LOGINBab 24 TamatMendengar itu, Naira terperangah. Belum sempat mencernanya, Nathan kembali berucap dengan cepat. "Tapi dia bukan hamil anakku," kata Nathan."Terus anak siapa? Dia kan calon istri kamu?" tanya Naira, menatap Nathan serius.Nathan menoleh ke arah Naira. "Zara memang calon istriku. Tapi selama kami pacaran, pantang bagiku menyentuh dia sebelum adanya ikatan halal di antara kami," terang pria itu, lalu memalingkan wajahnya.Nathan lantas berjalan sedikit menjauh dari Naira. Dengan posisi membelakangi wanitanya itu, Nathan kembali bersuara. Ia menceritakan jika dirinya mencurigai Devan lah ayah dari anak yang dikandung oleh Zara. Bukan tanpa alasan Nathan menuduh kakaknya sendiri seperti itu. Karena yang Nathan tahu, Devan adalah orang yang terakhir bertemu dengan Zara. Nathan menduga, jika Zara mungkin sedang kebingungan dengan posisinya. Ia akan menikah dengan Nathan namun di sisi lain ia juga mengandung anak dari seseorang yang akan menjadi kakak iparnya.Naira berjala
Bab 23 Masa Lalu NathanNathan meraih tangan Naira. "Kakakmu sudah dipindahkan. Aku antar kamu ketemu dia ya," ujar Nathan dengan lembut. Naira diam sejenak. Perlahan ia menoleh ke arah Nathan. Dengan mata yang masih terlihat sembab, wanita itu lantas berkata," Bolehkah aku minta satu keinginan?"Nathan mengangguk pelan. "Boleh.""Bisa nggak kamu minta maaf ke kak Devan supaya dia mau mencabut laporannya?" Naira menatap Nathan penuh harap. Wanita itu sangat memelas di hadapan pria yang menikahinya karena satu kesepakatan yang dibuat dengan kakaknya itu.Mendengar permintaan Naira, perlahan Nathan melepas tangan istrinya. Ia menghela napas sembari memalingkan wajah sejenak. Nathan benar-benar dibuat berada di posisi yang sangat dilema.Jika ia menuruti permintaan istrinya, berarti ia harus menurunkan harga dirinya. Sedangkan jika ia tidak menurutinya, pria berusia 32 tahun itu merasa tidak akan sanggup melihat wanita yang sepenuhnya mulai menempati hatinya itu.Nathan kembali menghela
Bab 22 Naira yang DilemaTapi ... apapun yang dilakukan Nathan, itu pasti sesuatu yang sangat penting. Apalagi ia harus kembali ke rumah sakit, yang Naira yakini pasti berkaitan dengan kakaknya. "Aku sebenarnya juga masih mau lama-lama sama kamu. Tapi keadaan emang gak mendukung kali ini. Maaf ya," ucap Nathan lagi. Ia lantas beranjak dari tempatnya dan bersiap untuk mandi sebelum ia benar-benar pergi.***Setelah menyelesaikan sarapannya, Naira lantas bersiap dan bergegas menyusul Nathan ke rumah sakit. Kali ini bukan sekadar takut suaminya akan pergi lagi, tapi juga keadaan dari kakaknya. Langkah Naira terhenti sejenak. Dari kejauhan ia melihat Namu dan juga satu polisi yang berjaga di depan ruangan tempat kakaknya dirawat. Melihat itu, Naira mempercepat langkahnya. Firasatnya seakan mengatakan jika hal yang lebih buruk daripada soal kesehatan Arhan tengah dihadapi pria berumur 30 tahunan itu."Maaf Nona, tolong jangan masuk dulu." Namu mencegah Naira yang hendak masuk ke ruangan.
Bab 21 Akhirnya, Terjadilah Apa yang Seharusnya Terjadi Sesampainya di kamar presidential suite, masih dengan wajah cemberut dan bersikap dingin, Naira langsung masuk ke kamar mandi. Ia berniat ingin membersihkan dirinya lalu pergi tidur. Ia benar-benar ingin menganggap Nathan tidak ada.Nathan memijit pelipisnya yang sebenarnya tak sakit seraya menghela napas. Entahlah, melihat sikap Naira yang seperti itu justru membuatnya merasa sedang diuji kesabarannya. Di sisi lain, ia sendiri bingung mengapa bisa sesabar itu menghadapi wanita yang belum lama ia kenal itu."Ada apa denganku? ngadepin dia bisa sesabar ini," gumam Nathan. Ia bahkan tak mengerti dengan keadaannya sendiri.Nathan terus menatap ke arah pintu kamar mandi. "Apa aku mulai jatuh cinta sama dia?" pikir Nathan dalam hati. Tapi sedetik kemudian ia menggeleng cepat. Nathan kembali menghela napas kasar dan mencoba menepis pikirannya.Sembari menunggu gilirannya membersihkan diri, Nathan pun melepaskan jasnya lalu berjalan ke
Bab 20 Kemarahan Naira dan Kesabaran Nathan "Emang mau ke mana,sih?!" seru Aland, tapi diabaikan. Alvin terus melangkah hingga tak terlihat lagi. Sementara itu, rupanya, apa yang terjadi antara Aland dan Alvin barusan membuat perdebatan antara Nathan dan Devan terhenti. Pandangan keduanya seketika teralihkan ke arah di mana Aland berada. Kedua kakak beradik itu juga dibuat kebingungan lantaran melihat Alvin yang pergi terburu-buru.***Alvin terus melangkah menyusuri jalanan mencari keberadaan Naira. Ia yang merasa bertanggung jawab atas Naira karena telah membawanya ke tempat itu, dibuat khawatir. Apalagi, ia yakin jika wanita berhijab itu pasti tidaklah mengenal tempatnya berada saat ini.Di sisi lain ...Langkah Naira mendadak terhenti. Pandangannya mengeliling ke sekitar, tak ada harapan. Ia tak tahu kemana lagi harus melangkah. Ia betul-betul asing di tempatnya sekarang ini. Sementara, dalam hati kecilnya ia menolak keras untuk kembali ke rumah di mana suaminya berada.Naira ke
Bab 19 Pertemuan Nathan dengan Kakaknya "Ada masalah apa lagi, sih?" Naira mengulangi pertanyaannya."Aku pergi dulu ya," jawab Nathan, ia lantas melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban dari Naira.Naira yang merasa aneh pun sontak berdiri dan membalikkan tubuhnya. "Aku gak izinin kamu pergi!" seru Naira, tapi diabaikan oleh Nathan."Aku bilang aku gak izinin kamu pergi!" Naira mengulangi perkataannya. Dan kali ini Nathan tak lagi mengabaikannya. Pria berkulit putih itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah wanitanya itu."Aku janji akan kembali," ucap Nathan. Ia lantas kembali melanjutkan langkah kakinya. Ia pergi tanpa memedulikan Naira yang masih berdiri menatap kepergiannya.Merasa diabaikan dan juga dibuat bertanya-tanya dengan sikap Nathan, Naira lantas memutuskan pilihannya."Kak, aku pergi dulu ya," ucap Naira, lalu dengan cepat ia keluar ruangan."Kamu mau ke mana, Dik?!" Arhan dibuat kebingungan karena adiknya yang tiba-tiba pergi.Naira terus berjalan hingga akhi
Bab 7 Meninggalnya Orang Yang DisayangNathan menoleh ke arah Naira. "Ada yang harus aku sampaikan ke kamu.""Apa itu?" Naira tampak penasaran.Nathan terdiam sejenak. Lalu ia kembali bersuara dan mengatakan kalau sebenarnya ibu Naira telah meninggal dunia.Naira yang mendengar kabar tersebut pun s
Bab 6 Peristiwa di Masa LaluNaira terkejut mendengar nama yang barusan disebutkan Nathan. "Darimana kamu tau nama itu?" tanya Naira. Mendadak suasana hati gadis cantik itu pun berubah menjadi semakin buruk usai mendengar kembali nama yang disebutkan oleh Nathan barusan. Belum sempat Nathan me
Bab 5 Usaha Mengubah Keputusan "Mulai sekarang jangan bicara apapun sama aku sebelum kamu menarik tugas yang kamu berikan ke kakakku!" ancam Naira. Mendapati sikap Naira yang demikian, Nathan, yang tadinya bersikap lembut mendadak kembali memperlihatkan sikap dinginnya. Ia menatap Naira dengan
Bab 4 Terkuaknya Tugas yang Diberikan? Arhan terus berjalan dengan sesekali menoleh ke arah Naira. Dari raut wajahnya, ia begitu berat untuk meninggalkan adiknya itu. Namun di sisi lain, karena kesepakatan yang ia buat dengan bosnya lah yang membuatnya terpaksa melangkah pergi dengan membawa tuju







