⚜️⚜️ Gerbang besi kediaman Wijaya mengerang saat terbuka—suara logam bergesekan, panjang dan serak, seperti napas sesuatu yang baru bangun dari tidur gelapnya. Dari luar, tempat ini tampak seperti istana: megah, rapi, tak tersentuh. Namun bagi Batari Amara Wijaya, ini bukan istana. Ini rahang. Dan ia baru saja melangkah ke antara gigi-giginya. Batari berdiri sejenak di ambang, menggenggam tali tas lusuhnya sampai kulit di sekitar buku jarinya menegang. Udara malam menempel di tengkuknya, dingin dan basah. Lampu-lampu taman memantulkan kilau pada batu-batu pijakan, membuat jalur masuk terlihat seperti karpet kehormatan—yang sebenarnya adalah jalur eksekusi. Rambut cokelat gelapnya yang panjang mengalir lembut hingga pinggang, kontras dengan wajahnya yang pucat namun memiliki keindahan yang "berbahaya"—kecantikan yang bisa memicu Obsesi. Di kepalanya, suara tawa ibunya, Isabel, yang kini hilang kewarasan di rumah sakit jiwa, terus berdenging. “Sepuluh detik untuk masuk,” s
Magbasa pa