MasukJadi selama ini Ayah berbohong kepada kita semua?"
Suara Helend bergetar. Ruangan langsung sunyi. Anjani masih berdiri di tempatnya. Sementara Bara duduk di sofa sambil memperhatikan dua saudari itu. Untuk pertama kalinya sejak berada di keluarga Braja, Bara melihat seseorang berani mempertanyakan Tuan Braja secara langsung. Dan orang itu adalah Helend. Anjani perlahan memalingkan wajah. "Kau sebaiknya tidak bertanya lebih jauh," ucap Anjani dengan suara pelan. "Tidak!" sahut Helend sambil menggeleng kuat. Air mata masih terlihat di sudut matanya. "Aku berhak tahu." Anjani menutup mata sesaat. "Aku tidak ingin membahasnya." "Kenapa?" tanya Helend sambil melangkah mendekat. Karena emosi yang selama ini tertahan akhirnya meledak. "Karena aku ini adikmu?" lanjut Helend. "Karena aku juga anak keluarga Braja?" "Atau karena selama ini aku juga termasuk orang yang percaya kebohongan itu?" Anjani menggigit bibirnya. Bara bisa melihat wanita itu sedang berusaha keras menahan sesuatu. Namun luka yang tersimpan terlalu lama tidak mungkin disembunyikan selamanya. Helend kembali melangkah maju. "Kak..." Kali ini suaranya jauh lebih lembut. "Katakan padaku." Tatapan Anjani perlahan turun. Lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia membuka suara. "Waktu aku berumur lima belas tahun..." ucap Anjani dengan nada pelan. Helend langsung terdiam. Bahkan Bara ikut memasang telinga. "Waktu itu Ayah mulai melarangku keluar rumah." Helend mengernyit. "Apa?" "Aku tidak boleh ikut acara keluarga." "Aku tidak boleh ikut pesta." "Aku tidak boleh ikut kegiatan sekolah yang melibatkan banyak orang." Helend tampak bingung. "Kenapa?" Anjani tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar menyakitkan. "Aku juga pernah bertanya hal yang sama." Ruangan kembali sunyi. Anjani lalu berjalan menuju jendela. Tatapannya menembus gelap malam di luar sana. "Awalnya aku pikir Ayah sedang melindungiku." "Lalu?" tanya Helend pelan. "Lalu aku sadar Ayah sedang menyembunyikanku." Helend langsung membeku. Sementara Bara merasakan bulu kuduknya meremang. "Kakak..." bisik Helend. "Ayah bilang aku terlalu mencolok." Anjani tersenyum pahit. "Katanya itu demi kebaikan keluarga." "Katanya aku harus belajar hidup sederhana." "Katanya aku harus menutupi wajahku." Helend menggeleng pelan. "Aku tidak mengerti." "Aku juga tidak mengerti sampai hari ini," jawab Anjani sambil menatap adiknya. Tatapan kedua wanita itu bertemu. Dan Helend akhirnya menyadari satu hal. Selama bertahun-tahun kakaknya hidup sendirian. Menanggung sesuatu yang bahkan tidak pernah diketahui orang lain. Bahkan keluarganya sendiri. "Ayah tidak mungkin melakukan itu tanpa alasan," ucap Helend lirih. Anjani tidak menjawab. Karena sebenarnya ia juga ingin mengetahui alasan itu. Namun hingga hari ini, Tuan Braja tidak pernah memberi penjelasan. Tok! Tok! Tok! Ketukan keras tiba-tiba terdengar dari luar. Ketiganya langsung menoleh. Pintu terbuka. Seorang pelayan masuk dengan wajah gugup. "Nona Anjani... Nona Helend..." "Ada apa?" tanya Helend. Pelayan itu menelan ludah. "Tuan Braja meminta semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga." Helend mengusap air matanya. "Kami akan turun." Pelayan itu mengangguk lalu pergi. Tak lama kemudian mereka bertiga berjalan menuju lantai bawah. Begitu memasuki ruang keluarga, suasana langsung terasa tidak nyaman. Tuan Braja duduk di kursi utamanya. Jodi duduk di sampingnya dengan wajah santai. Melihat Bara datang bersama Anjani, senyum sinis langsung muncul di bibir Jodi. "Wah..." ucap Jodi sambil menyandarkan tubuhnya. "Ternyata pasangan baru ini sudah mulai akrab." Bara mengabaikannya. Namun Jodi tampaknya belum puas. "Malam pertama kalian menyenangkan?" Helend langsung menatap Jodi. Tatapannya tidak senang. Sementara Bara tetap tenang. "Setidaknya lebih tenang daripada hidup bersama orang yang suka meludahi orang lain," jawab Bara sambil menarik kursi. Senyum Jodi langsung menghilang. "Apa kau ingin dipukul lagi?" tanya Jodi sambil berdiri. Bara ikut berdiri. Tatapannya dingin. "Kau boleh coba." Suasana mendadak menegang. "CUKUP!" Bentakan Tuan Braja membuat seluruh ruangan seketika langsung terdiam. Jodi kembali duduk. Begitu pula Bara. Tuan Braja melihat satuvpersatu orang di ruangan itu termasuk kedua putrinya Helend dan Anjani.kemudian ia memijat pelipisnya. "Malam ini aku tidak ingin melihat pertengkaran lagi."ucap Tuan Braja. "Lalu kenapa kami dipanggil?" tanya Bara. Tuan Braja menatap semua orang secara bergantian. "Aku ingin semua orang menerima keputusan keluarga."jelas Tuan Braja nampak sedikit melunak. Bara tertawa kecil. Tawa itu membuat beberapa orang tidak nyaman. "Menerima?" tanya Bara. "Keputusan yang dibuat tanpa meminta pendapat siapa pun?" Wajah Tuan Braja langsung mengeras. "Bara, jaga bicaramu." "Kenapa?" balas Bara sambil menatap lurus. "Karena saya miskin?" Ruangan langsung sunyi. Tuan Braja tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjelaskan banyak hal. Bara tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Helend, ia tidak lagi merasa perlu menyenangkan keluarga ini. Karena ia sudah kehilangan semuanya. Helend yang duduk tidak jauh dari sana diam-diam memperhatikan Bara. Ada sesuatu yang berbeda. Biasanya Bara selalu mengalah. Biasanya Bara selalu diam. Namun malam ini tidak. Dan entah kenapa, Helend justru merasa lebih nyaman melihat Bara seperti sekarang. Sementara itu Jodi terlihat semakin kesal. Pria itu menoleh ke arah Helend. "Lain kali jangan biarkan mantan suamimu berbicara sembarangan." Kalimat itu membuat Helend mengernyit. "Aku tidak bisa mengatur apa yang dia katakan." Jodi langsung menatap Helend. Tatapan tajam. Tatapan yang membuat Helend tidak nyaman. "Kau sekarang istriku." Suasana kembali hening. Untuk pertama kalinya sejak pertukaran itu terjadi, Helend merasakan sesuatu yang aneh. Nada bicara Jodi terdengar seperti perintah. Bukan pasangan. Bukan suami. Melainkan seseorang yang ingin menguasai. Helend perlahan menundukkan kepala. Namun dalam hatinya muncul perbandingan yang tidak bisa dicegah. Selama tiga tahun bersama Bara... Pria itu tidak pernah berbicara seperti itu padanya. Tidak pernah. Malam semakin larut. Pertemuan akhirnya selesai. Satu per satu anggota keluarga mulai meninggalkan ruang keluarga. Namun sebelum pergi, Helend tanpa sadar menoleh ke arah Bara. Pria itu sedang berjalan berdampingan dengan Anjani. Tidak ada kemesraan. Tidak ada sentuhan. Namun keduanya terlihat jauh lebih tenang daripada dirinya. Helend merasakan sesuatu menusuk dadanya. Perasaan yang tidak ia sukai. Perasaan yang bahkan tidak ingin ia akui. Sementara di lantai atas, setelah kembali ke kamar, Helend duduk sendirian di tepi ranjang. Jodi belum masuk. Wanita itu mengambil ponselnya untuk mengalihkan pikiran. Ia membuka galeri foto. Lalu tanpa sengaja menemukan sebuah foto lama. Foto saat dirinya dan Bara makan bakso di pinggir jalan setelah kehujanan. Foto sederhana. Bahkan terlihat konyol. Namun entah kenapa... Helend terus menatap foto itu. Semakin lama. Semakin lama. Dadanya semakin terasa sesak. Dan untuk pertama kalinya sejak pertukaran itu terjadi... Helend mulai merindukan Bara. Bersambung...Seluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat
Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk
Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny
Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala."Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,
Udara di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu tipis setelah Roland melontarkan kalimat terakhirnya. Seluruh orang yang hadir saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, membawa beban keterkejutan yang teramat berat.Ketua Dewan, seorang pria sepuh yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani keluarga besar Arthur, tampak sangat pucat. Ia menggelengkan kepala perlahan sambil menopang tubuhnya di tepi meja kerja."Tidak mungkin..." gumam Ketua Dewan dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun aku mengabdi di sini, yang kumengerti hanya ada satu Ruang Warisan, yaitu tempat penyimpanan dokumen leluhur yang biasa dibuka saat pergantian kepala keluarga. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak pernah ada catatan tentang Ruang Warisan Kedua."Pengakuan itu semakin memperbesar kabut misteri yang menyelimuti silsilah keluarga Arthur.Bara tidak langsung bersuara. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah kunci perak kuno yang ia temukan sebelumnya di seb
Suasana di ruang utama mendadak berubah tegang. Seluruh anggota dewan keluarga Arthur masih terpaku, menatap Bara yang baru saja membaca surat misterius yang dibawa oleh kuasa hukum sang pemegang saham baru. Tidak ada satu pun yang mengetahui isi surat tersebut karena Bara dengan cepat melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya tanpa ragu.Seorang paman senior langsung maju dengan nada tidak sabar. "Bara, apa isi surat itu? Bacakan di depan seluruh dewan keluarga. Jangan bertindak sendiri!" desak sang paman.Bara menatapnya datar tanpa gentar. "Isinya bukan urusan dewan untuk saat ini," jawabnya dingin. Penolakan tegas itu kontan memancing bisik-bisik dan spekulasi liar di antara kerabat yang lain.Setelah situasi di ruang utama mulai mereda, Bara meminta Ketua Dewan, Roland, dan Anjani untuk masuk ke ruang kerja pribadinya. Pintu dikunci rapat guna memastikan kerahasiaan percakapan mereka.Di balik meja kerjanya, Bara mengeluarkan kembali surat tersebut. Di hadapan







