Se connecterMalam itu, keadaan vila yang semula ramai kembali hening. Damar, Kenanga, Arga dan Sania masih duduk di halaman belakang.
Sedangkan Rosa tengah bersiap. Gadis itu telah mengemas kopernya, menyeretnya perlahan ke teras, seorang supir membantunya memasukkan koper milik Rosa ke dalam mobil. Tak lama kemudian, langkah gadis itu membawanya kembali ke halaman belakang.“Semuanya, aku pamit duluan. Ada beberapa urusan keluarga yang harus ku selesaikan malam ini juga, sorry ya. Dam,Rosa terdiam. Wajahnya telah basah oleh airmata, kedua tangannya mengepal kuat.“Kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini,” ucap Rosa pelan.Damar menarik napas panjang. Ia mengetukkan jarinya di atas meja kerjanya, tatapan tajamnya tak lepas dari gadis yang tengah duduk di hadapannya.“Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, dan ini yang kau yang harus kau terima.” Damar memijat keningnya sendiri.“Dengar penjelasanku,” lirih Rosa.“Oke, aku dengarkan. Silahkan bicara.” Damar mengangkat sebelah tangannya, tanda ia memberikan kesempatan Rosa untuk bicara.“Aku tak pernah menyuruh orang lain untuk menyerang Kenanga dan yang lainnya. Aku hanya meminta bantuan pada pengelola perkebunan untuk mengatur agar kita dibagi dua kelompok. Kamu dan aku, sedangkan Kenanga, Arga dan Sania ada dalam satu kelompok yang sama. Aku hanya ingin dekat denganmu,” ujar Rosa.Damar tak menjawab ucapan Rosa. Ia kembali memijit keningnya, en
Senyum di wajah Rosa mengembang. Ia sempat berpikir Damar akan mengabaikannya dan memilih mengejar Kenanga. Namun ternyata tidak, ketika Kenanga pergi dengan wajah masam, Damar tidak mengejarnya sama sekali, pria itu justru mengatakan akan berbicara dengannya.“Apa yang akan Damar bicarakan denganku? Apa tentang perasaannya?” batin Rosa.Damar menatap Rosa dengan tajam, ada emosi yang ia tahan sejak kemarin. Hal apa pun yang menyangkut Kenanga, ia tak akan tinggal diam. Damar melirik sekilas ke arah Kenanga. Gadis itu tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya masam, dan ia bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya melihat Damar berbicara dengan Rosa.“Apa dia cemburu?” pikir Damar.Senyum nyaris terbit di bibirnya. Jika Kenanga benar-benar cemburu, mungkinkah itu pertanda bahwa gadis itu juga menyimpan perasaan yang sama dengannya? Damar berusaha menahan senyumnya, lalu berdeham kecil.“Kita bicara di rua
Kenanga masih memikirkan ucapan Damar. Senyum kecil terbit di bibirnya. Sejak dulu, pria itu selalu menempati ruang tersendiri di sudut hatinya. Perasaan itu tak pernah benar-benar hilang, bahkan ketika keadaan sempat membuat mereka menjauh. Namun, apakah ia berani kembali menaruh harapan kepada Damar?Kenanga terdiam. Jemarinya memainkan gantungan kunci berbentuk dandelion, benda kecil yang telah menemaninya selama bertahun-tahun. Ia menatapnya lekat-lekat, mengingat masa SMP ketika ia dan Damar membeli gantungan kunci persahabatan itu bersama-sama.Dulu, benda itu menjadi simbol persahabatan mereka. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perasaan Kenanga tak lagi sesederhana itu.“Jika lebih dari sahabat … apa semuanya akan baik-baik saja?” lirih Kenanga.Sementara itu, Damar yang baru saja datang ke rumahnya bersenandung kecil. Mengingat perkataannya pada Kenanga, membuatnya merasa malu sendiri.Danishka memperhatikan Kakaknya. Ia men
Di sisi lain, Sania dan Arga tengah menikmati secangkir kopi panas di cafe. Mereka memutuskan beristirahat dari perjalanan yang cukup panjang.Arga memperhatikan Sania. Gadis itu selalu sederhana, tapi ternyata … cukup memikat. Sania menyesap kopinya perlahan, dan menyisakan cream di sudut bibirnya.Arga tersenyum kecil. Ia mengambil tisu dan menyekanya perlahan.“Sorry, ada cream di bibir kamu,” ucap Arga.Sania menunduk dan tersenyum tipis. Sekilas ia terlihat tenang, tetapi sebenarnya ia tengah menyembunyikan debar yang semakin berpacu.“Thanks, Ar,” ucap Sania.Arga hanya tersenyum, gadis di hadapannya itu masih mengunci perhatiannya. Arga mengusap tengkuknya dan salah tingkah.Sania mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Mencoba mengalihkan perhatian dari tatapan Arga kepadanya.“Kenapa?” tanyanya ketika menyadari Arga masih memperhatikannya.“Hah? Kenapa apanya?” Arga terkesiap ketika mendengar
“Keke, nanti aku antar pulang sampai rumah ya,” ucap Damar.Pria itu tersenyum, binar di matanya kembali hadir setiap kali ia melihat Kenanga. Ternyata, waktu tidak benar-benar memisahkan mereka, benang kusut yang secara perlahan terurai kembali, dan sosok Damar yang selalu berdiam diri di balik sikapnya yang dingin itu, kembali menemukan cahayanya kembali.“Ngerepotin gak nih?” tanya Kenanga.“Enggak kok, sekalian ketemu Ayah Gani dan Ibu Lily juga. Aku kangen masakan Ibu Lily,” ujar Damar.“Bilang aja mau numpang makan, modus banget.” Kenanga tertawa.Damar mencubit gemas pipi Kenanga, tawa kembali hadir di antara mereka. Menjadi melodi yang menemani perjalanan mereka, satu kota Bandung yang menyimpan berbagai kisah itu, kini kembali merekatkan hubungan mereka.Damar menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan yang ia lalui, sementara Kenanga menikmati musik yang ia dengar dari radio di mobil Damar. Terkadang mereka bernyanyi b
Sementara itu, Rosa menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada sebuah pintu di hadapannya. Ia mengepalkan tangan, ragu untuk membukanya. Namun, setelah mengumpulkan keberanian, ia mengulurkan tangan dan menarik daun pintu itu perlahan.Langkahnya penuh kehati-hatian. Baru beberapa langkah ia memasuki rumah, Anton menutup buku yang ia baca dan mengalihkan pandangannya pada Rosa.“Bagaimana, Rosa? Ada kemajuan? Hubunganmu dengan putra sulung keluarga Atmaja bagaimana?” Anton melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.“Ada. Hubungan kami dekat, bagaimana jika Papa berbicara dengan Pak Dirga Atmaja untuk menjodohkan kami?” usul Rosa.“Papa belum menemukan waktu yang pas. Bagus kalau hubungan kalian dekat,” ucap Anton seraya tersenyum.Rosa terdiam. Senyuman yang selama ini nyaris tak pernah ia lihat dari ayahnya kini terukir di wajah Anton. Untuk pertama kalinya, ia merasa mendapatkan pengakuan hanya karena mendengar bahwa hubungannya dengan D







