登入Devon bergegas ke lokasi vila, amarahnyaa sudah sampai di ubun-ubun ingin sekali menghajar Dimas, ia lupa jika luka diperutnya belum sepenuhnya pulih, tapi tekadnya untuk datang sendiri ke lokasi sangat bulat demi keamanan Nazha.Jeeb menuju Bogor dengan kecepatan tinggi.Sedangkan Dimas, yang baru keluar dengan sepeda montor menuju mini market, ia membeli kebutuhan dapur yang cukup banyak dan oba-obatan.‘Setelah Nazha melahirkan, aku akan membawanya ke Singapura, sampai dia melupakan Devon,saat ini pasti Devon sudah menyangka jika Nazha dan aku tewas terbawa arus sungai, ‘batin Dimas penuh rasa percaya diri.Sementara itu vila bambu di jaga oleh satu orang bersenjata tajam,dan selalu berjalan berkeliling vila, Nazha yang melihat itu menjadi putus asa“Heumm …diluar ada penjaga, bagaimana aku akan berteriak minta tolong,”Nazha kembali terduduk persaan cemas membuat perutnya terasa nyeri, ia mengusap pelan perut buncitnya tiba-tiba air mata menetes, mengingat kebaikan Dimas berubah
Tatapan mata Nazha kosong menatap ke arah makanan yang telah disiapkan Dimas, menu bubur ayam dan sebotol air mineral, menu makan pagi kesukakannya tapi pagi ini ia benar-benar tak bernafsu makan, diusapnya perut yang semakin membesar, satu bulan lagi bayi dalam perutnya akan lahir tapi ia justru berada ditempat asing jauh dari Devon dan menjadi tawanan Dimas. Nazha bangkit membuka jendela dengan teralis besi, menatap danau kecil pemandangan yang indah tapi terasa hampa.Tiba-tiba pintu terbuka, Dimas ada di balik pintu menatap makanan yang belum disentuh Nazha“Kanapa kamu tidak mau makan , apa kamu ingin bayimu itu tewas sebelum lahir?”ujar Dimas dengan sorot mata dinginNazha menoleh ke arah Dimas.”Jika kamu peduli pada bayiku, antarkan aku kembali pada Devon,”mohon Nazha dengan tatapan penuh harap“Kenapa kamu menolak tawaranku, aku bersedia menjadi ayah dari bayi itu, kita hidup bersama bahagia,”bujuk Dimas berjalan mendekati Nazha“Aku dan Devon sudah saling mencintai, kenapa
Nazha terdiam mendengar pengakuan Dimas, bibirnya terasa terkunci, tak menyangka sedikitpun jika Dimas selama ini memendam rasa cinta pada dirinya.“Tapi aku tidak mencintaimu,”sahut Nazha pelanBrak! Dimas membanting sebuah vas bunga ke dinding, menatap tajam Nazha yang semakin ketakutan“Kenapa?Apa perhatianku selama ini kurang, aku mencintai sejak melihatmu di vila saat itu kamu datang mengetuk pintu, wajah cemasmu dan mata bening serta ketakutanmu waktu itu mampu membuat hatiku bergetar sejak saat itu aku ingin sekali melindungimu,”“Dimas..maafkan aku ,”“Kamu tidak perlu minta maaf, terima saja cintaku, ““Aku sudah menikah.”“Dulu waktu kamu bercerai dengan Reymon, aku juga telah menawarimu untuk menikah denganku, tapi kamu memilih Devon !”suara Dimas meninggiDimas semakin mendekati Nazha sementara Nazha mundur sedikit demi sedikit, tapi langkah Dimas semakin cepat dan kini sudah menarik tangan Nazha.“Ikutlah denganku!”“Tidak Dim, aku tak mau! Lepaskan!”teriak Nazha mulai
Devon meninggalkan rumah Jamal, dahinya berkerut.“Apa Pak Devon serius akan memperkerjakan Jamal, dia itu preman?”tanya mandor“Aku serius, preman pun manusia, butuh kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak ‘kan?”“Anda benar.”Jeeb melintasi jalanan besar , Devon focus menyetir, setelah mengantarkan sang mandor sampai ke rumah, hari sudah malam, ia terlihat berbicang di ponsel dengan serius.“Besok temui aku di hotel,aku butuh bantuanmu mengambar sketsa wajah,”suruh Devon pada seseorang diseberang ponsel“Oke Pak Devon.”Waktu terus berlalu dan pagi itu Devon sudah berada di kamar hotel, bersama, sang mandor, Jamal, dan ahli gambar sketsa“Sebutkan semua ciri-ciri yang kamu lihat!”ucap sang pegambar dengan seriusJamal mulai menceritakan semua yang dilihatnya hingga tergambarlah sebuah sketsa wajah.Devon tampak serius mengamati gambar pria yang wajahnya tertutup masker dan memakai hoodie warna hitam‘Sial dia orang yang sama menyerangku di proyek mall beberapa waktu yan
Untuk sementara pembangunan hotel dihentikan Devon dan Nazha kembali ke Jakarta, sementara si Mandor melaksanakan tugasnya, untuk menyelidiki Jamal, pelaku penusukan.Dua minggu berlalu Jamal, sudah keluar dari penjara dan langsung menuju rumah sakit, disana ia menemui Eneng putri satu-satunya yang sakit, dan hari ini gadis kecil itu sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan hal itu membuat jamal senang.“Bapak senang kamu sembuh, “ucap Jamal memeluk putrinya lalu memberesi pakaian berjalan keluar kamar. Tanpa sepengetahuan Jamal, Mandor mengikuti setiap gerak geriknya , hingga Jamal sampai di rumah berdinding kusam sederhananya,“Bapak cari uang dulu ya, “ujar JamalJamal terus berjalan menuju arah pasar, seperti biasa memungut parkir liar disepanjang jalan pasar.Sementara itu di Jakarta, Nazha sedang membantu Devon menganti perban bekas luka tusuk, dengan cekatan Nazha mengolesi obat sebelum luka ditutup kembali, Devon menatap wajah cantik Nazha,yang begitu dekat , hidung mancung, d
Tiga hari berlalu, Devon sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit“Sebelum ke Jakarta aku ingin ke proyek hotel Meira dulu,”kata Devon sambil tangannya memegang perutnya yang terluka.“Apa sebaiknya kamu istirahat dulu, jangan pikirkan dulu soal proyek hotel,”Nazha membantu Devon memakaikan kancing kemeja.“Tidak Naz..aku juga ingin tahu kenapa ada kesalah pahaman dengan warga, hingga memicu pertengkaran ini.”Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Nazha mempersilahkan pengetuk pintu masuk dan terlihat dua orang polisi melangkah masuk“Pak Devon sudah bisa kami mintai keterangan?”tanya polisi“Silahkan.”jawab Devon“Orang yang melakukan penusukan belum teridentifikasi karena wajahnya tertutup kain, tapi sudah dipastikan jika itu dari kelompok preman,”jelas polisiLalu polisi memperlihatkan gambar wajah pria yang tertutup kain itu pada Devon. “Mungkin anda mengenalnya?”tanya polisi“Aku tidak mengenalnya , apa lagi setengah wajahnya tertutup.”“Baiklah, menurut investigasi kam
Hampir satu jam Daniel, memeriksa semua dokumen dan ia mulai putus asa, lalu tatapannya beralih pada laptop diatas meja, Daniel, mendekati ke arah meja dan membuka laptop lalu menyalakannya,tapi sayang laptop dikunci dengan nomer kombinasi.“Ahhh sial, bagaimana aku akan mencari tahu apa yang disem
Devon menghela napas panjang setelah kepergian Andi dari kantornya, ia sangat menyayangkan penghianatan Andi. Tiba-tiba ketukan pintu ruangan terdengar Devon menyuruh masuk sipengetuk pintuCeklek!ketika pintu terbuka terlihat Nazha diambang pintu sambil tersenyum di tangannya menjinjing rantang ma
Wajah Sheren langsung pucat, tak menyangka Devon memiliki rekaman cctv dan mengungahnya, kini ia menatap pintu kamar menunggu reaksi Devon dan Nazha. Benar tak lama pintu terbuka dan terlihat Nazha tersenyum penuh kemenangan“Bagaimana unggahan vidio balasan dari Devon, tanpa kami menjelaskan semua
Nazha menatap layar ponselnya wajahnya terlihat sedikit tenang, apa yang dia yakini tentang Sheren sudah ada buktinya, setelah pembicarannya dengan Salma selesai, Nazha berniat menemui Devon di kantor, kini langkah kakinya menuju ruangan Devon, banyak mata yang diam-diam menatapnya.Ceklek, pintu r







