LOGIN"Ijab kabul?!" Naira terkejut mendengar apa yang barusan disampaikan Arhan, kakak kandungnya. Di mana Arhan mengatakan kalau dirinya baru saja melakukan ijab kabul dengan atasannya, alias menikahkan Naira dengan bosnya sendiri. *** Naira, seorang gadis yang dalam sekejap telah berubah statusnya menjadi istri orang lain yang juga merupakan atasan kakak kandungnya sendiri hanya karena sebuah kesepakatan. Kesepakatan apakah itu? Lantas, akankah Naira mampu bertahan di dalam sebuah rumah tangga yang ternyata banyak "bunga" dibaliknya. *** Ikuti terus ceritanya ya, jangan lupa share dan semoga ada hikmah yang bisa dipetik š Tetap Utamakan Baca Alqur'an š
View MoreAlunan musik di klub malam mulai memekakkan telinga para pengunjung. Tapi, hal itu justru malah membuat Ananta begitu senang dan lebih mengekspresikan diri lewat tarian.
Dia naik ke atas panggung dan orang-orang pun mulai bersorak heboh melihat gerakan tarian Ananta.
Sementara itu, di bagian selatan klub malam itu, seorang pria bertubuh tinggi atletis dan berwajah rupawan sedang berdiri sembari memegang gelas wine-nya.
Pria itu adalah Mikael Alexander, seorang pria keturunan Inggris yang sedang menikmati waktu bersantainya di klub itu selepas selesai mengerjakan bisnisnya.
Begitu banyak wanita yang berniat menarik perhatiannya dan berusaha menggodanya tapi dia mengabaikan mereka semua.
Saat ini lelaki itu terlihat sedang menatap takjub pada Ananta, gadis yang mengenakan gaun merah menyala dan menyita perhatian para pengunjung klub itu berkat tarian indahnya.
Gadis tidak hanya cantik tapi juga sangat menawab. Gerakan menarinya pun begitu menggoda mata Mikael, sampai-sampai Mikael dengan mudah menetapkan gadis itu sebagai buruannya malam itu.
Dikarenakan terpikat pada wajah cantik dan Ananta, Mikael pun langsung berkata pada sang asisten, "Dia sangat cantik. Apa dia salah satu penari di klub ini?"
"Saya tidak tahu, Sir. Tapi melihat dari gaya busananya, mungkin dia seorang wanita penghibur," jawab Andrew.
Sang pria berambut pirang itu pun menyeringai lalu berkata, "Ah, bagus kalau begitu."
"Siapkan semuanya!" perintah laki-laki bernama Mikael itu.
Andrew segera mengangguk mengerti arti dari perintah itu dan bergegas menyingkir.
Mikael pun berjalan menuju panggung lalu menarik gadis yang sudah sangat dia inginkan ke dalam pelukannya.
Sang gadis yang baru berusia dua puluh satu tahun itu pun terkesiap sesaat sebelum menatap pria yang tengah memeluknya itu dengan kening berkerut.
Dirinya sudah kehilangan setengah kesadaran tapi Ananta tahu laki-laki yang bersamanya saat ini terlihat luar biasa tampan.
"Boleh saya menari bersama dengan Anda, Nona cantik?" tanya Mikael dengan senyum yang menggoda.
Entah mengapa, melihat senyum Mikael, Ananta langsung balas tersenyum hingga Mikael langsung mengartikan senyuman Ananta itu sebagai sebuah persetujuan untuknya.
Ananta pun merasa tubuhnya ditarik ke dalam pelukan sang lelaki tak dikenal. Mereka lalu menari bersama.
"Kurasa kita harus pindah tempat sekarang."
Mikael segera menuntun Ananta keluar dari klub malam itu. Hanya dalam waktu singkat keduanya sudah sampai di hotel yang telah disiapkan oleh Andrew.
Keesokan paginya, Ananta merasa kepalanya sangat pening saat ia membuka mata. Ia berniat untuk duduk tapi menyadari ada sebuah lengan yang melingkar ke tubuhnya, ia pun segera menoleh secara perlahan.
Hampir saja ia menjerit tapi ia berhasil menahan diri dengan membungkam mulutnya sendiri. Ketakutan segera merayap ke dalam dirinya.
Kepalanya sontak dipenuhi berbagai pertanyaan.
Siapa pria ini?
Astaga, apa yang sudah aku lakukan semalam? Ananta membatin.
Dengan perlahan dia menyingkirkan lengan kokoh pria itu dan semakin syok saat menyadari ia tak mengenakan sehelai pakaianpun.
Ananta menggigit bibir bawahnya kuat-kuat lalu mencoba bangkit dari tempat tidur itu.
Begitu ia berhasil berdiri, dengan segera ia mencari pakaiannya. Ia merasa sangat beruntung sekali karena lampu kamar itu cukup terang.
Dia mengernyit heran kala melihat gaun yang ia pakai semalam tergeletak cukup jauh dari tempat tidur. Sementara pakaian dalamnya berada di bawah kursi.
Ananta pun tak perlu lagi bertanya pada pria itu tentang kegiatan yang mungkin telah mereka lakukan semalam. Sudah tentu mereka telah bercinta dan dia telah kehilangan keperawanannya yang telah dia jaga selama ini.
Gadis itu hanya bisa meringis.
Ya Tuhan, sekarang aku harus bagaimana? Ananta membatin lagi.
Alan, maafkan aku. Ananta membatin, menyadari kesalahannya.
"Baby," ujar pria itu dengan suara serak tapi dengan mata tertutup.
Ananta membungkam mulutnya sendiri. Jantungnya berdetak tidak karuan tapi rupanya pria itu kembali tertidur pulas. Helaan napas lega pun berhembus.
"Nggak bisa, nggak bisa. Aku harus segera pergi dari sini. Nanta, anggap saja ini tidak pernah terjadi."
Dipandanginya pria di sampingnya itu sekilas. Seorang pria asing dengan tubuh luar biasa bagus, terbentuk dengan begitu sempurna seolah memang laki-laki itu rajin berolahraga.
Saat Ananta menarik ke atas wajahnya, Ananta tak bisa menampik bila wajah pria itu luar biasa menawan.
"Sangat tampan."
Namun, Ananta langsung menepuk jidatnya sendiri karena telah membuang-buang waktu. Ia pun pergi dari hotel itu dengan cepat, menggunakan taksi menuju ke rumahnya.
Bab 17 Pria yang Dibunuh?"Bukan keduanya," jawab Nathan, lirih. Seketika pandangan Naira kembali ke arah Nathan. Dengan masih terisak, wanita berambut panjang itu menatap pria di dekatnya itu begitu lekat."Lalu?" tanya Naira, ia tampak penasaran.Nathan menghela napas berat. "Orang itu yang sebelumnya kamu tanyakan. Devan.""Devan?""Iya, dia kakakku. Kakak kandungku."Naira tercengang. Ia semakin syok. Tak menyangka kalau orang yang menikahinya berbuat sekeji itu terlebih pada saudara kandungnya sendiri."Astaghfirullah, kamu kok bisa sih ngebuhuh kakak kamu sendiri?" Naira menggeleng tak habis pikir. Tubuhnya lemas seketika mendapati kenyataan yang sekalipun tak pernah ada terbesit dalam pikirannya.Naira menarik napas panjang. Mengaturnya dan mencoba menahan air matanya supaya tidak tumpah. Entah mengapa, ia sedih tapi juga merasa geram lantaran apa yang sudah diperbuat pria berstatus suaminya itu. Ia juga betul-betul dibuat untuk berpikir keras, pria macam apa yang sudah menik
Bab 16 Terbongkar? (sang kakak yang ditemukan) Perasaan yang sama rupanya juga dirasakan oleh Naira. Ia begitu bahagia dengan keadaannya sekarang. Rasa kecewa dan sakit yang sebelumnya menghinggapi hatinya itu kini perlahan mulai hilang. Bahkan saat ini jantungnya terus saja berdetak tak beraturan. Ia merasa di malam ini, untuk pertama kalinya Nathan akan menyentuhnya. Tapi tiba-tiba .... "Jangan ada batuk lagi ya," cetus Naira. Seketika Nathan terkekeh. "Iya, iya. Aman kok," balas pria yang duduk di hadapan Naira itu. Dengan tersipu-sipu Naira kembali memejamkan matanya. Sementara Nathan pun kembali bersiap. Lalu secara perlahan Nathan pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya itu. Ia hendak memulai "kewajiban" nya itu dengan mencium Naira. Meski terpejam, Naira betul-betul bisa merasakan betapa de
Bab 15 Keinginan Naira Mendengar jawaban Alvin, Naira menghela napas kesal. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya sama sekali tak membantunya itu. Ia pun pergi meninggalkan Alvin begitu saja."Masa iya sih aku harus tanya langsung ke Nathan?" pikir Naira dalam hati. Ia bingung sekaligus ragu.***Malam pun tiba. Dan Naira yang terduduk di atas kasur pun masih saja terpikirkan perihal dua nama yang begitu asing baginya. "Zara? Devan? siapa mereka dan apa hubungannya dengan Nathan?" pikir Naira.Ditengah-tengah lamunannya itu, tanpa Naira sadari tiba-tiba Nathan sudah berada sangat dekat di depan wajahnya."Naira?" panggil Nathan. Naira tersentak kaget dan reflek menjauhkan wajahnya dari suaminya itu."Kamu mikirin apa?" tanya Nathan lembut.Naira terdiam sejenak. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan dua nama asing yang tengah menyelimuti pikirannya saat itu."Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Naira."Boleh. Kamu mau nanya apa?" Nathan lantas memposisikan duduknya dan
Bab 14 Dua Nama Asing"Kami akan pergi. Tapi sebelumnya izinkan saya bicara empat mata dengan Anda. Maaf kalau ini tidak sopan," ucap Aland.Nathan terdiam. Ia bingung harus mengizinkan Aland berbicara padanya atau tidak. Karena sebenarnya, Nathan sendiri sudah cukup lama mengenal siapa sosok Aland itu. Hanya saja karena masalah yang ada membuat hubungan keduanya merenggang.Namun pada akhirnya Nathan mempersilakan Aland untuk berbicara empat mata dengannya. Selain karena sudah mengenalnya, Nathan juga sedikit penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh pria yang usianya di bawahnya itu. Setelah mendapat persetujuan, Aland lalu meminta Alvin untuk meninggalkannya terlebih dahulu. Alvin menurut dan akan menunggu Aland di luar."Aku harap kamu tetap baik," pesan Alvin pada Aland. Lalu ia pun pergi.Ternyata, meski Alvin tak tahu pasti apa yang akan disampaikan Aland kepada Nathan, namun dengan pesan yang diucapkannya kepada rekannya itu seakan dirinya mengerti dengan keadaan yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.