LOGINDahlia membuka lebar-lebar pintu lemari yang berisi deretan kemeja dan jas Irawan. Setelan pakaian yang dulu menjadi busana sehari-hari Irawan saat berangkat bekerja. Lengkap dengan dasi aneka warna dan juga ikat pinggang berbahan kulit. Kemeja putih itu juga masih ada di sana, kemeja yang dipakai Irawan saat menyematkan cincin di jarinya.Wanita itu tersenyum sembari membayangkan kembali saat-saat dia menyiapkan setelan kerja untuk dipakai oleh suaminya itu. Rutinitas yang membuatnya merasa bahagia telah menjadi istri seorang Irawan Mahendra. Kemudian tangannya mengambil kemeja biru langit dengan dasi biru dongker. Padanan warna yang menurutnya paling membuat Irawan terlihat begitu menawan."Lang ... kamu coba pakai kemeja ayah, nih. Ibu rasa ukuran badan kamu sudah sama dengan badan ayah dulu. Coba deh ..." ujar Dahlia, membawa kemeja pilihannya ke kamar Gilang.Gilang yang masih mengeringkan rambutnya sehabis mandi terkejut dengan kehadiran Dahlia di kamarnya. Ia sedikit mengeryitk
Belajar dari apa yang dialami Mayang, Amira tak ingin menghabiskan belasan tahun hidupnya dalam kesengsaraan yang sama-tinggal serumah dengan ibu mertua yang tak pernah benar-benar menghargai pengorbanan menantu. Setiap usaha dianggap kurang. Setiap kesalahan dibesar-besarkan. Kata-kata kasar seperti menjadi santapan harian.Dia juga sudah jenuh mendengar urusan rumah tangga kakak iparnya yang selalu saja bertengkar karena uang."Kamu kenapa bertanya begitu, Mira?" Sigit menatapnya heran. "Bukannya dulu kamu sendiri yang ingin tetap tinggal di sini karena mau menjaga Ibu? Sekarang kondisi kita lagi harus berhemat. Bukan malah nambah pengeluaran lagi.""Aku punya sedikit tabungan, Mas," suara Amira mulai bergetar, tapi ia memaksa tetap tenang. "Kita keluar dari rumah ini. Tinggal di kontrakan sederhana saja. Aku bisa jualan makanan lagi buat bantu tambah penghasilan. Aku yakin kita pasti bisa, Mas."Ia mengguncang lengan suaminya pelan, berharap mendapat dukungan. Namun reaksi Sigit ju
"Kamu ngobrol sama, Mayang?" tanya Dahlia setelah Gilang keluar dari kamar dan menyusulnya ke dapur."Iya, Bu. Oh ya bu, Gilang mau bilang sesuatu sama ibu. Maaf kalau waktu itu Gilang mengelak dan menutupi status Mayang."Dahlia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencuci buah anggur pemberian Chandra. Ditatapnya wajah putra tunggalnya dengan tatapan 'ibu tahu kamu mau bilang apa'. Kemudian naikkan kedua alisnya, menyuruh Gilang melanjutkan perkataannya."Mayang istri orang. Lusa dia akan sidang perceraian terakhir dengan suaminya." Gilang diam sejenak, menunggu reaksi Dahlia."Terus? Dia cerai kenapa? Karena kamu?" tembak Dahlia."Bukan, Bu. Suaminya diam-diam udah menikah lagi dan sudah punya anak dari istri barunya. Suaminya juga KDRT. Gilang lihat sendiri kekerasan yang dilakukan suaminya." Gilang menundukkan kepalanya."Kamu cinta dia, Lang?"Gilang mengangguk. "Iya, Bu.""Lamar dia, Lang. Halalkan dia. Bawa dia seperti ayah kamu sudah bawa ibu untuk hidup bersama dengann
"Baiklah. Kalau gitu, saya beri kalian waktu untuk berpikir. Besok, kalau Gilang sudah siap, saya akan datang lagi untuk menjemput. Permisi."Suasana kembali hening setelah langkah pria itu menjauh.Gilang mengantar Chandra sampai ke halaman, memperhatikan pria itu masuk ke dalam mobil hitam mengilap yang sejak tadi terparkir rapi di depan rumah. Mesin baru saja menyala ketika tiba-tiba pintu kembali terbuka. Chandra keluar lagi. Ia melangkah santai mendekati Gilang, lalu menyelipkan sebuah kartu nama ke tangan pemuda itu.Kartu nama tanpa nama. Hanya sebuah logo huruf 'M' berwarna emas yang tercetak elegan di bagian tengah atasnya."Kalau kamu bersedia ikut saya besok," ujar Chandra pelan, "nama kamu akan segera tercantum di kartu itu." Ia mengedipkan sebelah mata, senyumnya melebar."Sampai jumpa lagi, keponakan om yang ganteng ..."Gilang mengamati kartu di tangannya. "Chief Executive Office? Artinya apa ya?" gumam Gilang.Dan tidak hanya itu saja yang membuatnya bingung, alamat da
"Dia bukan pemuda kayak gitu, Wi. Gilang pasti mau bertanggung jawab. Hubungan yang sudah sampai ke tahap mengenal orang tua bukan hubungan yang main-main lagi, kan," ungkap Mayang, lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri."Harusnya sih begitu. Emang dia lagi terlibat masalah apa sih? Nyampe kamu khawatir kebangetan gitu?" Dewi mendengus tertawa.Tak habis pikir, masalah yang sedang dialami pemuda berusia dua puluh tahun? Paling juga berkelahi sesama mahasiswa atau kebut-kebutan di jalan."Kasus pencucian uang hasil korupsi Hermawan Salim," ujar Mayang, setengah mencicit."What??? Dia? Pemuda ingusan itu? Terlibat kasus pencucian uang? Berapa banyak?""Satu miliar - kemungkinan lebih.""Omaigat!! Kamu dalam bahaya, Mayang!"Keheningan pun menyergap mereka. Semenit kemudian Dewi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sebuah ide gila terlintas dibenaknya. Dia tidak mau kalau sahabatnya itu sampai menderita lagi karena kehamilannya atau buruknya lagi melahirkan tanpa ada suami yang mengakui
"Pasien selanjutnya - Ibu Rosalinda Mercedes!" seru seorang perawat dari depan ruang pemeriksaan dr. Dewi Larasati, Sp.OG.Masih ada sekitar dua pasien lagi sebelum giliran Mayang. Sambil duduk, ia terus membuka aplikasi chat di ponselnya.Tak ada perubahan.Pesan-pesannya untuk Gilang masih belum terbaca. Keterangan terakhir menunjukkan pemuda itu online tak lama setelah mereka selesai mengobrol semalam.Setelah itu-menghilang.Mayang mencubit pangkal hidungnya hingga terasa nyeri, mencoba meredakan pening yang sejak tadi berdenyut di kepala. Tetapi pikirannya tidak bisa lepas memikirkan di mana keberadaan Gilang saat ini. Rasa penasaran Mayang terusik saat terdengar ada panggilan masuk ke ponselnya. Hati Mayang melonjak.Mungkinkah Gilang?"Hallo ..." Suara bariton seorang pria terdengar di ujung sambungan telepon."Charles ... ada berita apa?" tanya Mayang setelah mengenali suara pengacaranya."Seorang utusan kami sudah mendapatkan keterangan dari rumah Cipto Syarif," ujar Charles
Gilang gemas setengah mati melihat tubuh molek Mayang. Tangannya gatal ingin cepat-cepat mendarat, meremas dada montok itu dan mulutnya sudah kepingin menyusu. Mayang menggiring Gilang menuju meja makan. Sajian makan malam yang menggiurkan tersaji di atas meja."Kamu masak apa, Mayang?" tanya Gilan
Wanita itu tersentak. Matanya membelalak begitu menyadari siapa yang baru saja ia tabrak."Gilang! Kamu...?!" Mayang buru-buru menjulurkan tangannya. "Sini balikin ponsel saya!""Eits! Bentar dulu." Gilang mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hingga Mayang harus berjinjit jika ingin merebut kembali
Gilang dan Sabrina tampak bermandi keringat di pojok kantin kampus. Napas mereka tersengal, bibir merekah, dan mata merem-melek, menahan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata."Aduh, ga tahan gue!" Sabrina mengerang, mengipasi wajahnya yang sudah tak karuan.Dia menampar pergelangan tanga
Di sebuah toko perhiasan mewah, seorang pria paruh baya berdiri di depan etalase, matanya menyapu satu per satu deretan kalung berkilauan. Senyuman terus menghiasi wajahnya, sementara jemarinya yang kokoh mengetuk-ngetuk kaca etalase dengan ritme pelan. Hatinya berbunga-bunga, membayangkan kalau se







