Masuk"Aku merasa lega Boss tidak mati," ucap Bonaga dengan suara lirih, bahunya merosot seolah menanggung beban dunia. "Aku terus menyalahkan diriku karena tidak berguna. Aku hanya beban bagimu, Boss... maka dari itu, sebelum kau mengusirku, biarkan aku pergi dengan martabatku sendiri."
Ia mengusap sudut matanya, berakting seolah-olah dia adalah martir yang berkorban demi kebaikanku.
"Oh! Ya sudah, silakan pergi!" sahutku santai sambil mengibaskan tangan.
Bonaga tertegun, tidak menyangka aku akan melepaskannya semudah itu. Tapi aku belum selesai.
"Oh ya, sekadar informasi," lanjutku dengan nada jengkel yang sengaja dibuat-buat. "Tadi saat merampok, aku memberitahu mereka kalau namaku adalah Bonaga Simamora sang Ahli Strategi. Jadi, kemungkinan besar seluruh pasukan Kota Sibalga akan mencari orang dengan nama itu mulai sekarang. Hati-hati di jalan ya, Bon!"
DEG!
Wajah Bonaga seketika memucat, lebih putih dari nasi di dalam potnya. Tubuhnya gemetar hebat, seolah-olah petir baru saja menyambar tepat di atas kepalanya.
"Ka-kamu...?" Bonaga kehilangan kata-kata.
Seketika, reaksinya berubah 360 derajat. Ia menjatuhkan buntalan bawangnya dan memegang tanganku erat-erat. "Tunggu! Boss! Setelah kupikir-pikir, meskipun aku sudah tua, otakku ini masih sangat encer untuk memikirkan strategi benteng desa kita! Aku tidak boleh pergi! Aku harus mengabdikan sisa hidupku di sini!" ujarnya dengan suara bergetar ketakutan, bersikukuh ingin menetap.
Butet, putrinya yang sedari tadi terdiam, memutar bola matanya. Ia terlihat sangat jengkel dan ilfil melihat kelakuan ayahnya yang berubah-ubah seperti angin puyuh.
"Tenang saja, Pemimpin Desa!" Bonaga berseru dengan wajah sok serius, seolah-olah dia adalah ksatria paling setia di dunia. "Jika kamu dalam masalah, aku akan ada di barisan terdepan untuk membantumu!"
Aku mencibir dalam hati. Tua bangka licik ini, dia hanya takut kepalanya dipenggal pengawal Sibalga kalau dia berkeliaran sendirian di luar sana. Namun, aku tidak mau membuang energi. Tubuhku rasanya mau rontok. Mengayunkan kapak raksasa dan memacu kereta kuda di hari pertama transmigrasi ke dunia ini benar-benar menguras stamina.
"Ya sudah, berhenti bicara," perintahku lemas. "Kemari dan tarik kudanya untukku. Bawa kereta ini masuk ke dalam!"
Bonaga langsung sigap. Tanpa banyak tanya lagi, ia menarik tali kekang kuda dengan semangat yang luar biasa, sementara aku bersandar di kereta, mencoba mengatur napas. Sejujurnya, aku benci perampokan, tapi di dunia yang gila ini, sepertinya menjadi orang baik hanya akan membuatku berakhir seperti istri Bondut Jolma.
"Oh ya, ini Bondut Jolma. Pergi dan perkenalkan dirimu!" seruku, memperkenalkan sang raksasa kepada dua orang desa yang masih gemetaran itu.
Bondut tidak banyak bicara. Ia hanya memberikan sapaan hormat yang singkat namun tegas, membuat Bonaga makin ciut nyalinya.
Aku berdiri dengan tegap. Meskipun tubuhku remuk, wibawa sebagai Boss tidak boleh luntur. Aku mulai membagi tugas dengan nada otoriter. "Butet Simamora, tugasmu tetap sama: urus dan beri makan semua kuda. Saudara Bondut, tugas sementaramu adalah memasak—tenaga besarmu pasti cocok untuk mengaduk kuali besar. Dan kau, Pak Tua Bonaga..."
Aku menjeda kalimatku, menunjuk ke arah kereta mewah itu. "...bawa dan kunci orang yang ada di kereta ini ke kamarku!"
Aku memberikan senyum ringan. Tepat saat itu, angin malam berembus sepoi-sepoi, meniup rambutku hingga melambai dramatis bagaikan bendera kemenangan. "Malam ini, aku akan tidur dengan istri baruku," ucapku dengan nada yang membuat Bonaga melongo dan Butet tersipu jengkel.
Begitu mereka mulai bergerak menjalankan perintah, aku baru teringat sesuatu. Misi tersembunyi! Hadiahnya belum kuambil!
"Layar, muncullah!" celetukku sambil menjentikkan jari, mencoba bergaya keren layaknya protagonis komik isekai.
GEPLAK!
"Aduh!" Sebuah palu tak terlihat menghantam kepalaku dengan sangat keras.
"Jangan terlalu kasar!" seru sebuah suara yang sangat kukenal. "Bukankah aku sudah memberitahumu untuk memanggilku Kakak Dewi?!"
Sang Dewi Celestial muncul dengan ekspresi kesal, namun ia tetap terlihat mempesona. Wajahnya... setiap kali aku melihatnya, jantungku berdegup kencang. Dia sangat mirip dengan istriku di dunia modern, hanya saja kali ini versinya jauh lebih mewah, megah, dan elegan. Kecantikannya seolah hasil mahakarya yang tak terlukiskan, membuatku secara otomatis menjadi tunduk dan nyaman meski baru saja dipukul olehnya.
"Maaf, Kakak Dewi yang cantik..." gumamku sambil mengusap kepala.
"Lumayan, kamu bisa menyelesaikan tahap pertama dalam misi merampok!" ujar Kakak Dewi dengan nada yang sedikit lebih bersahabat, meski ia masih tampak angkuh.
"Lalu apa hadiah yang aku terima...?" tanyaku penuh harap.
"Hadiah..?" Siluet bibirnya seketika berubah manyun berbentuk segitiga yang terlihat sangat kesal. "Hm, ini dia!"
Sebuah bola bercahaya emas bercampur putih muncul dan berdansa di atas telapak tangannya. Cahayanya begitu murni, menerangi seluruh sudut gerbang benteng yang mulai gelap. "Ini dapat membangkitkan atribut tersembunyi secara acak dari salah satu orang yang ada di pondok..."
Aku terpaku melihat keajaiban itu. Benar-benar seperti adegan dalam komik fantasi tingkat tinggi yang sering kubaca di warnet dulu. Energi sihir yang ia pancarkan menyilaukan mata, membuat aura di sekelilingku terasa hangat namun sangat kuat.
"Mengenai siapa orangnya? Itu terserah kamu untuk menemukannya sendiri," lanjutnya dengan senyum misterius sebelum cahaya itu melesat masuk ke dalam benteng, menghilang di balik dinding-dinding kayu reot.
"Terbangkit secara acak?" gumamku sambil berkacak pinggang. Dalam hati aku berdoa, Tolong ya Tuhan, atau siapa pun yang ada di langit, jatuhkan hadiah itu pada Bondut Jolma supaya dia jadi super-manusia, atau minimal pada Butet supaya dia jadi prajurit wanita yang kuat!
"Boss Besar, Boss Besar...!"
Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar memanggil namaku. Aku menoleh dan melihat Bonaga Simamora berlari ke arahku.
Namun, ada yang aneh. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dari biasanya. Penampilannya yang tadinya terlihat seperti orang idiot yang panik mengumpulkan bawang, kini berubah drastis. Ada kilatan kecerdasan di matanya yang sebelumnya selalu terlihat 'korsleting' seperti prosesor komputer tua yang kepanasan.
"Eh...?" Aku terpaku. Detak jantungku seolah berhenti sejenak saat menyadari kenyataan pahit ini. "Jangan bilang kalau yang membangkitkan atribut tersembunyi itu adalah... si tua Bonaga ini?"
Seketika, ekspresi wajahku berubah menjadi gelap dan murung. Aku benar-benar merasa tertipu oleh takdir! Kenapa dari sekian banyak orang, justru si ahli strategi gadungan ini yang mendapatkan keberuntungan sebesar itu dari hadiah misiku?
Aku menatap Bonaga dengan pandangan skeptis. Ia berdiri di depanku dengan postur yang lebih tegak, seolah-olah otaknya baru saja di-upgrade dari Pentium 1 ke Core i9 dalam sekejap.
"Semoga saja bakat tersembunyinya kali ini benar-benar bisa bermanfaat untuk nusa dan bangsa, bukan cuma buat bikin strategi kabur yang lebih efisien," batinku pasrah.
Rasa penasaranku begitu besar sehingga aku ingin langsung menampilkan hasil dari perubahan yang dimiliki oleh si Pak Tua Bonaga ini.
----------------------------------------
Di bawah lereng bukit yang gelap, suasana perkemahan para pengawal yang kalah itu terasa sangat mencekam. Api unggun kecil menari-nari, memantulkan bayangan wajah-wajah yang babak belur dan penuh ketakutan.
Pengurus Togar, sang komandan yang giginya baru saja rontok dihantam batu oleh Bondut Jolma, menatap satu per satu bawahannya dengan tatapan tajam yang sisa-sisa kegarangannya sudah memudar.
"Aku mau tanya, kamu ingin mati atau hidup?!" tanyanya dengan suara sengau karena mulutnya yang bengkak.
"Pengurus Togar...! Tentu saja kami ingin hidup..." sahut para parangan serempak. Mereka tahu, kembali ke Kota Sibalga dengan tangan hampa setelah gagal mengawal calon menantu Tuan Kota adalah tiket gratis menuju tiang gantungan.
"Aku juga ingin hidup! Sekarang aku tanya, berapa banyak bandit yang merampok kita hari ini?" lanjut Togar dengan ekspresi serius yang sebenarnya terlihat sangat bodoh karena wajahnya yang hancur.
Pertanyaan itu membuat suasana hening. Mereka semua melihat dengan mata kepala sendiri hanya ada satu pemuda gila yang membawa kapak dan satu raksasa yang muncul kemudian. Namun, salah satu parangan yang masih polos menjawab jujur tanpa malu, "Satu..."
PLAK!
Kepala parangan senior segera angkat bicara, menyadari arah "kebijaksanaan" komandannya. "Lapor Pengurus Sopo Togar! Orang yang merampok kita tadi... mereka ada sekitar seratus orang bandit bersenjata lengkap beserta pemimpinnya yang kejam!"
Togar mendengus, meludahi api unggun. "Huh...! Seratus orang? Apakah kamu buta?! Jelas-jelas tadi ada lebih dari 300 orang bandit!" serunya, mencoba mencuci otak bawahannya agar mereka punya skenario yang sama saat menghadap Tuan Kota nanti.
"Kita sudah berjuang mati-matian!" lanjut Togar, mulai merancang drama. "Kita menghabisi lebih dari selusin bandit, tapi sayangnya jumlah mereka terlalu banyak. Dan si Bonaga Simamora itu... dia memimpin serangan dengan licik! Keberadaannya sekarang tidak diketahui setelah dia melarikan Nona Sinaga!"
Togar menatap lengannya yang sehat walafiat, lalu memberikan perintah konyol, "Dengar..! Kemasi barang kalian! Dan kau, balut lenganku ini dengan perban yang tebal! Kita harus terlihat seolah-olah baru saja keluar dari kawah candradimuka!"
Meskipun lengannya tidak terluka sedikit pun, anak buahnya segera membalutnya dengan kain putih hingga tampak seperti cedera berat.
"Ikuti aku! Panggil semua prajurit yang tersisa! Kita kembali ke kota dan laporkan bahwa kita butuh pasukan besar untuk meratakan Desa Parombunan dan menangkap si bajingan Bonaga Simamora!"
.......
Di bawah cahaya bulan yang remang, Ribak Sinambela berdiri mematung. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun tak sedingin rasa malu yang merambat di dadanya. Ia menatap ke arah cakrawala, ke arah benteng Parombunan yang kini hilang ditelan kegelapan malam.
"Sia-sia..." gumamnya dengan suara parau. "Aku menganggap diriku sebagai seorang kesatria. Kepala Pengurus Togar begitu mempercayaiku... Tapi pada akhirnya, gadis muda dari keluarga Sinaga itu malah diculik oleh bandit tepat di depan mataku."
Ia mengepalkan tangan pada gagang tombak panjangnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kenangan saat ia jatuh tersungkur hanya dalam satu serangan masih terngiang jelas di kepalanya. Kesombongan yang tadi siang ia pamerkan kini terasa seperti racun yang membakar harga dirinya.
Ia memperhatikan Togar yang sibuk memerintahkan anak buahnya untuk berbohong dan membalut luka palsu. Ribak melihat betapa putus asanya sang komandan untuk sekadar bertahan hidup dari kemarahan Tuan Kota.
"Jangan khawatir, Kepala Sopo Togar," bisik Ribak pada dirinya sendiri, matanya berkilat penuh tekad baru. "Aku pasti akan menyelamatkan gadis keluarga Sinaga untukmu. Kau pantas menjadi pria yang dapat diandalkan, dan aku... aku harus menebus rasa malu ini."
Tanpa sepengetahuan Togar dan rombongan yang sibuk mengemasi barang untuk kembali ke kota, Ribak diam-diam memeriksa senjatanya. Ia tidak akan ikut kembali ke Sibalga untuk membuat laporan palsu. Ia berencana menyelinap kembali ke Desa Parombunan sendirian. Baginya, ini bukan lagi sekadar tugas pengawalan, ini adalah misi penebusan dosa kesatria.
Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai
Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b
"SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be
Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka
Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s
Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"







