⚜️⚜️Gerbang besi kediaman Wijaya mengerang saat terbuka, suara logam yang beradu terdengar seperti jeritan peringatan. Bagi dunia luar, ini istana. Bagi Batari Amara Wijaya, ini adalah mulut raksasa yang siap mengunyahnya hidup-hidup.Batari berdiri di sana, menggenggam tali tas lusuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rambut cokelat gelapnya yang panjang mengalir lembut hingga pinggang, kontras dengan wajahnya yang pucat namun memiliki keindahan yang "berbahaya"—kecantikan yang bisa memicu perang. Di kepalanya, suara tawa ibunya, Isabel, yang kini hilang kewarasan di rumah sakit jiwa, terus berdenging."Sepuluh detik untuk masuk, atau kau mati kedinginan di trotoar seperti jalang Filipina itu," sebuah suara dingin memotong lamunan Batari.Di ambang pintu kayu jati hitam, berdiri Victoria Wijaya. Istri sah ayahnya itu tampak sempurna dalam balutan sutra, namun matanya sebeku es utara. Batari melangkah masuk, dan seketika itu juga, atmos
Last Updated : 2026-02-28 Read more