LOGINPagi hari di rumah keluarga Braja terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana hangat yang biasa dipaksakan muncul saat sarapan keluarga. Sejak pertukaran pasangan terjadi, rumah besar itu justru terasa seperti kumpulan orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama.
Bara keluar dari kamar lebih awal. Semalaman ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Selain masih memikirkan pesan misterius tentang keluarga Arthur, pikirannya juga terus kembali pada kejadian semalam saat Helend melihat wajah Anjani dan menyadari bahwa keluarganya selama ini menyimpan kebohongan besar. Saat melangkah melewati koridor lantai dua, langkah Bara perlahan terhenti. Tidak jauh di depannya berdiri Helend yang tampaknya juga baru keluar dari kamar. Wanita itu memegang secangkir teh hangat, namun terlihat tidak benar-benar menikmati minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang. Hubungan tiga tahun tidak mungkin menghilang begitu saja hanya karena satu keputusan keluarga. "Apa kabar?" tanya Helend dengan suara pelan sambil menundukkan pandangan. Bara tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar menunjukkan kebahagiaan. "Masih hidup," jawab Bara sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Jawaban itu membuat Helend tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin meminta maaf. Ia ingin menjelaskan banyak hal. Namun semua kata terasa sia-sia sekarang. "Aku tidak pernah menginginkan semua ini," ucap Helend akhirnya sambil menggenggam cangkirnya lebih erat. Bara memandang wanita yang pernah menjadi istrinya itu selama beberapa detik. "Aku tahu," jawab Bara dengan tenang. "Kau marah padaku?" tanya Helend dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bara menghela napas panjang sebelum menjawab. "Aku lebih kecewa pada keadaan daripada pada dirimu." Kalimat itu justru membuat hati Helend semakin sesak. Selama tiga tahun, Bara tidak pernah menjadi suami yang sempurna. Namun pria itu juga tidak pernah menyakitinya. Saat Helend hendak mengatakan sesuatu lagi, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Jodi muncul dengan pakaian rapi dan ekspresi yang langsung berubah saat melihat mereka berdua. "Aku sudah mencarimu ke mana-mana," ucap Jodi sambil mendekati Helend. Nada suaranya terdengar biasa, tetapi tatapan matanya jelas menunjukkan ketidaksenangan. Helend langsung menjaga jarak dari Bara. "Aku hanya lewat," jawab Helend pelan. Jodi melirik Bara lalu tersenyum sinis. "Lain kali lebih baik jangan terlalu dekat dengan istri orang." Bara tertawa kecil. Lucunya, pria yang merebut istrinya justru berbicara seolah dirinya korban. "Aku tidak punya minat mengambil milik orang lain," balas Bara sambil menatap Jodi lurus-lurus. Senyum Jodi langsung memudar. Sebelum suasana menjadi lebih buruk, Bara memilih pergi meninggalkan mereka. Menjelang siang, Bara sedang membantu seorang tukang kebun memperbaiki pagar belakang yang rusak. Meskipun statusnya kini berubah, kebiasaan bekerja dengan tangan sendiri masih sulit hilang. Saat itulah seorang pelayan datang berlari dengan napas memburu. "Tuan Bara, Tuan Braja meminta Anda ke ruang tamu utama sekarang juga." Bara mengangkat alis. "Untuk apa?" Pelayan itu menggeleng. "Saya tidak tahu. Tapi semua anggota keluarga sudah berkumpul." Perasaan aneh langsung muncul dalam diri Bara. Namun ia tetap mengikuti pelayan itu menuju ruang tamu utama. Begitu memasuki ruangan, langkahnya langsung melambat. Suasana di sana sangat berbeda. Tuan Braja duduk dengan wajah tegang. Beberapa kerabat keluarga terlihat saling berbisik. Bahkan Jodi yang biasanya selalu percaya diri tampak berkali-kali melirik ke arah seorang pria tua yang duduk di tengah ruangan. Pria itu mengenakan jas hitam yang sangat rapi. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, tetapi sorot matanya masih tajam dan penuh wibawa. Yang membuat Bara semakin bingung adalah kenyataan bahwa semua orang tampak menghormati pria tersebut. Begitu melihat Bara masuk, pria tua itu langsung berdiri. Tangannya terlihat sedikit bergetar. Matanya bahkan mulai memerah. Seolah ia baru saja menemukan seseorang yang sudah sangat lama hilang. "Tuan Bara..." ucap pria tua itu dengan suara serak. Bara mengernyit. "Kita saling kenal?" Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat sebelum melakukan sesuatu yang membuat seluruh ruangan membeku. Pria itu membungkukkan badan sangat dalam kepada Bara. Beberapa anggota keluarga sampai berdiri dari kursinya karena terkejut. Jodi bahkan terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Saya minta maaf," ucap pria tua itu dengan suara bergetar. Bara semakin bingung. "Maaf untuk apa?" "Saya minta maaf karena baru menemukan Anda setelah bertahun-tahun." Suasana ruang tamu berubah sunyi. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar jelas. Bara memandang pria tua itu beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. "Siapa Anda sebenarnya?" Pria tua itu menarik napas panjang lalu membuka tas kulit yang dibawanya. Dari dalam tas itu ia mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah mulai menguning di bagian tepinya. "Silakan lihat foto ini, Tuan Bara." Bara menerima foto tersebut dengan bingung. Namun begitu matanya melihat isi foto itu, tubuhnya langsung membeku. Di dalam foto terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang sedang digendong seorang pria dewasa berwajah tegas. Anak kecil itu sangat mirip dirinya. Tidak. Bukan mirip. Anak kecil itu memang dirinya. Bara langsung mengangkat kepala. "Foto ini dari mana?" tanya Bara dengan suara yang mulai berubah. Pria tua itu tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sebaliknya, matanya justru mulai berkaca-kaca. "Sudah dua puluh tahun kami mencari Anda." Kalimat itu membuat seluruh ruangan semakin tegang. Jodi yang sedari tadi diam akhirnya berdiri. "Apa sebenarnya maksud semua ini?" tanya Jodi dengan nada tidak sabar. Pria tua itu menoleh. Tatapan hangat yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Bara langsung berubah dingin. "Ini bukan urusan Anda." Wajah Jodi langsung memerah. Belum pernah ada yang berbicara kepadanya seperti itu di rumah keluarga Braja. Namun pria tua itu tidak peduli. Ia kembali membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah map hitam tebal. Map itu diserahkan kepada Bara. "Tuan Bara, ada sesuatu yang harus Anda ketahui." Jantung Bara mulai berdetak lebih cepat. Perlahan ia membuka map tersebut. Halaman pertama berisi logo sebuah grup perusahaan yang sangat terkenal. Begitu melihat logo itu, wajah Tuan Braja langsung memucat. Beberapa kerabat yang mengenali simbol tersebut juga ikut terdiam. Sementara Jodi tampak mengernyit kebingungan. Bara membalik halaman berikutnya. Lalu halaman berikutnya lagi. Sampai akhirnya matanya berhenti pada satu bagian. Saat membaca tulisan di sana, napasnya langsung tertahan. Matanya membesar. Tangannya sedikit bergetar. Karena tepat di bawah nama pemilik Grup Arthur tertulis sebuah kalimat yang tidak pernah ia bayangkan akan dibacanya. [AHLI WARIS TUNGGAL: BARA ARTHUR] Bersambung ya,Gengs. Dan sekali lagi jangan lupa sub dan review karena komentarnya masih sepi,Geng. Dan diharapkan juga kerelaannya yuntuk melemparkan gift. Agar Aurhorclevih semangat lagi dalam berkarya. Dan terus tumbuh serta memperbaiki di setiap karyanya. AamiinSeluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat
Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk
Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny
Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala."Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,
Udara di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu tipis setelah Roland melontarkan kalimat terakhirnya. Seluruh orang yang hadir saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, membawa beban keterkejutan yang teramat berat.Ketua Dewan, seorang pria sepuh yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani keluarga besar Arthur, tampak sangat pucat. Ia menggelengkan kepala perlahan sambil menopang tubuhnya di tepi meja kerja."Tidak mungkin..." gumam Ketua Dewan dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun aku mengabdi di sini, yang kumengerti hanya ada satu Ruang Warisan, yaitu tempat penyimpanan dokumen leluhur yang biasa dibuka saat pergantian kepala keluarga. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak pernah ada catatan tentang Ruang Warisan Kedua."Pengakuan itu semakin memperbesar kabut misteri yang menyelimuti silsilah keluarga Arthur.Bara tidak langsung bersuara. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah kunci perak kuno yang ia temukan sebelumnya di seb
Suasana di ruang utama mendadak berubah tegang. Seluruh anggota dewan keluarga Arthur masih terpaku, menatap Bara yang baru saja membaca surat misterius yang dibawa oleh kuasa hukum sang pemegang saham baru. Tidak ada satu pun yang mengetahui isi surat tersebut karena Bara dengan cepat melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya tanpa ragu.Seorang paman senior langsung maju dengan nada tidak sabar. "Bara, apa isi surat itu? Bacakan di depan seluruh dewan keluarga. Jangan bertindak sendiri!" desak sang paman.Bara menatapnya datar tanpa gentar. "Isinya bukan urusan dewan untuk saat ini," jawabnya dingin. Penolakan tegas itu kontan memancing bisik-bisik dan spekulasi liar di antara kerabat yang lain.Setelah situasi di ruang utama mulai mereda, Bara meminta Ketua Dewan, Roland, dan Anjani untuk masuk ke ruang kerja pribadinya. Pintu dikunci rapat guna memastikan kerahasiaan percakapan mereka.Di balik meja kerjanya, Bara mengeluarkan kembali surat tersebut. Di hadapan







