Share

Perjamuan

last update Last Updated: 2026-02-28 23:56:00

Lobi Hotel Grand Astoria malam ini adalah altar kemewahan yang memuakkan. Kristal-kristal gantung memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan, menyambut para elit Jakarta yang hadir untuk merayakan pertunangan Seline Wijaya dan Victor. Sebuah persatuan yang dipercepat oleh "kecelakaan" kecil di rahim Seline—buah dari perayaan liar mereka atas kematian Batari enam bulan lalu di Bali.

Seline berdiri di tengah aula dengan keangkuhan yang memuncak. Perutnya yang masih rata dibalut gaun haute couture berwarna krem yang melambangkan kemurnian palsu. Ia tak peduli pada pendidikan yang akan ditinggalkannya; baginya, kekuasaan Victor dan warisan rahasia ayahnya adalah mahkota yang abadi. Di sampingnya, Victor tampak pongah dengan setelan tuksedo pesanan khusus, sesekali melirik jam tangan mewahnya sembari menyesap champagne.

Namun, semua kemeriahan itu mati dalam satu detik yang mencekam.

Pintu besar aula terbuka dengan dentuman halus namun berwibawa. Suhu ruangan seolah anjlok drastis, digantikan oleh hembusan angin dingin yang membawa aroma mawar yang tajam, pekat, dan memabukkan—aroma yang entah mengapa terasa seperti wangi bunga yang baru dipetik dari pemakaman tua.

Batari Amara Wijaya melangkah masuk.

Ia bukan lagi gadis rapuh yang mereka seret ke sudut kamar enam bulan lalu. Batari mengenakan gaun merah darah berbahan sutra satin yang memeluk lekuk tubuhnya seperti kulit kedua. Belahan gaun itu setinggi pangkal paha, memamerkan kaki jenjang yang putih mulus tanpa satu pun bekas luka. Rambut cokelat gelap bergelombangnya kini tampak lebih hitam dan pekat, berkilau seperti sayap gagak di bawah lampu kristal. Di belakangnya, Freya berjalan dengan setelan jas hitam yang tajam, matanya yang biru sedingin es, mengawasi ruangan layaknya serigala pelindung.

Seluruh ruangan membeku. Pria-pria menahan napas, wanita-wanita mencekeram gelas mereka erat. Visual Batari saat ini melampaui standar manusia; ia terlihat seperti lukisan klasik yang diberi nyawa, namun membawa aura kematian yang elegan.

Kegilaan Para Predator

Adrian tersedak minumannya hingga terbatuk-batuk, wajahnya pucat pasi seolah-olah ia baru saja melihat hantu yang bangkit dari peti mati. Namun, yang lebih mengerikan adalah Victor. Pria yang seharusnya bersulang untuk calon istrinya itu menjatuhkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping di lantai marmer. Matanya tidak bisa lepas dari sosok Batari. Pikirannya berputar hebat—ia ingat setiap detail malam itu, ia ingat bagaimana mereka menghancurkan gadis ini. Tapi wanita di depannya sekarang? Dia terlihat sangat utuh, sangat berkilau, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda trauma.

Erick, yang berdiri di sudut lain, hanya bisa mematung. Ia merasa linglung, seolah-olah ingatannya tentang kejadian di Bali hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi karena kenyataan di depan matanya terlalu sempurna untuk menjadi korban.

Veronica, dengan wajah yang bergetar hebat di balik bedak tebalnya, melangkah maju. Ia ingin menyeret Batari keluar, ingin menghapus eksistensi yang mengancam silsilah keluarganya ini. Namun, saat jemarinya menyentuh lengan Batari, ia merasa seolah menyentuh logam yang membakar. Batari tak bergeming sedikit pun.

"Mama... kenapa tampak terkejut?" desis Batari. Suaranya rendah, berdesir di telinga Veronica seperti bisikan maut yang membuat bulu kuduk semua orang di sekitar mereka berdiri. "Aku harus hadir, bukankah ini acara keluarga?"

Victoria tergagap saat melihat Theo—pengacara suaminya—berdiri di kejauhan dengan tatapan memperingatkan. Ia melepaskan tangannya dengan gemetar dan mundur ke arah Seline. Seline sendiri menatap Batari dengan mata merah penuh kebencian, namun ada ketakutan yang merambat di sela-sela egonya saat ia melihat respon Victor yang menatap Batari dengan gairah yang tak tertahankan, seolah ingin melahap "hantu" itu di depan semua orang.

Diplomat dari Seberang Lautan

Batari berdiri di sudut ruangan yang remang bersama Freya, membiarkan tatapan lapar dan benci orang-orang menjadi asupan bagi energinya. Tak lama, Theo menghampiri mereka membawa seorang pria muda yang kehadirannya langsung mengubah gravitasi ruangan. Pria itu tinggi besar, bahunya lebar dengan garis wajah tegas yang memancarkan wibawa bangsawan.

"Batari, perkenalkan," ucap Theo formal. "Ini adalah Elio. Seorang diplomat muda dan memiliki hubungan darah dengan kerajaan Brunei. Beliau adalah kolega penting mendiang ayahmu. Ia baru saja tiba di Jakarta."

Elio mengulurkan tangannya, matanya yang hitam tajam menatap Batari dengan intensitas yang tidak biasa—seolah ia bisa melihat menembus lapisan rahasia di bawah kulit Batari. "Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, Nona Batari. Kabar tentang kecantikanmu ternyata jauh di bawah realitas yang kulihat saat ini."

Saat tangan Elio menyentuh kulit Batari, aroma mawar di ruangan itu meledak secara halus. Di dalam pikiran Batari, sebuah tawa lirih yang melengking terdengar menggoda.

"Maafkan aku harus mengambil alih ini, Batari..." suara Lenka berbisik di dalam kepalanya, suaranya terdengar haus. "Bukankah dia cukup tampan? Hatinya terasa begitu kuat dan murni... hmm, aku ingin tahu bagaimana rasanya menghancurkan pria seperti ini."

Batari merasakan denyut aneh di pergelangan tangannya. Ini adalah momen pertama mereka di depan publik, dan Batari merasa kewarasannya mulai terseret oleh energi sensual Lenka yang liar. Jemarinya tanpa sadar meremas lembut telapak tangan Elio, sebuah gerakan yang sangat provokatif namun elegan.

Freya, yang melihat perubahan di netra Batari yang mulai menggelap menjadi sayu dan berbahaya, segera bertindak. Ia dengan halus namun tegas menarik Batari kembali, memisahkan jabatan tangan mereka sebelum Lenka bertindak lebih jauh.

"Maaf, Tuan Elio. Nona Batari masih dalam masa pemulihan dan agak sensitif terhadap sentuhan fisik dalam waktu lama," ucap Freya dengan nada profesional yang dingin.

Elio tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan namun jelas menunjukkan bahwa pria ini terobsesi untuk mencari tahu lebih dalam. "Sensitif, ya? Sesuatu yang indah memang biasanya sensitif terhadap dunia luar."

Tatapan dari Kedalaman Neraka

Di seberang ruangan, tiga predator dan satu betina mengamati mereka dengan perasaan campur aduk. Victor meremas kerah bajunya yang tiba-tiba terasa mencekik; ia tidak mengerti mengapa ia merasa begitu bergairah sekaligus ketakutan melihat Batari yang seolah "terlahir kembali" sebagai bangsawan. Adrian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, amarahnya memuncak karena melihat Batari justru bersanding dengan pria sekaliber Elio.

Sedangkan Seline? Ia merasa mual. Ia telah membunuh Batari di dalam pikirannya setiap hari selama enam bulan terakhir, namun hari ini, ia menyadari bahwa ia tidak membunuh siapa pun. Ia justru telah membangunkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia hancurkan.

Batari menyesap wine merah di gelasnya, matanya melirik ke arah Seline dari balik tepian gelas. Ia tidak tersenyum, namun tatapannya berkata: Nikmatilah sisa malammu, Kakak. Karena mulai besok, aku akan mengambil semuanya.

~~~~

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis

  • BATARI   Digilir 2 Iblis

    Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau

  • BATARI   Lumatan di bawah Lampu Strobe

    Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe

  • BATARI   Belati dalam Beludru

    Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;

  • BATARI   Benih Cemburu

    University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status