Share

PIJAT NIKMAT

Penulis: Fredy_
last update Tanggal publikasi: 2025-10-21 06:36:29

Tanpa berpikir panjang, Gilang meraih bahu Mayang, menuntun wanita itu masuk ke dalam rumah. Mayang yang sudah terlalu lemah untuk menolak, membiarkan pemuda itu membimbingnya hingga ke ruang tamu. Ia terduduk di sofa dengan napas sedikit tersengal, sebelah tangannya masih menekan dadanya.

Melihat wajah Mayang yang mulai pucat, Gilang sedikit membungkuk di depannya dengan raut bersalah.

"Maaf ya, Bu. Saya jadi ganggu istirahat ibu ..."

Mayang menyandarkan kepala ke sandaran sofa, matanya terpejam. Keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya.

"Boleh saya minta tolong ambilkan minyak angin di rak sana, Lang?" ucapnya lemah, sembari menunjuk rak dekat meja televisi.

"Emm ... boleh," sahut Gilang, segera berjalan ke arah yang ditunjuk.

Namun, saat ia mengambil botol kecil berisi minyak bangin, rasa penasarannya terusik dan spontan bertanya, "Rumah ibu sepi banget. Suami ibu mana?" tanyanya.

Mayang membuka sebelah matanya, lalu mendesis pelan. "Apa sih kamu tanya-tanya?"

"Saya cuma nanya aja, Bu. Nggak usah sewot kali. Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa," ujar Gilang santai.

Gilang berjalan kembali ke sofa, tetapi bukannya tetap berdiri, ia malah dengan sengaja menjatuhkan dirinya tepat di sebelah Mayang.

"Nih, Bu," katanya, sambil membuka tutup botol minyak angin dan menggoyangkannya di depan wajah Mayang. Aroma mentol yang kuat langsung memenuhi di ruangan itu.

Mayang membuka mata perlahan. Mungkin dia sudah gila, atau mungkin terlalu haus kasih sayang. Dengan napas masih tersendat, bibirnya melontarkan pengakuan yang seharusnya tak perlu diucapkan.

"Suami aku udah hampir setahun berlayar, belum pulang-pulang, Lang," gumamnya.

Gilang membeku sesaat. Otot-ototnya menegang, otaknya mulai berkelana liar. Tatapannya turun ke dada Mayang yang naik-turun terengah, lalu ke botol minyak angin di tangannya. Jantung dan inti tubuhnya berdenyut bersamaan. Ia mencondongkan tubuhnya, bibirnya mendekati telinga Mayang menyunggingkan senyum nakal.

Setengah berbisik, ia berkata, "Ibu masuk angin, ya? Mau saya kerokin?"

Suara rendahnya meluncur halus di antara hembusan aroma mentol yang semakin memenuhi ruangan. Syahdu dan ... menggoda.

Mayang tertegun. Tawaran Gilang barusan terdengar kurang ajar—dan seharusnya sih bisa ia tolak mentah-mentah. Namun, suara maskulin pemuda itu seakan mengalir begitu halus di telinganya, menembus ke dalam pikirannya, hingga membuatnya hanya mampu menyahut,

"Aku udah lama nggak dikerokin, Lang ..."

Gilang bergeser semakin dekat memepeti Mayang yang masih terduduk lemah di sofa.

"Dada ibu masih sesak?" tanyanya lembut, penuh perhatian.

Mayang menelan ludah. Faktanya, memang dadanya masih nyeri dan napasnya terasa berat. Ia pun mengangguk pelan.

Tanpa banyak basa-basi, Gilang menuangkan minyak angin ke telapak tangannya, menggosokkannya sebentar hingga hangat, lalu perlahan menaruh tangannya di belakang leher Mayang. Jemarinya mulai memijat pelan, menekan titik-titik di sekitar tengkuk dengan gerakan lembut.

Mayang menarik napas perlahan. Kehangatan dari minyak angin bercampur dengan sentuhan jari Gilang membuat tubuhnya relaks, meskipun pikirannya mulai kalang kabut.

"Harusnya bukan dipijat di sini sih," gumam Gilang, dekat sekali dengan telinga Mayang. "Biar Ibu bisa sendawa biar lebih lega."

Mayang menutup mata. Ini gila! Ia harus menghentikan Gilang sekarang juga. Namun, bodohnya, ia malah membiarkan sentuhan pemuda itu bertahan sedikit lebih lama. Dengan penuh perasaan Gilang menurunkan pijatannya ke bahu Mayang, terus merosot ke arah punggung. Spontan Mayang menegakkan tubuhnya, memberi ruang agar tangan pemuda itu semakin leluasa.

"Badan ibu panas banget. Mau sekalian dibalurin semua, Bu?" tanya Gilang, jemarinya terus bergerak memijat perlahan.

Namun, tanpa menunggu jawaban, tangannya sudah menyusup ke balik kaos longgar Mayang, dan dengan kelincahan luar biasa—klik!—pengait bra wanita itu terlepas begitu saja.

Mayang membelalakkan mata. "Gilang?! Kamu—"

"Ibu, mau sembuh nggak?" potong Gilang, tersenyum usil. "Kata buku kesehatan yang pernah saya baca, kalau aliran darah lancar, masuk angin bisa cepat hilang."

Mayang mengatupkan bibir, setengah ingin membentak, setengah lagi... tak kuasa menahan perasaan nyaman atas pijatan tangan Gilang yang kini meluncur dari punggung ke lekuk pinggangnya. Sesekali, telapak tangannya menekan titik-titik tertentu, bahkan ke arah bokongnya yang padat.

"Hmm..." sekilas erangan lolos dari bibir Mayang. "Kamu belajar pijat di mana, Lang?" tanyanya, mencoba mengalihkan getaran ringan yang menjalari tubuhnya.

Gilang menahan tawa. “Ohhh … dulu waktu kecil saya suka perhatikan Si Mbah kalau lagi mijetin orang-orang di kampung. Mbah putri saya tuh tukang pijet sekaligus dukun beranak, Bu. Tapi sekarang sudah meninggal dunia," papar Gilang, mengarang bebas.

"Ooohh ..." sahut Mayang, nyaris seperti desahan.

Gilang menekan lagi bagian belakang leher Mayang. Bulu-bulu halus wanita berusia matang itu menggoda Gilang untuk mendaratkan sebuah kecupan. Mayang terkejut. Namun, keterkejutannya tertutupi cepat dengan sendawa dari mulutnya.

"Asiiikkk! Keluar deh anginnya. Kalau saya analisa lagi, badan ibu nih abis kemasukan angin gunung," ucap Gilang, sok tahu.

“Angin gunung? Angin gunung dari mana? Saya seharian kemarin di kampus aja. Abis itu pulang ke rumah, nggak ke mana-mana, apalagi ke gunung..." protes Mayang.

“Serius, Bu. Ini tuuhh ... Angin dari gunung kembar …” bisik Gilang di belakang telinga Mayang, lidahnya menjilat ujung cuping telinga Mayang, dan sebelah tangannya dengan cekatan meraba perut Mayang yang panas.

"Bu ..."

Gilang meniup halus telinga Mayang yang pantulan tubuhnya terlihat jelas di kaca buffet ruang tamu. Bra yang sudah merosot akibat ulah tangannya, membuat gundukan indah Mayang semakin terbayang jelas di benaknya.

"Enak nggak, Bu?" tanya Gilang. "Kalau enak bilang 'enak Gilang'. Enak nggak?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Togar Manullang
cukup bagus ceritanya
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Gratilan tangan Gilang...eh Bu Mayang pasrah aja
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Mana ada angin gunung ih ..Gilang somplak haha
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CIPTO EDAN

    Belajar dari apa yang dialami Mayang, Amira tak ingin menghabiskan belasan tahun hidupnya dalam kesengsaraan yang sama-tinggal serumah dengan ibu mertua yang tak pernah benar-benar menghargai pengorbanan menantu. Setiap usaha dianggap kurang. Setiap kesalahan dibesar-besarkan. Kata-kata kasar seperti menjadi santapan harian.Dia juga sudah jenuh mendengar urusan rumah tangga kakak iparnya yang selalu saja bertengkar karena uang."Kamu kenapa bertanya begitu, Mira?" Sigit menatapnya heran. "Bukannya dulu kamu sendiri yang ingin tetap tinggal di sini karena mau menjaga Ibu? Sekarang kondisi kita lagi harus berhemat. Bukan malah nambah pengeluaran lagi.""Aku punya sedikit tabungan, Mas," suara Amira mulai bergetar, tapi ia memaksa tetap tenang. "Kita keluar dari rumah ini. Tinggal di kontrakan sederhana saja. Aku bisa jualan makanan lagi buat bantu tambah penghasilan. Aku yakin kita pasti bisa, Mas."Ia mengguncang lengan suaminya pelan, berharap mendapat dukungan. Namun reaksi Sigit ju

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   JERIT HATI AMIRA

    "Kamu ngobrol sama, Mayang?" tanya Dahlia setelah Gilang keluar dari kamar dan menyusulnya ke dapur."Iya, Bu. Oh ya bu, Gilang mau bilang sesuatu sama ibu. Maaf kalau waktu itu Gilang mengelak dan menutupi status Mayang."Dahlia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencuci buah anggur pemberian Chandra. Ditatapnya wajah putra tunggalnya dengan tatapan 'ibu tahu kamu mau bilang apa'. Kemudian naikkan kedua alisnya, menyuruh Gilang melanjutkan perkataannya."Mayang istri orang. Lusa dia akan sidang perceraian terakhir dengan suaminya." Gilang diam sejenak, menunggu reaksi Dahlia."Terus? Dia cerai kenapa? Karena kamu?" tembak Dahlia."Bukan, Bu. Suaminya diam-diam udah menikah lagi dan sudah punya anak dari istri barunya. Suaminya juga KDRT. Gilang lihat sendiri kekerasan yang dilakukan suaminya." Gilang menundukkan kepalanya."Kamu cinta dia, Lang?"Gilang mengangguk. "Iya, Bu.""Lamar dia, Lang. Halalkan dia. Bawa dia seperti ayah kamu sudah bawa ibu untuk hidup bersama dengann

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   JAUH DI MATA, DEKAT DI HATI

    "Baiklah. Kalau gitu, saya beri kalian waktu untuk berpikir. Besok, kalau Gilang sudah siap, saya akan datang lagi untuk menjemput. Permisi."Suasana kembali hening setelah langkah pria itu menjauh.Gilang mengantar Chandra sampai ke halaman, memperhatikan pria itu masuk ke dalam mobil hitam mengilap yang sejak tadi terparkir rapi di depan rumah. Mesin baru saja menyala ketika tiba-tiba pintu kembali terbuka. Chandra keluar lagi. Ia melangkah santai mendekati Gilang, lalu menyelipkan sebuah kartu nama ke tangan pemuda itu.Kartu nama tanpa nama. Hanya sebuah logo huruf 'M' berwarna emas yang tercetak elegan di bagian tengah atasnya."Kalau kamu bersedia ikut saya besok," ujar Chandra pelan, "nama kamu akan segera tercantum di kartu itu." Ia mengedipkan sebelah mata, senyumnya melebar."Sampai jumpa lagi, keponakan om yang ganteng ..."Gilang mengamati kartu di tangannya. "Chief Executive Office? Artinya apa ya?" gumam Gilang.Dan tidak hanya itu saja yang membuatnya bingung, alamat da

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   AKU BUTUH KAMU

    "Dia bukan pemuda kayak gitu, Wi. Gilang pasti mau bertanggung jawab. Hubungan yang sudah sampai ke tahap mengenal orang tua bukan hubungan yang main-main lagi, kan," ungkap Mayang, lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri."Harusnya sih begitu. Emang dia lagi terlibat masalah apa sih? Nyampe kamu khawatir kebangetan gitu?" Dewi mendengus tertawa.Tak habis pikir, masalah yang sedang dialami pemuda berusia dua puluh tahun? Paling juga berkelahi sesama mahasiswa atau kebut-kebutan di jalan."Kasus pencucian uang hasil korupsi Hermawan Salim," ujar Mayang, setengah mencicit."What??? Dia? Pemuda ingusan itu? Terlibat kasus pencucian uang? Berapa banyak?""Satu miliar - kemungkinan lebih.""Omaigat!! Kamu dalam bahaya, Mayang!"Keheningan pun menyergap mereka. Semenit kemudian Dewi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sebuah ide gila terlintas dibenaknya. Dia tidak mau kalau sahabatnya itu sampai menderita lagi karena kehamilannya atau buruknya lagi melahirkan tanpa ada suami yang mengakui

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CALON IBU

    "Pasien selanjutnya - Ibu Rosalinda Mercedes!" seru seorang perawat dari depan ruang pemeriksaan dr. Dewi Larasati, Sp.OG.Masih ada sekitar dua pasien lagi sebelum giliran Mayang. Sambil duduk, ia terus membuka aplikasi chat di ponselnya.Tak ada perubahan.Pesan-pesannya untuk Gilang masih belum terbaca. Keterangan terakhir menunjukkan pemuda itu online tak lama setelah mereka selesai mengobrol semalam.Setelah itu-menghilang.Mayang mencubit pangkal hidungnya hingga terasa nyeri, mencoba meredakan pening yang sejak tadi berdenyut di kepala. Tetapi pikirannya tidak bisa lepas memikirkan di mana keberadaan Gilang saat ini. Rasa penasaran Mayang terusik saat terdengar ada panggilan masuk ke ponselnya. Hati Mayang melonjak.Mungkinkah Gilang?"Hallo ..." Suara bariton seorang pria terdengar di ujung sambungan telepon."Charles ... ada berita apa?" tanya Mayang setelah mengenali suara pengacaranya."Seorang utusan kami sudah mendapatkan keterangan dari rumah Cipto Syarif," ujar Charles

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   POLISI

    "Sudah hampir sampai, Bu. Mau turun di gerbang yang mana?" tanya supir taxi karena universitas tersebut memiliki empat gerbang searah mata angin."Saya turun di gerbang utara saja, Pak. Kampus Fakultas Teknik," jawab Mayang.Supir taxi melajukan kendaraannya memutari sebuah pohon besar berusia ratusan tahun yang berdiri abadi di depan gerbang utama universitas tersebut. Berbelok ke arah utara dan berhenti di gerbang masuk fakultas teknik. Baru saja Mayang turun dari taxi, hendak berjalan melintasi gerbang, bayangan Gilang yang berdiri dengan cengiran konyolnya seketika membuat hati Mayang tercubit.Dia pun mempercepat langkahnya menuju ruang dosen. Melintasi parkiran motor mahasiswa, mata Mayang tidak tahan untuk mencari barangkali saja motor Gilang yang membuatnya sakit pinggang itu ada di sana. Mayang menghela nafasnya. Sudah pasti motor itu tidak ada di sana.Ruang dosen berada di sebelah kiri dari arahnya berjalan. Tetapi lagi-lagi matanya tidak tahan untuk menengok kantin kampus

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CEMBURU BU DOSEN

    Gilang dan Sabrina tampak bermandi keringat di pojok kantin kampus. Napas mereka tersengal, bibir merekah, dan mata merem-melek, menahan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata."Aduh, ga tahan gue!" Sabrina mengerang, mengipasi wajahnya yang sudah tak karuan.Dia menampar pergelangan tanga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   BAYAR, BU!

    Di sebuah toko perhiasan mewah, seorang pria paruh baya berdiri di depan etalase, matanya menyapu satu per satu deretan kalung berkilauan. Senyuman terus menghiasi wajahnya, sementara jemarinya yang kokoh mengetuk-ngetuk kaca etalase dengan ritme pelan. Hatinya berbunga-bunga, membayangkan kalau se

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   TOILET BERGOYANG

    Jemari Gilang menyentuh puncak dada Sabrina yang mengencang terangsang. Dia mengusap dan memilin titik sensitif itu dengan sedikit kasar. "Ciuman sama kamu juga enak banget, Sab." Gilang mengecup ringan bibir Sabrina, dan menatap sayu gadis itu. "Gimana kalau kamu praktekin juga ke bawah. Pasti bak

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   DASAR BOCAH TENGIL!

    "Kamu kenapa nanya yang begitu? Kamu nggak boleh kepo sama kehidupan pribadi saya," sahut Mayang sewot."Duuhh ... abis enak-enak, udah jutek lagi. Saya penasaran saja. Soalnya punya kamu masih kenceng banget, kayak perawan. Oh, Ibu pasti rutin ikut senam kebugaran, ya?" Gilang menyerudukkan wajahn

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status