Home / Fantasi / BOUND IN BLOOD / 18. Jejak Yang Tertinggal

Share

18. Jejak Yang Tertinggal

Author: lyns_marlyn
last update publish date: 2026-08-30 17:47:59

Pagi datang terlalu cepat.

Aku terbangun ketika cahaya matahari menembus celah tirai dan jatuh tepat ke wajahku. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit kamar tanpa bergerak.

Kemudian ingatanku kembali. Serangan, anak panah, Rowan, kalung dan Martha.

Aku langsung duduk. Ada sesuatu yang tidak beres.

Sejak Martha menghilang dari istana, suasana memang terasa lebih tenang. Namun justru ketenangan itu yang membuatku semakin waspada.

Martha bukan perempuan yang akan menyerah begitu sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BOUND IN BLOOD   18. Jejak Yang Tertinggal

    Pagi datang terlalu cepat.Aku terbangun ketika cahaya matahari menembus celah tirai dan jatuh tepat ke wajahku. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit kamar tanpa bergerak.Kemudian ingatanku kembali. Serangan, anak panah, Rowan, kalung dan Martha.Aku langsung duduk. Ada sesuatu yang tidak beres.Sejak Martha menghilang dari istana, suasana memang terasa lebih tenang. Namun justru ketenangan itu yang membuatku semakin waspada.Martha bukan perempuan yang akan menyerah begitu saja.Aku bangkit dan mengenakan pakaian kerja. Baru saja membuka pintu, aku menemukan Rowan berdiri di luar.Aku terkejut. "Tuan?""Kita sarapan."Aku mengerutkan kening. "Sepagi ini?""Jam enam."Aku melirik jam dinding. "Masih jam lima."Rowan diam.Aku menahan senyum. "Kau menungguku sejak tadi?""Tidak.""Berapa lama?""Lima menit."Aku menatapnya. "Kau bohong."Untuk sesaat, Rowan hanya menatapku. Kemudian tatapannya jatuh pada wajahku. "Kau tidur nyenyak?"Aku mengangguk."Bagus." Ia berbal

  • BOUND IN BLOOD   18. Pengkhianatan Di Dalam Istana

    Aku masih berdiri di lorong itu ketika suara langkah Rowan menghilang di balik tikungan.Martha lenyap begitu saja tanpa jejak dan tanpa suara. Hanya kain putih berlambang bulan dan tiga garis yang tertinggal di lantai.Aku menggenggamnya erat. "Rowan."Dia berhenti. "Apa?""Dia tahu siapa aku.""Aku tahu.""Dia juga tahu tentang malam sepuluh tahun lalu.""Iya.""Dan dia bekerja untuk seseorang."Rowan mengangguk."Yang lebih buruk..."Ia menatapku."...dia tahu semua rahasia istana." Aku menelan saliva.Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari halaman."Tuan Alpha!"Rowan langsung berbalik. "Kita ke sana."Kami berlari. Begitu tiba di halaman, beberapa penjaga sudah berkumpul di depan gerbang. Seorang penjaga berlutut sambil memegang bahunya yang terluka."Apa yang terjadi?""Serangan dari hutan, Tuan.""Berapa orang?""Tidak terlihat jelas. Mereka menyerang dari jauh."Rowan menatap hutan. "Berapa korban?""Tiga terluka.""Yang lain?""Selamat."Aku menghela napas lega. Namun, tiba

  • BOUND IN BLOOD   17. Bayangan Di Balik Pintu

    Malam itu, aku tidak kembali ke kamar.Setelah Elias meninggal, pikiranku terlalu kacau untuk memejamkan mata.Aku terus teringat pada kata-kata terakhirnya."Kalung..."Apa yang ingin dia katakan? Kenapa dia begitu takut? Dan yang paling membuatku gelisah..."Orang itu ada di dalam istana."Aku duduk di sofa ruang kerja Rowan sambil memandangi api di perapian.Rowan berdiri di depan jendela. Sudah hampir satu jam dia tidak bergerak."Aku ingin bertanya sesuatu.""Silakan.""Kau percaya pada Elias?"Rowan terdiam. "Sebagian.""Sebagian?""Dia memang pernah menjadi pengawal ayahmu."Aku langsung menoleh. "Kau tahu?""Aku pernah melihatnya.""Sepuluh tahun lalu?""Iya."Aku menatap punggungnya. "Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Rowan akhirnya berbalik. "Karena aku tidak tahu apakah dia masih hidup."Aku terdiam. "Dan sekarang?""Dia sudah mati."Jawaban itu begitu datar hingga membuat dadaku terasa sakit. "Rowan...""Aku tidak bermaksud bersikap dingin." Dia berjalan mendekat. "A

  • BOUND IN BLOOD   16. Serangan Pertama

    Malam itu aku tidak bisa tidur. Bukan karena suara angin. Bukan pula karena salju yang terus mengetuk jendela. Melainkan karena semua yang kulihat di ruang bawah tanah terus berputar di kepalaku.Gaun putih.Mahkota.Lukisan.Surat-surat Rowan. Dan satu hal yang paling menggangguku... Rowan ternyata tidak pernah berhenti mencariku.Selama sepuluh tahun, aku mengira dia melupakanku. Ternyata justru sebaliknya.Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar.Tanganku meraba kalung kayu Nenek Selma yang kembali kukenakan. "Nenek..."Aku menarik napas panjang."Kalau kau masih hidup, apa yang akan kau katakan kepadaku sekarang?"Tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang berembus dari celah jendela. Aku memejamkan mata. Namun, beberapa detik kemudian...Brak!Aku langsung terbangun.Suara sesuatu pecah dari arah koridor.Aku bangkit dan meraih pisau yang kusimpan di bawah bantal. Kemudian terdengar teriakan."SERANGAN!"Jantungku langsung berdegup kencang.Aku membuka pintu. P

  • BOUND IN BLOOD   15. Gaun Putih Di Ruang Rahasia

    "Ma?"Satu kata itu keluar begitu saja dari bibirku.Perempuan di ujung koridor itu tersenyum. Namun, semakin lama aku menatap wajahnya, semakin terasa ada sesuatu yang salah.Bukan Mama. Aku tahu itu.nMama sudah meninggal di depan mataku sepuluh tahun lalu.Aku melihat darah di tubuhnya. Aku mendengar napas terakhirnya. Aku merasakan tangannya melepaskan genggaman dari gaunku. Tidak mungkin dia masih hidup.Aku melangkah mundur. "Tidak..."Perempuan itu menurunkan tudungnya. Wajahnya memang sangat mirip Mama. Terlalu mirip. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya. Mama selalu memiliki mata yang hangat. Perempuan ini tidak, matanya dingin.Rowan langsung mengangkat pedangnya. "Siapa kau?"Perempuan itu tidak menjawab. Ia justru menatapku."Jadi benar. Kau masih hidup."Aku menggenggam pisau. "Siapa kamu?"Senyumnya menghilang. "Orang yang pernah mengenal ibumu."Aku menahan napas. "Kalau begitu, katakan sesuatu yang hanya Mama tahu."Perempuan itu diam."Kalau kau benar-benar meng

  • BOUND IN BLOOD   14. Lima Menit Yang Hilang

    "Artinya..."Aku menatap Rowan."...ada dua pihak yang sedang memperebutkanmu."Angin malam menerpa wajahku. Salju berputar-putar di antara kami, tetapi tidak satu pun dari kami bergerak.Aku menatap potongan surat di tangan Rowan. "Kenapa aku?""Karena kau adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang melihat malam itu."Aku menggeleng. "Aku masih kecil.""Justru itu."Rowan menatapku tajam. "Anak kecil biasanya dianggap tidak mengerti apa yang dilihatnya."Aku terdiam."Tapi kau melihat sesuatu malam itu.""Apa?""Itulah yang sedang mereka cari."Jantungku berdetak lebih cepat. Aku mencoba mengingat kembali malam sepuluh tahun lalu. Api. Salju. Mama. Papa. Serigala hitam. Dan Rowan. Aku menutup mata. "Aku tidak ingat apa-apa.""Kau akan ingat." Suara Rowan terdengar begitu yakin hingga membuatku membuka mata."Bagaimana kalau aku memang tidak ingat?""Kalau begitu, kita akan mencari orang yang bisa mengingatnya untukmu.""Siapa?""Orang yang datang terlambat lima menit."Aku menat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status