LOGINPonsel Damar bergetar, tanda pesan masuk dan nama Papa muncul pada layar ponselnya. Jemarinya yang semula tenang mendadak gemetar saat ia membuka pesan itu.
“Damar, Mama drop. Papa sedang di rumah sakit sekarang,” pesan Dirga.Dada Damar seperti diremas. Napasnya tercekat. Tanpa kata, Damar langsung menyambar tasnya dan pergi ke luar kelas, meninggalkan Arga dan Kenanga. Kecemasan nampak jelas di raut wajahnya, ia khawatir akan kondisi ibunya. Pikirannya kacau, Damar sama seTanpa pikir panjang Damar melompat ke danau untuk menolong Kenanga. Rasa bersalah menumpuk di hatinya, ia sendiri tidak bermaksud berbuat buruk pada Kenanga, namun mengapa akhirnya harus seperti ini?Damar meraih Kenanga dan membawanya ke pinggir danau. Kenanga masih sadarkan diri, gadis itu memuntahkan air yang tertelan.Sementara itu, Arga mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, amarah nampak jelas di matanya, dengan kasar ia menarik kerah Damar.“Kamu kenapa sih! Hubungan kita bertiga baru saja mereda. Tapi kenapa sikapmu kembali acuh? Lihat Kenanga, dia nyaris tenggelam karenamu!”Damar terdiam. Napasnya mulai sesak, melihat keadaan Kenanga yang terbaring lemah, ketakutan dalam dirinya kembali hadir, pikirannya tak karuan. Bagaimana jika Kenanga tak selamat? Haruskah ia kembali mengalami hal menyakitkan lagi?“Damar! Jawab! Apa yang membuatmu kembali menjaga jarak dari Kenanga? Sejak tadi aku memperhatikanmu terus-menerus menjauhi
Arga dan Kenanga masih bersembunyi di balik pohon besar. Arga merasakan perih di tangannya, ia tak sadar, ketika mencoba melawan pria bertopeng tadi, tangannya sempat tergores. Darah segar menetes di lengannya.Kenanga menoleh dan melihat wajah pucat Arga. Matanya beralih pada tangan Arga yang terluka, Kenanga terbelalak.“Ya ampun, Ar. Tanganmu!” seru Kenanga. “Gapapa, aman kok,” ucap Arga menahan perih.Arga memejamkan matanya, enggan melihat tangannya yang terluka. Arga memiliki ketakutan ketika melihat darah, saat melihat darah, ia akan teringat tentang traumanya, dan Kenanga tahu hal itu.Kenanga mengeluarkan kotak p3k di dalam tasnya, dengan telaten ia membersihkan luka di tangan Arga dengan cairan NaCl dan membalutnya dengan kasa steril. Kenanga memperhatikan Arga, pria di hadapannya ini terlalu rapuh, dibalik sifatnya yang dewasa, Arga menyimpan kerapuhan.“Sudah ku obati, Ar,” ucap Kenanga.“Than
Sania berlari, ia mengandalkan ingatan terakhirnya ketika melihat Damar yang berada di arah barat. Meskipun saat itu pandangannya samar, namun tak ada salahnya untuk berusaha mengejarnya.Apa yang ia khawatirkan sejak kemarin ternyata benar adanya. Kejadian penyerangan ini cukup janggal, pikirannya teringat pada saat ia menguping pembicaraan Rosa dengan seseorang melalui telpon.“Apa ini tugas yang ia maksud?” pikir Sania.Namun Sania tak punya bukti nyata tentang Rosa, ia hanya menduga-duga, dan hal itu tak bisa membuktikan langsung keterlibatan Rosa dengan hal ini. Jika hal ini memang berkaitan dengan Rosa, mengapa ia melakukan hal seperti ini?Dari kejauhan ia melihat Damar. Pencariannya membuahkan hasil, Sania mempercepat larinya.“Damar!” teriak Sania.Damar menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia melihat Sania tengah berlari ke arahnya, namun ada apa dengan ekspresi gadis itu? Kenapa rasanya Sania terlihat panik?
Beberapa pria bertopeng itu terus mendekat. Arga tetap berdiri di depan Kenanga, berusaha menutupi rasa takut yang perlahan mulai memenuhi dirinya. Tangannya mengepal. Ia tahu dirinya bukan orang yang pandai berkelahi, apalagi menghadapi beberapa orang sekaligus. Namun, ia tidak mungkin membiarkan Kenanga berada dalam bahaya.“Kenanga, hati-hati,” ucap Arga mengingatkan.Kenanga mengangguk, ia dan Arga terjebak di antara orang-orang bertopeng, Sania hilang, Damar dan Rosa tak terlihat. Bahkan Parman dan Sudarman yang seharusnya mendampingi perjalanan mereka tak terlihat.“Siapa kalian? Apa mau kalian?” tanya Arga.“Kami hanya menjalankan perintah, lebih baik ikuti kami dan tak usah melawan,” ucap salah satu pria bertopeng itu.“Perintah siapa?” Arga kembali bertanya.“Tak usah banyak tanya, ikut saja!” bentak seorang pria bertopeng lainnya.Beberapa pria bertopeng mendekati Arga dan Kenanga. Sesaat, Arga terdiam, ia memp
Perjalanan menuju Gunung Malabar pun di mulai. Semua anggota tim terlihat bersemangat, kecuali Sania yang menyimpan waspada di balik sikapnya yang tenang. Arga menoleh dan tersenyum ke arah Sania.“Kalau ada sesuatu yang kamu rasa mencurigakan, katakan padaku.” Arga menepuk pelan pundak Sania.“Aman, Ar.” Sania mengangguk pelan.“Kamu juga Kenanga. Kalau ada apa-apa langsung bilang aku,” ujar Arga.“Siap!” jawab Kenanga.Sania mengalihkan pandangannya pada Kenanga dan merangkulnya. Entah apa yang akan terjadi nantinya, tapi satu hal yang akan ia pastikan, tak ada satu pun yang bisa melukai sahabatnya.“Kenanga, jangan lupa ya,” bisik Sania.“Jangan lupa apa?” tanya Kenanga.“Apa yang pernah aku ajarkan padamu.” Sania tersenyum kecil.Di sisi lain, Damar yang memperhatikan Kenanga dari kejauhan tersenyum getir. Padahal, ia sendiri yang berniat untuk mengalah, tapi melihat kedekatan antara Kenanga dan Arg
Arga tak langsung menjawab pertanyaan Damar. Ia memperhatikan sekitar, sampai ia merasa yakin kalau situasi sekitar mereka aman.“Tentang Rosa,” jawab Arga pelan.Damar mengernyit. Kenapa Arga tiba-tiba membahas Rosa? Entah apa yang membuat Arga merasa terganggu, namun melihat ekspresi Arga yang terlihat sangat serius, Damar merasa bahwa apa yang akan dikatakan oleh Arga adalah hal yang serius.“Ada apa dengannya?” tanya Damar.“Sebenarnya, aku sendiri belum yakin. Tapi dia terkesan mencurigakan,” Arga terdiam sesaat. “Kemarin, aku dan Sania sempat ….,” belum selesai Arga menyelesaikan kalimatnya, ponsel Damar berbunyi.Damar memberi isyarat pada Arga, dan Arga mengangguk. Damar berdiri dan menekan tombol untuk menerima panggilan tersebut.“Halo, oh iya Pak Sudarma. Ada apa?” tanya Damar.“Begini, Pak, saya ingin menginformasikan untuk perjalanan besok pagi ke Gunung Malabar. Kita start mulai jam delapan pagi ya,” Sudarm







