MasukPagi itu, kantor hukum Theo di kawasan SCBD terasa lebih mencekam. Di depan gedung, sebuah sedan hitam dengan pelat diplomatik terparkir tenang, namun kehadirannya sudah cukup membuat staf keamanan berdiri tegak. Elio—Sang Pangeran dari Brunei yang dikenal dunia sebagai diplomat santun dan investor bertangan dingin—duduk di ruang kerja Theo dengan punggung tegak tanpa menyentuh sandaran kursi.Theo mendongak dari tumpukan berkasnya, membenarkan letak kacamata dengan gerakan tenang yang sengaja dibuat lambat. "Tuan Elio? Ini masih terlalu pagi untuk kunjungan mendadak. Apakah ada klausul yang ingin Anda ubah?"Elio tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Theo, meletakkan kedua tangannya di atas permukaan kayu mahoni itu. "Batari. Di mana dia sekarang?"Theo menghela napas, jemarinya mengetuk pulpen perak dengan ritme yang terjaga. "Beliau sedang di rumah sakit menemani ibunya, Tuan. Saya baru saja akan berangkat ke sana untuk menyerahkan beberapa dokumen legalitas keamanan.""Aku iku
Di ruangan VVIP, Isabel terbaring lemah. Freya menghampiri dengan wajah pucat. “Tante sudah baik-baik saja, beliau hanya syok... kau butuh dokter untuk memeriksa bibirmu, Batari?” tanya Freya, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran fisik nonanya.Batari menghampiri ranjang sang ibu. Pertahanan emosinya runtuh. “Mama... Mama... maafkan Batari,” ia terisak, memendam wajahnya di tangan sang ibu yang kurus.Isabel perlahan membuka matanya. Sebuah keajaiban kecil terjadi; matanya tak lagi kosong. Ia mengusap rambut Batari dengan tangan gemetar. “Si mama ang dapat humingi ng tawad… patawarin mo si mama, sayang, kailangan mong tanggapin ang kapalarang ito,” ucapnya dalam bahasa asalnya yang pilu.“Mama yang harus minta maaf... Mama yang memberimu takdir ini... Maafkan Mama, Sayang.”Batari mendongak takjub. Itu adalah kalimat terpanjang dan paling jernih yang diucapkan ibunya selama bertahun-tahun. Kebahagiaan dan kesedihan melebur dalam pelukan itu. Di sudut ruangan, Freya ikut terisak
Setelah merebahkan tubuh Batari di jok penumpang, Victor mengunci pintu mobil secara sentral hingga Batari hanya bisa menatap melalui kaca yang berembun. Tanpa sepatah kata pun, Victor keluar, langkah kakinya yang berat dan sorot matanya yang gelap.Dari dalam , Victor menyeret Adrian keluar. Adrian yang sudah pingsan, wajahnya babak belur bekas pukulan Victor dan tubuhnya terkulai layaknya tumpukan daging tak bernyawa. Kepala Adrian membentur ambang pintu kayu dengan bunyi thud yang menyakitkan, namun Victor tidak berhenti. Di belakangnya, Seline menjerit histeris, suaranya pecah membelah kesunyian rumah tua itu, namun Victor bahkan tidak menoleh. Baginya, teriakan itu hanyalah gangguan yang tidak berarti.Victor tidak mengarahkan mobilnya ke kantor polisi. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia menelepon seseorang. Tak lama mereka sampai ke sebuah gudang Tua berbau karat.Victor melempar tubuh Adrian ke aspal, tepat di bawah sorot lampu mobil hitam lain yang sudah menunggu di sana.
Satu minggu bersembunyi di bawah bayang-bayang Victor terasa seperti peti mati bagi harga diri Adrian yang sudah hancur lebur. Reputasinya hangus dan setiap tarikan napasnya kini terasa seperti sedang dicekik oleh tangan tak terlihat.Pintu ruangan terbuka, menampakkan Seline yang masuk dengan riasan yang hancur karena air mata. Ia luruh di depan Adrian, bahunya bergetar hebat."Adrian... Victor benar-benar gila. Dia sudah tidak melihatku lagi," isak Seline, suaranya parau oleh kebencian yang murni. "Matanya hanya tertuju pada Batari. Aku melihat dia mulai merayu Victor kemarin di Gym dan Victor malah memujanya seolah aku ini sampah!"Adrian mencengkeram gelas wiski hingga buku jarinya memutih. "Dia berani membawa jalang itu ke wilayah kita?""Bukan cuma itu! Dia mulai mengikuti jalang itu kemanapun!" Seline mendongak, matanya merah menyala. "Kalau kita tidak menghancurkan Batari sekarang, Victor akan memberikan segalanya padanya. Kakak kan tahu bagaimana Victor, jalang itu tidak
Malam di apartemen mewah itu terasa lebih pekat, seolah-olah kabut dari bukit terlarang ikut terbawa hingga ke pusat Jakarta. Di tengah ruang kerja yang kedap suara, sebuah papan akrilik besar berdiri kokoh layaknya mezbah penghakiman. Cahaya lampu sorot kecil dari langit-langit menjatuhkan bayangan tajam pada deretan foto yang tersemat di sana—wajah-wajah yang kini tak lebih dari sekadar bidak catur yang menunggu untuk ditumbangkan.Batari melangkah maju, jemarinya yang dingin menyisir permukaan akrilik, berhenti tepat di atas foto Erick yang sudah tercabik coretan tinta merah. "Erick sudah tenang di ICU. Tidur panjang dengan mesin yang bernapas untuknya. Satu bidak tumbang, sisa empat ular lagi yang masih merasa bisa lari."Freya berdiri kaku di sampingnya, matanya tertuju pada foto Victor. "Dan si cerdas ini? Victor masih merasa dia memegang kendali?""Victor?" Batari mendengus, tawa hambar yang lebih mirip geraman rendah lolos dari tenggorokannya. "Dia sedang menjerat lehernya
"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, masih dengan angkuh menyesap cerutu mahalnya meski statusnya sudah menjadi buronan nasional.Adrian hanya mendengus, asap cerutu keluar dari mulutnya dengan perlahan. "Sabar, Victor. Mama dan Seline sedang mengurus semuanya di pusat. Satu atau dua minggu lagi, nama baikku akan kembali bersih. Kau hanya perlu menutup mulutmu dan menyediakan aku tempat tidur yang layak.""Tempat tidur yang layak?" Victor tertawa sinis, suaranya serak karena frustrasi. "Kau hampir membunuh Erick! Kau tahu berita pagi ini? Batang otaknya cidera parah. Dia koma, Adrian. Kalaupun dia bangun, dia hanya akan jadi seonggok daging yang bisa bernapas. Kau benar-benar sudah gila!"Adrian bangkit
"Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit
Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa l
Jakarta basah, tapi bukan hujan yang bikin bersih. Ini lembap yang lengket, yang menempel di kulit seperti tangan orang asing. Pagi itu kampus berbau AC tua dan parfum murahan yang dicampur kopi. Suara kursi diseret bikin ngilu. Seline sampai di kelas dan langsung berhenti. Meja itu. Meja yang bias
Batari berdiri telanjang di depan cermin besar, menatap sisa-sisa trauma yang kini ia poles dengan kemewahan. Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok. Sosok Lenka muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakang Batari. Jemari hantu itu yang panjang dan pucat merayap turun dari bahu, menyusuri lengan Ba







