ログイン"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"
Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, masih dengan angkuh menyesap cerutu mahalnya meski statusnya sudah menjadi buronan nasional.Adrian hanya mendengus, asap cerutu keluar dari mulutnya dengan perlahan. "Sabar, Victor. Mama dan SeSatu minggu bersembunyi di bawah bayang-bayang Victor terasa seperti peti mati bagi harga diri Adrian yang sudah hancur lebur. Reputasinya hangus dan setiap tarikan napasnya kini terasa seperti sedang dicekik oleh tangan tak terlihat.Pintu ruangan terbuka, menampakkan Seline yang masuk dengan riasan yang hancur karena air mata. Ia luruh di depan Adrian, bahunya bergetar hebat."Adrian... Victor benar-benar gila. Dia sudah tidak melihatku lagi," isak Seline, suaranya parau oleh kebencian yang murni. "Matanya hanya tertuju pada Batari. Aku melihat dia mulai merayu Victor kemarin di Gym dan Victor malah memujanya seolah aku ini sampah!"Adrian mencengkeram gelas wiski hingga buku jarinya memutih. "Dia berani membawa jalang itu ke wilayah kita?""Bukan cuma itu! Dia mulai mengikuti jalang itu kemanapun!" Seline mendongak, matanya merah menyala. "Kalau kita tidak menghancurkan Batari sekarang, Victor akan memberikan segalanya padanya. Kakak kan tahu bagaimana Victor, jalang itu tidak
Malam di apartemen mewah itu terasa lebih pekat, seolah-olah kabut dari bukit terlarang ikut terbawa hingga ke pusat Jakarta. Di tengah ruang kerja yang kedap suara, sebuah papan akrilik besar berdiri kokoh layaknya mezbah penghakiman. Cahaya lampu sorot kecil dari langit-langit menjatuhkan bayangan tajam pada deretan foto yang tersemat di sana—wajah-wajah yang kini tak lebih dari sekadar bidak catur yang menunggu untuk ditumbangkan.Batari melangkah maju, jemarinya yang dingin menyisir permukaan akrilik, berhenti tepat di atas foto Erick yang sudah tercabik coretan tinta merah. "Erick sudah tenang di ICU. Tidur panjang dengan mesin yang bernapas untuknya. Satu bidak tumbang, sisa empat ular lagi yang masih merasa bisa lari."Freya berdiri kaku di sampingnya, matanya tertuju pada foto Victor. "Dan si cerdas ini? Victor masih merasa dia memegang kendali?""Victor?" Batari mendengus, tawa hambar yang lebih mirip geraman rendah lolos dari tenggorokannya. "Dia sedang menjerat lehernya
"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, masih dengan angkuh menyesap cerutu mahalnya meski statusnya sudah menjadi buronan nasional.Adrian hanya mendengus, asap cerutu keluar dari mulutnya dengan perlahan. "Sabar, Victor. Mama dan Seline sedang mengurus semuanya di pusat. Satu atau dua minggu lagi, nama baikku akan kembali bersih. Kau hanya perlu menutup mulutmu dan menyediakan aku tempat tidur yang layak.""Tempat tidur yang layak?" Victor tertawa sinis, suaranya serak karena frustrasi. "Kau hampir membunuh Erick! Kau tahu berita pagi ini? Batang otaknya cidera parah. Dia koma, Adrian. Kalaupun dia bangun, dia hanya akan jadi seonggok daging yang bisa bernapas. Kau benar-benar sudah gila!"Adrian bangkit
"Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jeritan melengking itu memecah kesunyian apartemen, keluar dari speaker laptop Freya dengan getaran yang menyakitkan telinga. Freya menyesap kopi hitamnya yang pekat, matanya tidak lepas dari layar yang menampilkan rekaman syur Adrian setahun lalu. Di dalam video itu, seorang mahasiswi tingkat satu—korban yang dipaksa bungkam dengan ancaman beasiswa—sedang meronta di bawah kungkungan Adrian yang tertawa meremehkan. Freya menekan tombol pause. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan deru AC yang dingin. "Lihat wajahnya, Nona. Dia benar-benar merasa seperti tuhan saat mengoyak hidup orang lain," gumam Freya tanpa menoleh. Jemarinya menari lincah di atas keyboard, melakukan frame-by-frame p
Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi. Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding. “Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok. “Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas. Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau tak apa, Erick?" tanya Batari pelan.
Lampu strobe Onyx Club berdenyut liar, membasuh ruangan dengan cahaya ungu dan biru elektrik yang terasa panas di kulit. Dentuman bass-nya bukan sekadar musik; itu adalah denyut nadi yang menggetarkan rusuk, memacu adrenalin hingga ke batas tertinggi. Erick melangkah masuk, dadanya membusung seolah ia baru saja menaklukkan dunia, dengan jemari Batari yang terkunci erat dalam genggamannya. Ia membawa Batari menuju sofa VVIP yang melingkar, sebuah singgasana gelap di sudut paling prestisius. Di sana, Adrian dan Victor sudah mematung, gelas kristal mereka tergantung kaku di udara. Adrian tak bisa bernapas. Seline—adiknya yang tengah hamil dan butuh perhatian—mendadak lenyap dari memorinya. Matanya terkunci pada Batari. Gadis yang enam bulan lalu merintih hancur di bawah kakinya kini duduk dengan keanggunan seorang dewi yang baru saja bangkit dari makam marmer. Kulit Batari putih pucat, berkilau di bawah lampu remang, seolah nyamuk pun tak akan berani menyentuhnya. Batari menyadari







