Home / Romansa Dewasa / BATARI / Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

Share

Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

last update Last Updated: 2026-03-01 00:07:00

Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.

Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.

Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan.

"Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."

Kebohongan yang menjijikkan. Saat kulit Victor bersentuhan dengan kulitnya, Batari merasakan hawa dingin yang menusuk dari tulang ekornya naik ke tengkuk. Lenka mengambil alih.

Tatapan Batari yang tadinya sedingin es, perlahan berubah. Kelopak matanya menyayu, bibirnya yang merah darah melengkung membentuk senyum tipis yang mematikan. Ia tidak menarik tangannya; sebaliknya, ia membiarkan Victor mencengkeramnya, sementara ia melangkah satu tindak lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan.

"Mencari aku, Victor? Atau mencari sisa-sisa kehancuranku?" bisik Batari. Suaranya bukan lagi suara gadis remaja yang malang, melainkan desiran sutra yang menyembunyikan sembilu.

Aroma mawar yang sangat pekat, jauh lebih tajam dari parfum mana pun di dunia, tiba-tiba meledak dari pori-pori kulit Batari. Victor menghirupnya tanpa sadar, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Ia tidak menyadari bahwa setiap molekul aroma itu adalah racun mikroskopis racikan Lenka yang mulai mengaburkan logika dan merusak saraf pusatnya secara perlahan.

"Kau terlihat sangat... cantik," gumam Victor, matanya mulai kehilangan fokus, terhipnotis oleh binar aneh di netra Batari. "Jauh lebih cantik dari malam itu. Tubuhmu... kau seolah tidak pernah..."

"Tidak pernah apa, Victor? Tidak pernah hancur?" Batari mendekatkan bibirnya ke telinga Victor, membiarkan napas hangatnya membelai kulit pria itu. "Sesuatu yang indah harus dinikmati perlahan. Kau sudah mencicipi rasa takutku, sekarang... tidakkah kau ingin mencicipi rasa lain hasil dari pelatihanmu sendiri?"

Tangan Batari yang bebas bergerak ke dada Victor, jemarinya menari di atas detak jantung pria itu yang berdegup kencang bak genderang perang. Sentuhannya meninggalkan jejak dingin yang membakar. Victor terengah, ia merasa seolah dunia di sekitarnya menghilang, hanya menyisakan dirinya dan dewi merah di hadapannya. Ia tidak tahu bahwa Victor hanyalah "hidangan penutup" dalam rencana besar Batari. Menghancurkannya sekarang terlalu mudah. Batari ingin Victor melihat bagaimana dunianya runtuh, satu demi satu batu bata, sebelum ia benar-benar binasa.

"Sabar, Sayang," desis Batari seraya melepaskan tangan Victor dengan gerakan sensual yang menyakitkan. "Pesta yang sebenarnya belum dimulai."

Di kejauhan, Elio berdiri dengan satu tangan di saku celananya, mengamati interaksi itu dengan kening berkerut. Sebagai seorang diplomat yang terbiasa membaca kebohongan di meja perundingan, ia melihat sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar drama keluarga. Ia melihat kabut hitam yang seolah menyelimuti tubuh Batari, sebuah aura yang berdenyut selaras dengan aroma mawar yang menyesakkan.

Saat Elio hendak melangkah maju untuk memecah ketegangan itu, Theo, sang pengacara tua yang setia, muncul di sampingnya.

"Tuan Elio, sepertinya kita harus mendiskusikan kembali rincian investasi di pelabuhan selatan," ucap Theo dengan nada sopan namun memutus. Ia menempatkan dirinya sebagai dinding penghalang antara Elio dan Batari.

Elio tersenyum tipis, matanya tetap tertuju pada punggung Batari yang menjauh. "Tentu, Theo. Namun, katakan padaku... apakah mawar di Jakarta selalu memiliki duri yang begitu beracun?"

~~

Batari dan Freya kembali ke apartemen mewah mereka—sebuah unit penthouse yang dibeli Theo menggunakan sebagian kecil dari warisan Robert yang terselamatkan. Apartemen itu adalah simbol modernitas; dinding kaca setinggi langit-langit menyajikan gemerlap Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian di atas kain hitam.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram itu, Batari melepaskan sepatu hak tingginya, membiarkan kakinya menyentuh dinginnya lantai marmer. Freya, yang sudah melepas jas hitamnya dan menyingsingkan lengan kemejanya, datang membawa dua kotak ayam goreng dan beberapa kaleng bir dingin.

"Kemenangan kecil untuk malam yang besar," ucap Freya, menyodorkan bir pada Batari.

Mereka duduk di atas karpet bulu yang tebal, makan dengan lahap tanpa memedulikan etiket bangsawan yang mereka peragakan beberapa jam lalu. Di momen ini, mereka bukan lagi dewi dan pelindung, melainkan dua wanita yang terluka, yang sedang merayakan langkah pertama menuju pembalasan dendam.

Namun, udara di ruangan itu tiba-tiba mendingin secara drastis. Sosok Lenka muncul secara fisik, duduk bersila di antara mereka. Gaun merahnya yang panjang menyapu lantai, dan rambut hitamnya yang bergelombang tampak bergerak-gerak sendiri seolah memiliki nyawa.

"Batari... apakah rasanya sepahit itu?" suara Lenka bergema langsung di dalam tengkorak Batari. Mata hitam pekatnya menatap kaleng bir di tangan Batari dengan rasa ingin tahu yang kekanak-kanakan. "Bolehkah aku merasakannya? Seteguk saja. Aku sudah lupa bagaimana rasanya menjadi hidup."

Batari menatap entitas itu. Sesuai perjanjian, Lenka hanya berhak mengambil alih tubuh saat ada sentuhan pria. Namun malam ini, Batari merasakan sebuah desakan empati yang tak terduga. Ia melihat Lenka bukan sebagai hantu penuntut balas, melainkan sebagai seorang gadis muda blasteran yang impiannya mati di ujung belati perampok.

"Boleh, Lenka. Masuklah," bisik Batari lembut.

Seketika, kesadaran Batari bergeser ke sudut pikirannya. Ia merasakan tangan "miliknya" memegang kaleng logam yang dingin. Lenka, melalui tubuh Batari, menyesap bir itu perlahan. Wajah Batari berubah; sudut matanya sedikit berkerut karena rasa pahit, namun kemudian sebuah senyum tulus merekah—senyum yang selama setahun ini tak pernah muncul.

Lenka menghembuskan napas lega. "Pahit... tapi nyata," bisiknya menggunakan pita suara Batari.

Freya menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Batari—atau Lenka—yang sedang menikmati hal sesederhana bir dan ayam goreng. Ia menyadari betapa mahalnya harga sebuah kehidupan normal bagi mereka.

Batari, dari dalam relung jiwanya, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang memantulkan sosok Lenka. Ia melihat sorot mata Lenka yang selama ini hanya berisi kegelapan dan haus darah, kini memiliki titik binar kecil—sebuah sisa kemanusiaan yang terbangun karena kehangatan sederhana di apartemen itu.

"Lenka," ucap Batari dalam hati, "aku berjanji. Aku tidak hanya akan menghancurkan keluarga Wijaya. Aku juga akan mencarikan jalan bagi jiwamu untuk tenang. Para preman di bukit itu... mereka tidak akan pernah melihat matahari lagi setelah aku selesai dengan mereka."

Lenka menoleh, menatap Batari melalui cermin batin mereka. Sorot matanya begitu dalam, pekat, namun penuh dengan rasa terima kasih yang tak terucapkan. Untuk pertama kalinya, persekutuan mereka bukan lagi sekadar kontrak darah, melainkan sebuah persaudaraan antara dua wanita yang menolak untuk tetap menjadi korban.

Di luar, badai Jakarta mulai mengguyur kota dengan hujan deras, seolah alam pun sedang bersiap menyambut banjir darah yang akan segera ditumpahkan oleh Batari Amara Wijaya.

⚜️⚜️

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis

  • BATARI   Digilir 2 Iblis

    Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau

  • BATARI   Lumatan di bawah Lampu Strobe

    Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe

  • BATARI   Belati dalam Beludru

    Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;

  • BATARI   Benih Cemburu

    University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status