Home / Fantasi / BOUND IN BLOOD / 6. Ujian Pelayan Pribadi

Share

6. Ujian Pelayan Pribadi

Author: lyns_marlyn
last update publish date: 2026-08-14 09:58:03

Pagi itu, aku terbangun oleh suara gedoran pintu yang begitu keras hingga membuat tubuhku tersentak.

Aku langsung duduk di tepi tempat tidur. Jantungku berdetak kencang, sementara pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

“Siapa?”

“Buka pintunya, Elara.”

Aku mengenali suara itu. Martha.

Dengan tangan yang masih gemetar, aku bangkit dan membuka pintu. Di belakang Martha berdiri dua pelayan lain yang membawa nampan berisi pakaian dan handuk.

“Selamat ya, Nak,” ucap Martha dengan senyum yang entah kenapa justru membuatku semakin tidak nyaman. “Mulai hari ini, kamu menjadi pelayan pribadi Tuan Alpha.”

Darahku seolah mengalir turun ke kaki. Aku menatapnya, memastikan telingaku tidak salah mendengar.

“Pelayan pribadi, Bu?”

“Iya.”

Martha mendekat, lalu menurunkan suaranya menjadi bisikan. “Kerja dua puluh empat jam. Tidur di kamar sebelah. Makan kalau sempat. Dan satu lagi…”

Tatapannya berubah serius.

“Jangan pernah membuat Tuan marah. Kalau dia marah, tidak akan ada yang bisa menolongmu.”

Aku hanya mampu mengangguk. Di dalam kepala, semuanya terasa kacau. Ini adalah kesempatan emas untuk mendekati Rowan. Namun, di saat yang sama, ini juga kesempatan emas baginya untuk membunuhku.

---

Pukul tujuh pagi, aku sudah berdiri di depan kamar Rowan dengan membawa nampan berisi teh dan roti.

Aku menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

“Tuan?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk sekali lagi. Tetap hening. Akhirnya, dengan hati-hati, aku mendorong pintu.

Kamar itu gelap dan dingin. Tirai tertutup rapat, membuat cahaya pagi hampir tidak bisa masuk.

Di tengah ruangan, Rowan masih terbaring di atas tempat tidur besar. Dia tidak mengenakan atasan. Punggungnya yang lebar dipenuhi bekas luka, sementara rambut hitamnya berantakan dan menutupi sebagian wajah.

Di meja samping tempat tidur, ada tiga botol wine kosong.

Aku segera mengalihkan pandangan. “Maaf, Tuan. Saya membawakan sarapan.”

Tidak ada jawaban.

Aku meletakkan nampan di atas meja dengan hati-hati. “Saya taruh tehnya di sini, Tuan.”

Aku baru saja hendak mundur ketika tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tanganku.

Aku tersentak.

“Jangan pergi.” Suaranya serak dan berat.

Nampan di tanganku hampir terlepas. “Maaf, Tuan.”

Rowan membuka mata. Mata emas itu tampak merah dan bengkak, seperti seseorang yang tidak tidur selama berhari-hari.

“Kamu yang baru?”

“Iya, Tuan.”

“Namamu siapa?”

“Elara, Tuan.”

Dia melepaskan tanganku, lalu duduk perlahan. Otot di lengannya menegang ketika dia memegang kepalanya.

“Kepalaku sakit.”

Aku segera menuangkan teh ke dalam cangkir.

“Ini teh jahe, Tuan. Mungkin bisa sedikit membantu.”

Dia mengambil cangkir itu dan meneguknya hingga habis dalam sekali minum. Kemudian dia berdiri.

“Ke kamar mandi.”

Aku mengikuti dengan langkah kecil.

Sesampainya di kamar mandi, aku melihat sebuah bak air panas yang sudah mengepul. Uap memenuhi ruangan dan membuat pandanganku sedikit kabur.

Rowan berdiri membelakangiku. “Bantu lepaskan bajuku.”

Aku membeku. “Maksud Tuan?”

“Bantu lepaskan kemejaku. Tanganku sakit.”

Baru saat itu aku menyadari perban yang melilit lengan kanannya. Perban itu basah. Dan ada bercak darah yang merembes keluar.

Dengan tangan gemetar, aku mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Ujung jariku beberapa kali menyentuh kulitnya yang panas.

Rowan tidak bergerak. Namun, napasnya terdengar berat.

Begitu kemejanya terlepas, aku melihat luka di bahunya. Sebuah luka cakar panjang membentang di kulitnya. Bagian pinggirnya mulai membengkak dan tampak meradang.

“Ini kenapa, Tuan?”

“Berantem semalam.”

“Dengan siapa?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Rowan terdiam beberapa detik. “Dengan diriku sendiri.”

Aku langsung menutup mulut. Tidak berani bertanya lagi.

Aku mengambil kain bersih, membasahinya, lalu mulai membersihkan luka tersebut secara perlahan.

Rowan meringis.

“Tahan sebentar, Tuan.”

“Tidak apa-apa.”

Tanganku terus bergerak dengan hati-hati. Aku tidak boleh membuatnya kesakitan. Aku tidak boleh membuatnya marah.

Setelah luka itu cukup bersih, aku mengganti perbannya dengan yang baru. Aku kira semuanya sudah selesai.

Namun, tiba-tiba Rowan berkata, “Kamu baunya berbeda.”

Tanganku berhenti. “Maksud Tuan?”

Dia menoleh sedikit. “Pelayan lain bau sabun.” Tatapannya turun ke arahku. “Kamu…”

Aku menahan napas.

“Bau kayu dan salju.”

Jantungku berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, tanganku menyentuh kalung peninggalan Nenek yang menggantung di leherku. Entah kenapa, benda itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.

“Keluar.”

Aku langsung menunduk. “Baik, Tuan.”

Aku keluar dari kamar mandi dan baru berani menarik napas setelah pintu tertutup. Kakiku terasa lemas. Ada sesuatu yang aneh pada Rowan. Dan aku mulai takut dia sudah mencium sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.

---

Pukul dua belas siang, aku kembali membawa makan siang.

Kali ini Rowan berada di ruang kerjanya.

Mejanya dipenuhi kertas, dokumen, dan peta. Tatapannya terlihat tajam, tetapi matanya masih merah karena kurang tidur.

Aku meletakkan makanan di atas meja.

“Makan dulu, Tuan.”

“Aku tidak lapar.”

“Kamu harus makan.” Aku baru sadar apa yang baru saja kukatakan setelah kalimat itu keluar.

Ruangan mendadak sunyi.

Rowan mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung tertuju kepadaku. “Sejak kapan seorang pelayan menyuruh Alpha?”

Aku menelan ludah. “Saya… saya hanya khawatir, Tuan.”

Dia terus menatapku beberapa detik.

Aku hampir yakin akan dimarahi.

Namun, akhirnya Rowan mengambil sepotong roti. Dia memakannya tanpa berkata apa-apa.

Aku menghembuskan napas lega.

---

Sore harinya, sesuatu yang jauh lebih buruk terjadi.

Aku menemukan Rowan tergeletak di lantai kamar mandi.

“TUAN!”

Aku berlari menghampirinya. Tubuhnya panas. Sangat panas. Demamnya begitu tinggi hingga membuatku panik.

Aku segera memanggil Martha. Tidak lama kemudian, Martha datang. Namun, setelah melihat Rowan, dia hanya menghela napas dan menggeleng.

“Dia sering seperti ini. Biarkan saja.”

Aku menatapnya tidak percaya. “Tapi dia demam, Bu!”

“Itu sudah biasa.”

“Biasa?”

Aku kembali menatap tubuh Rowan yang tidak sadarkan diri.

Bagaimana mungkin seseorang dibiarkan begitu saja dalam kondisi seperti ini?

Aku tidak peduli lagi dengan perintah siapa pun. Aku mengambil air dingin dan kain bersih.

Malam itu, aku duduk di samping tempat tidurnya. Aku mengompres dahinya, mengganti kain setiap kali kain itu mulai menghangat, lalu kembali melakukannya.

Sepuluh menit sekali. Lima belas menit. Kemudian kembali lagi.

Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga akhirnya, dalam keadaan setengah sadar, aku berbisik,

“Bertahan, ya, Tuan…”

Aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu peduli. Mungkin karena aku pernah kehilangan seseorang yang tidak sempat kuselamatkan. Atau mungkin karena jauh di dalam hatiku, aku mulai melihat Rowan bukan sebagai monster yang selama ini kutakuti.

Melainkan sebagai seseorang yang ternyata juga terluka.

---

Pukul tiga dini hari, Rowan akhirnya membuka mata.

“Aku di mana?”

“Di kamar, Tuan.”

Dia mengedarkan pandangan, lalu berhenti ketika melihatku.

“Kenapa kamu di sini?”

“Saya yang menjaga Tuan.”

“Kenapa?”

Aku terdiam. “Karena…” Aku menunduk. “Karena tidak ada yang menjaga Tuan.”

Rowan menatapku lama. Tatapannya sulit dibaca. Beberapa detik kemudian, dia kembali memejamkan mata.

Aku mengira dia tertidur. Namun, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, bibirnya bergerak pelan.

Aku tidak sempat mendengar apa yang dia katakan.

---

Pagi harinya, kondisi Rowan sudah jauh lebih baik.

Hal pertama yang dia lakukan setelah bangun adalah memanggilku.

“Elara.”

Aku segera mendekat. “Iya, Tuan?”

“Kamu tidak tidur semalaman.”

Aku tersenyum kecil. “Tidak apa-apa, Tuan.”

Dia tidak menjawab. Sebaliknya, dia mendorong semangkuk sup ke arahku.

“Makan.”

Aku tertegun.

“Saya sudah makan, Tuan.”

“Bohong.”

Aku langsung diam. Bagaimana dia tahu?

Rowan menunjuk mangkuk itu. “Makan.”

Aku tidak punya pilihan. Akhirnya, aku duduk dan mulai makan di hadapannya.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya memperhatikanku sampai sup itu habis.

“Bagus.”

Dia berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum keluar, langkahnya berhenti.

“Mulai malam ini, kamu tidur di kamar sebelah.”

Aku menatapnya. “Kenapa, Tuan?”

“Supaya kalau aku kenapa-kenapa, ada yang bisa mendengar.”

Aku hanya mampu mengangguk. “Baik, Tuan.”

Setelah Rowan pergi, aku mengembuskan napas panjang. Namun, belum sempat aku berdiri, Martha muncul dari balik pilar.

Dia tersenyum lebar. “Wah… cepat juga kamu, Nak.”

Aku tidak menjawab. Tidak ingin menjawab. Tanganku justru mengepal di sisi tubuh.

Aku tidak tahu apakah Martha sedang bercanda atau benar-benar menyadari sesuatu.

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur di kamar sebelah kamar Rowan.

Dindingnya begitu tipis hingga aku bisa mendengar setiap suara dari kamar sebelah.

Suara langkahnya. Suara ranjang yang bergeser. Bahkan napasnya yang tidak teratur.

Aku berusaha memejamkan mata. Namun, beberapa saat kemudian, suara Rowan terdengar dari balik dinding.

Pelan. Serak. Seperti seseorang yang sedang bermimpi buruk.

“Lyra…”

Mataku langsung terbuka.

“Jangan pergi…”

Tubuhku membeku. Untuk sesaat, aku tidak bisa bernapas.

Lyra. Bukan Elara. Nama itu kembali terdengar dari bibirnya.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Entah kenapa, air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipiku.

Hari pertama sebagai pelayan pribadi Rowan telah berakhir. Aku berhasil mendekatinya. Aku berhasil mengetahui bahwa di balik sosok Alpha yang ditakuti semua orang, ada seseorang yang terluka dan menyimpan luka yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat.

Namun, malam itu aku juga menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Aku datang ke tempat ini dengan sebuah tujuan. Aku seharusnya tidak peduli padanya. Aku seharusnya hanya mendekatinya, mencari jawaban, lalu pergi.

Tapi dalam satu hari saja…

Aku mulai merasa takut kehilangannya. Dan itulah kesalahan pertamaku.

Ujian hari pertama telah selesai. Sayangnya, aku tahu ini baru permulaan. Karena tanpa kusadari, sedikit demi sedikit… aku sudah mulai kalah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BOUND IN BLOOD   38. Jejak Di Tengah Salju

    Hutan di hadapan kami kembali sunyi bahkan terlalu sunyi.Sosok-sosok bertopeng itu sudah menghilang di antara pepohonan, tetapi keberadaan mereka masih terasa seperti bayangan yang menggantung di udara.Rowan berdiri di sampingku dengan pedang terhunus.Aku masih menggenggam tangannya. "Jangan kejar mereka," ulang ku.Rowan menatap hutan. "Aku tahu.""Kau kelihatan seperti ingin mengejar mereka.""Aku memang ingin mengejar mereka."Aku menghela napas. "Rowan..."Ia akhirnya menoleh kepadaku. "Aku tidak akan mengejar mereka.""Benarkah?"Ia menyarungkan pedangnya. "Karena untuk pertama kalinya, aku setuju denganmu."Aku mengangkat alis. "Catat tanggalnya."Rowan hampir tersenyum.Namun, suara tangisan dari belakang membuat kami kembali serius.Anak kecil yang tadi kutolong masih berada dalam pelukanku. Aku menunduk. "Dia harus segera mendapat pertolongan."Rowan mengangguk. "Alden!""Ya, Tuan.""Bawa semua warga yang terluka ke aula desa. Gunakan bangunan yang masih utuh sebagai tempa

  • BOUND IN BLOOD   37. Desa Yang Terbakar

    Kami baru saja keluar dari ruang sidang ketika Rowan berhenti begitu mendengar suara langkah kaki dari belakang."Rowan!"Aku menoleh.Cedric berdiri di ambang pintu. Namun kali ini ia tidak sendirian. Empat penjaga Dewan berdiri di belakangnya."Jangan membuat keputusan terburu-buru," katanya.Rowan berbalik sepenuhnya. "Desaku diserang. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan nasihatmu.""Kau tidak bisa pergi begitu saja.""Aku bisa.""Kalau kau pergi, perempuan itu tetap di sini."Tangan Rowan yang menggenggam tanganku semakin erat. "Aku tidak akan meninggalkannya."Cedric menghela napas. "Kalau begitu kau harus membawanya bersamamu. Tetapi ketahuilah, begitu kalian meninggalkan Istana Pusat, Dewan tidak lagi menjamin keselamatan kalian."Rowan menatapnya tajam. "Aku tidak pernah meminta jaminanmu."Setelah itu, Rowan menarikku pergi. Kami berlari melewati koridor."Rowan, tunggu!"Rowan tidak berhenti. Aku terpaksa mempercepat langkah."Rowan!""Apa?""Kau terlalu cepat!"Ia akhi

  • BOUND IN BLOOD   36. Istana Pusat

    Matahari belum sepenuhnya muncul ketika kami tiba di Istana Pusat.Bangunan itu jauh lebih besar daripada Istana Blackwood. Dinding-dindingnya terbuat dari batu abu-abu tua, menjulang tinggi seperti benteng yang dibangun bukan untuk melindungi kerajaan, melainkan untuk mengingatkan siapa pun yang masuk bahwa mereka sedang berada di wilayah kekuasaan orang lain.Dua belas lambang pack terpahat di sepanjang gerbang utama.Aku menatapnya dari atas kuda.Entah kenapa, semakin dekat kami dengan tempat ini, semakin berat dadaku terasa.Rowan turun lebih dulu. Kemudian ia berdiri di samping kudaku dan mengulurkan tangan."Turun."Aku menggenggam tangannya. Begitu kakiku menyentuh tanah, Rowan tidak langsung melepaskan tanganku.Rowan menatapku. "Mulai sekarang, jangan pergi sendirian."Aku mengangguk. "Kalau mereka memanggilku?""Kau tetap bersamaku.""Kalau mereka mengatakan aku harus masuk tanpa kau?""Kau tetap bersamaku."Aku tersenyum tipis. "Jadi intinya apa pun yang mereka katakan, ak

  • BOUND IN BLOOD   35. Serangan Di Penginapan

    Aura biru perlahan menyelimuti tubuh Rowan. Udara di sekitar kami mendadak terasa berat.Para penghuni penginapan berlari menuju pintu belakang. Beberapa pelayan bersembunyi di balik meja, sementara pemilik penginapan berdiri gemetar di sudut ruangan.Pria berjubah hitam itu masih berdiri di dekat tangga. Pedangnya terangkat. Namun, yang membuatku waspada bukan dirinya. Melainkan suara langkah kaki yang terdengar dari lantai dua.Satu.Dua.Tiga.Banyak.Elara menoleh. "Rowan...""Aku tahu." Tatapannya tetap tertuju kepada pria di depan kami. "Berapa banyak?""Setidaknya sepuluh."Aku menggenggam pisau lebih erat."Berarti pria itu hanya pengalih perhatian.""Benar."Pria berjubah hitam tertawa kecil. "Alpha Blackwood. Ternyata penciumanmu masih tajam."Rowan melangkah maju. "Siapa yang mengirimmu?""Aku rasa kau sudah tahu.""Dewan?""Anggap saja begitu."Rowan mengangkat pedangnya. "Kalau begitu sampaikan kepada mereka bahwa aku tidak akan menyerahkan siapa pun."Pria itu tersenyum.

  • BOUND IN BLOOD   34. Demam Di Tengah Salju

    Malam semakin larut.Api di perapian perlahan mengecil, tetapi panas tubuh Rowan justru semakin tinggi.Aku duduk di tepi tempat tidur sambil mengganti kain kompres di dahinya. Kain yang tadi dingin kini kembali hangat hanya dalam hitungan menit.Aku mencelupkannya ke dalam baskom, memeras airnya, lalu meletakkannya kembali di atas dahi Rowan."Kalau besok kau masih demam seperti ini, aku akan memanggil dokter."Mata Rowan tetap terpejam. "Jangan."Aku menghela napas kesal. "Kenapa kau keras kepala sekali?""Karena dokter akan bertanya terlalu banyak.""Biarkan dia bertanya.""Aku tidak suka orang lain mengetahui kelemahanku."Aku menatap wajahnya. "Kalau begitu jangan sakit."Sudut bibir Rowan terangkat sedikit. "Aku akan mencoba."Aku mendengus. "Memangnya demam bisa kau perintah?""Tidak."Ia membuka mata perlahan. "Tapi kalau kau yang menyuruh, mungkin aku bisa lebih patuh.""Jangan menggoda orang yang sedang menjaga pasien.""Aku tidak menggoda.""Terus?""Aku sedang mengatakan y

  • BOUND IN BLOOD   33. Satu Kamar

    Salju semakin deras ketika kami kembali ke penginapan.Aku masih menggenggam kotak besi kecil yang kutemukan di toko Agnes. Namun, setelah mendengar pengakuan Rowan tentang ayahnya, aku tidak lagi berani membukanya.Bukan karena takut dengan isinya.Aku takut dengan apa yang mungkin berubah setelah kami membacanya.Rowan berjalan di sampingku dalam diam. Darah masih terlihat di sudut bibirnya akibat pertarungan tadi.Aku beberapa kali meliriknya.Akhirnya aku tidak tahan."Kau terluka."Rowan menyentuh sudut bibirnya dengan ibu jari."Ini?""Iya.""Hanya goresan.""Kalau darahnya keluar, berarti bukan tidak ada luka."Ia menatapku sekilas."Kau mulai cerewet.""Aku belajar dari seseorang.""Siapa?""Alpha yang selalu menyuruh orang lain makan, tetapi dirinya sendiri sering lupa."Rowan tersenyum kecil. "Baiklah. Aku kalah."Aku berhenti berjalan. "Kau mengaku kalah?""Untuk kali ini.""Jarang sekali.""Jangan terlalu senang. Bisa membuatku berubah pikiran."Aku tertawa kecil.Entah se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status