Inicio / Fantasi / BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR / 52. DOMBA GEMUK TAK SESUAI HARAPAN

Compartir

52. DOMBA GEMUK TAK SESUAI HARAPAN

Autor: Lampard46
last update Fecha de publicación: 2026-01-22 21:29:10

Beberapa Hari Kemudian.

Kepulangan Ribak Sinambela dan Pelayan Togar Torop dari Kota Tarutung membawa angin segar bagi Desa Parombunan. Mereka tidak datang dengan tangan hampa; dua ekor kerbau muda, lusinan ayam riuh, kain-kain baru, hingga perlengkapan tulis seperti kertas, kuas, dan batu tinta memenuhi dua kereta serta gerobak kuda mereka. Logistik desa kini jauh lebih stabil.

Namun, di luar ketenangan desa kami, atmosfer di Pegunungan Parombunan mulai memanas. Dalam radius lima puluh mil di
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   124. Bayang-Bayang Kavaleri Tamiang

    Di lereng pegunungan yang menghubungkan Kota Sibalga menuju Pegunungan Parombunan, rombongan itu bergerak membelah sunyi. Raja Doli berkuda dengan suhu tubuh yang masih terasa panas membara—sisa energi dari pertarungan hebat tadi—sementara para bawahannya mengikuti dari belakang, mencoba menikmati semilir angin pegunungan yang bertiup sepoi-sepoi namun membawa rasa dingin yang nyaris tak tertahankan.Di sepanjang jalan, Raja Doli menatap lurus ke depan, sesekali mendongak ke langit yang luas, merenungi rangkaian kejadian gila yang baru saja ia lalui. Rasa penasaran akhirnya memuncak, ia menoleh ke arah pemuda gagah yang berkuda di sampingnya."Zilong, orang yang kau cari... apa itu Liu Bei Tiga Bersaudara?" tanya Raja Doli memecah keheningan."Tentu saja!" jawab Zilong singkat, namun penuh keyakinan."Bagaimana kalian bisa bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya?" Raja Doli bertanya lagi.Meskipun ia tahu sejarah besar Daratan Cina tentang persaudaraan Liu-Guan-Zhang dan kesetiaa

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   123. Keadilan di Atas Jembatan Sibalga

    Ketegangan di atas jembatan itu mencapai puncaknya. Jadin, yang sudah sekarat dan bersimbah darah, masih saja mencoba mempertahankan egonya yang hancur."Dan sebagainya... Apa kau percaya pada keadilan?" Raja Doli mengulangi pertanyaannya. Kali ini, suaranya tidak lagi gemetar; aura yang menggebu-gebu keluar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar jembatan hingga terasa menyesakkan."Uhuk...!" Po Jadin terbatuk darah, namun ia masih memaksakan diri untuk bertumpu pada lututnya yang gemetar. Ia mencoba bangkit dari keterpurukan untuk yang kesekian kalinya, sebuah sisa-sisa harga diri dari seorang penguasa bar-bar.Raja Doli menatapnya dengan pandangan menghina. "Gelar Serigala di pundakmu memang tidak sia-sia, Jadin. Tapi hari ini, aku akan memberimu kehormatan baru: seekor harimau yang ditebas mati. Kau seharusnya bangga, gelarmu naik tingkat tepat di saat ajal menjemputmu. Lihatlah dunia untuk terakhir kalinya..."

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   122. Penghakiman Terakhir: Sang Bandit Menjadi Hakim

    Suasana di atas jembatan yang hancur itu mencekam. Angin berembus kencang, membawa aroma besi dan darah yang beradu di udara. Di tengah jembatan tanpa pagar yang tersisa, Raja Doli dan Meurah Po Jadin—sang Kesatria Serigala—saling mengunci pandangan."Berjuanglah, kawan...!" seru Zilong dari kejauhan, suaranya teredam oleh dentuman langkah kuda yang menjauh, meninggalkan dua petarung itu dalam duel penentuan nasib dan kehormatan.Raja Doli memantapkan kakinya. Keraguan di matanya kini perlahan memudar, berganti dengan api tekad yang menyala. Ia sadar, pedang miliknya adalah satu-satunya jalan untuk menebus harga diri yang sempat terinjak.Hah.... Raja Doli membuang napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Di sisi lain, Po Jadin terlihat menahan perih yang luar biasa. Lengannya yang terluka parah terus mengucurkan darah segar yang membasahi lantai jembatan, namun cengkeramannya pada gagang Storm A

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   121. Badai di Sibalga: Kebangkitan Sang Bandit

    Di tempat lain, Bangsa Tamiang sudah mengejar para pasukan dan para sukarelawan dari Kota Sibalga, dan melarikan diri ke segala arah.Mayat berserakan di atas tanah seperti bangkai hewan yang tak berarti, terkena panah di kepala dan dada tepat mengenai jantung, tangan dan kaki yang terpisah, serta daging - daging kuda yang baru saja ditebas dan disembelih."Apa Meurah kesulitan melawan para bandit itu?" gumam Buaeh kepada Benghingas dan mereka menatap dari kejauhan."Beghingas, bagilah beberapa pasukan kita, selebihnya, ikuti aku untuk membantu Meurah Jadin!" lanjutnya menyeru."Siap....!"Di kejauhan sana Meurah Po Jadin saat ini, sedang dihadapkan pada lawan yang sedang memberikan pertempuran sengit padanya.Meskipun statusnya "Prajurit Pemula", gerakan Zilong tidak bisa dibilang amatir. Saat ia bergerak, tombaknya mengeluarkan suara desingan yang menyerupai ribuan b

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   120. KEMUNCULAN PRIA MISTERIUS

    Momen yang sungguh di luar nalar terjadi di tengah padang maut itu. Raja Doli, dengan posisi berlutut dan napas yang hampir habis, menatap lekat-lekat pada kuda perang kurus yang ditunggangi Jadin. Kuda itu bukan sekadar hewan bagi Doli; itu adalah kawan lama yang telah menemaninya melintasi berbagai rintangan selama berbulan-bulan sebelum dirampas paksa."Kuda kurus oh kuda kurus, aku tahu aku memperlakukanmu dengan buruk, tapi kita telah bersama selama berbulan-bulan..." gumam Doli dalam hati. Pandangannya yang sendu namun penuh harap terpaku pada mata si kuda, mengirimkan pesan batin yang tak sanggup diucapkan bibir. "Jika kau masih punya perasaan, ayo bergeraklah dan selamatkan hidupku...!"Seolah ada ikatan gaib yang tersambung kembali, mata kuda itu berdelik tajam. Memori tentang elusan tangan Doli dan perjalanan panjang mereka mendadak membuncah di dalam insting hewan tersebut."Iiihiiiiik......!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   119. Sibalga Membara: Detik-Detik Penghakiman

    Jadin tertegun sejenak. Ia memandangi Raja Doli dengan tatapan bingung dan sedikit geli, seolah berhadapan dengan orang gila. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanyanya, suaranya sarat akan kebingungan yang bercampur curiga.Raja Doli memaksakan sebuah senyum lebar, meski keringat sebesar jagung terus mengalir membasahi pelipis dan keningnya. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak. "Aku? Hahaha, aku hanya ingin meramaikan suasana! Lihat wajahmu tadi, kau benar-benar gugup, bukan?" ia tertawa terpaksa, suaranya terdengar sumbang. "Apa kau benar-benar percaya semua ocehanku tadi? Jangan terlalu serius, kawan!""Aku mempercayaimu, gundulmu!" bentak Jadin. Topeng ketenangannya pecah seketika. Wajahnya berubah gelap, otot di keningnya menonjol, dan giginya beradu hingga terdengar bunyi kertakan yang mengerikan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh lelucon yang tak lucu.Melihat kemurkaan Jadin yang tak terbendung, insting bertahan hidup Raja Doli berteriak. "Saudaraku, kabur!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   24. LEDAKAN NAGA BUMI

    Kabut tipis menyelimuti pagi yang sejuk di Pegunungan Sibalga. Namun, kesejukan itu tak mampu membasuh kelelahan ekstrem dari pasukan Kota Sibalga yang akhirnya tiba di kaki bukit menuju Parombunan. Setelah dipaksa mendaki tanpa henti dari siang hingga tengah malam, waja

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   25. PUKULAN TELAK BAGI PASUKAN KOTA SIBALGA

    "BUNUH! BUNUH! BUNUH!""Aku Bondut Jolma! Selama aku berdiri di sini, kalian tidak akan pernah lewat!"Bondut duduk tegak di atas pelana, mencengkeram tombak panjangnya dengan mantap. Dari tubuhnya yang kekar, terpancar aura membunuh yang begitu pek

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   28. KEUNTUNGAN SETELAH PERANG

    "Orang ini... dia memiliki momentum yang sangat kuat," gumamku lirih, hampir tak terdengar di balik rimbunnya semak belukar. Aku mengatur napas agar tetap tenang, menekan kehadiran diriku serendah mungkin agar tidak terdeteksi oleh indra tajam sang jenderal veteran.Aku terus mengamati pergerakan T

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   27. KESIALAN MUTLAK PARANGAN SIBALGA

    Seluruh penduduk Desa Martinju terpaku, mata mereka membelalak menyaksikan sisa-sisa pertempuran di lembah bawah. Hasil peperangan itu sungguh di luar nalar—Desa Parombunan yang kecil telah menghancurkan seribu prajurit terlatih Kota Sibalga hingga tak berbentuk.

    last updateÚltima actualización : 2026-03-19
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status