Mag-log inKami turun melewati tangga belakang tanpa menyalakan obor. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela sempit di sepanjang lorong. Rowan berjalan di depan sementara Elara tepat di belakangnya dan Garrick mengikuti beberapa langkah di belakang kami.Tidak ada seorang pun yang berbicara. Namun, aku bisa mendengar napas Rowan teratur dan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengetahui bahwa orang yang selama ini dipercayainya mungkin masih bersembunyi di dalam istananya.Tangan Elara tanpa sadar menggenggam kalung kayu di balik pakaian. "Rowan.""Hm?""Kalau Martha benar-benar masih di dalam istana...""Aku akan menemukannya," potong Rowan. "Dan kalau dia yang mencuri dokumen itu?"Rowan berhenti sebentar dari langkahnya. "Berarti dia tahu sesuatu.""Dan kalau dia sengaja memancing kita?" tanya Elara lagi. "Kita tetap datang."Elara mengerutkan kening. "Kau tidak takut?""Tentu saja aku takut, tapi kalau aku menunjukkan ketakutanku setiap kali keadaan buruk,
Pintu istana akhirnya terlihat di balik kabut salju.Elara mengembuskan napas lega ketika kereta melewati gerbang utama. Namun, entah kenapa, bukannya merasa aman, justru ada perasaan aneh yang semakin kuat memenuhi dadaku.Surat itu masih tersimpan di balik baju Elara. Kalimatnya terus berputar di kepalanya. "Jangan percaya siapa pun yang memakai lambang Blackwood bahkan Rowan sekalipun."Elara melirik pria yang duduk di seberang. Rowan sedang memejamkan mata. Bahunya bersandar pada kursi, sementara satu tangannya masih menekan luka akibat anak panah tadi.Elara memperhatikannya cukup lama. Kalau surat itu benar... Berarti mungkin ada sesuatu yang belum kuketahui tentang dirinya. Namun, kalau surat itu hanya jebakan... Berarti seseorang sedang berusaha menghancurkan kepercayaanku kepadanya."Berhenti menatapku."Aku tersentak. "Kau belum tidur?""Bagaimana aku bisa tidur kalau seseorang menatapku seperti sedang menyelidiki mayat?"Aku mendengus. "Aku sedang berpikir.""Jangan terlalu
Elara masih berdiri di tempat yang sama. Surat itu masih berada di tanganku. Kertasnya dingin bahkan terlalu dingin. Seolah-olah baru saja disimpan di dalam salju. Elara membaca kalimat itu sekali lagi. "Kalau kau ingin tahu siapa yang memerintahkan pembantaian keluargamu, jangan percaya siapa pun yang memakai lambang Blackwood. Bahkan Rowan."Jari-jariku semakin erat menggenggam kertas tersebut. Aku tidak tahu apa yang lebih menggangguku. Isi surat itu atau kenyataan bahwa seseorang tahu aku adalah Lyra."Jangan dibaca lagi." Suara Rowan membuatku tersentak.Aku menoleh. Ia berdiri beberapa langkah dariku. Wajahnya tenang, tetapi tidak dengan matanya. Mata emas itu terus menatap surat di tanganku."Aku harus tahu siapa yang menulisnya," ucap Elara tegas."Belum tentu ada jawaban di sana.""Tapi mungkin ada petunjuk."Rowan berjalan mendekat. "Elara.""Aku bukan Elara." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, bahkan aku sendiri terkejut mendengarnya.Rowan berhenti dari langkahny
Suara langkah kaki semakin jelas. Satu demi satu terdengar berat dan teratur. Mereka turun melalui tangga menuju ruang bawah tanah.Aku menggenggam pisau di tangan kanan. Di sampingku, Rowan berdiri dengan pedang terhunus. Aura biru mulai muncul perlahan di sekeliling tubuhnya.Sementara Garrick berdiri beberapa langkah di depan kami."Berapa banyak?" tanya Rowan.Garrick mengintip ke arah tangga. "Setidaknya mereka ada tiga puluh."Aku menarik napas. "Tiga puluh?"Rowan melirikku. "Apa kamu takut, Elara?"Aku menatapnya. "Kalau aku bilang tidak, kau pasti bilang aku bohong."Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Benar."Aku menggenggam pisauku lebih erat. "Jadi aku bilang aku takut."Rowan mendekat. "Bagus kalau kau takut."Aku mengerutkan kening bingung. "Bagus?""Rasa takut membuatmu tetap hidup." Ia menatap mataku. "Tapi jangan biarkan rasa takut membuatmu menyerah."Aku mengangguk. "Aku tidak akan menyerah."Langkah kaki semakin dekat. Kemudian terdengar suara Martha. "Rowan! Janga
Kegelapan menelan ruangan itu sampai aku tidak bisa melihat apa pun. Namun, aku masih bisa mendengar.Langkah kaki terdengar banyak. Semakin dekat, dan semakin jelas.Aku merasakan tangan Rowan meraih tanganku dan menarikku ke belakang tubuhnya. "Jangan bergerak." Suaranya rendah, tetapi tenang.Aku menggenggam ujung bajunya. "Rowan...""Aku di sini.""Jumlah mereka banyak," bisikku. "Aku tahu.""Kalau kita tidak bisa keluar... "Rowan memotong perkataanku. "Kita akan keluar."Nada suaranya begitu yakin sampai untuk sesaat aku mempercayainya.Kemudian terdengar suara tawa dari kegelapan. "Masih sama seperti dulu, Alpha Blackwood." Suara pria tua tadi.Rowan mengangkat pedangnya. "Keluar!""Aku sudah keluar."Sebuah lampu minyak menyala. Cahaya redup perlahan menerangi ruangan.Pria tua itu berdiri di ujung ruangan. Di belakangnya terdapat belasan orang berjubah hitam. Namun mereka tidak langsung menyerang. Mereka hanya berdiri, dan menunggu.Aku menatap pria tua itu. "Kau..."Ia ters
Malam semakin larut ketika kami meninggalkan desa. Salju turun semakin deras. Angin berembus di antara pepohonan, membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.Aku menunggang kuda di samping Rowan. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Hanya suara derap kaki kuda dan gemerisik salju yang terdengar.Aku terus memegang kalung kayu di leherku. Benda kecil itu terasa semakin berat sejak kami menemukan lambang aneh di desa.Rowan melirikku. "Kamu kedinginan?""Kedinginan sedikit."Ronan lalu membuka mantel hitamnya. "Pakai."Aku menggeleng. "Kau sendiri akan kedinginan.""Aku Alpha.""Aku juga tidak peduli."Rowan menghela napas. "Elara.""Ya?""Kalau kau terus membantah setiap perkataanku, perjalanan ini akan memakan waktu dua kali lebih lama."Aku tersenyum. "Kalau begitu jangan terlalu banyak menyuruhku."Ia menatapku beberapa detik. Kemudian tertawa kecil. "Baiklah." Ia tetap menyampirkan mantelnya ke bahuku.Aku menariknya lebih rapat. "Terima kasih."







