Share

8. HADIAH MISI

Author: Lampard46
last update publish date: 2025-12-23 11:30:50

"Aku merasa lega Boss tidak mati," ucap Bonaga dengan suara lirih, bahunya merosot seolah menanggung beban dunia. "Aku terus menyalahkan diriku karena tidak berguna. Aku hanya beban bagimu, Boss... maka dari itu, sebelum kau mengusirku, biarkan aku pergi dengan martabatku sendiri."

Ia mengusap sudut matanya, berakting seolah-olah dia adalah martir yang berkorban demi kebaikanku.

"Oh! Ya sudah, silakan pergi!" sahutku santai sambil mengibaskan tangan.

Bonaga tertegun, tidak menyangka aku akan melepaskannya semudah itu. Tapi aku belum selesai.

"Oh ya, sekadar informasi," lanjutku dengan nada jengkel yang sengaja dibuat-buat. "Tadi saat merampok, aku memberitahu mereka kalau namaku adalah Bonaga Simamora sang Ahli Strategi. Jadi, kemungkinan besar seluruh pasukan Kota Sibalga akan mencari orang dengan nama itu mulai sekarang. Hati-hati di jalan ya, Bon!"

DEG!

Wajah Bonaga seketika memucat, lebih putih dari nasi di dalam potnya. Tubuhnya gemetar hebat, seolah-olah petir baru saja menyambar tepat di atas kepalanya.

"Ka-kamu...?" Bonaga kehilangan kata-kata.

Seketika, reaksinya berubah 360 derajat. Ia menjatuhkan buntalan bawangnya dan memegang tanganku erat-erat. "Tunggu! Boss! Setelah kupikir-pikir, meskipun aku sudah tua, otakku ini masih sangat encer untuk memikirkan strategi benteng desa kita! Aku tidak boleh pergi! Aku harus mengabdikan sisa hidupku di sini!" ujarnya dengan suara bergetar ketakutan, bersikukuh ingin menetap.

Butet, putrinya yang sedari tadi terdiam, memutar bola matanya. Ia terlihat sangat jengkel dan ilfil melihat kelakuan ayahnya yang berubah-ubah seperti angin puyuh.

"Tenang saja, Pemimpin Desa!" Bonaga berseru dengan wajah sok serius, seolah-olah dia adalah ksatria paling setia di dunia. "Jika kamu dalam masalah, aku akan ada di barisan terdepan untuk membantumu!"

Aku mencibir dalam hati. Tua bangka licik ini, dia hanya takut kepalanya dipenggal pengawal Sibalga kalau dia berkeliaran sendirian di luar sana. Namun, aku tidak mau membuang energi. Tubuhku rasanya mau rontok. Mengayunkan kapak raksasa dan memacu kereta kuda di hari pertama transmigrasi ke dunia ini benar-benar menguras stamina.

"Ya sudah, berhenti bicara," perintahku lemas. "Kemari dan tarik kudanya untukku. Bawa kereta ini masuk ke dalam!"

Bonaga langsung sigap. Tanpa banyak tanya lagi, ia menarik tali kekang kuda dengan semangat yang luar biasa, sementara aku bersandar di kereta, mencoba mengatur napas. Sejujurnya, aku benci perampokan, tapi di dunia yang gila ini, sepertinya menjadi orang baik hanya akan membuatku berakhir seperti istri Bondut Jolma.

"Oh ya, ini Bondut Jolma. Pergi dan perkenalkan dirimu!" seruku, memperkenalkan sang raksasa kepada dua orang desa yang masih gemetaran itu.

Bondut tidak banyak bicara. Ia hanya memberikan sapaan hormat yang singkat namun tegas, membuat Bonaga makin ciut nyalinya.

Aku berdiri dengan tegap. Meskipun tubuhku remuk, wibawa sebagai Boss tidak boleh luntur. Aku mulai membagi tugas dengan nada otoriter. "Butet Simamora, tugasmu tetap sama: urus dan beri makan semua kuda. Saudara Bondut, tugas sementaramu adalah memasak—tenaga besarmu pasti cocok untuk mengaduk kuali besar. Dan kau, Pak Tua Bonaga..."

Aku menjeda kalimatku, menunjuk ke arah kereta mewah itu. "...bawa dan kunci orang yang ada di kereta ini ke kamarku!"

Aku memberikan senyum ringan. Tepat saat itu, angin malam berembus sepoi-sepoi, meniup rambutku hingga melambai dramatis bagaikan bendera kemenangan. "Malam ini, aku akan tidur dengan istri baruku," ucapku dengan nada yang membuat Bonaga melongo dan Butet tersipu jengkel.

Begitu mereka mulai bergerak menjalankan perintah, aku baru teringat sesuatu. Misi tersembunyi! Hadiahnya belum kuambil!

"Layar, muncullah!" celetukku sambil menjentikkan jari, mencoba bergaya keren layaknya protagonis komik isekai.

GEPLAK!

"Aduh!" Sebuah palu tak terlihat menghantam kepalaku dengan sangat keras.

"Jangan terlalu kasar!" seru sebuah suara yang sangat kukenal. "Bukankah aku sudah memberitahumu untuk memanggilku Kakak Dewi?!"

Sang Dewi Celestial muncul dengan ekspresi kesal, namun ia tetap terlihat mempesona. Wajahnya... setiap kali aku melihatnya, jantungku berdegup kencang. Dia sangat mirip dengan istriku di dunia modern, hanya saja kali ini versinya jauh lebih mewah, megah, dan elegan. Kecantikannya seolah hasil mahakarya yang tak terlukiskan, membuatku secara otomatis menjadi tunduk dan nyaman meski baru saja dipukul olehnya.

"Maaf, Kakak Dewi yang cantik..." gumamku sambil mengusap kepala.

"Lumayan, kamu bisa menyelesaikan tahap pertama dalam misi merampok!" ujar Kakak Dewi dengan nada yang sedikit lebih bersahabat, meski ia masih tampak angkuh.

"Lalu apa hadiah yang aku terima...?" tanyaku penuh harap.

"Hadiah..?" Siluet bibirnya seketika berubah manyun berbentuk segitiga yang terlihat sangat kesal. "Hm, ini dia!"

Sebuah bola bercahaya emas bercampur putih muncul dan berdansa di atas telapak tangannya. Cahayanya begitu murni, menerangi seluruh sudut gerbang benteng yang mulai gelap. "Ini dapat membangkitkan atribut tersembunyi secara acak dari salah satu orang yang ada di pondok..."

Aku terpaku melihat keajaiban itu. Benar-benar seperti adegan dalam komik fantasi tingkat tinggi yang sering kubaca di warnet dulu. Energi sihir yang ia pancarkan menyilaukan mata, membuat aura di sekelilingku terasa hangat namun sangat kuat.

"Mengenai siapa orangnya? Itu terserah kamu untuk menemukannya sendiri," lanjutnya dengan senyum misterius sebelum cahaya itu melesat masuk ke dalam benteng, menghilang di balik dinding-dinding kayu reot.

"Terbangkit secara acak?" gumamku sambil berkacak pinggang. Dalam hati aku berdoa, Tolong ya Tuhan, atau siapa pun yang ada di langit, jatuhkan hadiah itu pada Bondut Jolma supaya dia jadi super-manusia, atau minimal pada Butet supaya dia jadi prajurit wanita yang kuat!

"Boss Besar, Boss Besar...!"

Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar memanggil namaku. Aku menoleh dan melihat Bonaga Simamora berlari ke arahku.

Namun, ada yang aneh. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dari biasanya. Penampilannya yang tadinya terlihat seperti orang idiot yang panik mengumpulkan bawang, kini berubah drastis. Ada kilatan kecerdasan di matanya yang sebelumnya selalu terlihat 'korsleting' seperti prosesor komputer tua yang kepanasan.

"Eh...?" Aku terpaku. Detak jantungku seolah berhenti sejenak saat menyadari kenyataan pahit ini. "Jangan bilang kalau yang membangkitkan atribut tersembunyi itu adalah... si tua Bonaga ini?"

Seketika, ekspresi wajahku berubah menjadi gelap dan murung. Aku benar-benar merasa tertipu oleh takdir! Kenapa dari sekian banyak orang, justru si ahli strategi gadungan ini yang mendapatkan keberuntungan sebesar itu dari hadiah misiku?

Aku menatap Bonaga dengan pandangan skeptis. Ia berdiri di depanku dengan postur yang lebih tegak, seolah-olah otaknya baru saja di-upgrade dari Pentium 1 ke Core i9 dalam sekejap.

"Semoga saja bakat tersembunyinya kali ini benar-benar bisa bermanfaat untuk nusa dan bangsa, bukan cuma buat bikin strategi kabur yang lebih efisien," batinku pasrah.

Rasa penasaranku begitu besar sehingga aku ingin langsung menampilkan hasil dari perubahan yang dimiliki oleh si Pak Tua Bonaga ini.

----------------------------------------

Di bawah lereng bukit yang gelap, suasana perkemahan para pengawal yang kalah itu terasa sangat mencekam. Api unggun kecil menari-nari, memantulkan bayangan wajah-wajah yang babak belur dan penuh ketakutan.

Pengurus Togar, sang komandan yang giginya baru saja rontok dihantam batu oleh Bondut Jolma, menatap satu per satu bawahannya dengan tatapan tajam yang sisa-sisa kegarangannya sudah memudar.

"Aku mau tanya, kamu ingin mati atau hidup?!" tanyanya dengan suara sengau karena mulutnya yang bengkak.

"Pengurus Togar...! Tentu saja kami ingin hidup..." sahut para parangan serempak. Mereka tahu, kembali ke Kota Sibalga dengan tangan hampa setelah gagal mengawal calon menantu Tuan Kota adalah tiket gratis menuju tiang gantungan.

"Aku juga ingin hidup! Sekarang aku tanya, berapa banyak bandit yang merampok kita hari ini?" lanjut Togar dengan ekspresi serius yang sebenarnya terlihat sangat bodoh karena wajahnya yang hancur.

Pertanyaan itu membuat suasana hening. Mereka semua melihat dengan mata kepala sendiri hanya ada satu pemuda gila yang membawa kapak dan satu raksasa yang muncul kemudian. Namun, salah satu parangan yang masih polos menjawab jujur tanpa malu, "Satu..."

PLAK!

Kepala parangan senior segera angkat bicara, menyadari arah "kebijaksanaan" komandannya. "Lapor Pengurus Sopo Togar! Orang yang merampok kita tadi... mereka ada sekitar seratus orang bandit bersenjata lengkap beserta pemimpinnya yang kejam!"

Togar mendengus, meludahi api unggun. "Huh...! Seratus orang? Apakah kamu buta?! Jelas-jelas tadi ada lebih dari 300 orang bandit!" serunya, mencoba mencuci otak bawahannya agar mereka punya skenario yang sama saat menghadap Tuan Kota nanti.

"Kita sudah berjuang mati-matian!" lanjut Togar, mulai merancang drama. "Kita menghabisi lebih dari selusin bandit, tapi sayangnya jumlah mereka terlalu banyak. Dan si Bonaga Simamora itu... dia memimpin serangan dengan licik! Keberadaannya sekarang tidak diketahui setelah dia melarikan Nona Sinaga!"

Togar menatap lengannya yang sehat walafiat, lalu memberikan perintah konyol, "Dengar..! Kemasi barang kalian! Dan kau, balut lenganku ini dengan perban yang tebal! Kita harus terlihat seolah-olah baru saja keluar dari kawah candradimuka!"

Meskipun lengannya tidak terluka sedikit pun, anak buahnya segera membalutnya dengan kain putih hingga tampak seperti cedera berat.

"Ikuti aku! Panggil semua prajurit yang tersisa! Kita kembali ke kota dan laporkan bahwa kita butuh pasukan besar untuk meratakan Desa Parombunan dan menangkap si bajingan Bonaga Simamora!"

.......

Di bawah cahaya bulan yang remang, Ribak Sinambela berdiri mematung. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun tak sedingin rasa malu yang merambat di dadanya. Ia menatap ke arah cakrawala, ke arah benteng Parombunan yang kini hilang ditelan kegelapan malam.

"Sia-sia..." gumamnya dengan suara parau. "Aku menganggap diriku sebagai seorang kesatria. Kepala Pengurus Togar begitu mempercayaiku... Tapi pada akhirnya, gadis muda dari keluarga Sinaga itu malah diculik oleh bandit tepat di depan mataku."

Ia mengepalkan tangan pada gagang tombak panjangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kenangan saat ia jatuh tersungkur hanya dalam satu serangan masih terngiang jelas di kepalanya. Kesombongan yang tadi siang ia pamerkan kini terasa seperti racun yang membakar harga dirinya.

Ia memperhatikan Togar yang sibuk memerintahkan anak buahnya untuk berbohong dan membalut luka palsu. Ribak melihat betapa putus asanya sang komandan untuk sekadar bertahan hidup dari kemarahan Tuan Kota.

"Jangan khawatir, Kepala Sopo Togar," bisik Ribak pada dirinya sendiri, matanya berkilat penuh tekad baru. "Aku pasti akan menyelamatkan gadis keluarga Sinaga untukmu. Kau pantas menjadi pria yang dapat diandalkan, dan aku... aku harus menebus rasa malu ini."

Tanpa sepengetahuan Togar dan rombongan yang sibuk mengemasi barang untuk kembali ke kota, Ribak diam-diam memeriksa senjatanya. Ia tidak akan ikut kembali ke Sibalga untuk membuat laporan palsu. Ia berencana menyelinap kembali ke Desa Parombunan sendirian. Baginya, ini bukan lagi sekadar tugas pengawalan, ini adalah misi penebusan dosa kesatria.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   124. Bayang-Bayang Kavaleri Tamiang

    Di lereng pegunungan yang menghubungkan Kota Sibalga menuju Pegunungan Parombunan, rombongan itu bergerak membelah sunyi. Raja Doli berkuda dengan suhu tubuh yang masih terasa panas membara—sisa energi dari pertarungan hebat tadi—sementara para bawahannya mengikuti dari belakang, mencoba menikmati semilir angin pegunungan yang bertiup sepoi-sepoi namun membawa rasa dingin yang nyaris tak tertahankan.Di sepanjang jalan, Raja Doli menatap lurus ke depan, sesekali mendongak ke langit yang luas, merenungi rangkaian kejadian gila yang baru saja ia lalui. Rasa penasaran akhirnya memuncak, ia menoleh ke arah pemuda gagah yang berkuda di sampingnya."Zilong, orang yang kau cari... apa itu Liu Bei Tiga Bersaudara?" tanya Raja Doli memecah keheningan."Tentu saja!" jawab Zilong singkat, namun penuh keyakinan."Bagaimana kalian bisa bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya?" Raja Doli bertanya lagi.Meskipun ia tahu sejarah besar Daratan Cina tentang persaudaraan Liu-Guan-Zhang dan kesetiaa

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   123. Keadilan di Atas Jembatan Sibalga

    Ketegangan di atas jembatan itu mencapai puncaknya. Jadin, yang sudah sekarat dan bersimbah darah, masih saja mencoba mempertahankan egonya yang hancur."Dan sebagainya... Apa kau percaya pada keadilan?" Raja Doli mengulangi pertanyaannya. Kali ini, suaranya tidak lagi gemetar; aura yang menggebu-gebu keluar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar jembatan hingga terasa menyesakkan."Uhuk...!" Po Jadin terbatuk darah, namun ia masih memaksakan diri untuk bertumpu pada lututnya yang gemetar. Ia mencoba bangkit dari keterpurukan untuk yang kesekian kalinya, sebuah sisa-sisa harga diri dari seorang penguasa bar-bar.Raja Doli menatapnya dengan pandangan menghina. "Gelar Serigala di pundakmu memang tidak sia-sia, Jadin. Tapi hari ini, aku akan memberimu kehormatan baru: seekor harimau yang ditebas mati. Kau seharusnya bangga, gelarmu naik tingkat tepat di saat ajal menjemputmu. Lihatlah dunia untuk terakhir kalinya..."

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   122. Penghakiman Terakhir: Sang Bandit Menjadi Hakim

    Suasana di atas jembatan yang hancur itu mencekam. Angin berembus kencang, membawa aroma besi dan darah yang beradu di udara. Di tengah jembatan tanpa pagar yang tersisa, Raja Doli dan Meurah Po Jadin—sang Kesatria Serigala—saling mengunci pandangan."Berjuanglah, kawan...!" seru Zilong dari kejauhan, suaranya teredam oleh dentuman langkah kuda yang menjauh, meninggalkan dua petarung itu dalam duel penentuan nasib dan kehormatan.Raja Doli memantapkan kakinya. Keraguan di matanya kini perlahan memudar, berganti dengan api tekad yang menyala. Ia sadar, pedang miliknya adalah satu-satunya jalan untuk menebus harga diri yang sempat terinjak.Hah.... Raja Doli membuang napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Di sisi lain, Po Jadin terlihat menahan perih yang luar biasa. Lengannya yang terluka parah terus mengucurkan darah segar yang membasahi lantai jembatan, namun cengkeramannya pada gagang Storm A

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   121. Badai di Sibalga: Kebangkitan Sang Bandit

    Di tempat lain, Bangsa Tamiang sudah mengejar para pasukan dan para sukarelawan dari Kota Sibalga, dan melarikan diri ke segala arah.Mayat berserakan di atas tanah seperti bangkai hewan yang tak berarti, terkena panah di kepala dan dada tepat mengenai jantung, tangan dan kaki yang terpisah, serta daging - daging kuda yang baru saja ditebas dan disembelih."Apa Meurah kesulitan melawan para bandit itu?" gumam Buaeh kepada Benghingas dan mereka menatap dari kejauhan."Beghingas, bagilah beberapa pasukan kita, selebihnya, ikuti aku untuk membantu Meurah Jadin!" lanjutnya menyeru."Siap....!"Di kejauhan sana Meurah Po Jadin saat ini, sedang dihadapkan pada lawan yang sedang memberikan pertempuran sengit padanya.Meskipun statusnya "Prajurit Pemula", gerakan Zilong tidak bisa dibilang amatir. Saat ia bergerak, tombaknya mengeluarkan suara desingan yang menyerupai ribuan b

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   120. KEMUNCULAN PRIA MISTERIUS

    Momen yang sungguh di luar nalar terjadi di tengah padang maut itu. Raja Doli, dengan posisi berlutut dan napas yang hampir habis, menatap lekat-lekat pada kuda perang kurus yang ditunggangi Jadin. Kuda itu bukan sekadar hewan bagi Doli; itu adalah kawan lama yang telah menemaninya melintasi berbagai rintangan selama berbulan-bulan sebelum dirampas paksa."Kuda kurus oh kuda kurus, aku tahu aku memperlakukanmu dengan buruk, tapi kita telah bersama selama berbulan-bulan..." gumam Doli dalam hati. Pandangannya yang sendu namun penuh harap terpaku pada mata si kuda, mengirimkan pesan batin yang tak sanggup diucapkan bibir. "Jika kau masih punya perasaan, ayo bergeraklah dan selamatkan hidupku...!"Seolah ada ikatan gaib yang tersambung kembali, mata kuda itu berdelik tajam. Memori tentang elusan tangan Doli dan perjalanan panjang mereka mendadak membuncah di dalam insting hewan tersebut."Iiihiiiiik......!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   119. Sibalga Membara: Detik-Detik Penghakiman

    Jadin tertegun sejenak. Ia memandangi Raja Doli dengan tatapan bingung dan sedikit geli, seolah berhadapan dengan orang gila. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanyanya, suaranya sarat akan kebingungan yang bercampur curiga.Raja Doli memaksakan sebuah senyum lebar, meski keringat sebesar jagung terus mengalir membasahi pelipis dan keningnya. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak. "Aku? Hahaha, aku hanya ingin meramaikan suasana! Lihat wajahmu tadi, kau benar-benar gugup, bukan?" ia tertawa terpaksa, suaranya terdengar sumbang. "Apa kau benar-benar percaya semua ocehanku tadi? Jangan terlalu serius, kawan!""Aku mempercayaimu, gundulmu!" bentak Jadin. Topeng ketenangannya pecah seketika. Wajahnya berubah gelap, otot di keningnya menonjol, dan giginya beradu hingga terdengar bunyi kertakan yang mengerikan. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh lelucon yang tak lucu.Melihat kemurkaan Jadin yang tak terbendung, insting bertahan hidup Raja Doli berteriak. "Saudaraku, kabur!"

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   81. KENAIKAN LEVEL

    Di tengah tidur lelapku, suasana kamar yang harum mawar seketika lenyap, berganti dengan cahaya putih menyilaukan. Suara lembut namun menggoda menggema di telingaku."Anak muda..." "Pahlawan pemberani berbudi luhur..."Aku membuka mata dan mendapati diriku kembali berada di Ruang Celestial. Tempat i

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   77. PERGESERAN PARADIGMA

    "Kau ingin menjadi Saddam Hussein, dan aku bukan George Bush!" gumamku pelan sembari menatap iring-iringan keluarga Manullang yang menjauh. Ironis memang; mereka memilih setia pada Kekaisaran yang telah mencap mereka pengkhianat dan menjual mereka sebagai budak."Kelompok ini benar-benar serigala!

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   71. KUNJUNGAN RUMAH MERTUA

    Suasana di aula utama benar-benar sudah seperti telur di ujung tanduk. Ketakutan dan imajinasi liar para tamu berbaur menjadi satu kekacauan mental yang luar biasa."Kudengar Raja Parombunan ada di sini...?" "Eh? Tidak mungkin!" sahut yang lain, meski gigi dan

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   72. JANJI PENYELAMATAN

    Aku merogoh kantong penyimpanan, mengeluarkan sebuah bingkisan cantik berpita yang sudah kupersiapkan. "Ini, ada sedikit hadiah dariku. Apa kamu menyukainya?" tanyaku sambil menyodorkan benda itu pada Uli Sinaga.Uli tidak langsung membukanya. Ia malah mendekatkan hidungnya, mengendus udara di seki

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status