LOGINTik… tik…
Sapaan ketukan terdengar dari belakang. “Bonaga,” seorang pria tua paruh baya dengan wajah sayu, rambut coklat memutih di beberapa bagian, jambang dan kumis lebat, berdiri di sana.
“Kamu belum pergi?” tanyaku, nada suaraku terdengar sedikit heran. Sepengetahuanku, hampir semua orang yang dulu menjadi bawahan ayahku—sang pemimpin lama—telah pergi meninggalkan desa.
Bonaga adalah pak tua yang menjabat sebagai ahli strategi Desa Parombunan. Namun sebenarnya, IQ dan kecakapannya dipertanyakan. Ide-ide yang ia ajukan selama ini jarang ada yang berguna bagi desa. Entah apa yang membuat ayahku tetap mempertahankan orang setengah pintar ini selama bertahun-tahun.
“Pak Tua Bona…” Aku mencoba merangkai kata dengan hati-hati. Otak pak tua ini, menurut ingatan pemilik tubuh sebelumnya, lebih sering korslet daripada connect, jadi aku harus memilih kata dengan cermat.
Dengan cepat aku meraih tangannya sambil tersenyum. “Aku sangat tersentuh jika kamu bersedia tetap tinggal…”
“Jika kamu mau mengabdi di bawah kepemimpinanku, seperti masa kejayaan ayah… aku berjanji akan selalu mengingat jasamu. Kita akan membangun kembali desa ini bersama-sama—membentuk ulang tatanannya, membuatnya lebih baik dan lebih maju dibandingkan masa lalu.”
Aku berusaha sekuat tenaga untuk merayu dan mempertahankan pak tua ini. Aku masih belum sepenuhnya memahami medan sekitar desa; ingatan yang masuk ke kepalaku pun masih pulih perlahan.
Bagaimanapun, aku—yang berasal dari masa depan—mungkin sudah mati akibat bencana atau apa pun yang terjadi di sana, dan kini melanjutkan hidup di zaman ini.
Jika ditanya apakah aku ingin menolak takdir ini, tentu saja aku ingin. Tapi apa yang bisa kulakukan?
Saat ini aku hanya bisa pasrah sembari melakukan apa pun yang perlu kulakukan demi kelangsungan hidupku, memanfaatkan pengetahuan yang kubawa dari zaman modern sebelum aku berpindah ke dunia ini.
Sedikit banyak, aku adalah seorang sarjana ekonomi yang menguasai pembangunan, mekanisme serta tata kelola keuangan dan perusahaan. Aku juga mahir dalam bidang perangkat lunak dan perangkat keras komputer.
Bisa dikatakan aku memiliki kemampuan multitalenta. Hanya saja, di zaman modern, sulit bagiku memperoleh posisi kerja yang baik. Aku tidak memiliki channel, tidak ada “orang dalam” yang dapat membantuku menaiki tangga profesi.
Jangankan mencapai puncak karier—untuk masuk ke pekerjaan yang layak saja sudah sangat sulit.
"Pemimpin Desa... sepertinya Anda salah paham."
Ekspresi wajah pak tua itu tampak tidak menyenangkan. Aku sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin ia sampaikan, tetapi aku memilih berpura-pura tidak mengerti. Aku menunggu, berharap ia akan menjelaskan maksudnya sendiri.
"Sumber daya Desa Parombunan hampir semuanya telah diambil. Yang tersisa hanya seekor kuda kurus—dan tidak ada yang menginginkannya. Bisakah saya memilikinya...?"
Tubuhku yang lemah dan baru saja sadar seketika terasa hancur. Ada kekosongan yang menggerogoti dari dalam, seolah dunia ingin menelanku hidup-hidup.
Apakah nasibku memang akan selalu seperti ini…?
Bukan hanya di kehidupan modern yang kutinggalkan, bahkan di dunia ini pun, kesialan terus mengikuti.
Senyum paksa terulas di bibirku, getir dan dipenuhi luka yang tak terlihat.
"Dan… kulit macan itu."
Ia menunjuk ke kulit macan yang terbentang di lantai, bekas alas tahta pemimpin lama—simbol terakhir kekuasaan yang kini sudah tiada.
Jadi bukan hanya ingin meninggalkanku tanpa apa pun, dia bahkan ingin mengambil sisa kekayaan terakhir desa… tanpa menyisakan sedikit pun untukku.
Kalau begitu, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup?
Aku menarik napas panjang.
"Ambillah semuanya… dan pergilah."
Tak ada gunanya mempertahankan apa pun lagi.
Anggap saja itu hadiah terakhir dariku untuknya—balasan atas pengabdian yang selama ini ia berikan kepada pemimpin lama.
Pak tua itu dengan cepat menggulung kulit macan itu, wajahnya dipenuhi senyum puas tanpa sedikit pun rasa malu.
“Butet! Cepatlah! Bawa kudanya. Kita harus segera pergi!” serunya kepada putri satu-satunya.
“Setelah turun gunung, kita hanya bisa mengandalkannya untuk makan.”
Aku hanya bisa terdiam, duduk menatap reruntuhan rumah yang masih berdiri setengah reyot. Angin berhembus kencang, menggugurkan dedaunan dan menebarkan kesunyian yang menusuk hingga ke dalam hati.
Sendirian di dunia asing ini… bagaimana aku bisa bertahan?
Pengetahuan dan teknologi yang dulu begitu mudah kugunakan kini tak lebih dari kenangan tak berguna. Semuanya terasa jauh dan tak dapat kuterapkan dalam keadaan seperti ini.
Dug… Dug…
Dug… Dug…
Jantungku berdetak semakin cepat. Kesadaranku mulai goyah, seperti terseret arus sungai yang deras tanpa mampu kutahan atau kurenangi. Aku hanya bisa pasrah mengikuti alirannya.
Tanpa sadar, aku berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak kukenali. Sunyi, asing, dan penuh ketidakpastian.
“Di mana aku…? Tempat apa ini sebenarnya…?”
Pertanyaan itu bergema di dalam batinku, namun tak ada jawaban yang muncul.
Tiba-tiba, sebuah titik cahaya kecil melintas—perlahan membesar hingga menyilaukan mata. Dari dalam cahaya itu, sebuah siluet manusia terbentuk dan menapak di hadapanku.
Aku terpaku, bodoh, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Rasanya seperti terjebak dalam negeri dongeng.
Wujud itu semakin jelas. Seorang perempuan dengan kecantikan yang tak masuk akal—tubuhnya anggun, wajahnya memukau, seolah bidadari turun dari langit. Dan yang membuatku tertegun…
Wajahnya familiar.
“Yanti…? Istriku?” bisikku hampir tak terdengar.
Tidak… tidak mungkin. Rambutnya berbeda. Aura dan keanggunannya jauh melampaui wanita mana pun. Hanya wajahnya saja… yang mirip. Terlalu mirip.
Namun aku segera mengingat bahwa aku bukan lagi di dunia lamaku.
Sosok itu membuka mulutnya. Suaranya lembut, bergetar ringan di udara, seperti suara seorang dewi.
“Pemuda pilihan…”
Pakaian berkilauan dari negeri dongeng, tatapan yang seolah menembus jiwaku—semuanya membuatku sadar. Wanita bercahaya emas di depanku bukan manusia.
Ia adalah seorang dewi.
“Kau akhirnya di sini!”
Suaranya menggema lembut namun tegas. Aku menatap sosok bercahaya itu dengan penuh kebingungan.
“Siapa kamu…? Dan di mana ini sebenarnya?”
Sosok tersebut tersenyum. Cahaya keemasannya berpendar seperti denyut hidup alam semesta.
“Ini adalah Ruang Celestial Surgawi.
Ruang ini tercipta dari doa-doa istrimu—doa yang ia panjatkan demi keselamatanmu.
Ia memohon agar kau diberi jalan terbaik, bahkan rela mengorbankan dirinya untuk melindungimu saat bencana memporak-porandakan duniamu.”
Aku membeku. Kata-katanya menusuk langsung ke dalam hatiku.
“Aku adalah roh pengatur yang mewujudkan doa-doanya.
Dan… selamat.
Kau telah membuka Ruang Rahasia Menuju Puncak Ilahi.”
Dadaku terasa sesak. Baru sekarang aku benar-benar memahami makna kehadiran sosok ini.
Wujudnya—yang begitu mirip dengan istriku—rupanya hanyalah manifestasi dari permohonan tulus yang istriku titipkan pada langit.
“Istriku… kau adalah malaikatku…” bisikku lirih.
Tiba-tiba pakaian dewi itu berubah seketika, berganti menjadi busana lain tanpa ia bergerak atau membuka apa pun. Cahaya menari di sekelilingnya, membentuk lapisan kain baru yang jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya.
Sungguh… seperti adegan yang hanya ada di cerita fantasi.
Sebuah keajaiban yang tak mungkin terjadi di dunia nyata.
Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai
Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b
"SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be
Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka
Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s
Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"







