로그인Hutan di hadapan kami kembali sunyi bahkan terlalu sunyi.Sosok-sosok bertopeng itu sudah menghilang di antara pepohonan, tetapi keberadaan mereka masih terasa seperti bayangan yang menggantung di udara.Rowan berdiri di sampingku dengan pedang terhunus.Aku masih menggenggam tangannya. "Jangan kejar mereka," ulang ku.Rowan menatap hutan. "Aku tahu.""Kau kelihatan seperti ingin mengejar mereka.""Aku memang ingin mengejar mereka."Aku menghela napas. "Rowan..."Ia akhirnya menoleh kepadaku. "Aku tidak akan mengejar mereka.""Benarkah?"Ia menyarungkan pedangnya. "Karena untuk pertama kalinya, aku setuju denganmu."Aku mengangkat alis. "Catat tanggalnya."Rowan hampir tersenyum.Namun, suara tangisan dari belakang membuat kami kembali serius.Anak kecil yang tadi kutolong masih berada dalam pelukanku. Aku menunduk. "Dia harus segera mendapat pertolongan."Rowan mengangguk. "Alden!""Ya, Tuan.""Bawa semua warga yang terluka ke aula desa. Gunakan bangunan yang masih utuh sebagai tempa
Kami baru saja keluar dari ruang sidang ketika Rowan berhenti begitu mendengar suara langkah kaki dari belakang."Rowan!"Aku menoleh.Cedric berdiri di ambang pintu. Namun kali ini ia tidak sendirian. Empat penjaga Dewan berdiri di belakangnya."Jangan membuat keputusan terburu-buru," katanya.Rowan berbalik sepenuhnya. "Desaku diserang. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan nasihatmu.""Kau tidak bisa pergi begitu saja.""Aku bisa.""Kalau kau pergi, perempuan itu tetap di sini."Tangan Rowan yang menggenggam tanganku semakin erat. "Aku tidak akan meninggalkannya."Cedric menghela napas. "Kalau begitu kau harus membawanya bersamamu. Tetapi ketahuilah, begitu kalian meninggalkan Istana Pusat, Dewan tidak lagi menjamin keselamatan kalian."Rowan menatapnya tajam. "Aku tidak pernah meminta jaminanmu."Setelah itu, Rowan menarikku pergi. Kami berlari melewati koridor."Rowan, tunggu!"Rowan tidak berhenti. Aku terpaksa mempercepat langkah."Rowan!""Apa?""Kau terlalu cepat!"Ia akhi
Matahari belum sepenuhnya muncul ketika kami tiba di Istana Pusat.Bangunan itu jauh lebih besar daripada Istana Blackwood. Dinding-dindingnya terbuat dari batu abu-abu tua, menjulang tinggi seperti benteng yang dibangun bukan untuk melindungi kerajaan, melainkan untuk mengingatkan siapa pun yang masuk bahwa mereka sedang berada di wilayah kekuasaan orang lain.Dua belas lambang pack terpahat di sepanjang gerbang utama.Aku menatapnya dari atas kuda.Entah kenapa, semakin dekat kami dengan tempat ini, semakin berat dadaku terasa.Rowan turun lebih dulu. Kemudian ia berdiri di samping kudaku dan mengulurkan tangan."Turun."Aku menggenggam tangannya. Begitu kakiku menyentuh tanah, Rowan tidak langsung melepaskan tanganku.Rowan menatapku. "Mulai sekarang, jangan pergi sendirian."Aku mengangguk. "Kalau mereka memanggilku?""Kau tetap bersamaku.""Kalau mereka mengatakan aku harus masuk tanpa kau?""Kau tetap bersamaku."Aku tersenyum tipis. "Jadi intinya apa pun yang mereka katakan, ak
Aura biru perlahan menyelimuti tubuh Rowan. Udara di sekitar kami mendadak terasa berat.Para penghuni penginapan berlari menuju pintu belakang. Beberapa pelayan bersembunyi di balik meja, sementara pemilik penginapan berdiri gemetar di sudut ruangan.Pria berjubah hitam itu masih berdiri di dekat tangga. Pedangnya terangkat. Namun, yang membuatku waspada bukan dirinya. Melainkan suara langkah kaki yang terdengar dari lantai dua.Satu.Dua.Tiga.Banyak.Elara menoleh. "Rowan...""Aku tahu." Tatapannya tetap tertuju kepada pria di depan kami. "Berapa banyak?""Setidaknya sepuluh."Aku menggenggam pisau lebih erat."Berarti pria itu hanya pengalih perhatian.""Benar."Pria berjubah hitam tertawa kecil. "Alpha Blackwood. Ternyata penciumanmu masih tajam."Rowan melangkah maju. "Siapa yang mengirimmu?""Aku rasa kau sudah tahu.""Dewan?""Anggap saja begitu."Rowan mengangkat pedangnya. "Kalau begitu sampaikan kepada mereka bahwa aku tidak akan menyerahkan siapa pun."Pria itu tersenyum.
Malam semakin larut.Api di perapian perlahan mengecil, tetapi panas tubuh Rowan justru semakin tinggi.Aku duduk di tepi tempat tidur sambil mengganti kain kompres di dahinya. Kain yang tadi dingin kini kembali hangat hanya dalam hitungan menit.Aku mencelupkannya ke dalam baskom, memeras airnya, lalu meletakkannya kembali di atas dahi Rowan."Kalau besok kau masih demam seperti ini, aku akan memanggil dokter."Mata Rowan tetap terpejam. "Jangan."Aku menghela napas kesal. "Kenapa kau keras kepala sekali?""Karena dokter akan bertanya terlalu banyak.""Biarkan dia bertanya.""Aku tidak suka orang lain mengetahui kelemahanku."Aku menatap wajahnya. "Kalau begitu jangan sakit."Sudut bibir Rowan terangkat sedikit. "Aku akan mencoba."Aku mendengus. "Memangnya demam bisa kau perintah?""Tidak."Ia membuka mata perlahan. "Tapi kalau kau yang menyuruh, mungkin aku bisa lebih patuh.""Jangan menggoda orang yang sedang menjaga pasien.""Aku tidak menggoda.""Terus?""Aku sedang mengatakan y
Salju semakin deras ketika kami kembali ke penginapan.Aku masih menggenggam kotak besi kecil yang kutemukan di toko Agnes. Namun, setelah mendengar pengakuan Rowan tentang ayahnya, aku tidak lagi berani membukanya.Bukan karena takut dengan isinya.Aku takut dengan apa yang mungkin berubah setelah kami membacanya.Rowan berjalan di sampingku dalam diam. Darah masih terlihat di sudut bibirnya akibat pertarungan tadi.Aku beberapa kali meliriknya.Akhirnya aku tidak tahan."Kau terluka."Rowan menyentuh sudut bibirnya dengan ibu jari."Ini?""Iya.""Hanya goresan.""Kalau darahnya keluar, berarti bukan tidak ada luka."Ia menatapku sekilas."Kau mulai cerewet.""Aku belajar dari seseorang.""Siapa?""Alpha yang selalu menyuruh orang lain makan, tetapi dirinya sendiri sering lupa."Rowan tersenyum kecil. "Baiklah. Aku kalah."Aku berhenti berjalan. "Kau mengaku kalah?""Untuk kali ini.""Jarang sekali.""Jangan terlalu senang. Bisa membuatku berubah pikiran."Aku tertawa kecil.Entah se







