LOGINRuang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu.
Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama. Bara Arthur. Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri. Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya. "Bara," panggil Helend dengan suara pelan. Bara menoleh. Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini. "Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend. Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?" Bara menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak tahu harus percaya atau tidak," jawab Bara sambil menggeleng tipis. "Tapi foto itu asli," ucap Helend sambil mengingat foto yang diperlihatkan pria tua tadi. "Ya," jawab Bara singkat. "Kau mengenali dirimu," lanjut Helend dengan suara hati-hati. "Ya," jawab Bara lagi sambil menatap lantai sesaat. Helend menundukkan pandangan. Entah kenapa dadanya terasa semakin berat. Selama ini ia selalu percaya bahwa masa depan Bara tidak akan pernah lebih baik dari hari ini. Bukan karena ia membenci Bara. Melainkan karena semua orang di sekitarnya selalu mengatakan hal itu. Kini untuk pertama kalinya ia mulai menyadari bahwa mungkin semua orang selama ini salah. "Aku harap itu benar," ucap Helend pelan sambil menggenggam jemarinya sendiri. Bara mengangkat alis. "Kau berharap aku jadi kaya?" tanya Bara sambil tersenyum tipis. Helend menggeleng cepat. "Aku berharap semua penghinaan yang kau terima selama ini tidak sia-sia," jawab Helend dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kalimat itu membuat Bara terdiam beberapa saat. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara langkah sepatu terdengar mendekat dari belakang. Jodi. Pria itu datang dengan senyum tipis yang langsung membuat suasana berubah. Tatapan matanya bergantian antara Bara dan Helend. "Menarik sekali," ucap Jodi sambil tertawa kecil. "Baru beberapa menit dapat kabar jadi pewaris, sudah nostalgia dengan mantan istri." Helend langsung mengernyit. "Aku hanya bertanya kabarnya," balas Helend sambil menatap Jodi tidak suka. "Tentu," jawab Jodi sambil mengangguk seolah mengerti. Namun ekspresi wajahnya jelas menunjukkan hal sebaliknya. Kemudian ia mendekat beberapa langkah ke arah Bara. "Coba aku lihat," ucap Jodi sambil mengulurkan tangan. Tanpa meminta izin, Jodi menarik map hitam dari tangan Bara lalu membolak-balik isinya. Beberapa detik kemudian ia tertawa. Tawa yang cukup keras hingga menarik perhatian beberapa anggota keluarga yang belum benar-benar pergi. "Hanya ini?" tanya Jodi sambil mengangkat map itu. Bara menatapnya dingin. "Kembalikan," ucap Bara dengan nada datar. "Tunggu dulu," balas Jodi sambil mengangkat map itu lebih tinggi. "Hanya karena seorang pria tua datang membawa foto dan beberapa lembar kertas, kalian langsung percaya satpam ini pewaris keluarga Arthur?" ejek Jodi sambil menunjuk Bara. Beberapa kerabat mulai saling pandang. Tidak sedikit yang sebenarnya memiliki keraguan yang sama. Jodi melihat itu. Dan ia semakin percaya diri. "Ayo berpikir masuk akal," ucap Jodi sambil tertawa kecil. Jodi menunjuk Bara dari ujung kepala sampai kaki. "Pria ini tiga tahun tinggal di rumah keluarga Braja," lanjut Jodi sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tiga tahun." "Setiap hari aku melihatnya." Jodi tersenyum sinis. "Mobil tidak punya." "Rumah tidak punya." "Jabatan tidak punya." "Bahkan kalau hujan deras, mungkin motornya lebih berharga daripada isi rekeningnya," hina Jodi hingga beberapa kerabat terkekeh. Beberapa kerabat tertawa kecil. Helend langsung merasa tidak nyaman. Namun Jodi belum selesai. "Dan sekarang kalian ingin aku percaya kalau dia pewaris orang terkaya di negeri ini?" lanjut Jodi sambil membentangkan kedua tangannya. Tawa kembali terdengar. Bara tetap diam. Namun rahangnya mulai mengeras. Ia tidak marah karena dihina. Ia sudah terlalu sering dihina. Yang membuatnya kesal adalah karena Jodi merasa bisa melakukan apa saja tanpa konsekuensi. "Tahu apa yang paling lucu?" lanjut Jodi sambil melangkah semakin dekat hingga hanya berjarak satu meter dari Bara. Pria itu menatap Bara dari atas ke bawah. "Orang miskin biasanya paling mudah bermimpi," ucap Jodi dengan senyum meremehkan. Tatapan Jodi jatuh ke map hitam itu. "Karena mereka tidak punya apa-apa selain khayalan," sambung Jodi sambil menepuk-nepuk map tersebut. Helend langsung berdiri. "Jodi, cukup," tegur Helend dengan nada kesal. Namun Jodi tidak memedulikannya. Ia masih menatap Bara. "Kalau aku jadi kau, aku tidak akan terlalu berharap," ucap Jodi sambil menyeringai. Bara akhirnya tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat Jodi tidak nyaman. "Aku tidak berharap apa-apa," jawab Bara tenang. "Oh ya?" tanya Jodi sambil menaikkan alis. Jodi menyeringai. "Lalu kenapa kau terlihat begitu serius membaca map itu?" sindir Jodi. Bara mengambil kembali map dari tangannya. "Karena aku sedang membaca," jawab Bara datar sambil menyelipkan map itu ke bawah lengannya. Jawaban sederhana itu justru membuat beberapa orang menahan tawa. Wajah Jodi sedikit berubah. Namun ia segera memulihkan ekspresinya. "Kalau begitu mari kita buat sesuatu yang lebih menarik," ucap Jodi sambil menoleh kepada seluruh keluarga Braja. Ruangan mendadak kembali sunyi. Nada suara Jodi berubah. Tatapannya menyapu seluruh keluarga Braja. "Lagipula kita semua penasaran, bukan?" tanya Jodi sambil tersenyum. Tuan Braja mengernyit. "Maksudmu apa?" tanya Tuan Braja dengan nada hati-hati. Jodi tersenyum. "Kita buat pertaruhan," jawab Jodi mantap. Helend langsung merasakan firasat buruk. Sementara Bara hanya memandang tanpa bicara. "Kalau dalam tujuh hari tidak ada bukti kuat bahwa Bara benar-benar pewaris Arthur..." ucap Jodi sambil sengaja menghentikan kalimatnya. Jodi berhenti sejenak. Sengaja membangun suasana. "...maka Bara harus pergi dari rumah ini," lanjut Jodi dengan suara lantang. Semua orang langsung saling pandang. Jodi melanjutkan dengan santai. "Keluar dari keluarga Braja." "Keluar dari perusahaan keluarga." "Dan tidak boleh lagi ikut campur dalam urusan keluarga ini." Tatapannya menyipit. "Termasuk mendekati Helend juga Anjani," tambah Jodi sambil melirik Bara. Wajah Helend langsung berubah. "Itu keterlaluan," protes Helend dengan nada tidak percaya. Namun Jodi hanya mengangkat bahu. "Kalau dia memang pewaris Arthur, dia tidak perlu takut," balas Jodi santai. Lalu pria itu menoleh kepada Bara. "Nah, bagaimana?" tanya Jodi sambil menyilangkan tangan di dada. Suasana terasa menekan. Semua orang menunggu jawaban Bara. Namun sebelum Bara sempat membuka mulut, sebuah suara lain terdengar dari arah tangga. "Kalau begitu pertaruhannya harus adil," ucap Anjani dari arah tangga. Semua kepala menoleh bersamaan. Anjani sedang berdiri di sana. Wanita bercadar itu turun perlahan hingga mencapai ruang tamu. Tatapan matanya lurus kepada Jodi. Jodi tampak tidak menyukai kemunculan mantan istrinya itu. "Apa maksudmu?" tanya Jodi sambil mengernyit. Anjani berhenti di samping Bara. Untuk pertama kalinya sejak pertukaran pasangan terjadi, ia berdiri tepat di sisi suaminya di depan semua orang. "Kalau Bara ternyata bukan pewaris Arthur, dia pergi?” ucap Anjani dengan tenang. Anjani mengangguk pelan. "Itu yang kau mau, kan?" tanya Anjani sambil menatap Jodi. "Benar," jawab Jodi tanpa ragu. Anjani menatap lurus ke mata Jodi. "Lalu kalau Bara memang pewaris Arthur...?" ucap Anjani perlahan. Suasana mendadak semakin sunyi. "...apa yang akan kau pertaruhkan?" tanya Anjani dengan suara tegas. Senyum Jodi perlahan memudar. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak langsung memiliki jawaban. Ada sorot mata ketir dan gentar di matanya. Sementara Bara menoleh ke samping. Memandang wanita bercadar yang berdiri di sisinya. Entah kenapa, Bara merasa tidak sedang menghadapi semuanya sendirian. Dan perasaan itu terasa jauh lebih mengganggu daripada ancaman Jodi. Karena tanpa sadar, keberadaan Anjani mulai berarti lebih dari yang seharusnya. Bersambung,ya,Cuy.Bara memutar gelang perak di telapak tangannya. Logam dingin itu terasa berat, seolah menyerap seluruh keraguan yang sempat bertahta di kepalanya. Ia menarik napas dalam, meresapi aroma tanah basah di halaman rumah yang selama ini menjadi penjaranya."Saya akan ikut," ucap Bara. Suaranya rendah, namun tiap katanya mendarat dengan telak di udara yang sunyi. "Bukan karena harta. Saya hanya ingin tahu siapa diri saya yang sebenarnya."Jodi yang berdiri tak jauh dari sana mematung. Warna wajahnya luntur seketika, menyisakan rona pucat pasi. Tangannya yang terkepal di samping tubuh mulai bergetar hebat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya tercekat seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana.Di sisi lain, Helena terhuyung mundur. Ia harus mencengkeram tiang teras dengan jemari yang memutih demi menjaga keseimbangan. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya memburu tak beraturan.Roland tidak membuang waktu. Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Di belakangnya, barisan pria
Keheningan di halaman depan kediaman keluarga Braja terasa mencekik. Tidak ada yang berani berkedip. Bahkan embusan angin seolah enggan melintasi area itu. Rombongan pria berjas hitam itu masih membungkuk dengan sempurna, menunggu sebuah izin yang tak kunjung datang.Bara merasa dadanya sesak. Ketegangan ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia alami selama hidupnya sebagai orang biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia memberanikan diri untuk bersuara."Pak, berdirilah. Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi," ucap Bara dengan suara parau dan nada yang tetap rendah hati. Matanya menatap Roland dengan penuh kebingungan.Pria paruh baya itu akhirnya menegakkan tubuh. Wajahnya yang tegar menunjukkan garis-garis kedewasaan dan wibawa yang luar biasa. Ia menatap Bara dengan sorot mata yang penuh penghormatan."Perkenalkan, Tuan Muda. Saya Roland Arthur, kepala pengurus keluarga Arthur," ucap Roland dengan nada tenang namun memiliki daya tekan yang kuat. Postur t
Suasana di halaman depan kediaman keluarga Braja mendadak membeku. Debu halus menari di udara saat deretan sedan mewah hitam berhenti dengan presisi sempurna.Pintu-pintu mobil terbuka serempak. Para pria berjas rapi melangkah keluar dengan ekspresi sedingin es, menciptakan aura intimidasi yang menyergap siapa pun di sana.Jodi, yang sedetik lalu masih meluapkan amarah, seketika membatu. Wajahnya yang memerah padam kini berubah pucat pasi. Ia mengenali lambang itu. Naga emas yang terukir di bros jas pria yang memimpin rombongan tersebut adalah simbol keluarga Arthur, raksasa bisnis internasional yang pengaruhnya melintasi batas negara.Tanpa memedulikan sekitarnya, Jodi melangkah maju dengan terburu-buru. Ia merapikan jasnya, memaksakan senyum paling ramah, dan bersiap menyambut sang tamu dengan sikap paling hormat."Selamat datang! Sebuah kehormatan bagi keluarga Braja atas kunjungan Anda," ucap Jodi lantang sambil mengulurkan tangan.Namun, pria itu tidak menoleh sedikit pun. S
Suasana ruang tamu belum benar-benar pulih setelah pertanyaan Anjani dilontarkan."...apa yang akan kau pertaruhkan?"Kalimat itu masih menggantung di udara.Jodi yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal justru terdiam beberapa detik.Beberapa detik yang terasa panjang.Rahangnya bergerak pelan.Matanya menyipit ke arah Anjani.Lalu ke arah Bara.Seolah-olah ia sedang berusaha memahami kenapa wanita yang selama ini selalu diam tiba-tiba berani berdiri di hadapannya."Kenapa?" tanya Jodi akhirnya sambil tertawa kecil. "Kau takut suami barumu kalah?"Nada suaranya santai.Tapi ada sesuatu yang keras di balik senyum itu.Anjani tidak menunduk seperti biasanya.Ia tetap menatap Jodi."Aku hanya tidak suka melihat orang yang terlalu yakin sebelum menang," jawab Anjani dengan tenang.Beberapa kerabat saling pandang.Jodi langsung tersenyum tipis.Senyum yang tidak sampai ke matanya."Menarik."Ia mengangguk pelan."Lima tahun menikah denganku, baru sekarang kau berani bicara sepe
Ruang tamu keluarga Braja masih dipenuhi suasana yang tidak biasa meski pertemuan itu telah berakhir beberapa menit lalu. Orang-orang memang mulai berdiri dari kursinya. Namun bisikan mereka justru semakin ramai. Semua membicarakan hal yang sama. Bara Arthur. Nama yang bahkan terdengar asing bagi Bara sendiri. Bara berjalan keluar dari ruangan dengan map hitam masih berada di tangannya. Kepalanya terasa penuh. Terlalu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Namun sebelum ia sempat mencapai tangga menuju lantai dua, sebuah suara menghentikannya. "Bara," panggil Helend dengan suara pelan. Bara menoleh. Helend berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wanita itu terlihat ragu-ragu. Sejak pertukaran pasangan terjadi, mereka hampir tidak pernah berbicara berdua seperti ini. "Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Bara sambil menatap Helend. Helend menatap map hitam di tangan Bara sebelum akhirnya bertanya, "Semua itu... benar?" Bara menghela napas pelan. "Aku bahkan tidak t
Pagi hari di rumah keluarga Braja terasa berbeda. Tidak ada lagi suasana hangat yang biasa dipaksakan muncul saat sarapan keluarga. Sejak pertukaran pasangan terjadi, rumah besar itu justru terasa seperti kumpulan orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama. Bara keluar dari kamar lebih awal. Semalaman ia tidak benar-benar tidur nyenyak. Selain masih memikirkan pesan misterius tentang keluarga Arthur, pikirannya juga terus kembali pada kejadian semalam saat Helend melihat wajah Anjani dan menyadari bahwa keluarganya selama ini menyimpan kebohongan besar. Saat melangkah melewati koridor lantai dua, langkah Bara perlahan terhenti. Tidak jauh di depannya berdiri Helend yang tampaknya juga baru keluar dari kamar. Wanita itu memegang secangkir teh hangat, namun terlihat tidak benar-benar menikmati minumannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling memandang. Hubungan tiga tahun tidak mungkin menghilang begitu saja hanya karena satu keputusan keluarga. "Apa kabar?" tanya Helend de







