ログインMarib sedang menyusun laporan posisi unit ketika Elara masuk ke markas tanpa mengetuk. Ia mendongak, melihat ada yang berbeda pada mimik wajah Elara, membuatnya menghentikan kegiatannya. Mata adiknya sedikit memerah dan masih ada jejak air mata di pipinya."Elara," ucapnya tanpa menoleh. "Aku kira kau masih di istana Yasmina.""Tugasku selesai lebih awal," jawab Elara."Ada apa?""Hari ini aku melihat Baginda di koridor dekat taman paviliun timur," ucapnya."Dan?""Dia berdiri di sana. Hanya berdiri." Elara menjeda. "Menatap ke arah Putri Yasmina yang sedang berbicara dengan Elena Varen di taman."Marib mengerutkan kening. "Berapa lama?""Cukup lama." Suara Elara masih terkontrol, tapi ada tekanan di bawahnya yang mulai terasa. "Aku datang, berdiri tiga langkah di belakangnya, dan dia tidak menyadarinya. Baginda Erion yang selalu tahu kalau ada orang mendekat dari dua puluh langkah jauhnya, tidak menyadari kehadiranku."Marib terdiam. Ia berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela keci
"Kau sedang apa?" Elena datang seperti biasanya, tanpa pemberitahuan, menerobos masuk ke taman belakang paviliun dengan langkah riangAlisnya naik ke posisi tertinggi begitu matanya menemukan Yasmin berdiri di tengah taman dengan belati di tangan. "Kau terlihat seperti pelayan dapur yang baru pertama kali disuruh memotong daging.""Aku sedang berlatih," jawab Yasmin dengan bermartabat."Berlatih apa? Melukai dirimu sendiri?" Elena melangkah masuk ke taman, meletakkan keranjangnya di bangku batu, dan mendekat untuk memeriksa lebih teliti. "Dan siapa yang mengajarimu?"Elena mengernyit. Matanya bergeser ke sisi kanan tidak jauh dari Yasmin, membuat ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar heran.“Ah… ternyata kau gurunya?’Erion berdiri disana dengan wajah datar. Ia belum pergi.Elena menatap Erion, lalu kembali menatap Yasmin, dan beralih pada tangan Yasmin yang masih memegang belati dengan posisi yang jelas baru saja diajarkan seseorang. Senyum di wajah
“Tuan Putri, anda serius akan berlatih pedang itu?” tanya Voya khawatir melihat Yasmin menebas-nebaskan belati kecil ke udara di taman belakang paviliunnya.Belati itu miliknya untuk membuka amplop, memotong tali atau mencongkel peti. Bukan untuk membela diri. Gagangnya terlalu pendek untuk ukuran tangan dewasa, bilahnya tidak terlalu tajam, dan beratnya tidak seimbang di bagian ujung.“Aku perlu sesuatu yang ku kuasai untuk menjaga diri, Voya.”Yasmin menggenggamnya dengan kedua tangan, menirukan posisi yang pernah ia lihat para prajurit lakukan saat latihan di lapangan.“Jetmir bisa datang lagi, musuh Yasmina yang lain pun bisa datang,” gumamnya memantapkan diri untuk semangat berlatih. “Dan Erion tidak akan selalu ada.”Tangannya kembali mencoba mengayunkan belati ke sisi kanan, menirukan gerakan yang terlihat paling sederhana. Bilahnya membelah udara dengan sudut yang sepenuhnya salah, pergelangan tangannya berputar ke arah yang berlawanan dari yang seharusnya, dan momentum ayuna
“Katakan semuanya,” perintah Erion.Erion berdiri di depan meja peta, tangannya bertumpu di pinggiran kayu, matanya menyapu jalur-jalur yang sudah dihafalnya sampai ke lipatan terkecil. Di sampingnya, Marib berdiri dengan postur yang terlalu kaku untuk sekadar melaporkan kabar biasa.“Pasukan kita di jalur Utara dan Timur terpaksa mundur kemarin malam. Begitu pengiriman tidak datang, koordinator lapangan memutuskan menarik mundur sebelum pos pemeriksaan bergerak melakukan sweeping rutin.” Ia berhenti sejenak. “Jalur Selatan lebih buruk.”“Berapa orang?”“Dua puluh, Baginda.”Ruangan itu sunyi. Mata Erion menyipit tajam.“Dua puluh orang kita tertangkap di pos perbatasan Selatan,” lanjut Marib. Suaranya datar, terkontrol, tapi ada sesuatu di bawah permukaannya yang tidak sepenuhnya terkendali. “Mereka tidak membawa senjata karena mengikuti protokol, hanya dokumen palsu sebagai kurir karavan. Mereka di anggap illegal di jalur itu, karena dokumen itu tidak cukup kuat, dan pemeriksaan cuk
Yasmin terbangun sebelum fajar. Matanya bergerak ke sudut kamar. Matanya menatap dalam Erion yang tertidur di duduk di kursi kayu yang tidak pernah dirancang untuk tidur, tubuhnya sedikit miring ke kiri, kepala bertumpu pada tangan yang menopang dagunya. Matanya tertutup. Napasnya teratur. Rambutnya yang biasanya tersisir sempurna menjadi sedikit berantakan.“Ternyata kau terlihat sangat tenang saat tertidur,” pikir Yasmin.Diam-diamYasmin turun dari ranjang tanpa suara, mengambil selimut ringan yang terlipat di ujung ranjang. Melangkah mendekati Erion dengan hati-hati. Dengan gerakan hati-hati, ia membentangkan selimut dan meletakkannya di bahu Erion, menariknya ke depan hingga menutupi dadanya."Kau seharusnya tetap di ranjang, Yasmin," suara itu rendah, serak, dan berbahaya.Yasmin tersentak hampir menjatuhkan selimutnya. Mata Erion perlahan terbuka, hazel yang biasanya waspada kini terlihat sedikit sayu karena kantuk, namun tetap mengunci tatapannya.“Aku... aku pikir kau tidur,”
Elara tidak langsung menjawab.Ia menatap Jetmir dari ujung kepala hingga ujung kaki begitu cermat. Pria di depannya ini berdiri dengan satu tangan menekan tulang rusuknya, wajahnya rusak oleh tangan Erion, tapi cara berbicaranya tetap terkontrol. Teratur.“Anda tidak terlihat seperti orang yang baru saja dipukuli,” ucap Elara datar.“Dan kau tidak terlihat seperti pelayan.” Jetmir memiringkan kepalanya, matanya yang memar menyipit tipis. “Ratu Cassia tidak pernah salah memilih orang.”Elara tidak bergerak. Tapi telinganya menajam.“Ya, aku tahu siapa kau sebenarnya,” lanjut Jetmir santai, seperti tidak pernah terjadi hal yang mengerikan sebelumnya. “Kau pelayan yang dipilih Ratu sendiri untuk ditempatkan di sisi Putri Yasmina. Bukan untuk melayani, tentu saja. Ratu Cassia tidak membuang orang secerdas dirimu hanya untuk melipat jubah dan menyiapkan teh.”Elara tidak mengkonfirmasi maupun membantah. Ia hanya menunggu.Jetmir melangkah satu tindak mendekat, cukup untuk berbicara tanpa
Yasmin berdiri mematung di depan nisan batu. Ia menatap gundukan tanah itu dengan tatapan kosong, tangannya sesekali bergerak mengambil dedaunan kering yang jatuh mengotori pusara. “Kau ibunya, kan?” bisik Yasmin lirih, suaranya nyaris pecah. “Kau pasti tahu di mana Yasmina sekarang berada. Aku se
Pintu kamar itu tertutup dengan dentum berat, mengunci Yasmin dalam keheningan istana timur yang menyesakkan. Aroma parfum mawar ciri khas Yasmina Sofia Vasnel. Napas Yasmin masih memburu setelah konfrontasi singkat dengan Jetmir dan Erion di teras tadi.”Ini bukan sekadar novel,” bisik Yasmin pad
Dua prajurit penjaga menarik rantai besi raksasa, membuat pintu kayu berlapis logam setinggi lima meter itu bergerak membuka lebar. Gerbang besar Istana Pervane terbuka perlahan dengan bunyi gemuruh yang menggelegar.Yasmin yang duduk di dalam tandu merasakan jantungnya berdebar— campuran antara ta
“Aku dengar kalian di serang pemberontak,” jawab Jetmir, tapi matanya tidak pernah lepas dari Yasmin.“Aku benar-benar lega kau baik-baik saja. Jika tidak, kau bisa terluka parah karena pemberontak itu,” ucap pria tertuju pada Yasmina. Suaranya terdengar lembut, namun menyimpan niat terselubung. “A







