Home / Fantasi / BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR / 7. PULANG MEMBAWA HASIL JARAHAN

Share

7. PULANG MEMBAWA HASIL JARAHAN

Author: Lampard46
last update Huling Na-update: 2025-12-22 12:30:06

Kereta kudaku melesat masuk ke wilayah desa dengan kecepatan gila, meninggalkan debu yang membumbung tinggi. Di belakang, aku sempat melirik melalui celah kecil. Pemandangannya benar-benar brutal.

"Menghindarlah! Aku tidak bisa menghentikan kudanya...!" teriak Ribak (Parangan Bela) dengan panik. Ia memacu kudanya dalam kecepatan penuh, meluncur bak anak panah yang tak punya rem, tepat ke arah Bondut Jolma yang berdiri menghadang di tengah jalan sempit.

Namun, pengawal baruku itu tidak bergeming. Wajahnya kecut, matanya gelap penuh intimidasi. "Turun...!" desisnya dingin. "Kubilang turun dari kudanya...!"

BRAAAK!

Tanpa rasa takut, Bondut Jolma mengayunkan toya emas raksasanya secara vertikal. Hantaman itu telak mengenai rahang kuda yang sedang melompat di atas kepalanya. Suaranya terdengar mengerikan—seperti dahan pohon besar yang patah.

Kuda malang itu meringkik pilu, mulutnya hancur dan menyemburkan segumpal darah segar ke udara. Tubuh hewan besar itu seketika kehilangan momentum, terpelanting di udara sebelum akhirnya...

GEDEBAK! GEDEBUK! JLEEB!

Parangan Bela dan kudanya jatuh tersungkur dengan suara debum yang memilukan. Tombak tajam milik Bela yang tadinya tertancap di tanah untuk menahan beban justru tak berdaya; tubuh mereka terhempas melewati senjata itu sendiri. Ribak terkapar tak bergerak, harga dirinya hancur berantakan bersama debu pegunungan.

"Gila... pengawal lotre ini benar-benar monster," gumamku sambil menelan ludah. "Toya emas? Dia bahkan punya senjata sekeren itu?"

Rombongan pengawal yang tersisa terpaku di tempat. Bahkan sang Pemimpin Parangan, yang tadinya begitu sangar, kini hanya bisa berdiri kaku dengan mata melotot.

Gulp...

Suara mereka menelan ludah terdengar serentak di tengah keheningan lembah. Di pikiran mereka hanya ada satu hal: Monster macam apa yang baru saja memukul jatuh seekor kuda tempur dengan tangan kosong?

Namun, sang Pemimpin segera tersadar dari keterpakuannya. Sebagai pengawal tingkat tinggi, ia punya harga diri yang harus dijaga. Ia mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya dan berteriak dari kejauhan, mencoba menekan dengan otoritas politik.

"Kami adalah pengawal dari Penguasa Kota Sibalga!" teriaknya dengan suara bergetar namun dipaksakan tegas. "Jika kamu tidak ingin mati, menyerahlah dan serahkan kembali Nona Sinaga kepada kami! Jika tidak, kami akan mengumpulkan seluruh tentara dan menghancurkan tempat ini hingga rata dengan tanah!"

Mendengar ancaman itu, Bondut Jolma sama sekali tidak terkesan. Wajahnya tetap gelap, datar, seolah-olah gertakan tentara kota itu hanyalah suara nyamuk di telinganya.

Splash!

Dengan santai, Bondut menghentakkan kakinya ke tanah, membuat sebuah batu seukuran kepalan tangan melanting ke udara. Sebelum batu itu jatuh kembali, ia mengayunkan toya emasnya dengan presisi yang mengerikan.

Braak!

Batu itu melesat seperti peluru, membelah udara dengan suara siulan tajam.

"Ugh—!"

KRAK!

Batu itu menghantam telak tepat di mulut sang Pemimpin Parangan yang sedang berteriak. Darah segar menyembur, disertai butiran-butiran putih yang tak lain adalah gigi bagian depannya yang hancur berkeping-keping.

Tubuh pemimpin itu terjungkal ke belakang dari atas kudanya, tangannya memegangi wajah yang kini bersimbah darah. Ia bahkan tidak bisa mengerang lagi, hanya suara desis kesakitan yang keluar dari sela-sela mulutnya yang rompong.

"Berisik," gumam Bondut Jolma dengan suara berat, sembari memanggul kembali toya emasnya di bahu yang kekar.

Sementara itu, aku yang sudah berada sedikit jauh dari pengawal baruku hanya bisa melongo dari kejauhan. "Waduh... itu tadi home run yang luar biasa," bisikku pada diriku sendiri.

"Pergilah...!" seru Bondut Jolma dengan suara rendah yang menggetarkan udara. Tatapan matanya yang kelam seolah berkata: Satu langkah maju lagi, dan kalian hanya akan pulang sebagai mayat.

Para pengawal yang tersisa, melihat pemimpin mereka yang sudah rompong dan pingsan, tak punya pilihan lain. Nyali mereka sudah hancur lebur.

"Mundur! Laporkan semuanya ke pimpinan!" teriak salah satu pengawal dengan suara gemetar. Mereka menarik tali kekang kuda kuat-kuat, berbalik arah, dan memacu tunggangan mereka secepat mungkin meninggalkan lembah itu dengan perasaan putus asa yang mendalam.

Bondut Jolma memutar tubuhnya yang kekar, lalu berjalan perlahan mendekatiku yang masih berdiri di depan kereta. Bayangannya yang besar menutupi tubuhku.

"Boss..." panggilnya dengan suara berat namun penuh rasa hormat. Ia berlutut satu kaki di hadapanku. "Aku datang untuk bekerja di bawah perintahmu!"

Seketika, jendela status transparan muncul di depan mataku saat aku menatap wajahnya:

Data Anggota Baru:

Nama: BONDUT JOLMA

Gelar: PEMBURU BESAR YANG TIDAK DIKENAL

Skill: Tombak Emas Sakti

Cita-cita: Tidak ada

Status: Pelarian / Buronan Kota Sibalga

Membaca biografi singkat yang menyertainya, hatiku mencelos. Ternyata di balik penampilannya yang garang, Bondut menyimpan luka yang sangat dalam. Dia adalah suami yang kehilangan istrinya karena nafsu bejat Pemimpin Kota Sibalga. Istrinya lebih memilih mati melompat ke jurang demi menjaga kesetiaannya.

Amarah Bondut yang meledak membuatnya membantai lusinan penjaga Sibalga sendirian—menjadikannya buronan nomor satu yang kini memilih berlindung di desa terpencil ini. Pantas saja dia tadi tidak ragu menghancurkan mulut pengawal dari Sibalga; dendamnya sudah mendarah daging.

Aku menatapnya dengan pandangan yang kini jauh lebih serius. "Jadi begitu... kau memilih tempat ini karena kau pikir hanya ada si tua Bonaga dan aku si 'Pemimpin Muda' yang tak berguna di sini?"

Bagiku sendiri ini hanyalah sebuah latar belakang karakter, tapi ini semua dialami oleh Bondut Jolma, Hidup di dalam era perang di dunia ini... Memang sungguh sangat sulit. 

Aku mengulurkan tangan, menepuk bahunya yang keras seperti baja. "Bondut, lupakan masa lalumu sebagai buronan. Di Desa Parombunan, kau bukan penjahat. Kau adalah bagian dari keluarga baruku. Kita akan buat siapa pun yang meremehkan desa ini membayar mahal—termasuk pemimpin Sibalga itu!"

Bondut mendongak, ada kilatan cahaya tipis di matanya yang gelap. Ia mengangguk mantap.

Iring-iringan kami mulai bergerak membelah keremangan senja yang kian pekat. Menariknya, kuda kurus yang tadi kutinggalkan di tengah pertempuran ternyata menyusul kembali dengan sendirinya, seolah-olah ia pun enggan melewatkan kemenangan gila ini.

"Saudara Bondut... Naiki kudanya!" seruku memberikan perintah dengan nada penuh wibawa. Aku ingin menunjukkan bahwa sebagai pemimpin, aku memperhatikan kenyamanan bawahan baruku—meskipun sebenarnya aku sedikit ngeri melihat pria seberat itu menaiki kuda sekurus itu.

"Kita akan kembali," lanjutku mantap.

Matahari yang menguning pucat kini hampir sepenuhnya tertelan oleh garis cakrawala. Kami pulang tidak dengan tangan kosong. Kami membawa hasil jarahan yang bisa mengubah nasib desa ini: sebuah kereta kuda mewah yang berisi Nona Boru Sinaga beserta tumpukan peti harta bawaannya. Aku belum tahu pasti apa isinya, tapi di kepalaku sudah terbayang tumpukan emas atau persediaan makanan yang bisa membuat Desa Parombunan berjaya kembali.

Namun, tantangan terakhir sudah menanti di depan mata.

Jalan menuju gerbang benteng Desa Parombunan bukanlah jalanan aspal yang mulus, melainkan jalur terjal yang berbatu-batu dan bertangga-tangga. Setiap anak tangga batu yang kami lalui membuat kereta kuda itu berguncang hebat. Suara derit kayu dan ringkikan kuda yang kelelahan bergema di keheningan lembah yang mulai gelap.

Bondut Jolma, yang kini berada di atas kuda, menatap ke arah benteng di puncak bukit dengan pandangan waspada.

Pemandangan di dalam benteng benar-benar kontras dengan kemenangan yang baru saja aku raih. Saat aku, Bondut, dan kereta mewah itu sampai di depan gerbang, suasana di dalam justru tampak seperti kepanikan massal skala kecil.

Bonaga Simamora terlihat sibuk luar biasa. Tangannya dengan lincah menyusun rentengan bawang putih, bawang merah, dan segala macam bumbu dapur ke dalam buntalan kain. Ia bahkan mencoba mengikat panci dan peralatan makan ke pinggangnya.

"Butet...! Bawa pot itu dan lihat apa ada lagi yang bisa kamu ambil! Kita harus pergi sekarang!" serunya dengan suara parau. Wajahnya pucat pasi, penuh ketegangan. Di pikirannya, para parangan dari Sibalga pasti sudah dalam perjalanan untuk meratakan desa ini setelah membantai "Kepala Desa Bodoh" yang tadi nekat mencegat mereka.

Ia sudah seratus persen yakin kalau aku—pemuda 18 tahun yang ia anggap tak berguna—sudah menjadi santapan burung gagak di lembah sana akibat kecerobohanku sendiri.

"Ayah, aku tidak bisa membawa lebih dari ini..." sahut Butet. Ia berdiri di dekat pintu dengan beban tas yang berat di punggungnya, berusaha membenarkan posisi topi jeraminya yang miring karena terburu-buru.

"Menurutmu aku senang membawa beban ini? Tapi tanpa sembako ini, kita akan mati kelaparan di hutan!" gerutu Bonaga sembari mengangkat pot penyimpanan besar yang masih berisi sisa beras.

Tepat saat ia hendak melangkah keluar rumah untuk melarikan diri, suaraku menggelegar dari depan gerbang yang terbuka.

"Apakah kalian butuh kuda...?" tanyaku dengan nada santai, seolah-olah aku baru saja pulang dari pasar, bukan dari medan tempur.

Deg!

Langkah Bonaga terhenti. Pot di tangannya hampir saja merosot jatuh.

"Kepala Desa?" Butet membelalakkan matanya. Ia menjatuhkan tasnya dan berlari ke arah gerbang, melihat pemandangan yang tak masuk akal: Aku berdiri dengan gagah, di belakangku ada kereta kuda bangsawan yang berkilau terkena cahaya obor, dan seorang pria raksasa (Bondut Jolma) yang tampak seperti dewa perang.

"Kepala Desa....? Boss.... Kau tidak mati?!"

Bonaga mematung di tempat. Wajahnya yang tadi tegang kini berubah menjadi ekspresi kaget yang luar biasa, mulutnya menganga lebar hingga lalat pun bisa masuk. Ia menatapku seolah-olah melihat hantu yang baru saja bangkit dari kubur dengan membawa harta karun.

"Aku pikir kau sudah dicincang menjadi pakan ternak!" teriaknya sambil berlari mendekat, mengabaikan bawang-bawang yang mulai berjatuhan dari ikatannya. "Dan... dan apa ini? Kereta siapa ini?! Kau benar-benar merampok mereka sendirian?!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   96. KEBANGKITAN SANG NAGA DI TANAH TOBA

    Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   95. JENDERAL YANG MENJADI BANDIT

    Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   94. PENAKLUKAN MONSTER GILA

    "SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   93. SERANGAN KEJUTAN

    Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   92. JEBAKAN ANGGUR

    Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   91. PENYAMARAN SEMPURNA

    Suasana di pinggir Sungai Aek Doras begitu tenang, hanya suara gemericik air dan desau angin yang menemani para pemuka Desa Martinju menghabiskan waktu dengan memancing. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar dari kekecewaan yang mendalam di hati sang Kepala Desa."Kupikir kita punya harga diri di sana. Tak disangka, wajah kita ternyata dianggap seperti pantat baginya!" seru Tahan Sagala dengan nada getir.Ia benar-benar kecewa. Ia ingat betul bagaimana dulu, saat Dumang Saruksuk nyaris tewas dengan luka fatal setelah bertarung melawan harimau sendirian, Martinju-lah yang menjadi penyelamatnya. Tahan Sagala sendiri yang merawatnya hingga sembuh total. Namun kini, kebaikan itu seolah sirna tertutup angkuhnya Kota Tarutung."Abang, sekarang bukan lagi masa lalu," sahut Garau, mencoba memprovokasi suasana. "Bos Dumang sudah tidak lagi bergantung pada kita untuk makan. Orang itu sudah tidak melihat kita sebagai saudara lagi!"

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status