ログインTatapan mata Nazha kosong menatap ke arah makanan yang telah disiapkan Dimas, menu bubur ayam dan sebotol air mineral, menu makan pagi kesukakannya tapi pagi ini ia benar-benar tak bernafsu makan, diusapnya perut yang semakin membesar, satu bulan lagi bayi dalam perutnya akan lahir tapi ia justru berada ditempat asing jauh dari Devon dan menjadi tawanan Dimas. Nazha bangkit membuka jendela dengan teralis besi, menatap danau kecil pemandangan yang indah tapi terasa hampa.Tiba-tiba pintu terbuka, Dimas ada di balik pintu menatap makanan yang belum disentuh Nazha“Kanapa kamu tidak mau makan , apa kamu ingin bayimu itu tewas sebelum lahir?”ujar Dimas dengan sorot mata dinginNazha menoleh ke arah Dimas.”Jika kamu peduli pada bayiku, antarkan aku kembali pada Devon,”mohon Nazha dengan tatapan penuh harap“Kenapa kamu menolak tawaranku, aku bersedia menjadi ayah dari bayi itu, kita hidup bersama bahagia,”bujuk Dimas berjalan mendekati Nazha“Aku dan Devon sudah saling mencintai, kenapa
Nazha terdiam mendengar pengakuan Dimas, bibirnya terasa terkunci, tak menyangka sedikitpun jika Dimas selama ini memendam rasa cinta pada dirinya.“Tapi aku tidak mencintaimu,”sahut Nazha pelanBrak! Dimas membanting sebuah vas bunga ke dinding, menatap tajam Nazha yang semakin ketakutan“Kenapa?Apa perhatianku selama ini kurang, aku mencintai sejak melihatmu di vila saat itu kamu datang mengetuk pintu, wajah cemasmu dan mata bening serta ketakutanmu waktu itu mampu membuat hatiku bergetar sejak saat itu aku ingin sekali melindungimu,”“Dimas..maafkan aku ,”“Kamu tidak perlu minta maaf, terima saja cintaku, ““Aku sudah menikah.”“Dulu waktu kamu bercerai dengan Reymon, aku juga telah menawarimu untuk menikah denganku, tapi kamu memilih Devon !”suara Dimas meninggiDimas semakin mendekati Nazha sementara Nazha mundur sedikit demi sedikit, tapi langkah Dimas semakin cepat dan kini sudah menarik tangan Nazha.“Ikutlah denganku!”“Tidak Dim, aku tak mau! Lepaskan!”teriak Nazha mulai
Devon meninggalkan rumah Jamal, dahinya berkerut.“Apa Pak Devon serius akan memperkerjakan Jamal, dia itu preman?”tanya mandor“Aku serius, preman pun manusia, butuh kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak ‘kan?”“Anda benar.”Jeeb melintasi jalanan besar , Devon focus menyetir, setelah mengantarkan sang mandor sampai ke rumah, hari sudah malam, ia terlihat berbicang di ponsel dengan serius.“Besok temui aku di hotel,aku butuh bantuanmu mengambar sketsa wajah,”suruh Devon pada seseorang diseberang ponsel“Oke Pak Devon.”Waktu terus berlalu dan pagi itu Devon sudah berada di kamar hotel, bersama, sang mandor, Jamal, dan ahli gambar sketsa“Sebutkan semua ciri-ciri yang kamu lihat!”ucap sang pegambar dengan seriusJamal mulai menceritakan semua yang dilihatnya hingga tergambarlah sebuah sketsa wajah.Devon tampak serius mengamati gambar pria yang wajahnya tertutup masker dan memakai hoodie warna hitam‘Sial dia orang yang sama menyerangku di proyek mall beberapa waktu yan
Untuk sementara pembangunan hotel dihentikan Devon dan Nazha kembali ke Jakarta, sementara si Mandor melaksanakan tugasnya, untuk menyelidiki Jamal, pelaku penusukan.Dua minggu berlalu Jamal, sudah keluar dari penjara dan langsung menuju rumah sakit, disana ia menemui Eneng putri satu-satunya yang sakit, dan hari ini gadis kecil itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan hal itu membuat jamal senang.“Bapak senang kamu sembuh, “ucap Jamal memeluk putrinya lalu memberesi pakaian berjalan keluar kamar. Tanpa sepengetahuan Jamal, Mandor mengikuti setiap gerak geriknya , hingga Jamal sampai di rumah berdinding kusam sederhananya,“Bapak cari uang dulu ya, “ujar JamalJamal terus berjalan menuju arah pasar, seperti biasa memungut parkir liar disepanjang jalan pasar.Sementara itu di Jakarta, Nazha sedang membantu Devon menganti perban bekas luka tusuk, dengan cekatan Nazha mengolesi obat sebelum luka ditutup kembali, Devon menatap wajah cantik Nazha,yang begitu dekat , hidung mancung, d
Tiga hari berlalu, Devon sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit“Sebelum ke Jakarta aku ingin ke proyek hotel Meira dulu,”kata Devon sambil tangannya memegang perutnya yang terluka.“Apa sebaiknya kamu istirahat dulu, jangan pikirkan dulu soal proyek hotel,”Nazha membantu Devon memakaikan kancing kemeja.“Tidak Naz..aku juga ingin tahu kenapa ada kesalah pahaman dengan warga, hingga memicu pertengkaran ini.”Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Nazha mempersilahkan pengetuk pintu masuk dan terlihat dua orang polisi melangkah masuk“Pak Devon sudah bisa kami mintai keterangan?”tanya polisi“Silahkan.”jawab Devon“Orang yang melakukan penusukan belum teridentifikasi karena wajahnya tertutup kain, tapi sudah dipastikan jika itu dari kelompok preman,”jelas polisiLalu polisi memperlihatkan gambar wajah pria yang tertutup kain itu pada Devon. “Mungkin anda mengenalnya?”tanya polisi“Aku tidak mengenalnya , apa lagi setengah wajahnya tertutup.”“Baiklah, menurut investigasi kam
Taksi yang ditumpangi Nazha melaju cepat menuju kota Bandung, beberapa jam kemudian, taksi sudah sampai di sebuah rumah sakit, lalu dengan cepat Nazha berjalan menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Devon“Operasi Pak Devon sedang berlangsung, ibu harus menandatangani berkas persetujuan operasi dan menyelesaikan administrasi rumah sakit,”ucap staf resepsionis“Baik.”Setelah menyelesaikan semuanya Nazha berjalan ke arah ruang operasi, ia duduk disalah satu bangku hatinya gelisah dan sekaligus takut, takut kehilangan Devon karena saat ini hanya dialah yang dimilki Nazha, bulir bening dan rapalan doa terus dipanjatkan. Menit-menit berlalu terasa lama, cemas dan takut menjadi satu hingga pintu ruang operasi terbuka, terlihat dokter keluar, Nazha langsung berdiri“Dok..bagaimana operasinya?”suara Nazha gemetar“Operasinya berhasil, kurang satu senti pisau itu merobek, lambungnya,”jelas dokterNazha terduduk lemas, tapi sedikit lega, setidaknya nyawa Devon terselamatkan.Brankar
Nazha berada di kamarnya usai makan malam dengan Devon, wajahnya berubah sendu ketika menatap dirinya di pantulan cermin, wajah yang terlihat lelah jauh dari kata cantik.“Apakah wanita sepertiku layak untuk dicintai ,”gumamnya pelanManit berlalu malam yang gelap tergantikan pagi yang terang , Naz
Sehariaan penuh rombongan Devon dan Salma berkerja, semua perencanan pembangunan dibahas hari itu juga, hingga menjelang malam mereka baru selesai, Devon memutuskan untuk kembali ke Jakarta esok hari karena hujan lebat saat itu pasti perjalanan akan berisiko.“Kita menginap lagi malam ini !”perinta
Dimas menatap Sheren dan Devon yang sedang makan malam, entah kenapa perintah dari Salma untuk pertama kalinya Dimas engan melakukannya.Hembusan napas terdengar dari bibir Dimas, usai makan malam ia mencari udara segar disekitar resort, teringat akan perintah Salma untuk mencari celah kesalahan S
Dengan kesal Laras meningalkan apartemen Nazha, wajahnya merah padam memendam rasa marah atas semua perkataan Nazha.“Awas kamu Naz…sombong sekali dirimu, aku akan membuatmu diusir Devon seperti ibumu diusir ayahmu ,”gerutu Laras kesalSementara itu setelah Laras meninggalkan apartemen, Nazha duduk







