirik sekilas paras tampan yang bisa membuat hatinya goyah, namun dengan cepat Thea berbalik berusaha meyakinkan diri untuk tidak lagi berdekatan. Berusaha untuk mengubur perasaan sekaligus menutup harapan, Bergegas melangkah pergi meninggalkan pria yang masih terdiam menatap punggungnya, "Tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja. A
"Srup---ah!" celetuk suara puas dari bibir ranum yang baru saja menikmati beberapa teguk minuman.Cap..Cap..Cap..Berulang kali mengecap demi mengingat rasa manis yang tersisa di langit-langit mulut, lengkung sempurna perlahan muncul saat melihat sosok dengan setelan hitam putih tengah berjalan menghampiri.Sepoi angin siap menerpa rambut legam terkuncir tinggi bak ekor kuda, terasa begitu sejuk saat kutikula tubuh serta leher jenjangnya tertiup udara."Kenapa kau berikan padaku?" ucap Thea menegur wanita yang sedang berdiri sambil menyodorkan sebuah kelapa. Begitu bingung padahal dirinya sendiri juga telah memangku s
BAB 109Sebuah kendaraan roda empat baru saja melewati gerbang berukuran besar, menapak jalan demi berhenti pada area halaman sebuah gedung mewah. Manik hitam Manda sekilas menatap tempat yang pagi tadi ia kunjungi, siapa sangka kaki itu harus kembali melangkah ke dalam tempat yang menginga
Ceklek, Suara pembatas terbuka membuat sedikit kebisingan di tengah ruang luas bertabur warna putih, tercium aroma obat menyebar ke segala sisi. Namun tak mengusik seorang gadis yang terlihat masih tegar menduduki sofa empuk sambil menghadap ranjang besar di depannya, Meski
"Tuan sedang ada di ruang kerjanya, silahkan masuk. Akan saya antar," ujar seorang pelayan wanita paruh baya di depan pembatas yang telah terbuka.Kaki renta Zen dengan sigap melangkah masuk ke dalam rumah m
"Oh ya, aku mau tanya---kenapa nenek bisa ada di rumahmu?" celetuk Manda sekilas melirik gadis yang tengah mengisi kursi mobil disampingnya, Setelah selesai mengembalikan suasana mereka berdua baru menyada







