LOGINBAB 3 PESTA
Kimmy berdiri di depan cermin untuk ketiga kalinya. Berputar memperhatikan gaun merah yang membalut tubuhnya. Entah kenapa ia masih merasa tidak yakin akan berani keluar dengan gaun seperti itu. Gaun satin itu sederhana, tetapi potongannya sangat pas di tubuh, sehingga menonjolkan tiap lekuk tubuh dengan sangat menonjol. Kimmy merasa aneh karena seumur hidupnya ia lebih sering mengenakan kemeja kerja, celana panjang, atau kaus santai. Berpakaian seperti ini bukan seperti dirinya. "Bang..." Hanif yang sedang mengenakan jas hitam menoleh. "Hm?" "Apa tidak berlebihan?" Hanif memperhatikannya beberapa detik. Tatapan pria itu membuat Kimmy semakin gugup. Kemudian sudut bibir Hanif terangkat. "Kau cantik." Kimmy mendecak pelan. "Aku serius." "Aku juga serius." Hanif mendekat. Tangannya meraih pinggang Kimmy lalu menariknya perlahan. "Kau tahu apa masalahnya?" "Apa?" "Kau terlalu cantik sampai tidak sadar kalau kau cantik." Kimmy langsung memukul lengan pria itu. "Gombal." Hanif tertawa. "Kalau aku tidak jujur nanti kau marah. Kalau aku jujur kau bilang gombal." Kimmy berusaha menahan senyum. Tetapi gagal. Dan seperti biasa Hanif tampak puas melihat reaksinya. "Sudah. Ayo berangkat." Perjalanan menuju lokasi pesta berlangsung hampir empat puluh menit. Semakin dekat mereka tiba, semakin besar rasa penasaran Kimmy. Selama ini Hanif sering bercerita tentang perusahaan tempatnya bekerja. Tentang proyek-proyek besar. Tentang klien internasional. Tentang rekan-rekannya. Dan tentu saja tentang bos besarnya. Tristan Murai. Nama itu sudah terlalu sering ia dengar. Menurut Hanif, Tristan adalah pemilik perusahaan sekaligus orang yang membangun kerajaan bisnisnya sendiri sejak usia muda. Selain bisnis properti yang berkembang sangat pesat, keluarganya juga memiliki jaringan klub hiburan elite di berbagai negara. Kekayaan yang bahkan sulit dibayangkan oleh orang biasa. Yang membuat Kimmy semakin penasaran adalah satu hal. Pria itu masih muda. Dan katanya sangat tampan. "Bang." "Hm?" "Bosmu itu sebenarnya umur berapa?" "Tiga puluh dua." Kimmy langsung melotot. "Tiga puluh dua?" Hanif tertawa. "Aku tahu reaksimu akan begitu." "Dia punya perusahaan sebesar itu, di umur tiga puluh dua tahun?" "Sebagian warisan keluarga. Sebagian lagi hasil pengembangannya sendiri." Kimmy menggeleng pelan. "Dunia memang tidak adil." Hanif terkekeh. "Kenapa?" "Karena ada orang yang kaya, tampan, muda, sukses." "Lalu?" "Lalu ada aku." Hanif menahan tawa. "Kimmy." "Apa?" "Semoga kau akan selalu lucu seperti ini." Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah.Kimmy langsung terpaku. "Ya Tuhan..." Bangunan itu terlihat lebih seperti hotel mewah daripada klub malam. Deretan mobil mahal memenuhi area depan. Lampu-lampu keemasan memantul di dinding kaca raksasa. Para tamu datang dengan pakaian formal yang tampak seperti baru keluar dari majalah mode. Kimmy spontan menggenggam tangan Hanif. "Aku jadi ingin pulang." Hanif menoleh. "Kita baru sampai." "Aku merasa salah tempat." "Kau baik-baik saja." "Tidak." "Kau akan baik-baik saja karena bersamaku." Kimmy mendesah. Hanif memang selalu seperti itu. Terlalu tenang, terlalu percaya diri. Begitu memasuki ruangan utama, Kimmy langsung dibuat kagum. Langit-langit tinggi menjulang. Chandelier kristal bergantung seperti hujan cahaya. Musik mengalun lembut dari panggung kecil di tengah ruangan. Tidak ada kerumunan liar. Tidak ada orang mabuk berjoget seperti yang selama ini Kimmy bayangkan mengenai klub malam. Semua yang terlihat elegan, tenang, mewah. Seolah setiap orang di dalam ruangan itu berasal dari dunia yang berbeda dengan dirinya. "Ini klub malam?" Hanif tersenyum. "Kau kecewa?" Kimmy memutar mata. Mereka baru beberapa langkah masuk ketika Hanif sedikit membungkuk untuk berbisik ke telinga Kimmy. "Itu Tristan." Kimmy mengikuti arah pandangan Hanif. Dan langsung menemukannya. Pria itu duduk di area VIP yang sedikit lebih tinggi dari ruangan utama. Tristan Murai terlihat paling mencolok di tengah keramaian. Bukan karena tempat duduknya. Tapi karena auranya. Ia memakai jas hitam. Postur tinggi, rahang tegas, tatapan dingin. Di samping Tristan duduk seorang wanita pirang yang sangat cantik. Mereka sedang berbicara pelan. Sangat dekat, seperti saling berbisik intim. Kimmy bahkan tidak sadar dirinya terus memperhatikan, sampai Hanif menarik tangannya kembali. "Jangan menatap terus." Kimmy berkedip mengerjab. "Oh." Tepat saat itu, Tristan Murai menoleh. Dan tanpa sengaja mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik. Tetapi cukup membuat Kimmy gugup. Dia langsung memalingkan wajah. Ada sesuatu dalam tatapan itu. Dingin. Tajam. Sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. "Aku merasa bosmu agak menyeramkan." Hanif tertawa kecil. "Sebenarnya dia cukup baik." "Karena dia terus memberimu promosi?" "Ya." "Penjilat." "Kau baru sadar?" Kimmy kembali memukul lengan Hanif. Tak lama kemudian Hanif mulai memperkenalkannya kepada rekan-rekan kantor. Suasana langsung ramai. "Jadi ini tunanganmu?" "Hanif, kau benar-benar menyembunyikan wanita yang sangat cantik untuk dirimu sendiri." "Kasihan kami tidak diberi kesempatan bersaing." Tawa pecah di antara rekan-rekan pria. Kimmy hanya bisa tersenyum canggung. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun teman-teman Hanif ternyata cukup ramah. Mereka bergantian mengucapkan selamat. Sampai seorang wanita bergaun hitam ketat muncul di samping Hanif. "Selamat ya, Bang." Wanita itu tersenyum. Sangat cantik dan percaya diri. Tipe wanita yang sangat sadar jika dirinya cantik. "Gue Gisel." Kimmy menjabat tangan yang diulurkan padanya. "Kimmy." Tatapan wanita itu menyapu dari kepala hingga kaki. Bukan sekedar menilai tapi membandingkan diri. Cukup jelas terlihat jika dia kurang suka dengan Kimmy. Lalu ia tersenyum tipis. "Senang bertemu." Setelah itu ia pergi begitu saja. Kimmy tidak tahu kenapa. Tetapi teman wanita Hanif membuatnya tidak nyaman. Semakin lama pesta berlangsung, semakin besar perasaan asing yang mengendap di dada Kimmy. Orang-orang di sini tampak begitu berbeda. Mereka berbicara tentang proyek bernilai miliaran. Tentang investasi. Tentang perjalanan bisnis ke luar negeri. Tentang kehidupan yang terasa sangat jauh dari dunianya. Kimmy bekerja sebagai bendahara di perusahaan distributor. Rutinitasnya sederhana. Datang pagi, duduk di belakang meja. Menyusun laporan, pulang sore. Begitu terus setiap hari. Sedangkan dunia Hanif, terus melesat ke depan. Kadang Kimmy bertanya-tanya. Bagaimana pria seperti Hanif bisa memilih dirinya? Saat sedang tenggelam dalam pikiran itu, ia kembali merasakan sesuatu. Tatapan. Kimmy menoleh. Dan sekali lagi mendapati Tristan Murai sedang melihat ke arahnya. Kali ini pria itu mengangkat gelas anggurnya sedikit. Seperti memberi salam dari jarak jauh. Kimmy ragu-ragu sebelum membalas dengan senyum kecil. Namun beberapa detik kemudian Tristan sudah kembali berbicara dengan wanita pirang di sampingnya seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin memang tidak terjadi apa-apa. "Kapan kita pulang?"Kimmy berbisik. Hanif menoleh. "Kau lelah?" "Sedikit." Hanif mengangguk. "Oke. Kita pamit dulu." Kimmy langsung lega. Mereka berjalan menuju area VIP. Semakin dekat, semakin jelas dia bisa melihat sosok Tristan Murai. Dan Kimmy baru menyadari satu hal. Pria itu memang luar biasa tampan. Namun bukan ketampanan yang membuatnya sulit diabaikan. Melainkan tatapannya. Sepasang mata biru gelap yang terasa terlalu tajam. Terlalu dingin. Terlalu sulit ditebak. "Mr. Murai." Hanif mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah datang." Tristan menjabatnya. "Laporan proyekmu luar biasa." Hanif tersenyum. "Terima kasih." Kemudian pria itu mengalihkan pandangan kepada Kimmy. Untuk pertama kalinya mereka berdiri cukup dekat. "Jadi ini tunanganmu." "Ya." Kimmy segera ikut mengangguk sopan. "Selamat atas pertunangan kalian." "Terima kasih." Tristan mengangkat gelasnya sedikit. "Semoga pernikahannya berjalan lancar." Nada suaranya datar. Sulit ditebak apakah tulus atau sekadar formalitas. Di sampingnya, wanita cantik bernama Pamela tersenyum tipis. Tetapi Kimmy tidak merasakan kehangatan apa pun dari senyum itu. Untungnya percakapan tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian Hanif mengajaknya pergi. Dan Kimmy bisa bernapas lega lagi. Dalam perjalanan pulang, suasana terasa jauh lebih nyaman. Hanya ada mereka berdua. Tidak ada tatapan asing. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada dunia mewah yang membuat Kimmy merasa kecil. "Bagaimana menurutmu?" Hanif bertanya sambil menyetir. "Pestanya luarbisa." "Tapi?" Kimmy tertawa kecil. "Tapi aku tidak cocok di sana." Hanif melirik kekasihnya. "Kau terlalu keras pada dirimu sendiri." "Mungkin." "Kau tahu, aku masih berharap kau mempertimbangkan tawaranku." Kimmy tahu maksudnya soal pekerjaan. Hanif sudah beberapa kali memintanya mencari lingkungan kerja yang lebih baik. Tetapi Kimmy belum siap meninggalkan zona nyamannya. "Sepertinya aku tidak seberuntung dirimu." Hanif menghela napas pelan. "Bukan soal keberuntungan." "Lalu?" "Kau lebih hebat dari yang kau kira." Kimmy hanya tersenyum. Karena sampai sekarang ia masih belum bisa melihat dirinya seperti cara Hanif melihatnya. Mobil berhenti di depan rumah orang tua Kimmy. Malam sudah larut. Hanif menggenggam tangannya sebelum ia turun. "Besok aku jemput." Kimmy mengangguk. "Mama sudah mulai mengancamku." Hanif sedikit becanda mengenai ibunya. Kimmy tertawa. "Ancaman apa?" "Kalau aku tidak segera membawamu ke rumah, dia sendiri yang akan datang menjemput calon menantunya." Kimmy langsung tersenyum hangat. Ia juga sangat menyayangi ibu Hanif. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Semua orang yakin Hanif dan Kimmy adalah pasangan yang sempurna. Dan malam itu... Kimmy juga masih mempercayai hal yang sama. Bahwa hidupnya sedang berjalan menuju akhir bahagia. Bahwa Hanif adalah pria terbaik yang pernah ia kenal. Dan bahwa masa depan mereka akan seindah dongeng. Ia belum tahu bahwa malam ini bukan sekadar pesta biasa. Karena tanpa disadarinya, untuk pertama kalinya takdir mempertemukannya dengan Tristan Murai. Pria yang suatu hari nanti akan menghancurkan seluruh keyakinannya tentang cinta, kesetiaan, dan kehidupan yang selama ini ia anggap sempurna.Hanif, Kimmy, dan Tristan duduk di beranda sambil menyaksikan anak-anak yang sibuk bermain dengan kuda poni. Al juga sudah lama tidak bertemu Sofia, nampaknya mereka juga sudah sangat rindu hingga sepertinya belum mau berpisah ketika Hanif hendak mengajak putrinya untuk pulang. "Menginaplah, Bang, mereka sudah lama tidak bertemu biarkan lebih puas bermain dulu." Tristan juga menawarkan kamar tamu yang dekat dengan kamar putranya di lantai dua, karena Al juga merengek ingin tidur bersama bang Hanif. Dulu Kimmy memang sering membiarkan putranya menginap di tempat Bang Hanif jika dirinya sedang bepergian untuk pekerjaannya. Meski bukan darah dagingnya sendiri tapi Hanif tetap menyayangi Al seperti putranya dan bocah laki-laki itu juga sudah biasa bermanja-manja padanya sejak bayi. Bang Hanif akhirnya setuju untuk kembali ke hotelnya beso
Menjelang akhir musim semi udara malam terasa semakin hangat, bercinta bisa menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan karena mereka tidak perlu merasa khawatir bakal menggigil kedinginan meskipun tidur tanpa pakaian sampai pagi. Tristan sengaja membuka semua pintu balkon dan membiarkan udara malam ikut masuk menemani mereka berdua bergelung dalam gairah. Kimmy sudah terasa begitu lembut dan manis, menyambut dengan antusias setiap sentuhannya dengan begitu menyenangkan. Lenguhan rendahnya terlalu menggoda untuk di abaikan, Tristan tahu di mana wanita itu paling suka untuk di sentuh dan di manjakan. Tristan kembali menekan pinggul Kimmy yang sedikit terangkat karena sama-sama sedang tidak sabar ingin segera diselesaikan."Sabar, Sayang." Tristan baru saja hendak memasukinya ketika tiba-tiba Kimmy menjentikkan jari menyuruhnya untuk berhenti.
Sudah hampir tengah malam ketika hujan akhirnya reda, Kimmy dan Tristan sampai harus mengendap-ngendap masuk kerumah mereka sediri seperti pencuri yang takut tertangkap basah. Tristan membawa Kimmy melewati tangga putar dari samping menara ruang kerja kakeknya. Dari situ ada lorong sempit yang akan berujung pada pintu darurat dari kamarnya. Bahkan Kimmy sendiri tidak tahu jika ada pintu keluar lain dari kamar mereka. Karena jarang di lewati jadi lorongnya gelap tanpa penerangan dan agak berdebu. Belum apa-apa Kimmy sudah terbersin-bersin dan membuat Tristan menciumnya kemudian tertawa."Jangan berisik nanti kita ketahuan" seolah mereka berdua benar-benar remaja nakal yang sedang menyusup keluar dari kamar.Kimmy terbersin lagi dan Tristan menciumnya sekali lagi sebelum buru -buru menarik Kimmy melewati lorong.
"Siapa Arneta Seymour?" tanya Tristan pada Philippe yang baru duduk di depannya. "Maaf Tuan, apa maksud Anda?" Kelihatanya Phillippe langsung panik dengan pertanyaan mengejutkan tersebut, apa lagi dengan cara Tristan menatapnya kali ini. Mereka sedang berada di ruang kerja tuan Murai yang pastinya Tristan juga tidak sedang main-main sampai sengaja memanggilnya kemari. "Wanita yang dimakamkan tepat di sebelah kakekku." "Dia putri Sharlote," gugup Phillippe. "Apa hubungannya dengan kakekku?" Tristan tidak bodoh dan tahu jika kakeknya tidak akan menempatkan orang sembarangan di sebelahnya. Philippe merasa jika dirinya semak
Sudah lewat tengah hari ketika mereka semua tiba di Tuscany dan langsung menuju rumah keluarga Murai. Kedua orangtua Kimmy sepertinya juga nampak terkagum-kagum dengan keindahan perbukitan dan ladang-ladang anggur yang mereka lihat di sepanjang perjalanan tadi. Al juga tidak berhenti berceloteh sendiri sambil bernyanyi-nyanyi riang. Kimmy lega karena putranya tidak rewel, karena ini merupakan perjalanan jauh pertama baginya."Nanti akan kuajak berkeliling perkebunan dan gudang anggur," bisik Tristan pada putranya yang mengintip dari jendela.Tristan memiliki warisan perkebunan yang sangat luas dan sebuah rumah penghasil anggur ternama yang sekarang di kelola oleh beberapa teman kepercayaan kakeknya. Karena Tristan sendiri sudah tidak memiliki waktu untuk mengurus semua itu.Begitu mereka sampai para pengurus rumah berbaris menyambut mereka di halaman. Tristan memperkenalkan mereka satu-persatu karena sudah menganggap mereka semua layaknya keluarga. BibiSha
Hari masih pagi ketika keributan kembali terjadi. Philippe datang ke rumah Kimmy bersama seorang pria bersetelan rapi yang katanya petugas KUA. Baru kemarin Tristan membahas perkara pernikahan dan tentu saja Kimmy tidak menyangka Tristan serius dengan ucapannya tentang menyuruh Philippe."Tristan ini pernikahan kenapa kau tidak bicara dulu denganku?" protes Kimmy."Sepertinya aku sudah bicara padamu kemari."Kimmy langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ya, tapi..." tiba-tiba Kimmy jadi tidak bisa melanjutkan kata-katanya sangking keterlaluannya pria itu.Umumnya orang memang akan ribet jika membahas pernikahan tidak seperti Tristan Murai yang cuma hanya seperti sekedar membahas liburan di akhir pekan. Tapi masalahnya dari dul
Tristan sudah memperhatikan Kimmy sejak pertama kali gadis itu di bawa masuk ke dalam barnya dengan belahan gaun merah menggoda dan jemari yang tidak pernah lepas dari genggaman erat kekasihnya. Trist
Minggu pagi Kimmy buru-buru bangun karena sedang senang hatinya dan berniat untuk mengajak tristan jalan-jalan. Tapi saat dia turun ternyata Tristan malah masih belum kelihatan."Apa Tristan belum bangun, Bu?" tanya Kimmy menghampiri ibunya yang masih membuat sarapan pagi.Sang ibu ha
Kimmy langsung di ijinkan pulang karena memang dia sama sekali tidak mengalami cidera serius. Bang Hanif juga langsung balik ke Singapore sore harinya karena pekerjaanya juga sedang tidak bisa di wakilkan pada siappaun. Tiap kali memikirkan bang Hanif
Setelah selesai berpakaian Kimmy segara turun untuk sarapan. Ibunya sudah menunggu di meja makan menyiapkan mangkuk dan minuman hangat."Sudah, Bu. Aku bisa melakukannya sendiri," sepertinya hari ini dirinya sedikit di manja."Tidak apa-apa, ayo cepat kemari," panggil ibunya karena Kimmy masih berhent







