LOGIN"Bentuk formasi melingkar! Amankan tenda utama!" teriak Marib memberi komando pada pasukan yang mulai panik.Erion langsung bergerak memimpin barisan terdepan. Bersama Marib dan beberapa pengawal elit, mereka menerobos keluar dari tirai tenda dengan pedang terhunus, siap menyambut pertumpahan darah. Bau mesiu samar dan kepulan asap pekat langsung menyengat indra penciuman mereka.Para prajurit segera menyisir area sekitar pagar pembatas dengan tombak dan tameng yang terpasang kokoh. Mereka bersiap menghadapi gelombang pasukan Galee yang mungkin merangsek dari kegelapan malam."Mana musuhnya?! Di mana bajingan-bajingan itu?!" tanya salah seorang komandan regu dengan mata liar mencari sasaran.Erion mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru mata angin, tetapi anehnya, tidak ada tanda-tanda pergerakan pasukan musuh. Hutan di luar pagar perkemahan tetap sunyi, menyisakan kesunyian yang mencekam. Tidak ada derap kaki kuda lain, tidak ada sorak-sorai provokasi lawan."Lapor, Baginda
Bab 274: Kedatangan Sang SingaDerap kaki kuda Erion mulai seirama dengan detak jantungnya yang berangsur tenang saat netranya menangkap jajaran tenda militer kain kelabu di kejauhan. Panji-panji berlambang singa emas Pervane berkibar gagah. Laju kuda hitamnya perlahan memelan, membiarkan debu-debu jalanan perbatasan mengendap di belakangnya.“Tahan! Siapa di sana?!” seru seorang penjaga di barikade luar, tombaknya terhunus lurus ke depan.“Kau buta, hah?! Lihat panji jubahnya!” bentak prajurit senior di sebelahnya, buru-buru menurunkan senjata rekannya.Memasuki barikade luar, puluhan prajurit Pervane yang sedang berjaga serentak menoleh. Begitu mereka mengenali sosok tegap di atas pelana, jajaran ksatria yang dulunya merupakan prajurit di bawah asuhan Erion itu langsung menegakkan tubuh.“Hormat pada Panglima Tertinggi! Hidup Raja Erion!” teriak sang komandan regu.Tanpa aba-aba, mereka memberikan penghormatan militer tertinggi dengan mengepalkan tangan di dada kiri, lalu segera mem
“Untuk pertama kalinya aku bisa melawanmu, Yasmina,” bisik Yasmin pada dirinya sendiri setelah kepergian Erion.Saat pemakaman Haman, Yasmin memang hampir kalah. Kesadaran asing milik Yasmina mendesak begitu kuat, merongrong dari dalam, ingin mengambil alih raga ini secara utuh demi meraih empati Erion dengan sikap manjanya.Beruntung, Yasmin mengerahkan seluruh fokus dan tenaganya untuk menolak entitas itu hingga Yasmina terpaksa mundur kembali ke kegelapan.“Hampir saja dia egois ingin mengambil empati di keadaanku seperti ini. Dan Karel… dia benar-benar berniat menarikku mundur,” guman Yasmin tertegun di tepi ranjang. Pikirannya mendadak melayang, mengingat kembali mimpi buruk yang dialaminya sebelum sadar sepenuhnya.Dalam mimpi itu, Karel muncul dalam wujudnya yang sebenarnya—bukan sebagai pria di dunia ini, melainkan sosok dari kehidupan lamanya. Karel menarik lengannya dengan kasar, memaksa dan menyeretnya untuk kembali ke dunia asal mereka.Di tengah keputusasaan itu, sebuah b
"Erion," panggil Yasmin, memecah keheningan di antara mereka. "Apa yang baru saja kau selipkan di balik jirahmu itu?"Yasmin duduk di tepi ranjang, memperhatikan setiap Erion yang tengah memakai jirah. Matanya mengikuti bagaimana jemari kokoh Erion mengancingkan pelindung dada logam, lalu mengencangkan sabuk kulit bertatahkan lambang kerajaan Odissian.Ada semacam ritual bisu yang megah saat seorang raja bersiap menuju medan laga. Saat Erion hendak meraih jubah pertempurannya, pandangan Yasmin menangkap Erion mengambil selembar kertas menyelipkannya di balik lapisan dalam jirahnya, tepat di bagian dada kiri yang paling dekat dengan jantungnya.“Apa itu? Jimat?” tanya lagi penasaran.Erion menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh ke arah Yasmin, lalu sebuah senyuman tipis namun hangat terukir di wajahnya yang tegas. Ia menepuk bagian dada kirinya yang kini terasa sedikit lebih tebal."Jimat keselamatan." Erion terkekeh pelan."Jimat?" Yasmin menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka
Dua hari dua malam berada di desa perbatasan, Erion benar-benar tidak melepaskan pandangannya dari Yasmin. Sang raja mengurus setiap keperluan kekasihnya dengan ketelitian yang membuat para pengawal dan penduduk desa yang lewat di depan pondok tercengang.Ia tidak peduli pada kasak-kusuk orang-orang desa yang melihat seorang penguasa besar Odissian rela menyuapi makanan hangat, hingga mengganti kain kompres dan perban. Rasa rindu yang sempat tertahan selama berbulan-bulan perpisahan kini ditumpahkannya tanpa sisa melalui perhatian yang begitu melimpah.“Erion, berhentilah,” ujar Yasmin pelan saat Erion kembali datang membawa semangkuk bubur gandum baru yang masih mengepul. “Orang-orang di luar terus melihat kesini. Kau seorang raja, tidak pantas melakukan pekerjaan pelayan seperti ini.”Erion duduk di tepi ranjang, meniup perlahan bubur di sendok kayu sebelum mengarahkannya ke bibir Yasmin.“Buka mulutmu. Aku tidak peduli mereka mau melihat sampai mata mereka keluar. Di tempat ini, ak
“Jangan bilang kalau kau...” Erion menggantung kalimatnya.Lidahnya mendadak kaku untuk melanjutkan prasangka yang terlintas di kepalanya. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan. Ketakutan yang belum pernah ia rasakan di tengah medan pertempuran mana pun kini menyergapnya tanpa ampun.Erion perlahan melepas genggaman tangannya, menciptakan jarak yang tidak biasa di antara mereka. Matanya menyipit tajam pada sepasang manik mata yang ada di hadapannya. Seluruh otot tubuhnya menegang, memasang sikap waspada yang mutlak seakan menghadapi musuh tak kasat mata.“Yasmina?” tanya Erion dingin, dan penuh penekanan. Ia sengaja memanggil nama lengkap sang putri untuk memancing reaksi dari jiwa yang kini menguasai raga tersebut.Namun, belum sempat wanita di atas ranjang itu memberikan jawaban atau kepastian atas kecurigaannya, sorot mata yang manja dan asing itu mendadak meredup. Tarikan napasnya memberat, dan perlahan kelopak matanya kembali tertutup rapat. Kepalanya terkulai lemas, memutu
Erion turun melalui tangga batu yang lembap, setiap langkahnya bergema di lorong sempit menuju ruang bawah tanah istana. Dua penjaga membungkuk saat Erion melewati mereka. Tidak ada yang berbicara.Disana seorang pria duduk terbelenggu di kursi kayu, kepala tertunduk, wajahnya penuh luka bekas puku
Lantai marmer kamar yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang, namun Yasmin tidak sanggup diam. Ia berjalan mondar-mandir seperti harimau yang terperangkap dalam sangkar emas. Jemarinya terus meremas kain gaun sutra putihnya yang kini ternoda bercak merah anggur.“Berpikir, Yasmin! berpikir!" bis
Upacara penghormatan terakhir untuk Velmire terlihat seperti kompetisi duka, di mana pemenangnya akan ditentukan dari seberapa meyakinkan air mata mereka. Para bangsawan bergantian maju ke peti mati yang dihiasi bunga lili putih. Wajah mereka dibuat tampak paling sedih, walaupun sebenarnya tidak ad
Dua prajurit penjaga menarik rantai besi raksasa, membuat pintu kayu berlapis logam setinggi lima meter itu bergerak membuka lebar. Gerbang besar Istana Pervane terbuka perlahan dengan bunyi gemuruh yang menggelegar.Yasmin yang duduk di dalam tandu merasakan jantungnya berdebar— campuran antara ta