Se connecter"Kalo gitu, mau aku beresin dulu.." seru Manda segera berjalan ke arah kekacauan.
Dengan satu helaan nafas tangannya mulai terulur untuk mengambil satu persatu benda yang tergeletak di atas lantai lalu meletakkannya kembali ke tempat yang tepat.
30 menit kemudian.
Seluruh ruangan terlihat rapi dan kembali bersih sama seperti sebelum kedatangan Thea. Seorang gadis tengah berbaring manja di atas ranjang sambil menikmati tontonan televisi sedangkan di sisi lain terlihat sosok yang telah menyelesaikan riasannya,
"Tara---udah siap!" Berbalik menghadap ke arah Manda demi menunjukkan hasil tangan,
"Coba lihat. Gimana menurutmu?" celetuk Thea perlahan melangkah semakin mendekatkan diri ke samping tempat tidur.
"Buset, jelek banget!" sontaknya menutup mulut yang sekilas menganga karena terkejut,
Dengan kedua manik membulat sempurna, gadis tadi mengamati setiap inci dari hasil karya polesan yang menempel di wajah Thea.
Begitu takjub melihat alis tebal seperti ulat bulu, dempulan bedak yang begitu menyimpang karena tidak sesuai dengan tone kulit, serta pemilihan warna pada eyeshadow, lipstik, serta pemerah pipi yang terkesan sangat mencolok.
Penampilan sempurna karena ditemani sebuah dress kuno bermotif bunga, juga sedikit tambahan pada rambut keriting yang dipakainya. Semua itu semakin menunjukkan karakter yang ingin Thea perankan,
"Wih. Aku seneng banget, berasa dapet pujian. Karena itu artinya---aku berhasil menyulap seorang dewi cantik, menjadi badut kampung! Iya kan?" tegas Thea antusias,
Tak henti menerbitkan senyum lebar karena perasaan senang yang berbunga dalam hati setelah melihat hasil usahanya. Gadis itu berbalik dan kembali berdiri ke hadapan cermin sambil berlenggak lenggok, sekali lagi menilai penampilan yang melekat pada tubuhnya.
"Halo. Saya Thea," merendahkan suara sambil berlatih dengan logat berbeda.
"Iyuh jijik, aku sampe merinding! Sumpah--jelek banget suaranya.." gerutu Manda meraih bantal empuk demi menutupi kedua telinga,
"Kamu niat banget jadi cewek jelek,"
"Iya dong. Harus gitu! Kita lihat bagaimana ekspresi pria itu, kalo tau calon pasangannya seorang cewek jelek. Hahaha! Aku pasti berhasil menggagalkan perjodohan ini," seru Thea tertawa renyah.
DRT..
DRT..DRT..Terbit sebuah dering ponsel yang membuat gadis itu terdiam, reflek melirik benda tipis di atas meja rias. Segera diraihnya lalu mendapati sebuah notif panggilan masuk pada layar yang berasal dari salah satu nama dalam kontak.
"Huft--baru aja selesai make up! Pasti nenek mau ngingetin biar ga terlambat datang.." cicit Thea menghela nafas, segera mengusap layar demi menerima panggilan.
"Halo Nek?"
"Halo Thea! kamu ga lupa kan?" bentak suara wanita dibalik telepon,
"Iya! Thea ga lupa kok. Ini udah siap siap, habis ini mau berangkat.." sahutnya merendahkan suara,
"Yaudah, cepet! Awas kalo terlambat." tegas Barsha sebelum menutup telepon,
"Hhh, dasar cerewet!" protesnya mendengus kesal,
"Siapa---Nenek?" Mengangkat alis sambil memasang raut penasaran,
"Ya, siapa lagi kalo bukan Nenek. Yaudah, aku berangkat dulu ya?" celetuk Thea segera menoleh demi meraih tas gantung miliknya,
"Mau di anterin ke bawah?" tawar Manda hendak melangkah turun dari ranjang,
"Enggak usah, aku bisa sendiri." tolaknya singkat.
"Oh oke! semoga berhasil. Jangan lupa kabarin ya!" Melambaikan tangan,
"Iya tenang aja, nanti langsung aku telpon!"
Tak lupa gadis itu membawa barang belanjaannya tadi sebelum melangkah keluar. Dengan sigap berjalan hingga memasuki lift untuk sampai ke area basement,
Terdengar satu dering bunyi dari salah satu kendaraan dalam barisan berkat jari yang baru saja menekan tombol pada kunci mobil. Segera Thea menempatkan diri lalu meletakkan semua kantong tadi ke kursi belakang,
Dipasangnya seat belt sebelum memulai perjalan yang akan membawa gadis itu ke sebuah gedung bertingkat.
"Ayo, kita bertempur!" tegas Thea menyeringai,
Dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke hotel Expa. Salah satu hotel bintang lima terkenal, dengan kemegahan serta kemewahan dalam penyajian makanan juga penyediaan fasilitas yang hanya bisa dirasakan oleh orang kelas atas.
"Niat banget sih. Masak cuma acara kek gini pake ketemu di hotel mewah! Mana dihias segala," gumam Thea baru saja melewati lorong,
Kedua sorot mata tengah sibuk menatap lilin juga kelopak bunga yang tersebar di beberapa tempat guna hiasan di sepanjang jalan,
Menuntun langkah Thea hingga memasuki ruangan penuh barisan meja dengan banyak pengunjung bersetelan semi formal. Begitu banyak senyum bertebaran di wajah pasangan lain,
"Huft. Untungnya ada banyak orang! Kirain bakal berdua doang," pikir Thea menghela nafas lega.
Berusaha berjalan dengan santai dengan raut tak acuh meski mendapat tatapan dari beberapa pengunjung. Segera dia menempati kursi yang terletak cukup dekat dari pintu keluar,
"Aduh. Gara gara dandan kayak gini, semua orang pada ngeliatin. Jangan sampe ada security datang buat ngusir aku. Dilihat dari manapun meski modelnya jelek, tapi ini barang mahal!" Bergumam dalam hati sambil mempertahankan sikap tenang,
Sekilas menatap layar ponsel yang menunjukkan bahwa dirinya berhasil sampai 5 menit lebih awal sebelum waktu pertemuan.
"Mana ya orangnya? Masa sih udah datang duluan," seru Thea perlahan menoleh demi menatap satu persatu pengunjung di tempat itu, namun hanya mendapati meja penuh pasangan.
"Tapi kayaknya yang lain pada bawa pacar. Kalo gitu dia belum datang!"
Tap…
Tap…
Tap…
Terdengar suara langkah kaki yang baru saja masuk ke dalam restoran hotel. Suasana hening dalam ruang membuat gadis itu begitu jelas mendengar langkah kaki tadi,
Reflek menoleh demi mencari asal suara hingga mendapati pria tua dengan setelan mahal tengah menoleh ke segala arah, memasang raut bingung seakan sedang mencari seseorang.
"Wih, hebat juga! udah tua masih bisa main ke tempat kek gini. Mana datang sendiri.."
"Dia lagi nyari siapa?" pikirnya mulai menoleh sekilas ikut mencari.
"Oh--atau mungkin, dia kesini sama cucunya.." Mengangkat bahu lalu kembali membenarkan posisi,
Namun tak lama kemudian, sorot mata itu kembali mencuri pandang saat kakek tadi menghalangi langkah salah satu pelayan pria yang berjalan melewatinya.
Sekali lagi karena jarak yang cukup dekat, Thea dapat dengan mudah mendengar percakapan mereka berdua.
"Saya mencari, gadis yang memakai baju kuning. Apakah kamu melihatnya?"
"Maaf Tuan. Saya belum melihat gadis dengan baju kuning,"
"Oh, yasudah terima kasih." sahutnya membiarkan pelayan tadi pergi,
Setelah percakapan singkat tadi, tanpa ragu pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan terlihat tengah menghubungi seseorang.
Entah apa yang membuat pandangan mereka saling bertemu hingga membuat Thea segera mengalihkan muka. "His---gara gara, ga ada kerjaan. Aku malah nguping pembicaraan orang tua!" sontaknya menghentikan diri.
"Tapi kasihan, durhaka banget cucunya! Masak orang tua disuruh nunggu."
DRT..
DRT...DRT...Suara dering mengalihkan sorot mata gadis itu hingga mendapati panggilan lain, "Ngapain nenek nelpon lagi?" pikirnya menggeser ikon hijau pada layar ponsel.
"Halo nek?" sapa Thea lirih,
"Kamu ada dimana!" teriak wanita dibalik telepon.
Suara yang begitu nyaring berhasil memacu hormon adrenalin dalam tubuhnya untuk segera menjauhkan ponsel tadi dari telinga. Tentu saja Thea tidak ingin teriakan nenek merusak gendang telinganya,
"Apaan sih Nek? main teriak teriak aja. Kuping Thea sakit tau! Thea udah sampai kok. Ini lagi nunggu pria yang Nenek maksud,"
"Ga usah bohong. Kamu pasti belum datang!" tegur nenek dengan sangat yakin,
"Loh, gimana sih! Malah ga percaya. Ini Thea beneran udah ada di restoran hotel Expa,"
***Bersambung."Apa ada informasi?" Menggenggam erat telfon di tangannya."Ya, setelah lama mencari akhirnya ada petunjuk tentang kecelakaan itu. Tapi sebelumnya, ada yang ingin ayah tanyakan.." sahut Zen terdengar serius berhasil membuat Nathan penasaran."Dimana kamu saat kecelakaan terjadi?""Romi bilang pada ayah kalau kamu ada urusan bisnis. Tapi setelah ayah telusuri, perusahaanmu sedang sibuk mengurus peluncuran produk baru dan tidak mungkin pimpinan perusahaan pergi meninggalkannya begitu saja." "Mm, aku sedang ada urusan lain." ucap Nathan terdengar ragu,"Apakah kamu bertemu dengan Rena?" Kedua manik Nathan membulat sempurna setelah ditodong dengan pertanyaan tadi. Tidak menyangka kalau ayahnya bisa menebak dengan tepat,"Dia terdiam?" batin Zen menggertak geram"Jadi benar, dugaanku---kamu masih berhubungan dengan gadis itu.""Aku hanya menerima undangan dari teman lama, dan datang ke pameran seninya." lugas Nathan membela diri,"Apa kamu lupa apa yang terjadi dulu? Bisa-bisanya kalian
"Berhubungan---sepertinya tidak salah kalau dicoba, aku akan membicarakannya dengan Thea." Pria itu bergumam sambil melangkah ke depan pintu kamar yang tertutup rapat."Apa yang Bapak lakukan disini?" Celetuk Thea terkejut mendengar suara di ujung kamar. "Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu," sahutnya menatap gadis yang tengah berdiri di depan cermin."Buat apa?" menjawab dengan ketus,"Memastikan agar kamu nyaman disini," mengamati sekeliling. "Tapi ruangan ini lebih luas dari milikku. Pasti tidak nyaman,""Tidak, saya menikmatinya. Jadi tidak perlu berpikir berlebihan," imbuh Thea dengan raut datar.Walau bukan kamar utama, tapi ruangan itu memiliki luas paling besar karena baru saja direnovasi dan sejak lama sengaja dibuat sebagai kamar keluarga Adelard beserta anak anaknya."Apa kamu masih marah karena masalah kemarin?""Masalah apa? Saya tidak ingat apapun." ungkap Thea penuh lantang."Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Hanya saja, kamu gadis pertama yang menyatakan cinta
Srash....Rintikan hujan terus berjatuhan membasahi taman, membuat ribuan lahan hijau berhias bunga itu bergoyang lirih. Terlihat Thea tengah berdiri berpangku tangan di depan pintu memandangi suasana disekitar, bola matanya mematung tak menghiraukan percikan air yang sesekali menyentuh kulitnya."Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan yang baru saja sampai menghampiri istrinya.Sedari tadi dia sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang sempat tertinggal hingga baru menyadari jika gadis itu tidak berada di kamarnya,"......" Thea terdiam membelakangi pria yang masih berdiri tegak menatap punggungnya.Nathan melirik ke arah pelayan yang berada tidak jauh dari mereka, seakan meminta penjelasan atas kebungkaman Thea."Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mengajak Nyonta masuk.." sahut pelayan muda dengan kepala tertunduk,Pria itu menghela nafas lalu berkata, "Ya sudah, kau boleh pergi. Siapkan baju ganti, biarkan saya yang mengurusnya."Pelayan itu mengangguk sebelum pergi menin
"Sepertinya, Nyonya masih lelah karena terlalu lama berenang. Apa perlu saya panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan anda?""Tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat," tolak Thea bersikap tak acuh,"Tidak enak badan? Apa itu parah--kalau kau sakit, kenapa tadi keluar?" sontak Nathan merasa cemas,Bahkan nafsu makannya seketika menghilang setelah mengetahui keadaan gadis tadi, ingin rasanya memanggil seluruh staf rumah sakit guna memeriksa keadaan Thea."Saya pikir itu akan membantu, ternyata saya salah." sahutnya menghela nafas, masih menghindari kontak mata."Tentu saja salah. Sejak kapan lari pagi bisa menyembuhkan orang sakit?" timpal Nathan merasa geram, tak lagi mendapat sahutan.Seketika membuat pria itu sedikit mengoreksi kesalahan yang dilakukan, menganggap kalau orang sakit tidak bisa menerima perkataan kasar. Berusaha menahan juga bersikap lebih lembut, "Hh, sudahlah. Apa ada hal lain yang kau minta? Aku akan menurutinya,""Tidak ada," tegas Thea singkat,"M
"Itu tidak perlu," tolaknya dengan pasti, Jika dia setuju maka hal ini hanya akan menambah beban dalam hati, Thea memutuskan untuk tidak lagi berharap atau memupuk perasaan yang seharusnya tidak muncul dalam hubungan palsu. "Apa kau tidak tahu betapa bahayanya diluar?" "Kenapa Bapak berlebihan, lupakan masalah tadi. Yang penting saya sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja," seru Thea seakan menepis simpati yang didapat, "Kau selalu membangkang. Ini semua kulakukan untuk melindungimu," lugas Nathan begitu malas menjelaskan setiap tindakan yang diambil, "Hh, apa sebenarnya yang dia maksud? Melindungi dari siapa," benak Thea menghela nafas, Melirik sekilas paras tampan yang bisa membuat hatinya goyah, namun dengan cepat Thea berbalik berusaha meyakinkan diri untuk tidak lagi berdekatan. Berusaha untuk mengubur perasaan sekaligus menutup harapan, Bergegas melangkah pergi meninggalkan pria yang masih terdiam menatap punggungnya, "Tunggu! Kenapa kau pergi begitu saja. A
"Srup---ah!" celetuk suara puas dari bibir ranum yang baru saja menikmati beberapa teguk minuman.Cap..Cap..Cap..Berulang kali mengecap demi mengingat rasa manis yang tersisa di langit-langit mulut, lengkung sempurna perlahan muncul saat melihat sosok dengan setelan hitam putih tengah berjalan menghampiri.Sepoi angin siap menerpa rambut legam terkuncir tinggi bak ekor kuda, terasa begitu sejuk saat kutikula tubuh serta leher jenjangnya tertiup udara."Kenapa kau berikan padaku?" ucap Thea menegur wanita yang sedang berdiri sambil menyodorkan sebuah kelapa. Begitu bingung padahal dirinya sendiri juga telah memangku s
Mendengar logat halus yang begitu menyejukkan telinga juga sentuhan intim yang terasa nyata, padahal kedua hal itu adalah impian yang tak mungkin didapat.Tapi siapa sangka setelah menjadi kenyataan semua ini justru menyakitkan hati Thea, kata bak pinangan tadi berubah setajam pedang
WARNING 21+ ________________________________ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA ________________________________ Blush.. Begitu jelas terukir rona merah di kedua pipi Thea, wajah putihnya berubah bak kepiting rebus berkat perkataan penuh makna. "
Sigap gadis itu berdiri memandang Nathan yang siap menarik kaos hitam hingga memperlihatkan tubuh bagian atas. Mulai dari lekuk otot perut hingga kedua titik pada dada bidang, entah kenapa Thea belum menyadari jika kedua maniknya perlahan tersihir karena pemandangan tersebut.
"Huh! Apa dia bilang? Perutku penuh dengan lemak! Memangnya dia pernah melihat perutku--seenaknya saja menghina tanpa bukti." gerutu Thea mendengus kesal,Dengan hati yang terbakar amarah dia berdiri di depa







