Share

MASUK ANGIN

Author: Fredy_
last update publish date: 2025-10-21 06:10:14

"Kok diem sih, Bu? Aah, kacau, nih ..." Gilang menurunkan ponselnya dari depan Mayang dengan seringai kecil. "Nggak boleh tau, Bu. Entar Ibu kepengen nyobain, bisa repot, loh!"

Dengan santai, Gilang segera bangkit dari duduknya, dan memasukkan ponsel ke saku celana. "Udah ah, saya pergi dulu, Bu. Mau ngerjain tugas Pak Sidik," ucapnya, lagi-lagi menjadikan Pak Sidik sebagai alasan menghindar.

Namun, baru saja ia membalikkan badan, langkahnya terhenti suara omelan Mayang.

"Eh, Lang!" Mayang berseru, seraya berdiri dan bertolak pinggang. "Kamu jangan pura-pura lupa! Tinggal kelompok kamu saja yang belum ngumpulin tugas! Kalau besok nggak ngumpulin, satu kelompok saya kasih nilai E!"

Gilang memutar badan, sok terkejut. "Apaahh? Eh? Serius, Bu? Serem banget deh."

Mayang melipat tangan di bawah dadanya, membuat pandangan Gilang terpeleset ke arah gundukan besar di balik blus yang kancingnya nyaris terlepas itu.

"Saya serius, ya!" Mayang menyipitkan matanya galak. "Cepet kerjain sana!"

"Beres, Bu! Kalau Gilang udah turun tangan, satu jam juga kelar," sahut Gilang. Sebelum pergi, dia sempat melirik nakal dan mengedipkan sebelah matanya.

***

Gilang pikir setelah kejadian di taman itu, dia tidak akan bertemu Mayang dalam waktu dekat. Yah, setidaknya, ada jeda waktu buat dosen itu melupakan videonya. Tapi, ternyata, keesokan harinya, Gilang sudah berdiri di depan pagar rumah bernuansa minimalis... rumah Mayang.

Gilang celingukan, mengintip, dan mencoba mencari bel di sekitar pagar, tapi tidak ada.

"Buset deh, rumah di komplek elite begini masa nggak ada belnya, sih?" batinnya.

Gilang menghela napas, dan merapikan rambutnya yang berantakan setelah melepas helm. Matanya menimbang jarak pagar ke pintu rumah yang cukup jauh.

"Kalau dipanggil pelan, pasti nggak denger. Harus teriak ini sih," gumamnya. Lalu, ia berpegangan pada pagar besi, menarik napas, dan berseru, "Permisi ...! Ibu Mayang ...! Permisi...!"

Hening.

"Buuu ...! Bu Mayang yang cant ---"

"Eh, berisik kamu!"

Pintu depan berderit terbuka, Mayang muncul dari baliknya. Celana pendek longgar membalut kakinya yang jenjang, dan kaus tipis sedikit ketat membungkus tubuhnya. Rambutnya yang biasa tertata rapi, hanya dicepol asal, dengan beberapa helai jatuh ke pelipisnya.

"Masih pagi udah teriak-teriak depan rumah orang! Mau apa, sih?!" gerutu Mayang, suaranya agak serak, dan matanya mengerjap malas seperti baru saja bangun tidur.

Gilang menaikkan sebelas alisnya. "Pagi? Udah siang, Bu! Ini, Bu. Saya mau ngumpulin tugas kelompok," sahutnya, mengeluarkan sebundel makalah dari balik jaketnya.

"Tugas?" Mayang mengerutkan kening, mengingat-ingat sesuatu.

"Masa lupa?! Saya kan takut dapet nilai E. Jadi mending sekalian saja saya anterin ke rumah ibu," sahut Gilang.

Mata Mayang yang tadi masih sayu seketika terbuka lebar. "Kamu tau rumah saya dari mana?" tanyanya bingung.

"Oh, tadi kan saya ke ruang dosen, nyariin Ibu. Kata Bu Jenny, Ibu nggak masuk. Ya udah, saya tanya aja rumah ibu di mana. Ternyata nggak jauh dari kampus. Gitu Ibu, Can---"

Belum sempat Gilang menyelesaikan kalimatnya, Mayang sudah lebih dulu melangkah cepat ke arah pagar. Lagi-lagi, mata Gilang langsung tertuju pada sepasang gundukan indah Mayang yang memantul lentur. Dan, sebelum pikirannya semakin melantur, Mayang sudah membuka pintu pagar, merebut makalah dari tangan Gilang.

"Bukannya taruh aja di meja dosen, malah dianterin ke sini." Mayang mendengus, sambil membolak-balik kertas makalah dengan alis sedikit berkerut. "Saya lihat dulu. Kalau masih salah, mending kamu bawa lagi aja. Kerjain ulang!"

Gilang ikut menunduk ke atas kertas. "Loh, kalau ada yang salah, harusnya dibimbing lagi dulu, Bu. Kasih tau mana yang salah, terus baru saya kerjain ulang deh. Bukan malah nyuruh saya bolak-balik," sahutnya dengan cengiran jahil.

Mayang mengangkat wajah, melayangkan tatapan tajam. "Alasan! Bilang aja kamu mau ditawarin masuk ke dalam dulu," ujar Mayang.

"Tuh, ibu tau. Dari kampus ngebut ke sini, lumayan bikin haus, Bu," cengir Gilang.

Mayang mengabaikan ucapan Gilang. Ia sudah fokus lagi pada lembaran kertas makalah.

"Duh, kelompok kamu ini gimana, sih? Masih banyak yang salah, nih!" Mayang menamparkan bundelan kertas itu ke dada Gilang. "Ulang lagi sana!"

Gilang tersentak dramatis. "Yah, Bu! Masa ulang lagi? Udah habis duit banyak nih buat ngeprint!" protesnya.

"Nggak ada tawar-menawar!" bentak Mayang tegas. "Pokoknya kalian ulang sampai ... Aduh ..."

Mayang tiba-tiba meremas bagian tengah dadanya, dan napasnya menjadi pendek-pendek. Raut wajahnya dalam sekejap berubah kesakitan.

Gilang yang awalnya masih ingin berdebat soal makalah tadi, seketika panik. "Bu, ibu kenapa?" Suaranya meninggi. "Duh, saya lupa! Kata Bu Jenny, ibu lagi sakit, ya? Sakit apa, Bu?" tanyanya cemas.

Dan, tanpa sadar, Gilang sudah melangkah masuk melewati pagar.

"Dada saya ... sesak dari semalam. Kayak masuk angin ... Duh ..." Mayang merintih, tangannya berusaha menyangga tubuhnya di pagar.

"Bu, saya bantu masuk ke rumah, ya ..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Sakit beneran ga Bu hihi
goodnovel comment avatar
Enisensi Klara
Wah ...kesempatan nih Gilang wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   AKHIR YANG INDAH - TAMAT

    “Brother aink!!” suara khas Raka memanggil Gilang yang baru tiba di Indonesia. “Raka kangen ... huuu ... lama banget ngga ketemu sampai kamu sudah punya anak tiga biji begini.”“Aku juga kangen sama kamu, ka. Istiri aku ngga disapa, ka?”“Ehh ... Bu Mayang ... tambah geulis wae ... apa kabar ibu?” Raka mengulurkan tangannya dan mencium tangan mantan dosennya itu.“Katanya kamu mau jemput pakai mobil, ka? Mana mobilnya?”“Ehh iyaa ... hayu atuh kita berangkat. Kesian bayi-bayi kayaknya udah pada lelah.”“Aku yang udah lelah, ka. Tangan keram gendong tiga bayi, ayahnya sih enak tidur.” Mayang menyenggol lengan Gilang.Sebuah Vellfire hitam telah menunggu tak jauh dari pintu lobby bandara. Gilang berdecak saat Raka mendekati mobil itu dan membukakan pintu untuk mereka.“Wuuiihhh ... keren banget brother aink sekarang! Mobil baru?” tanya Gilang seakan mencurigai perbuatan pemuda itu selama dua tahun ditinggal olehnya.“Tinggal naik saja bawel banget sih? Tinggal duduk saja yang nyaman, la

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   #SAVEAYAHMUDA

    Suatu hal yang wajar jika seorang istri posesif terhadap suaminya. Itu berarti rasa cintanya begitu besar dan dia menginginkan suaminya itu hanya menjadi milik satu-satunya. Bahkan kalau bisa nyamuk betina juga tidak boleh nemplok seenaknya dan menggigit anggota tubuh manapun dari suaminya itu.Wanita juga ahli sejarah yang paling hebat di dunia. Dia bisa mengingat segala kesalahan yang pernah dilakukan suaminya mulai dari saat pacaran hingga sudah punya anak banyak. Dan Mayang tidak mau menambah rentetan kesalahan untuk diingat. Dia harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya kini.Mayang melenggang anggun sambil mendorong stroller, memasuki area taman kampus terkenal di kota itu. Dia dan Tina berjalan menuju fakultas tempat Gilang menuntut ilmu. Berdasarkan jadwal yang Mayang intip diam-diam dari ponsel suaminya itu, seharusnya Gilang sudah selesai kelas pagi.Pucuk dicinta ulam pun tiba, ayah muda yang tengah dicari keberadaannya itu terlihat sedang mengo

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   MISI ISTRI

    Tiba-tiba Mayang seperti merasa cemas dengan lingkungan kampus Gilang. Apa mungkin mahasiswa di sana tidak mengetahui status Gilang yang sudah menjadi seorang ayah? Atau gadis-gadis di sana sudah terbiasa bersikap mesra terhadap lawan jenis?“Ehh? Grace?” tanya Gilang seketika terdiam.Suara pintu apartement yang terbuka mengejutkan mereka, sebelum Gilang sempat memuaskan Mayang dengan jawabannya. Tina sudah pulang berbelanja. Dengan dibantu supir, wanita itu mengangkut kantong-kantong belanja yang seperti tidak ada habisnya. Lekas Mayang mengalihkan perasaan anehnya dengan membantu Tina mengeluarkan barang belanjaan.“Are you okay? Bayi-bayi handsome masih tidur? Apa mereka sempat rewel?” tanya Tina yang melihat ketidakberesan di wajah Mayang.“Tidak, Tina. Mereka aman dan aku juga sudah sempat mandi. Tina aku boleh minta bantuan kamu?” bisik Mayang sembari meremas jemarinya.“Silahkan. Bilang saja. Kamu butuh bantuan apa?”“Besok aku mau kita membawa bayi-bayi ini ke suatu tempat.”

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   TEMAN KAMPUS?

    Hari itu terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Gilang. Selama seminggu terakhir, ia harus membagi waktu antara kuliah, virtual meeting dengan Chandra dan jajaran manajemen perusahaan di Swedia, serta bolak-balik menemani Mayang di rumah sakit. Hingga akhirnya, hari ini mereka bisa kembali ke apartemen.Dengan bantuan Tina, masing-masing dari mereka menggendong satu bayi. Sementara itu, dua tas besar dibawa oleh sopir. Tepat pukul sepuluh pagi, mereka tiba di apartemen. Tanpa menunda, Gilang segera merebahkan tubuhnya di ranjang setelah memastikan ketiga bayinya terlelap di boks baru mereka."Gilang, Mayang... aku harus ke supermarket sebentar. Beli bahan makanan sehat untuk ibu hamil. Keluarga dari Indonesia jadi datang tiga hari lagi, kan? Sekalian aku beli bahan untuk bikin kue," ujar Tina sambil menggenggam dompet yang setiap hari diisi Mayang untuk kebutuhan belanja."Om Chandra bilang jadi datang. Dia juga bawa ayah dan ibuku. Oh iya... tolong belikan buah yang banyak, ya. Ay

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   CAP CIP CUP

    "Aku sayang kamu, Ibu Mayang Sari Indriani ..." bisik Gilang di sela ciuman itu. Napasnya mulai memburu. Perlahan, tangannya bergerak, hendak menggapai dada Mayang yang bebas.Namun saat Gilang mulai akan meremas dadanya, Mayang segera melayangkan protes. "Ingat jatah anak, Lang.""Iya, bu ... iya ..." Gilang manyun.Matanya kembali menatap anak ketiganya yang mulai kekenyangan. Mulut bayi mungil itu melepaskan pucuk dada ibunya yang memerah. Persis seperti kalau Gilang keasikan bermain-main di sana. Hanya saja sekarang bentuknya lebih besar dan ..."Sesek, Mayang ..." ucap Gilang sembari merapatkan pahanya.Mayang tertawa. Ketiga bayinya memang sangat menggemaskan. Tapi lebih menggemaskan lagi ayah mereka kalau sudah merajuk. Wajah memelasnya itu selalu saja berhasil membuat Mayang mengangkangkan kedua pahanya. Karena kalau tidak, Gilang akan terus merajuk sampai dapat.Sungguh tak terbayang setelah 40 hari berlalu, Gilang akan membolak-balik dirinya seperti apa nanti. Sepertinya May

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   BAHAGIA PENUH

    Seorang perawat yang membantu mendorong bayi-bayi mereka sampai ke ruang perawatan, berdiri di dekat Mayang."Maaf, apa ibu mau menyusui bayinya?" tanya perawat itu."Mau," ucap Mayang dengan wajah sumringah.Selain mengandung dan melahirkan, peristiwa menyusui bayi juga merupakan kejadian yang sangat ia nanti-nantikan. Sebelum menyodorkan bayi yang lahir lebih dulu, perawat memberi penjelasan singkat tentang beberapa jenis makanan yang dapat memperlancar produksi asi."Saya bantu melepaskan bagian atas pakaian ibu supaya bisa menyusui dengan mudah," tukas perawat wanita berkulit gelap dengan rambut berombak yang digulung ke atas.Perawat itu mengatur posisi sandaran ranjang Mayang hingga 45 derajat. Gilang dengan sigap membantu membetulkan bantal untuk menjadi tempat bersandar Mayang. Pakaian Mayang terlepas saat perawat menarik tali baju bersalinnya.Gilang pura-pura mengalihkan pandangannya saat sepasang dada Mayang yang bengkak terpampang di depannya. Perawat memencet dada Mayang,

  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   PROFESI YANG DIPERTARUHKAN

    "Bu Mayang ... bu ..." panggil seorang dosen wanita.Namun, Mayang terus saja berjalan menuju ruang dekan, tanpa ada niat menghentikan langkahnya, menanggapi orang yang memanggilnya. Demi Tuhan! Kepalanya sudah cukup sakit mendapati gossip yang beredar di kampus, mengenai dirinya dan Gilang."Bu, s

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   BERCINTA DI RUMAH IBU

    Malam itu, percakapan mereka ditutup dengan pertanyaan yang terus Gilang ingat sampai dengan keesokan paginya. Akan tetapi, Dahlia memang bukan tipe wanita yang terlalu sulit untuk didekati. Terbukti pagi ini, Gilang sudah dapat menyaksikkan keakraban yang terjalin di antara dua wanita favoritnya i

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   TEKAD BARU

    "Hei! Kita jadi nganter Bu Mayang pulang nggak sih?" tanya Sabrina yang merasa dicuekin karena kedua orang yang berada di depannya itu terus saja mengobrol dengan asyik seolah melupakan keberadaan dirinya."Ehhh ... jadi lah, Sab ... tunggu... aku minta kursi roda dulu ke perawat ..." sahut Gilang.

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • BRONDONG TENGIL BU DOSEN!   HASRAT YANG DIRINDUKAN

    Jauh di negara berbeda, seorang wanita berambut pendek keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan kimono sutera berwarna biru. Tubuhnya penuh dengan gairah seksual yang menuntut. Sudah hampir seminggu ini pikirannya tersita dengan berbagi macam problem yang harus ia selesaikan di negara itu.E

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status