Compartilhar

96. kekosongan

last update Última atualização: 2026-01-21 22:52:29

Waktu berlalu dengan cara yang tak bisa dihitung dengan kalender. Ia terasa di bahu yang mulai terbiasa menanggung keputusan, di mata yang tak lagi kaget saat sesuatu gagal.

Suatu pagi, papan-papan di taman tidak bertambah. Untuk pertama kalinya sejak lama, tak ada tulisan baru. Orang-orang tetap datang, membaca yang lama, berdiri sebentar, lalu pergi. Seolah semua yang perlu dikatakan hari itu sudah ada.

Rael menyadari keheningan itu bukan kekosongan. Ia adalah jeda.

Jeda itu pecah oleh kabar kecil namun tajam: seorang buruh pelabuhan ditangkap oleh penjaga lama—penjaga yang seharusnya sudah tak punya wewenang. Alasannya sederhana: melanggar aturan lama yang tak pernah dicabut secara resmi.

Orang-orang marah. Bukan karena satu orang ditahan, tapi karena kebiasaan lama mencoba kembali lewat celah hukum yang lupa dirapikan.

Rapat kembali digelar. Suaranya lebih berat dari sebelumnya.

“Kita terlalu sibuk bertanya,” kata seseorang, “sampai lupa mengikat hal-hal dasar.”

“Kalau kita mulai
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   97. kota kecil

    Cerita itu menyebar bukan seperti api, melainkan seperti benih yang menempel di sepatu orang-orang yang lewat. Tidak semua tumbuh. Tidak semua perlu tumbuh. Tapi beberapa jatuh di tanah yang cukup retak untuk memberi ruang.Di wilayah barat, sebuah kota kecil mulai meniru satu kebiasaan sederhana: setiap keputusan besar ditulis di dinding umum selama tujuh hari sebelum dijalankan. Orang boleh mencoret, menambah, atau menulis ketakutannya sendiri. Tidak ada voting. Hanya waktu.Di selatan, pasar mingguan menambahkan satu jam “diam bersama”. Lapak tetap buka, tapi transaksi dihentikan. Orang duduk, minum, menatap. Awalnya canggung. Lalu menjadi kebutuhan.Tak satu pun menyebut nama Rael.Rael sendiri berjalan terus. Ia bekerja seadanya, membantu memperbaiki jembatan kayu, mengajari membaca bagi yang meminta, lalu pergi sebelum menjadi pusat. Ia belajar seni baru: **meninggalkan sebelum ditinggalkan**.Suatu sore, ia bertemu seorang pemuda yang membawa buku catatan lusuh.“Aku dengar kam

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   96. kekosongan

    Waktu berlalu dengan cara yang tak bisa dihitung dengan kalender. Ia terasa di bahu yang mulai terbiasa menanggung keputusan, di mata yang tak lagi kaget saat sesuatu gagal.Suatu pagi, papan-papan di taman tidak bertambah. Untuk pertama kalinya sejak lama, tak ada tulisan baru. Orang-orang tetap datang, membaca yang lama, berdiri sebentar, lalu pergi. Seolah semua yang perlu dikatakan hari itu sudah ada.Rael menyadari keheningan itu bukan kekosongan. Ia adalah jeda.Jeda itu pecah oleh kabar kecil namun tajam: seorang buruh pelabuhan ditangkap oleh penjaga lama—penjaga yang seharusnya sudah tak punya wewenang. Alasannya sederhana: melanggar aturan lama yang tak pernah dicabut secara resmi.Orang-orang marah. Bukan karena satu orang ditahan, tapi karena kebiasaan lama mencoba kembali lewat celah hukum yang lupa dirapikan.Rapat kembali digelar. Suaranya lebih berat dari sebelumnya.“Kita terlalu sibuk bertanya,” kata seseorang, “sampai lupa mengikat hal-hal dasar.”“Kalau kita mulai

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   95. musim

    Musim berganti tanpa penanda resmi. Tidak ada festival besar, tidak ada pengumuman kemenangan. Yang ada hanya perubahan kecil yang terasa di tubuh: langkah orang-orang tak lagi tergesa setiap pagi, percakapan tak selalu berakhir dengan keluhan, dan diam tidak lagi selalu berarti takut.Rael mulai jarang terlihat di rapat. Bukan karena disingkirkan, melainkan karena rapat-rapat itu tetap berjalan tanpa menunggunya. Ia memilih berjalan menyusuri kota, mendengar dari jarak dekat. Dari warung kopi, dari dermaga kecil, dari bangku-bangku kayu yang mulai lapuk.Di sebuah sudut pelabuhan, ia mendengar dua buruh muda berbincang.“Kalau sistem lama balik lagi, kamu bakal ikut?” tanya yang satu.Yang lain menggeleng. “Enggak. Bukan karena sistemnya jelek. Tapi sekarang aku tahu… ada pilihan. Dan begitu tahu itu, susah pura-pura lupa.”Rael melangkah pergi sebelum mereka menyadari kehadirannya. Kalimat itu lebih berat daripada pujian mana pun.---Suatu malam, Ira menemukannya duduk sendirian di

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   94. mengakhiri

    Waktu berlalu lagi kali ini tanpa saksi yang sadar sedang menyaksikannya.Buku kecil yang ditinggalkan Mira berpindah tangan. Seorang penjaga taman membacanya, lalu meletakkannya kembali. Seorang pelajar membawanya pulang semalam, menyalin satu kalimat, lalu mengembalikannya ke bangku. Tidak ada yang mengklaimnya. Tidak ada yang menjadikannya pegangan resmi. Buku itu hidup seperti desas-desus yang baik: cukup dekat untuk memengaruhi, cukup jauh untuk tidak mengikat.Di wilayah perlintasan itu, satu kebiasaan baru tumbuh diam diam: ** mengakhiri sesuatu dengan layak **.Program yang tak lagi relevan ditutup dengan penjelasan singkat. Proyek yang usang dilepas tanpa mencari kambing hitam. Bahkan jabatan jabatan lama mulai memiliki tanggal pensiun yang jelas bukan karena gagal, melainkan karena waktunya selesai. Orang-orang belajar merayakan penutupan seperti mereka merayakan pembukaan.Suatu hari, sebuah rapat dibuka dengan kalimat yang tak biasa:“Agenda hari ini hanya satu apa yang ak

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   93. waktu

    Waktu berjalan, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang itu, tidak ada yang merasa perlu mencatatnya.Tidak ada laporan tahunan. Tidak ada papan baru. Tidak ada arsip tambahan. Bukan karena lupa, melainkan karena semua orang sedang sibuk **melakukan hal yang tepat tanpa menunggu bentuknya**.Itulah masa paling berbahaya.Ketika refleks hidup, orang mudah percaya ia akan hidup selamanya.Kesalahan kecil muncul lebih dulu. Sebuah keputusan lokal diambil terlalu cepat. Tidak jahat, hanya tergesa. Dampaknya ringan, tapi nyata. Orang-orang memperbaikinya bersama, tertawa kecil, lalu melanjutkan hari. Tidak ada evaluasi. Tidak ada peninjauan ulang.“Tidak apa-apa,” kata banyak orang. “Kita sudah tahu caranya.”Mira mendengar kalimat itu terlalu sering.Ia tidak menegur. Ia menunggu.---Kesalahan berikutnya tidak sempat ditertawakan.Distribusi pangan ke wilayah utara terlambat beberapa hari karena asumsi lama yang tak lagi diperiksa. Tidak ada kelaparan, tapi cukup untuk membuat or

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   92. Pertanyaan

    Suatu malam, pertanyaan itu kembali berubah bentuk.Bukan lagi *siapa yang berubah* atau *siapa yang terluka*,melainkan, *siapa yang tidak terdengar?*Pertanyaan itu muncul bukan di rapat, melainkan di lorong sempit pusat logistik baru—tempat para pekerja berganti sif malam. Seorang buruh angkut tua berkata lirih pada Mira, “Kami selalu ada di daftar dampak. Tapi jarang ada di daftar suara.”Kalimat itu tidak menuduh. Justru itulah yang membuatnya berat.Mira membawa kalimat itu ke rapat berikutnya. Ia menuliskannya di papan tanpa nama.**Siapa yang tidak terdengar?**Awalnya, tak ada yang menjawab. Lalu satu orang menyebut, “pekerja kontrak.” Yang lain menambah, “desa kecil di hulu.” Seorang magang berkata pelan, “orang yang tidak bisa membaca papan pengumuman.”Daftar itu tumbuh—tidak rapi, tidak lengkap, tapi nyata.---Perubahan yang menyusul tidak spektakuler. Tidak ada lembaga baru. Tidak ada undang-undang panjang. Hanya satu kebiasaan tambahan: sebelum keputusan besar, satu ku

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status