Share

Bab 6

Penulis: Chana Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-06-18 21:23:10

Ruang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu.

Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama.

Bara Arthur.

Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri.

Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan.

Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya.

"Bara," panggil Helend dengan suara pelan.

Bara menoleh.

Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu.

Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini.

"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend.

Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?"

Bara menghela napas pelan.

"Aku bahkan tidak tahu harus percaya atau tidak," jawab Bara sambil menggeleng tipis.

"Tapi foto itu asli," ucap Helend sambil mengingat foto yang diperlihatkan pria tua tadi.

"Ya," jawab Bara singkat.

"Kau mengenali dirimu," lanjut Helend dengan suara hati-hati.

"Ya," jawab Bara lagi sambil menatap lantai sesaat.

Helend menundukkan pandangan.

Entah kenapa dadanya terasa semakin berat.

Selama ini ia selalu percaya bahwa masa depan Bara tidak akan pernah lebih baik dari hari ini.

Bukan karena ia membenci Bara.

Melainkan karena semua orang di sekitarnya selalu mengatakan hal itu.

Kini untuk pertama kalinya ia mulai menyadari bahwa mungkin semua orang selama ini salah.

"Aku harap itu benar," ucap Helend pelan sambil menggenggam jemarinya sendiri.

Bara mengangkat alis.

"Kau berharap aku jadi kaya?" tanya Bara sambil tersenyum tipis.

Helend menggeleng cepat.

"Aku berharap semua penghinaan yang kau terima selama ini tidak sia-sia," jawab Helend dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Kalimat itu membuat Bara terdiam beberapa saat.

Namun sebelum ia sempat menjawab, suara langkah sepatu terdengar mendekat dari belakang.

Jodi.

Pria itu datang dengan senyum tipis yang langsung membuat suasana berubah. Tatapan matanya bergantian antara Bara dan Helend.

"Menarik sekali," ucap Jodi sambil tertawa kecil. "Baru beberapa menit dapat kabar jadi pewaris, sudah nostalgia dengan mantan istri."

Helend langsung mengernyit.

"Aku hanya bertanya kabarnya," balas Helend sambil menatap Jodi tidak suka.

"Tentu," jawab Jodi sambil mengangguk seolah mengerti.

Namun ekspresi wajahnya jelas menunjukkan hal sebaliknya.

Kemudian ia mendekat beberapa langkah ke arah Bara.

"Coba aku lihat," ucap Jodi sambil mengulurkan tangan.

Tanpa meminta izin, Jodi menarik map hitam dari tangan Bara lalu membolak-balik isinya.

Beberapa detik kemudian ia tertawa.

Tawa yang cukup keras hingga menarik perhatian beberapa anggota keluarga yang belum benar-benar pergi.

"Hanya ini?" tanya Jodi sambil mengangkat map itu.

Bara menatapnya dingin.

"Kembalikan," ucap Bara dengan nada datar.

"Tunggu dulu," balas Jodi sambil mengangkat map itu lebih tinggi.

"Hanya karena seorang pria tua datang membawa foto dan beberapa lembar kertas, kalian langsung percaya satpam ini pewaris keluarga Arthur?" ejek Jodi sambil menunjuk Bara.

Beberapa kerabat mulai saling pandang.

Tidak sedikit yang sebenarnya memiliki keraguan yang sama.

Jodi melihat itu.

Dan ia semakin percaya diri.

"Ayo berpikir masuk akal," ucap Jodi sambil tertawa kecil.

Jodi menunjuk Bara dari ujung kepala sampai kaki.

"Pria ini tiga tahun tinggal di rumah keluarga Braja," lanjut Jodi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tiga tahun."

"Setiap hari aku melihatnya."

Jodi tersenyum sinis.

"Mobil tidak punya."

"Rumah tidak punya."

"Jabatan tidak punya."

"Bahkan kalau hujan deras, mungkin motornya lebih berharga daripada isi rekeningnya," hina Jodi hingga beberapa kerabat terkekeh.

Beberapa kerabat tertawa kecil.

Helend langsung merasa tidak nyaman.

Namun Jodi belum selesai.

"Dan sekarang kalian ingin aku percaya kalau dia pewaris orang terkaya di negeri ini?" lanjut Jodi sambil membentangkan kedua tangannya.

Tawa kembali terdengar.

Bara tetap diam.

Namun rahangnya mulai mengeras.

Ia tidak marah karena dihina.

Ia sudah terlalu sering dihina.

Yang membuatnya kesal adalah karena Jodi merasa bisa melakukan apa saja tanpa konsekuensi.

"Tahu apa yang paling lucu?" lanjut Jodi sambil melangkah semakin dekat hingga hanya berjarak satu meter dari Bara.

Pria itu menatap Bara dari atas ke bawah.

"Orang miskin biasanya paling mudah bermimpi," ucap Jodi dengan senyum meremehkan.

Tatapan Jodi jatuh ke map hitam itu.

"Karena mereka tidak punya apa-apa selain khayalan," sambung Jodi sambil menepuk-nepuk map tersebut.

Helend langsung berdiri.

"Jodi, cukup," tegur Helend dengan nada kesal.

Namun Jodi tidak memedulikannya.

Ia masih menatap Bara.

"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan terlalu berharap," ucap Jodi sambil menyeringai.

Bara akhirnya tersenyum tipis.

Senyum yang justru membuat Jodi tidak nyaman.

"Aku tidak berharap apa-apa," jawab Bara tenang.

"Oh ya?" tanya Jodi sambil menaikkan alis.

Jodi menyeringai.

"Lalu kenapa kau terlihat begitu serius membaca map itu?" sindir Jodi.

Bara mengambil kembali map dari tangannya.

"Karena aku sedang membaca," jawab Bara datar sambil menyelipkan map itu ke bawah lengannya.

Jawaban sederhana itu justru membuat beberapa orang menahan tawa.

Wajah Jodi sedikit berubah.

Namun ia segera memulihkan ekspresinya.

"Kalau begitu mari kita buat sesuatu yang lebih menarik," ucap Jodi sambil menoleh kepada seluruh keluarga Braja.

Ruangan mendadak kembali sunyi.

Nada suara Jodi berubah.

Tatapannya menyapu seluruh keluarga Braja.

"Lagipula kita semua penasaran, bukan?" tanya Jodi sambil tersenyum.

Tuan Braja mengernyit.

"Maksudmu apa?" tanya Tuan Braja dengan nada hati-hati.

Jodi tersenyum.

"Kita buat pertaruhan," jawab Jodi mantap.

Helend langsung merasakan firasat buruk.

Sementara Bara hanya memandang tanpa bicara.

"Kalau dalam tujuh hari tidak ada bukti kuat bahwa Bara benar-benar pewaris Arthur..." ucap Jodi sambil sengaja menghentikan kalimatnya.

Jodi berhenti sejenak.

Sengaja membangun suasana.

"...maka Bara harus pergi dari rumah ini," lanjut Jodi dengan suara lantang.

Semua orang langsung saling pandang.

Jodi melanjutkan dengan santai.

"Keluar dari keluarga Braja."

"Keluar dari perusahaan keluarga."

"Dan tidak boleh lagi ikut campur dalam urusan keluarga ini."

Tatapannya menyipit.

"Termasuk mendekati Helend juga Anjani," tambah Jodi sambil melirik Bara.

Wajah Helend langsung berubah.

"Itu keterlaluan," protes Helend dengan nada tidak percaya.

Namun Jodi hanya mengangkat bahu.

"Kalau dia memang pewaris Arthur, dia tidak perlu takut," balas Jodi santai.

Lalu pria itu menoleh kepada Bara.

"Nah, bagaimana?" tanya Jodi sambil menyilangkan tangan di dada.

Suasana terasa menekan.

Semua orang menunggu jawaban Bara.

Namun sebelum Bara sempat membuka mulut, sebuah suara lain terdengar dari arah tangga.

"Kalau begitu pertaruhannya harus adil," ucap Anjani dari arah tangga.

Semua kepala menoleh bersamaan.

Anjani sedang berdiri di sana.

Wanita bercadar itu turun perlahan hingga mencapai ruang tamu. Tatapan matanya lurus kepada Jodi.

Jodi tampak tidak menyukai kemunculan mantan istrinya itu.

"Apa maksudmu?" tanya Jodi sambil mengernyit.

Anjani berhenti di samping Bara.

Untuk pertama kalinya sejak pertukaran pasangan terjadi, ia berdiri tepat di sisi suaminya di depan semua orang.

"Kalau Bara ternyata bukan pewaris Arthur, dia pergi?” ucap Anjani dengan tenang.

Anjani mengangguk pelan.

"Itu yang kau mau, kan?" tanya Anjani sambil menatap Jodi.

"Benar," jawab Jodi tanpa ragu.

Anjani menatap lurus ke mata Jodi.

"Lalu kalau Bara memang pewaris Arthur...?" ucap Anjani perlahan.

Suasana mendadak semakin sunyi.

"...apa yang akan kau pertaruhkan?" tanya Anjani dengan suara tegas.

Senyum Jodi perlahan memudar.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak langsung memiliki jawaban. Ada sorot mata ketir dan gentar di matanya.

Sementara Bara menoleh ke samping.

Memandang wanita bercadar yang berdiri di sisinya.

Entah kenapa, Bara merasa tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.

Dan perasaan itu terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman Jodi.

Karena tanpa sadar, keberadaan Anjani mulai berarti lebih dari yang seharusnya.

Bersambung,ya,Cuy.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BERTUKAR RANJANG   36. PERMAINAN. TIGA LANGKAH

    Seluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.​Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.​Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"​Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.​Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 35

    Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.​Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.​Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.​Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 34

    Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.​Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.​Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.​Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 33

    Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.​Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala.​"Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."​Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.​Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,

  • BERTUKAR RANJANG   32. RUANG WARISAN KEDUA

    Udara di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu tipis setelah Roland melontarkan kalimat terakhirnya. Seluruh orang yang hadir saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, membawa beban keterkejutan yang teramat berat.​Ketua Dewan, seorang pria sepuh yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani keluarga besar Arthur, tampak sangat pucat. Ia menggelengkan kepala perlahan sambil menopang tubuhnya di tepi meja kerja.​"Tidak mungkin..." gumam Ketua Dewan dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun aku mengabdi di sini, yang kumengerti hanya ada satu Ruang Warisan, yaitu tempat penyimpanan dokumen leluhur yang biasa dibuka saat pergantian kepala keluarga. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak pernah ada catatan tentang Ruang Warisan Kedua."​Pengakuan itu semakin memperbesar kabut misteri yang menyelimuti silsilah keluarga Arthur.​Bara tidak langsung bersuara. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah kunci perak kuno yang ia temukan sebelumnya di seb

  • BERTUKAR RANJANG   31. TANDATANGAN ORANG YANG MATI

    Suasana di ruang utama mendadak berubah tegang. Seluruh anggota dewan keluarga Arthur masih terpaku, menatap Bara yang baru saja membaca surat misterius yang dibawa oleh kuasa hukum sang pemegang saham baru. Tidak ada satu pun yang mengetahui isi surat tersebut karena Bara dengan cepat melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya tanpa ragu.​Seorang paman senior langsung maju dengan nada tidak sabar. "Bara, apa isi surat itu? Bacakan di depan seluruh dewan keluarga. Jangan bertindak sendiri!" desak sang paman.​Bara menatapnya datar tanpa gentar. "Isinya bukan urusan dewan untuk saat ini," jawabnya dingin. Penolakan tegas itu kontan memancing bisik-bisik dan spekulasi liar di antara kerabat yang lain.​Setelah situasi di ruang utama mulai mereda, Bara meminta Ketua Dewan, Roland, dan Anjani untuk masuk ke ruang kerja pribadinya. Pintu dikunci rapat guna memastikan kerahasiaan percakapan mereka.​Di balik meja kerjanya, Bara mengeluarkan kembali surat tersebut. Di hadapan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status