Tian langsung pucat pasi. Cangkul di tangannya hampir terlepas. Sementara Rael menegakkan badan, menatap pengawal itu tanpa gentar.“Kami… hanya mencoba agar benih bisa tumbuh lebih baik,” jawab Rael hati-hati, suaranya tenang tapi cukup jelas terdengar.Pengawal mendengus kasar. “Berani-beraninya kau mengatur caramu sendiri! Siapa suruh melawan perintah?”Tian semakin panik, tubuhnya gemetar. Dalam hati ia mengutuk kebodohannya sendiri karena mengikuti ide Rael. Sedangkan Rael, meski dalam bahaya, tetap berdiri tegak menahan tatapan tajam sang pengawal.Seorang anak buangan yang lebih tua darinya menoleh, mendengus. “Kau sok pintar, ya? Sudah cukup susah kita disuruh kerja, jangan tambah banyak bicara. Cepat cangkul saja, kalau tidak—” ia melirik penjaga yang mengawasi. Rael terdiam. Ia sadar, terlalu banyak bicara hanya akan memperburuk keadaan. Perlahan ia menghentikan tindakannya, menatap Tian yang sudah pucat ketakutan. Dari sudut mata, ia juga melihat beberapa pekerja lain berhe
Read More