Share

2. RUANG CELESTIAL

Author: Lampard46
last update Last Updated: 2025-12-20 12:39:48

Tik… tik…

Sapaan ketukan terdengar dari belakang. “Bonaga,” seorang pria tua paruh baya dengan wajah sayu, rambut coklat memutih di beberapa bagian, jambang dan kumis lebat, berdiri di sana.

“Kamu belum pergi?” tanyaku, nada suaraku terdengar sedikit heran. Sepengetahuanku, hampir semua orang yang dulu menjadi bawahan ayahku—sang pemimpin lama—telah pergi meninggalkan desa.

Bonaga adalah pak tua yang menjabat sebagai ahli strategi Desa Parombunan. Namun sebenarnya, IQ dan kecakapannya dipertanyakan. Ide-ide yang ia ajukan selama ini jarang ada yang berguna bagi desa. Entah apa yang membuat ayahku tetap mempertahankan orang setengah pintar ini selama bertahun-tahun.

“Pak Tua Bona…” Aku mencoba merangkai kata dengan hati-hati. Otak pak tua ini, menurut ingatan pemilik tubuh sebelumnya, lebih sering korslet daripada connect, jadi aku harus memilih kata dengan cermat.

Dengan cepat aku meraih tangannya sambil tersenyum. “Aku sangat tersentuh jika kamu bersedia tetap tinggal…”

“Jika kamu mau mengabdi di bawah kepemimpinanku, seperti masa kejayaan ayah… aku berjanji akan selalu mengingat jasamu. Kita akan membangun kembali desa ini bersama-sama—membentuk ulang tatanannya, membuatnya lebih baik dan lebih maju dibandingkan masa lalu.”

Aku berusaha sekuat tenaga untuk merayu dan mempertahankan pak tua ini. Aku masih belum sepenuhnya memahami medan sekitar desa; ingatan yang masuk ke kepalaku pun masih pulih perlahan.

Bagaimanapun, aku—yang berasal dari masa depan—mungkin sudah mati akibat bencana atau apa pun yang terjadi di sana, dan kini melanjutkan hidup di zaman ini.

Jika ditanya apakah aku ingin menolak takdir ini, tentu saja aku ingin. Tapi apa yang bisa kulakukan?

Saat ini aku hanya bisa pasrah sembari melakukan apa pun yang perlu kulakukan demi kelangsungan hidupku, memanfaatkan pengetahuan yang kubawa dari zaman modern sebelum aku berpindah ke dunia ini.

Sedikit banyak, aku adalah seorang sarjana ekonomi yang menguasai pembangunan, mekanisme serta tata kelola keuangan dan perusahaan. Aku juga mahir dalam bidang perangkat lunak dan perangkat keras komputer.

Bisa dikatakan aku memiliki kemampuan multitalenta. Hanya saja, di zaman modern, sulit bagiku memperoleh posisi kerja yang baik. Aku tidak memiliki channel, tidak ada “orang dalam” yang dapat membantuku menaiki tangga profesi.

Jangankan mencapai puncak karier—untuk masuk ke pekerjaan yang layak saja sudah sangat sulit.

"Pemimpin Desa... sepertinya Anda salah paham."

Ekspresi wajah pak tua itu tampak tidak menyenangkan. Aku sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin ia sampaikan, tetapi aku memilih berpura-pura tidak mengerti. Aku menunggu, berharap ia akan menjelaskan maksudnya sendiri.

"Sumber daya Desa Parombunan hampir semuanya telah diambil. Yang tersisa hanya seekor kuda kurus—dan tidak ada yang menginginkannya. Bisakah saya memilikinya...?"

Tubuhku yang lemah dan baru saja sadar seketika terasa hancur. Ada kekosongan yang menggerogoti dari dalam, seolah dunia ingin menelanku hidup-hidup.

Apakah nasibku memang akan selalu seperti ini…?

Bukan hanya di kehidupan modern yang kutinggalkan, bahkan di dunia ini pun, kesialan terus mengikuti.

Senyum paksa terulas di bibirku, getir dan dipenuhi luka yang tak terlihat.

"Dan… kulit macan itu."

Ia menunjuk ke kulit macan yang terbentang di lantai, bekas alas tahta pemimpin lama—simbol terakhir kekuasaan yang kini sudah tiada.

Jadi bukan hanya ingin meninggalkanku tanpa apa pun, dia bahkan ingin mengambil sisa kekayaan terakhir desa… tanpa menyisakan sedikit pun untukku.

Kalau begitu, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup?

Aku menarik napas panjang.

"Ambillah semuanya… dan pergilah."

Tak ada gunanya mempertahankan apa pun lagi.

Anggap saja itu hadiah terakhir dariku untuknya—balasan atas pengabdian yang selama ini ia berikan kepada pemimpin lama.

Pak tua itu dengan cepat menggulung kulit macan itu, wajahnya dipenuhi senyum puas tanpa sedikit pun rasa malu.

Butet! Cepatlah! Bawa kudanya. Kita harus segera pergi!” serunya kepada putri satu-satunya.

Setelah turun gunung, kita hanya bisa mengandalkannya untuk makan.

Aku hanya bisa terdiam, duduk menatap reruntuhan rumah yang masih berdiri setengah reyot. Angin berhembus kencang, menggugurkan dedaunan dan menebarkan kesunyian yang menusuk hingga ke dalam hati.

Sendirian di dunia asing ini… bagaimana aku bisa bertahan?

Pengetahuan dan teknologi yang dulu begitu mudah kugunakan kini tak lebih dari kenangan tak berguna. Semuanya terasa jauh dan tak dapat kuterapkan dalam keadaan seperti ini.

Dug… Dug…

Dug… Dug…

Jantungku berdetak semakin cepat. Kesadaranku mulai goyah, seperti terseret arus sungai yang deras tanpa mampu kutahan atau kurenangi. Aku hanya bisa pasrah mengikuti alirannya.

Tanpa sadar, aku berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak kukenali. Sunyi, asing, dan penuh ketidakpastian.

Di mana aku…? Tempat apa ini sebenarnya…?

Pertanyaan itu bergema di dalam batinku, namun tak ada jawaban yang muncul.

Tiba-tiba, sebuah titik cahaya kecil melintas—perlahan membesar hingga menyilaukan mata. Dari dalam cahaya itu, sebuah siluet manusia terbentuk dan menapak di hadapanku.

Aku terpaku, bodoh, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Rasanya seperti terjebak dalam negeri dongeng.

Wujud itu semakin jelas. Seorang perempuan dengan kecantikan yang tak masuk akal—tubuhnya anggun, wajahnya memukau, seolah bidadari turun dari langit. Dan yang membuatku tertegun…

Wajahnya familiar.

Yanti…? Istriku?” bisikku hampir tak terdengar.

Tidak… tidak mungkin. Rambutnya berbeda. Aura dan keanggunannya jauh melampaui wanita mana pun. Hanya wajahnya saja… yang mirip. Terlalu mirip.

Namun aku segera mengingat bahwa aku bukan lagi di dunia lamaku.

Sosok itu membuka mulutnya. Suaranya lembut, bergetar ringan di udara, seperti suara seorang dewi.

Pemuda pilihan…

Pakaian berkilauan dari negeri dongeng, tatapan yang seolah menembus jiwaku—semuanya membuatku sadar. Wanita bercahaya emas di depanku bukan manusia.

Ia adalah seorang dewi.

Kau akhirnya di sini!

Suaranya menggema lembut namun tegas. Aku menatap sosok bercahaya itu dengan penuh kebingungan.

Siapa kamu…? Dan di mana ini sebenarnya?

Sosok tersebut tersenyum. Cahaya keemasannya berpendar seperti denyut hidup alam semesta.

Ini adalah Ruang Celestial Surgawi.

Ruang ini tercipta dari doa-doa istrimu—doa yang ia panjatkan demi keselamatanmu.

Ia memohon agar kau diberi jalan terbaik, bahkan rela mengorbankan dirinya untuk melindungimu saat bencana memporak-porandakan duniamu.

Aku membeku. Kata-katanya menusuk langsung ke dalam hatiku.

Aku adalah roh pengatur yang mewujudkan doa-doanya.

Dan… selamat.

Kau telah membuka Ruang Rahasia Menuju Puncak Ilahi.

Dadaku terasa sesak. Baru sekarang aku benar-benar memahami makna kehadiran sosok ini.

Wujudnya—yang begitu mirip dengan istriku—rupanya hanyalah manifestasi dari permohonan tulus yang istriku titipkan pada langit.

Istriku… kau adalah malaikatku…” bisikku lirih.

Tiba-tiba pakaian dewi itu berubah seketika, berganti menjadi busana lain tanpa ia bergerak atau membuka apa pun. Cahaya menari di sekelilingnya, membentuk lapisan kain baru yang jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya.

Sungguh… seperti adegan yang hanya ada di cerita fantasi.

Sebuah keajaiban yang tak mungkin terjadi di dunia nyata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   24. LEDAKAN NAGA BUMI

    Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, wajah para prajurit itu tampak mengerikan; mata mereka menghitam karena kurang tidur, dan langkah kaki mereka yang terseret menciptakan suara gesekan logam yang parau di atas tanah."Bos... ini dia!" Bonaga berbisik dengan nada yang tercekat di tenggorokan.Kami berdua tiarap di balik rimbunnya semak-semak di puncak lereng yang menghadap ke jalan utama. Dari tempat kami mengintai, iring-iringan pasukan itu terlihat seperti ular hitam raksasa atau jutaan semut yang berjejer panjang tak terputus."Ini... ada ribuan orang...!" gumamku pelan. Aku harus mengakui, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Sepanjang hidupku, baik di dunia lama maupun di sini, baru

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   23. PERJALANAN MENUJU DESA PAROMBUNAN

    Seribu pasukan di bawah panji Sibalga kini merayap seperti ular besi di lereng bukit yang terjal. Medan Pegunungan Parombunan yang curam mulai memakan korban secara perlahan."Pangeran Kota," Togar Torop memacu kudanya mendekati kereta perang sang Pangeran. Suaranya terdengar cemas saat melihat barisan di belakangnya yang mulai kacau. "Kita hampir sampai di perbatasan Desa Parombunan. Sebaiknya Anda mengizinkan para parangan untuk beristirahat. Mereka telah dipaksa berjalan tanpa henti dari siang hingga larut malam seperti ini."Togar berharap sang pemimpin memiliki sedikit empati agar pasukan lebih siap bertempur saat fajar tiba. Namun, Pangeran Hali justru meliriknya dengan tatapan meremehkan."Kepala Pelayan Torop, tahukah kau bahwa seorang parangan sejati harus cekatan?" sahutnya sinis. "Beristirahat? Bagaimana jika para penjahat itu datang menyabotase kamp kita saat semua orang sedang mendengkur? Kau ingin kita dibantai

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   22. DELUSI SANG PENAKLUK

    Di bawah langit Kota Sibalga yang mulai terik, area barak pusat telah berubah menjadi lautan baja. Seribu pasukan dari berbagai kesatuan berdiri berbaris dengan disiplin yang kaku, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.Dua ratus kavaleri ringan sudah berada di atas pelana, kuda-kuda mereka meringkik tidak sabar sembari menghentakkan kaki ke tanah. Di sisi lain, seratus pasukan lapis baja berat berdiri kokoh seperti dinding berjalan, zirah mereka memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan. Di barisan tengah, para pemanah dan pasukan tombak memeriksa kembali kelayakan senjata mereka, sementara tiga ratus pasukan pedang lebar berdiri tegap dengan senjata tersarung di pinggang.Deru suara zirah yang bergesekan dan dentingan senjata memenuhi udara. Kereta-kereta logistik yang mengangkut gunungan biji-bijian—beban yang sebelumnya diperdebatkan oleh Sang Menteri—kini mulai bergerak menuju gerbang kota.Ini bukan sekadar patroli biasa. Ini adalah ekspedisi

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   21. MISI DAN INTRIK

    "Penasihat Militer, ada tugas krusial yang harus kau emban sekarang. Masalah ini menyangkut hidup dan mati seluruh pondok kita," ucapku sembari melangkah menghampiri Bonaga. Saat itu, ia tengah asyik menikmati roti gandum hangat buatan putrinya, tampak begitu tenang sebelum aku datang membawa kabar buruk.Bonaga mendongak dengan pipi menggembung, mulutnya masih penuh dengan kunyahan roti. "Bos Besar!" serunya setelah menelan paksa. "Jika urusannya seserius itu, mengapa tidak menunjuk orang lain saja? Aku sedang ingin menikmati masa tenangku."Aku menatapnya tajam, tidak memberi celah untuk bernegosiasi. "Masalahnya, hanya kau yang memiliki lidah cukup lihai dan kelicikan yang pas untuk urusan ini. Pergilah ke Desa Martinju dan temui pemimpin mereka, Tahan Martinju."Mendengar nama itu disebut, ekspresi Bonaga seketika berubah gelap. Ia terdiam, lalu menggigit r

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   20. KEKUATAN KOTA SIBALGA

    Setelah langkah kaki Hali Suksung menghilang di ujung lorong, suasana ruang pertemuan kembali tenang. Sang Raja Kota menyandarkan tubuhnya, lalu melirik pria di sampingnya."Komandan Militer, bagaimana pendapatmu tentang rencana putraku?" tanya Sang Raja dengan nada datar.Pria veteran bertubuh kekar itu menghela napas pendek. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya yang tajam mencerminkan pengalaman ribuan jam di medan laga. Sebagai pemimpin yang selalu memprioritaskan keselamatan pasukannya, ia segera membedah rencana tersebut."Menjawab Yang Mulia," mulainya dengan nada serius. "Di medan pegunungan yang rimbun dan hutan yang lebat, peran kavaleri hampir tidak bisa dimainkan. Itu hanya akan membebani laju pasukan. Terlebih lagi, jika tujuannya adalah serangan jarak jauh yang cepat, menggunakan pasukan lapis baja berat adalah keputusan yang salah. Beban zirah mereka hanya akan menguras tenaga sebelum perang dimulai."Ia berhenti sejenak untuk menatap Sang Raja. "Bandit gunung buka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   19. LAPORAN PALSU

    Sopo Balga Kota Sibalga Suasana pagi di Sopo Balga tampak begitu kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di Desa Parombunan. Cahaya matahari menyinari atap-atap bangunan kota yang megah, sementara para prajurit dengan zirah lengkap berdiri kaku di setiap pos pengamanan, menunjukkan disiplin militer yang ketat dari sebuah pusat kekuasaan."Segera setelah hamba tiba di kaki Desa Parombunan, hamba dihadang oleh ratusan orang. Salah satu dari mereka melangkah maju dan mengaku sebagai Raja Doli..."Pria itu melapor dengan tubuh gemetar, bersujud di hadapan penguasa kota yang sedang duduk bersandar di kursi tahta. Di sisi kiri dan kanannya, dua pelayan wanita terus mengayunkan kipas dengan irama teratur, mencoba menjaga kesejukan sang Raja."Togar Tua sempat merasa gentar," lanjutnya dengan suara yang diusahakan tetap tegap, "namun demi harga diri, hamba menepis rasa takut itu. Hamba segera menghunus pedang dan langsung menyerang pemimpin mereka!"Di sudut ruangan, para menteri yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status