Beranda / Zaman Kuno / Asmaraloka Sang Putri Pusaka / Bab 37 Resah dan Gelisah

Share

Bab 37 Resah dan Gelisah

Penulis: Fei Adhista
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-12 22:24:08

Debu masih menempel di wajah Raras ketika ia berdiri di antara warga yang sibuk menegakkan tiang bambu. Tangannya perih karena tali ijuk, namun ia tetap menarik dengan kuat.

“Jangan kendurkan, ikat lebih rapat!” serunya pada dua pemuda yang hampir menyerah.

Alin mendekat, membawa kendi air. “Gusti, minum dulu. Wajah paduka pucat.”

Raras menerima kendi itu, meneguk seteguk saja. “Masih banyak rumah yang roboh. Kita tidak boleh berhenti.”

Suara kayu berderak terdengar di belakang. Jalardi dan beberapa warga menggotong papan berat, hampir saja jatuh sebelum Raras berlari membantu menahan. Tangannya gemetar, tapi ia tak mundur.

Sitira menatapnya khawatir. “Paduka, biarkan kami yang bekerja. Tubuh paduka sudah lemah.”

Raras menghela napas, menatap mereka satu-satu. “Kalau aku berhenti, bagaimana kalian bisa percaya bahwa Daha akan bangkit? Aku harus ada di sini, bersama kalian.”

Hening sesaat. Hanya suara palu dan teriakan warga yang kembali menggema.

Di kejauhan, langkah berat mendekat. P
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 145

    Dentang lonceng pelabuhan belum selesai ketika halaman dalam Majakirana mendadak riuh. Derap langkah terdengar teratur, berat, datang dari arah barat benteng. Rakai menghentikan langkahnya. Raras ikut menoleh, jari-jarinya mengencang di lengan Rakai.Pasukan.Bukan pengawal istana biasa. Seragam mereka lebih gelap, lambang Majakirana terpasang penuh di dada, pedang terhunus meski masih setengah. Wajah-wajah yang tidak ramah, patuh pada satu perintah, bukan pada keadaan.Seorang perwira maju selangkah. “Atas perintah Pangeran Haryo, Rakai diminta tetap berada di Mandalajati. Sekarang.”Nada itu bukan permintaan.Raras melangkah ke depan tanpa ragu. “Kami baru saja keluar dari pertemuan resmi. Tidak ada keputusan penahanan.”Perwira itu tidak menatap Raras lama. “Perintah sudah jelas.”Dua baris pasukan bergerak, menutup jalan keluar. Rakai menarik Raras ke sampingnya, tubuhnya sedikit condong, posisi melindungi. Tatapannya menyapu cepat. Terlalu banyak untuk dilawan. Terlalu rapi untuk

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 144

    Kereta kuda berhenti di halaman dalam Mandalajati saat senja hampir runtuh. Batu-batu pelataran memantulkan cahaya obor, membuat bayangan para pengawal memanjang seperti jeruji. Rakai turun lebih dulu, lalu membantu Raras turun dengan hati-hati. Tangannya tidak pernah lepas, seolah dunia bisa runtuh jika ia melepas satu detik saja.Pintu aula utama terbuka.Pangeran Haryo berdiri di sana, jubahnya rapi, mahkota tipis bertengger di kepalanya. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Mata itu menatap Rakai lama, lalu turun ke Raras, singgah sepersekian detik di perutnya yang disembunyikan kain longgar.“Adikku akhirnya pulang,” kata Haryo pelan.Kata itu jatuh seperti batu ke air diam.Raras menegang. Rakai tidak. Rahangnya mengeras, matanya menyala tertahan.“Jangan panggil aku begitu di depan orang-orangmu,” jawab Rakai datar.Haryo tersenyum kecil. “Darah tidak berubah hanya karena kau pergi. Kita saudara tiri. Putra ayah yang sama. Hanya ibu yang berbeda.”Pengawal di sekeliling mereka sali

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 143

    Kabut pagi masih menempel di dermaga Mandalajati. Rakai, Raras, Arya, dan Alin menapaki kayu yang basah, perasaan mereka tegang. Belum sempat menyesuaikan diri, beberapa pengawal berseragam Mandalajati muncul dari sisi gudang, pedang dan tombak terangkat.“Berhenti! Siapa kalian? Apa maksud kalian masuk ke Mandalajati?” teriak seorang pengawal bertubuh besar. Suaranya tegas, tidak memberi ruang untuk berdebat.Arya menatap Rakai. Ia ingin menjawab, tapi Rakai mengangkat tangan, menahannya. “Jangan bicara,” katanya singkat.Pengawal itu melangkah maju, lebih agresif. “Kalian harus ikut ke markas! Perintah Pangeran Haryo!”Alin hendak menanggapi, tapi Rakai menatapnya tajam. “Diam. Ikuti arahanku.”Raras, yang berjalan di samping Rakai, menunduk. Tubuhnya lemas, perutnya menonjol karena kehamilan, tapi matanya tetap waspada.Rakai menatap pengawal itu, suaranya tenang tapi tegas. “Kami pedagang lintas kerajaan yang sedang mengalami musibah. Kami diserang dalam perjalanan, dan satu orang

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 142

    Ruang bawah istana Majakirana tidak lembap.Ia terlalu bersih untuk disebut penjara.Obor-obor perunggu berjajar rapi, cahaya mereka memantul pada lantai batu hitam yang licin. Bau dupa tipis menggantikan bau darah, cara Majakirana menyembunyikan kekejamannya.Arum berlutut di tengah ruangan.Tangannya terikat ke belakang, namun punggungnya tetap tegak. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, tapi matanya masih berani menatap lurus.Langkah sepatu bergema.Pangeran Haryo Wirabumi masuk tanpa pengawal.Jubahnya rapi, Wajahnya tampan, tenang terlalu tenang untuk seseorang yang memegang nyawa orang lain.“Arum,” katanya pelan.“Sebutkan namamu, dan katakan pada siapa kau bekerja.”Arum tersenyum tipis, darah mengering di sudut bibirnya.“Aku hanya pengelola penginapan,” jawabnya lirih. “Salahkah perempuan tua mencari makan?”Haryo berhenti tepat di hadapannya.Ia berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka.“Kau terlalu cerdas untuk berbohong buruk seperti itu,” katanya lembut. “Dan terlalu berhar

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 141

    Langkah kaki tergesa terdengar di lorong penginapan.Rakai dan Raras serempak menoleh ketika Arya muncul di ambang pintu. Napasnya masih tersengal, wajahnya tegang, mata yang biasanya ringan kini dipenuhi bayang cemas.“Rakai,” katanya cepat. “Raras.”Raras langsung berdiri. “Alin mana?”“Aman,” potong Arya. “Alin bersama Reyas. Tapi… Arum.”Satu kata itu cukup membuat udara di ruangan berubah berat.“Apa yang terjadi?” tanya Rakai, nada suaranya rendah tapi tajam.Arya mengusap wajahnya sebentar, seolah menyusun ulang pikirannya. “Penginapan itu kosong. Terlalu kosong. Tidak ada tanda perkelahian besar, tapi jelas ditinggalkan terburu-buru. Barang-barang Arum masih ada pisau kecilnya, tas obat, tapi dia tidak ada.”Raras menutup mulutnya, jantungnya berdebar keras. “Mungkin dia pergi sendiri?”Arya menggeleng. “Tidak. Ada jejak. Seseorang menariknya. Dan penjaga sekitar penginapan… seolah tidak pernah mengenalnya. Mereka diam tak mau bersuara."Rakai berdiri. Gerakannya tenang, tapi

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 140

    Tabib itu menutup kelopak mata Reyas perlahan. Tangannya berhenti terlalu lama di dada pria itu, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.“Racunnya sudah menjalar,” katanya akhirnya. Suaranya datar, terlalu tenang untuk kabar seburuk itu. “Bukan cepat. Tapi pasti.”Rakai menegang. “Berapa lama?”Tabib itu menghela napas. “Hari, mungkin minggu. Tergantung tubuhnya. Racun ini tidak membunuh dengan tergesa. Ia mematikan harapan pelan-pelan.”Raras yang berdiri di sisi ranjang Reyas membeku. Tangannya masih menggenggam kain basah di dahi sepupunya itu. Wajahnya yang sejak tadi pucat kini benar-benar kehilangan warna.“Tidak,” bisiknya. “Tidak mungkin…”Kepalanya berdenyut keras. Ruangan terasa berputar. Bau ramuan yang tadinya pahit kini menusuk. Raras terhuyung satu langkah.“Raras,” Rakai cepat menangkapnya.Namun lututnya sudah melemah. Pandangannya mengabur, suara Rakai terdengar jauh, seperti tenggelam di air. Dunia menghitam sesaat tidak sepenuhnya pingsan, tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status