MasukTiga hari menjadi pelayan pribadi Rowan terasa seperti tiga tahun.
Aku sudah hafal jam dia bangun, hafal bahwa dia menyukai teh tanpa gula, dan yang paling menyebalkan, aku juga hafal bahwa setiap pukul dua dini hari dia hampir selalu mabuk. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berhasil kuhafalkan. Cara menahan hatiku agar tidak goyah. Malam ini, jarum jam sudah melewati pukul satu. Aku masih terjaga ketika suara botol jatuh terdengar dari kamar sebelah. Aku menghela napas panjang. Itu tandanya dia mabuk lagi. Dengan langkah pelan, aku keluar dari kamar dan berjalan menuju kamarnya. Pintu itu ternyata tidak terkunci. Kudorong perlahan. Kamar Rowan gelap. Hanya cahaya bulan yang menyelinap melalui jendela, menerangi sebagian ruangan. Di lantai, Rowan duduk dengan punggung bersandar pada sisi tempat tidur. Sebotol wine kosong masih tergenggam di tangannya. "Tuan?" Tidak ada jawaban. Aku mendekat. Matanya terpejam, tetapi kedua alisnya berkerut. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha melarikan diri dari mimpi buruk. "Tuan, bangun." Aku menggoyangkan bahunya pelan. Tiba-tiba tangannya bergerak. Dalam sekejap, Rowan meraih pergelangan tanganku dan menarikku hingga aku terjatuh di lantai tepat di sebelahnya. "Tuan!" "Jangan pergi." Suaranya terdengar pecah. "Tolong... jangan pergi lagi." Aku terdiam. Entah kenapa, kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. "Siapa, Tuan?" tanyaku pelan. Bibirnya bergerak. "Lyra." Nama itu terasa seperti tamparan keras. Tanganku gemetar. Aku ingin segera pergi, tetapi sebelum sempat berdiri, kedua lengannya melingkari tubuhku. Pelukannya erat. Dan dingin. "Aku menyesal," bisiknya. Pertahanan yang selama ini kubangun runtuh begitu saja. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. "Maaf..." Rowan semakin mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku." Aku tidak tahu kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan. Kepada Lyra yang sepuluh tahun lalu? Atau kepadaku yang berdiri di hadapannya sekarang? Aku tidak pernah mendapatkan jawabannya. Malam itu, Rowan kembali tertidur dalam pelukanku. Aku bahkan tidak berani bergerak sedikit pun. Aku hanya duduk diam sampai langit perlahan berubah terang. Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, Rowan akhirnya terbangun. Matanya langsung membesar ketika menyadari siapa yang berada di sampingnya. Dia mendorongku dengan kasar. "Apa yang kamu lakukan?!" "Aku... aku menjaga Tuan," jawabku gugup. "Keluar!" Bentakannya membuat tubuhku tersentak. Aku segera berdiri dan berlari keluar tanpa berani menoleh. Seharian penuh, Rowan tidak berbicara kepadaku. Bahkan ketika aku mengantarkan teh pagi dan makan siangnya, dia hanya diam seolah aku tidak pernah ada. Martha yang melihat wajahku hanya terkekeh kecil. "Kena marah, ya?" Aku memilih diam. Aku sedang tidak ingin meladeni siapa pun. Namun, malam itu, sesuatu yang seharusnya tidak kulihat justru mengubah segalanya. Sekitar pukul sebelas malam, aku melihat Rowan berjalan menuju perpustakaan. Kupikir dia hendak membaca. Namun, dia tidak masuk. Dia justru berhenti di depan sebuah rak buku, lalu menekan batu kecil yang hampir tidak terlihat di dinding. Klik. Suara mekanis terdengar. Sebagian dinding perlahan bergeser. Di baliknya terdapat tangga yang mengarah ke bawah. Jantungku berdegup kencang. Ruang rahasia. Aku menunggu sekitar sepuluh menit, memastikan Rowan sudah cukup jauh di dalam. Barulah aku mengambil lilin kecil dan mengikuti jejaknya. Tangga itu panjang, sempit, dan dingin. Udara lembap bercampur aroma debu menusuk hidungku. Semakin jauh aku turun, semakin sunyi tempat itu. Sampai akhirnya aku tiba di depan sebuah pintu kayu besar. Tanganku ragu saat menyentuh gagangnya. Aku membukanya perlahan. Dan seketika, tubuhku membeku. Ruangan itu dipenuhi kenangan. Di tengah ruangan berdiri sebuah patung es berbentuk seorang wanita yang mengenakan gaun putih. Gaun pengantin. Di kepalanya terdapat mahkota bunga yang telah mengering. Aku melangkah mendekat. Namun, yang membuat napasku tercekat bukanlah patung itu. Melainkan lukisan-lukisan yang memenuhi dinding. Semuanya memiliki wajah yang sama. Wajahku. Wajahku sepuluh tahun yang lalu. Namun, hampir semua lukisan itu telah dirusak. Wajah-wajah di dalamnya dicoret dengan tinta hitam seolah seseorang ingin menghapus kenangan tersebut dari dunia. Hampir semuanya. Karena ada satu lukisan di sudut ruangan yang masih utuh. Seorang gadis sedang tertawa di taman. Itu aku. Tanganku gemetar. Mengapa Rowan menyimpan semua ini? Di atas sebuah meja kecil, terdapat sebuah kotak kayu. Aku membukanya. Di dalamnya ada selembar surat yang sudah menguning. Tanganku semakin gemetar saat membukanya. Tulisan di dalamnya hanya terdiri dari beberapa kalimat. "Tuhan... aku gagal melindungimu." Aku menahan napas. "Aku datang terlambat lima menit." Dadaku terasa sesak. "Lima menit yang menghancurkan hidupku." Aku segera menutup mulut agar isakanku tidak terdengar. Aku tidak boleh menangis. Bukan di sini. Tiba-tiba... Klik. Lampu menyala. Aku tersentak. "Keluar!" Suara itu membuat surat di tanganku terlepas. Rowan berdiri di ambang pintu. Wajahnya penuh kemarahan. "Siapa yang menyuruhmu datang ke sini?!" "Aku... aku tidak sengaja, Tuan." "Bohong!" Dia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkahnya membuat jantungku berdetak semakin keras. Kemudian pandangannya jatuh pada surat di lantai. Dia membungkuk dan mengambilnya. Tangannya gemetar. "Kamu sudah membacanya?" Aku menelan ludah. "Tidak, Tuan." Kebohongan itu keluar begitu saja. "Tidak usah berbohong!" Rowan melempar surat itu ke perapian. Api langsung melahap kertas tua tersebut hingga tak tersisa. "Kamu mau apa dariku?" tanyanya tajam. "Jawab!" Aku mundur selangkah. "Aku tidak mau apa-apa, Tuan." "Semua orang menginginkan sesuatu." Tatapannya semakin tajam. "Uang? Kekuasaan?" Dia berhenti sejenak. "Atau dendam?" Kata terakhir itu menusuk tepat ke dalam dadaku. Aku menggeleng cepat. "Aku tidak dendam, Tuan." Rowan mendekat hingga jarak kami hanya sejengkal. "Aku bisa mencium kebohongan." Napasnya terasa hangat di wajahku. "Dan kau..." Matanya menatap lurus ke dalam mataku. "...bau kebohongan." Aku menahan napas. Namun, bukannya menyentuhku, pandangannya justru beralih ke leherku. Ke sebuah kalung kayu yang selama ini selalu kukenakan. "Kalung itu dari siapa?" "Dari ibu saya, Tuan." "Bohong lagi." Tangannya terulur. Rowan meraih kalung itu dan menariknya perlahan. Jarinya menyentuh kulit leherku hingga aku tanpa sadar menahan napas. Matanya menyipit. "Kalung ini milik Pack Voss." Darahku seakan berhenti mengalir. "Aku pernah melihatnya." "Tuan salah. Aku tidak pernah datang ke Pack Voss." Rowan melepaskan kalung itu. "Bagus." Tatapannya semakin sulit dibaca. "Kalau begitu, buktikan." "Buktikan apa, Tuan?" "Ceritakan masa kecilmu." Dia menatapku tanpa berkedip. "Mulai dari awal. Siapa dirimu sebenarnya?" Panik langsung menguasai pikiranku. Aku mencari alasan. Mencari kebohongan lain. "Aku... aku yatim piatu, Tuan. Aku dibuang di panti asuhan. Aku tidak ingat apa-apa." Rowan tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tawa getir. "Anak panti tidak memiliki kalung kayu kuno." Aku terdiam. "Anak panti juga tidak tahu bagaimana cara menundukkan kepala seperti seorang bangsawan." Dia melangkah mendekati patung es itu. "Lalu anak panti..." Tatapannya kembali kepadaku. "...tidak akan menangis hanya karena melihat gaun ini." Tanganku refleks menyentuh pipi. Basah. Aku baru menyadari air mataku sudah mengalir. "Kamu siapa sebenarnya?" Aku tidak menjawab. Aku tidak sanggup. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berlari. Aku berbalik dan berlari menaiki tangga. Aku terus berlari sampai akhirnya tiba di kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Tubuhku melorot ke lantai. Aku memeluk lutut sambil berusaha mengatur napas. Dia tahu. Setidaknya, dia sudah mengetahui setengah dari kebenaran. Malam itu aku tidak bisa tidur. Satu kalimat terus berputar di kepalaku. "Lima menit yang menghancurkan hidupku." Jadi selama ini dugaanku salah. Rowan datang terlambat. Hanya lima menit. Dan dia bukan pembunuhnya. Tanganku perlahan menyentuh bagian bawah bantal. Pisau yang selama ini kusembunyikan masih ada di sana. Senjata yang kupersiapkan untuk membunuh pria yang selama sepuluh tahun kuanggap sebagai musuh. Namun, malam ini, tanganku tidak sanggup lagi menggenggamnya. Karena orang yang ingin kubunuh ternyata bukan hanya menyimpan kenangan tentangku. Dia juga menangisi kehilangan itu selama sepuluh tahun. Untuk pertama kalinya, aku mulai meragukan seluruh kebencian yang selama ini kupercaya. Besok aku harus mengambil keputusan. Tetap berbohong... atau mulai mengatakan kebenaran. Tetapi jika aku jujur, satu pertanyaan terus menghantuiku. Apakah Rowan akan memaafkanku? Atau justru membunuhku setelah mengetahui siapa diriku sebenarnya?Pagi datang terlalu cepat.Aku terbangun ketika cahaya matahari menembus celah tirai dan jatuh tepat ke wajahku. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit kamar tanpa bergerak.Kemudian ingatanku kembali. Serangan, anak panah, Rowan, kalung dan Martha.Aku langsung duduk. Ada sesuatu yang tidak beres.Sejak Martha menghilang dari istana, suasana memang terasa lebih tenang. Namun justru ketenangan itu yang membuatku semakin waspada.Martha bukan perempuan yang akan menyerah begitu saja.Aku bangkit dan mengenakan pakaian kerja. Baru saja membuka pintu, aku menemukan Rowan berdiri di luar.Aku terkejut. "Tuan?""Kita sarapan."Aku mengerutkan kening. "Sepagi ini?""Jam enam."Aku melirik jam dinding. "Masih jam lima."Rowan diam.Aku menahan senyum. "Kau menungguku sejak tadi?""Tidak.""Berapa lama?""Lima menit."Aku menatapnya. "Kau bohong."Untuk sesaat, Rowan hanya menatapku. Kemudian tatapannya jatuh pada wajahku. "Kau tidur nyenyak?"Aku mengangguk."Bagus." Ia berbal
Aku masih berdiri di lorong itu ketika suara langkah Rowan menghilang di balik tikungan.Martha lenyap begitu saja tanpa jejak dan tanpa suara. Hanya kain putih berlambang bulan dan tiga garis yang tertinggal di lantai.Aku menggenggamnya erat. "Rowan."Dia berhenti. "Apa?""Dia tahu siapa aku.""Aku tahu.""Dia juga tahu tentang malam sepuluh tahun lalu.""Iya.""Dan dia bekerja untuk seseorang."Rowan mengangguk."Yang lebih buruk..."Ia menatapku."...dia tahu semua rahasia istana." Aku menelan saliva.Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari halaman."Tuan Alpha!"Rowan langsung berbalik. "Kita ke sana."Kami berlari. Begitu tiba di halaman, beberapa penjaga sudah berkumpul di depan gerbang. Seorang penjaga berlutut sambil memegang bahunya yang terluka."Apa yang terjadi?""Serangan dari hutan, Tuan.""Berapa orang?""Tidak terlihat jelas. Mereka menyerang dari jauh."Rowan menatap hutan. "Berapa korban?""Tiga terluka.""Yang lain?""Selamat."Aku menghela napas lega. Namun, tiba
Malam itu, aku tidak kembali ke kamar.Setelah Elias meninggal, pikiranku terlalu kacau untuk memejamkan mata.Aku terus teringat pada kata-kata terakhirnya."Kalung..."Apa yang ingin dia katakan? Kenapa dia begitu takut? Dan yang paling membuatku gelisah..."Orang itu ada di dalam istana."Aku duduk di sofa ruang kerja Rowan sambil memandangi api di perapian.Rowan berdiri di depan jendela. Sudah hampir satu jam dia tidak bergerak."Aku ingin bertanya sesuatu.""Silakan.""Kau percaya pada Elias?"Rowan terdiam. "Sebagian.""Sebagian?""Dia memang pernah menjadi pengawal ayahmu."Aku langsung menoleh. "Kau tahu?""Aku pernah melihatnya.""Sepuluh tahun lalu?""Iya."Aku menatap punggungnya. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Rowan akhirnya berbalik. "Karena aku tidak tahu apakah dia masih hidup."Aku terdiam. "Dan sekarang?""Dia sudah mati."Jawaban itu begitu datar hingga membuat dadaku terasa sakit. "Rowan...""Aku tidak bermaksud bersikap dingin." Dia berjalan mendekat. "A
Malam itu aku tidak bisa tidur. Bukan karena suara angin. Bukan pula karena salju yang terus mengetuk jendela. Melainkan karena semua yang kulihat di ruang bawah tanah terus berputar di kepalaku.Gaun putih.Mahkota.Lukisan.Surat-surat Rowan. Dan satu hal yang paling menggangguku... Rowan ternyata tidak pernah berhenti mencariku.Selama sepuluh tahun, aku mengira dia melupakanku. Ternyata justru sebaliknya.Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar.Tanganku meraba kalung kayu Nenek Selma yang kembali kukenakan. "Nenek..."Aku menarik napas panjang."Kalau kau masih hidup, apa yang akan kau katakan kepadaku sekarang?"Tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berembus dari celah jendela. Aku memejamkan mata. Namun, beberapa detik kemudian...Brak!Aku langsung terbangun.Suara sesuatu pecah dari arah koridor.Aku bangkit dan meraih pisau yang kusimpan di bawah bantal. Kemudian terdengar teriakan."SERANGAN!"Jantungku langsung berdegup kencang.Aku membuka pintu. P
"Ma?"Satu kata itu keluar begitu saja dari bibirku.Perempuan di ujung koridor itu tersenyum. Namun, semakin lama aku menatap wajahnya, semakin terasa ada sesuatu yang salah.Bukan Mama. Aku tahu itu.nMama sudah meninggal di depan mataku sepuluh tahun lalu.Aku melihat darah di tubuhnya. Aku mendengar napas terakhirnya. Aku merasakan tangannya melepaskan genggaman dari gaunku. Tidak mungkin dia masih hidup.Aku melangkah mundur. "Tidak..."Perempuan itu menurunkan tudungnya. Wajahnya memang sangat mirip Mama. Terlalu mirip. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya. Mama selalu memiliki mata yang hangat. Perempuan ini tidak, matanya dingin.Rowan langsung mengangkat pedangnya. "Siapa kau?"Perempuan itu tidak menjawab. Ia justru menatapku."Jadi benar. Kau masih hidup."Aku menggenggam pisau. "Siapa kamu?"Senyumnya menghilang. "Orang yang pernah mengenal ibumu."Aku menahan napas. "Kalau begitu, katakan sesuatu yang hanya Mama tahu."Perempuan itu diam."Kalau kau benar-benar meng
"Artinya..."Aku menatap Rowan."...ada dua pihak yang sedang memperebutkanmu."Angin malam menerpa wajahku. Salju berputar-putar di antara kami, tetapi tidak satu pun dari kami bergerak.Aku menatap potongan surat di tangan Rowan. "Kenapa aku?""Karena kau adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang melihat malam itu."Aku menggeleng. "Aku masih kecil.""Justru itu."Rowan menatapku tajam. "Anak kecil biasanya dianggap tidak mengerti apa yang dilihatnya."Aku terdiam."Tapi kau melihat sesuatu malam itu.""Apa?""Itulah yang sedang mereka cari."Jantungku berdetak lebih cepat. Aku mencoba mengingat kembali malam sepuluh tahun lalu. Api. Salju. Mama. Papa. Serigala hitam. Dan Rowan. Aku menutup mata. "Aku tidak ingat apa-apa.""Kau akan ingat." Suara Rowan terdengar begitu yakin hingga membuatku membuka mata."Bagaimana kalau aku memang tidak ingat?""Kalau begitu, kita akan mencari orang yang bisa mengingatnya untukmu.""Siapa?""Orang yang datang terlambat lima menit."Aku menat







