Home / Horor / BABI NGEPET di Kampungku / 1 (Gadis Muda yang Gila)

Share

BABI NGEPET di Kampungku
BABI NGEPET di Kampungku
Author: Renti Sucia

1 (Gadis Muda yang Gila)

Author: Renti Sucia
last update Petsa ng paglalathala: 2024-03-22 09:46:19

Langit bergemuruh di atas kepalanya. Tapi ia tak peduli dan terus berlari. Hujan tampaknya akan turun, tapi ia tak beralas kaki, memijaki jalan-jalan batu hitam besar yang tidak rata.

Kakinya terluka, tapi ia tetap lari menembus gelapnya malam.

Dia Afifah. Gadis muda berusia dua puluh tahun yang akhir-akhir ini dikatakan gila. Orang tuanya selalu mengurungnya di satu ruang yang dipagari besi-besi. Afifah tak jarang dirantai atau dipasung jika berulah, jika dia mencoba menyakiti keluarganya.

Badannya yang dulu cukup berisi, kini kurus kerontang seakan dagingnya menyusut hilang.

"Tiara, Harsa ... tolong aku!"

Tapi anehnya, Afifah yang disebut gila masih saja ingat dengan nama-nama orang desa, terutama Tiara yang merupakan sahabatnya, serta Harsa yang merupakan mantan pacarnya.

Dan tujuan Afifah malam ini adalah ke rumah Harsa. Karena Tiara masih di Jakarta bekerja. Afifah pun tahu itu, bahkan saat kepergian sahabatnya, dia turut mengantar hingga ke terminal angkutan umum di ujung desa.

Dia seperti normal, hanya tingkahnya saja yang berubah aneh ketika dihadapkan dengan keluarganya.

Karena gosip gilanya mencuat begitu cepat, Harsa dipaksa untuk mengakhiri hubungannya dengan Afifah oleh keluarganya, serta keluarga Afifah juga. Sejak Harsa mendengar kabar Afifah tidak waras, pemuda itu tak pernah lagi diizinkan untuk bertemu. Sekalipun dia ingin dan selalu berusaha datang ke rumahnya. Tapi kedatangan Harsa ditolak mentah-mentah.

Namun kali ini ... usai tujuh bulan berlalu, Afifah memiliki kesempatan untuk lari dari kurungan besi sialan itu. Karena adiknya Nurmaya lengah, ketika gadis yang dua tahun lebih muda dari pada dia datang untuk mengolok seperti biasa, Afifah memukul kepalanya dengan kekuatan yang dipunya, lalu mencekik leher adiknya dengan rantai yang mengikat dua tangannya.

Sampai Nurmaya hampir kehabisan napas dan pingsan. Saat itulah Afifah lari dari ruangan yang sudah mengurungnya berbulan-bulan.

Tertatih-tatih Fifah bangkit saat tak sengaja terpeleset dan jatuh. Dia terus berjuang melewati bentang-bentang sawah agar sampai ke rumah Harsa.

"Harsa ...." Dengan tangis tertahannya, Fifah beringsut di teras rumah Harsa.

Dari dalam, ibu Harsa keluar memeriksa. Kebetulan Bu Amina masih terjaga malam itu. Dan ia benar-benar kaget ketika melihat siapa yang datang.

"Bu ...." Mata Afifah berlinang air mata. Dan ia menangkap kaki Bu Amina, memeluk sambil memohon. "Tolong Fifah, Bu." Dengan tangisnya yang mengudara.

"Nak Fifah." Bu Amina jelas risau atas kedatangan Afifah si gadis gila. Dia segera melepaskan pelukan tangannya, dan menahan napas sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata mengerikan Afifah.

Mata yang memerah karena tangis dan warna darah. Dia seperti gadis yang baru disiksa. Tapi Bu Amina tak ingin tahu, dia terlalu takut menghadapinya.

"Kamu nga-ngapain ke sini, Nak? Pu-pulanglah sebelum bapakmu mencarimu."

Afifah menggeleng kepala. "Fifah takut pulang, Bu. Tolong izinkan Fifah tetap di sini. Tolong, Bu," mohonnya dengan isak tangis yang begitu mengganggu.

Keringat dingin mulai membasahi dahi Bu Amina. Bagaimana pun baginya Fifah adalah wanita gila. Dia tidak mau berurusan lagi dengannya.

"Saya lebih takut padamu. Pergilah, pergi!"

"Fifah mohon, Bu. Fifah tidak gila, sumpah. Fifah tidak gila, tolong percayalah."

"Tidak, pergilah."

Bu Amina ingin tinggalkan Fifah di luar. Tapi Harsa yang terbangun karena keributan itu muncul. Dia tertegun di ambang pintu melihat sosok yang selama ini selalu ingin dia temui.

"A-Afifah?"

"Harsa!"

Keduanya terlibat saling tatap cukup intens. Tapi tatapan itu penuh dengan keterkejutan dan kesedihan yang begitu membekukan.

'Apa yang terjadi padamu selama ini, Fah?' Hanya hati yang mampu bertanya. Harsa melihat banyak perubahan terhadap mantan pacarnya. Afifah terlihat kacau dan menyedihkan.

'Harsa, tolong aku. Tolong aku!' Sementara Afifah sendiri memohon pertolongannya dari tatapannya.

"Harsa masuk. Ini sudah malam. Ibu akan urus wanita tak waras ini segera. Cepat!" Namun Bu Amina mendorong tubuh Harsa hingga pemuda itu tak lagi berdiri di ambang pintu.

"Tidak, Bu. Fifah mohon! Tolong Fifah sekali ini saja. Fifah tidak ingin dikurung lagi. Fifah ...." Dia seperti kesulitan bernapas tiba-tiba. Tangannya mencekik leher sendiri.

Dan hal itu mengejutkan Bu Amina serta Harsa.

"Fifah, apa yang kamu lakukan?" Harsa sudah ingin mendekat padanya.

"Harsa! Biarkan! Namanya juga orang gila! Cepat masuk!" Namun ibunya segera menghalang-halangi.

Harsa menolak, bagaimana mungkin ibunya tega mengatakan hal seperti itu? Bahkan di saat Afifah seperti tengah tersiksa. Harsa yakin itu bukan karena Afifah gila. Tapi ... entahlah, dia pun tak yakin.

"AFIFAH! DI SINI KAMU TERNYATA!"

Di saat Harsa memaksa ibunya agar menyingkir, tiba-tiba suara menggelegar muncul. Semuanya menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Pak Zakaria, ayah Afifah yang terlihat begitu marah.

"Bawa dia pulang sekarang juga dan kembalikan dia ke dalam kurungannya. Jangan lupa dirantai yang kuat dan jangan biarkan siapa pun masuk lagi ke ruangannya. Terutama Maya!" titah pria berkumis tebal itu pada dua orang suruhannya di belakang punggung.

Afifah gemetaran. Menggeleng pelan. Kemudian menoleh pada Harsa dan memohon agar ia diizinkan masuk untuk sembunyi.

"Jangan coba-coba, Harsa. Dia gila." Namun tepat ketika Harsa hampir menggapai tangannya, Pak Zakaria menghentikan. Saat itu Afifah diseret paksa di hadapan Harsa.

Tangis serta teriaknya menguap memenuhi langit desa yang gelap gulita. Tiada bulan atau bintang, adanya auman anjing-anjing dan cicit hewan pengerat yang menjijikkan.

Suara Afifah membangunkan beberapa warga. Sehingga ketika Afifah diseret paksa, mereka yang keluar melihatnya menjadi kasihan dan takut di saat bersamaan.

Besok mungkin akan geger kabar tentang Afifah si gadis gila yang kabur ke rumah mantan pacarnya. Itu sudah pasti!

***

KLAANG!

"Jangan pernah berpikir untuk kabur lagi, anakku yang gila!" Sorot mata Pak Zakaria menampakkan kemarahan yang begitu besar ketika ia berhasil membawa Afifah kembali ke kamar besinya.

"Tolong hentikan, Pak. Ampun, Pak. Lepaskan Fifah. Fifah tidak mau lagi mel—"

PLAAAK!

"Kamu jangan ngatur! Kalau bukan kita yang berkorban, adik-adikmu mana bisa hidup. Ibumu juga! Jadi berhenti mengeluh dan segera mandi dan berias! Suami kamu akan segera datang!"

Pak Zakaria melemparkan pakaian putih polos ke wajah Afifah. Dengan sangat kasar.

Afifah sendiri kini hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang porak-poranda. Ia meremas pakaian itu penuh kekesalan dan amarah. Namun sialnya, amarah hanya menjadi air mata sia-sia. Sebab penderitaannya terasa tiada akhir.

Mau tak mau Afifah bangun. Dengan kaki yang masih dirantai, ia ke kamar mandi. Melucuti pakaian berdarahnya, lalu mandi.

Setelah selesai. Afifah memakai pakaian bersih putih itu dan duduk di atas ranjangnya putus asa. Menyisir rambut hitam legamnya yang rontok.

Malam jumat ini, suami siluman babinya akan segera tiba.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dina0505
si fifah kayaknya jadi tumbal ni
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • BABI NGEPET di Kampungku   15 (Pencarian Tiara)

    Apa yang mustahil terkadang terjadi. Apalagi hanya hilangnya gadis muda di desa. Pak Badrun akhirnya membuat kesimpulan bahwa Tiara hilang.Air mukanya menjadi kacau. Seharusnya hal itu tidak terjadi, seharusnya kini anaknya tengah siap-siap akan kembali ke kota bersama Bian.Lantas apa yang terjadi? Bagaimana caranya agar Tiara ditemukan? "Pak, tenang ... kita cari sama-sama. Kita sisir semua tempat dulu, siapa tahu dia ada di rumah temannya yang lain," saran Bian. Meski tak begitu menenangkan, setidaknya Bian berusaha.Harsa terdiam. Baginya, Tiara bukanlah tipe yang akan berkunjung kepada orang lain, bahkan dulu saja ketika masih ada di sana, Harsa dan Afifah-lah yang selalu datang mengunjunginya.Sesekali mungkin pernah, tapi jarang.Harsa menjadi khawatir. Ia terdiam, ingat pada Tiara serta kenangan-kenangan masa lalunya."Sa, bagaimana?"Harsa terkejut, keluar dari lamunannya."Ayo kita cari sama-sama, Pak. Kalau memang belum juga ditemukan setelah kita cari di semua tempat, ki

  • BABI NGEPET di Kampungku   14 (Ke Mana Tiara?)

    Sejam berlalu hingga matahari mulai memberi hangatnya, Tiara tak kunjung ibu Tiara temukan. Awalnya ia pikir anaknya sedang ke warung atau suatu tempat, sehingga tak begitu merisaukannya.Namun, setelah beberapa jam kemudian tak muncul batang hidungnya, risau mulai mengacau isi pikiran ibu Tiara. Wanita paruh baya itu kembali ke lokasi dimana mobil Bian hancur dan melapor pada suaminya.Saat itu Bian telah berhasil menyelamatkan kopernya. Selain koper berisi pakaian, tak ada yang bisa ia selamatkan lagi, termasuk ponsel mahalnya. Mobil itu benar-benar telah menjadi rongsokan, tak mungkin ia bisa memperbaikinya. Jikapun bisa, Bian lebih memilih meninggalkan saja dan menggunakan mobilnya yang lain di kota.Selagi dirinya membuka dompet dan melakukan transaksi tunai dengan pihak yang telah membantu, ekor matanya menangkap kedua orangtua Tiara berbicara berdua, agak jauh dari keramaian."Terima kasih, ya, Pak sudah bantu saya. Kalau begitu sisanya saya minta tolong ke bapak-bapak saja." S

  • BABI NGEPET di Kampungku   13 (Tawaran Gila)

    Malam sebelum kejadian pagi, Nurmaya gelisah tak menentu, gadis itu tak sanggup membayangkan ia akan diperistri oleh siluman babi peliharaan ayahnya.Dengan keringat yang telah membanjiri wajahnya, Nur mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, menggila."Bu, Pak! Ibuu, tolong buka!" Tangisnya menggema, mengisi setiap sudut dan celah ruangan yang sunyi dan dingin. Terkadang, Nur merasa rumah itu sangat menyeramkan.Orang tua Nurmaya segera membuka pintu, menghentikan keributan Nur yang menjadi. Terlihat si bungsu menangis terkaing-kaing, memaksa Pak Zakaria untuk bertindak ekstrim—menutup mulut anaknya cepat-cepat."Kamu sudah gila, Nur? Jam berapa ini? Dan kamu malah membuat keributan? Diam!" Mata Pak Zakaria melotot seolah akan keluar dari kelopaknya. Kepanikan jelas terlihat di air muka.Nurmaya meronta, berusaha melepaskan tangan bapaknya yang lebih gila. Ia pun menggigitnya, entah kekuatan dari mana datangnya itu, tetapi baru kali ini anaknya seberani ini padanya."Nur! Nur, tenang

  • BABI NGEPET di Kampungku   12 (Awal Petaka)

    Sejak kematian Afifah, teror babi ngepet yang selalu mencuri uang warga tiba-tiba reda, tidak ada lagi yang kehilangan. Atau jangan-jangan ini hanya sementara?Prasangka demi prasangka mulai muncul di kepala warga. Apa mungkin kematian Afifah memang ada hubungannya dengan pesugihan babi ini? Jangan-jangan gadis malang itu sungguh jadi tumbal?"Ngeri, udah ah jangan tambah ngaco ngomongnya. Nanti kedengeran keluarganya, kasian."Sekumpul bapak-bapak di dekat pos sudah sibuk membicarakan gadis yang telah mati. Pagi ini, selagi menunggu yang lain muncul untuk melihat proses penarikan mobil Bian, beberapa sudah sigap memang, siapa tahu mereka dibutuhkan nanti.Kopi dan pisang goreng menjadi menu sarapan mereka yang tak ketinggalan. Sekitar delapan orang yang sudah hadir, dan mereka mulai membahas tentang Afifah, babi ngepet dan teror lain yang datang tak terduga."Bahas babinya saja. Sejak itu memang dompet kita aman, babi kecil yang suka masuk rumah kita tidak ada lagi. Aku kira memang s

  • BABI NGEPET di Kampungku   11 (Penagihan Janji)

    Keluarga berduka telah usai dengan acara tahlilannya. Pak Badrun dan Bian membawa nasi berkat sepulang dari rumah Pak Zakaria.Cerita mengerikan itu kembali terceritakan. Bulu kuduk Bian seketika mengembang. Tiara yang duduk di hadapan televisi tabung yang volumenya dikecilkan itu tak bersuara, hanya menyimak sembari menekuk dua kakinya yang diselimuti sarung batik merah ati milik ibunya. Di samping Tiara ada sang ibu yang juga ikut menyimak, sementara dua lelaki di kursi saling menceritakan hal mistis yang kini menjadi trending di desa Tiara, yaitu siluman babi ngepet."Tidak tentu kapan uangnya hilang, Pak?""Iya, tidak bisa kami prediksi.""Aneh, ya. Padahal di novel yang saya baca, babi ngepet itu mencuri uang setiap malam. Ini kok berbeda, aneh." Bian memikirkan dengan keras. Bagaimana bisa cerita dan film berbeda dengan kenyataan yang kini tengah terjadi. Di film, babi itu akan diburu warga, di sini malah kebalikannya, babinya yang memburu warga. Benar-benar seram."Begitulah Na

  • BABI NGEPET di Kampungku   10 (Sebuah Peringatan)

    Tak seperti kehidupan kota yang begitu terasa kesibukannya, di desa ini Bian merasa suasananya terlalu hening.Ia duduk di kursi beraroma khas macam di rumah nenek yang pernah dirasakan kala dirinya kecil. Entah mengapa di saat seperti ini muncul kerinduan yang tak bisa dijelaskan dan rindu apa.Orang tua Tiara sibuk sejak tadi. Bapak Tiara ke rumah tetangga, sedangkan ibunya memasak di dapur. Memang tadi sempat membuat menu sarapan, tapi hanya sedikit. Jadi, ibu Tiara kembali ke dapur untuk menjamu anak serta calon mantunya (siapa tahu, bukan?).Tiara baru selesai mandi. Kakinya yang terkilir sudah tak lagi sakit berkat Nyimas yang kini sudah tak ada kehadirannya. Gadis itu membawa handuk bersih di tangannya untuk diserahkan pada Bian."Mas, siapa tahu mau mandi.""Setaaan!" Bian melompat kaget tiba-tiba Tiara muncul. Tak ayal Tiara pun sama kagetnya, apalagi dengar kata 'setan' dari mulut Bian."Apaan, sih?! Ngagetin! Setan, setan, emangnya saya setan?""Kamu yang ngagetin, Ra! Asta

  • BABI NGEPET di Kampungku   5 (Babi yang Mengintip di Jendela Kamar)

    Sudah semakin malam, hampir jam 2, tapi Tiara belum juga bisa tidur. Ibu bapaknya—Pak Rahman—sudah terlelap di kamar mereka, bahkan mungkin Bian pun sudah ke alam mimpi jauhnya.CETAAAR!Di luar masih hujan deras, geledek dan petir menyambar di mana-mana. Dingin, Tiara memeluk diri. Padahal matanya

  • BABI NGEPET di Kampungku   4 (Pemakaman Afifah)

    “Kembali ke kota? Bu, kami baru sampai. Bahkan Mas Bian belum selesai di kamar man—”“AAAARGGGGHH!” Belum Tiara tuntaskan ucapannya, suara jeritan Bian mengudara memenuhi gendang telinga Tiara dan ibunya.Seketika Tiara dan Bu Rafat lari menuju ke belakang rumah yang hanya bercahayakan lampu kuning

  • BABI NGEPET di Kampungku   3 (Kepulangan yang Ditolak)

    Langit sudah berisik diwarnai suara gemuruh yang membuat tengkuk Bian meriang. Meski hanya sekilas, itu membuat ia jadi kebelet pipis.“Rumahmu yang mana, Ra? Astaga aku sudah tidak tahan mau numpang ke kamar mandi!” Antara kesal dan lelah, di malam buta begini malah kebelet banget.Tiara meringis

  • BABI NGEPET di Kampungku   2 (Kabar Kematian si Gadis Gila)

    [Mbak Afifah meninggal, Kak Tiara. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, mbak Afifah ingin sekali ketemu Kak Tiara.]Tiara sedang diomeli Bian—bos yang menolak dipanggil bapak—saat terlihat notifikasi chat di aplikasi hijau menampakkan pesan itu di poni layar.Hal itu membuat Tiara terguncang da

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status