Mag-log inAya berkali-kali mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama pusat perbelanjaan. Matanya memperhatikan orang-orang yang datang bersama keluarga atau teman, sementara ia berdiri sendirian dengan jemari yang sesekali mengerat pada tali tasnya. Setelah memikirkannya semalaman, ia memutuskan untuk pergi ke luar rumah dan menghabiskan waktu liburnya untuk bersenang-senang. “Jangan takut. Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini,” ucap Aya kepada dirinya sendiri sebelum melangkah masuk. Begitu berada di dalam, Aya berjalan perlahan sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak memiliki tujuan khusus, tetapi semakin lama berada di sana, langkahnya justru semakin ringan dan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Aku mau lihat-lihat saja. Tidak harus membeli apa pun,” gumam Aya. Entah ke mana langkah kakinya membawanya, Aya akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian. Beberapa produk yang dipajang terlihat menarik perhatiannya karena sebagian besar modelnya
Wanita itu masih berdiri di depan meja kasir dengan wajah penuh amarah. Ia meletakkan kantong laundry di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah kemeja berwarna putih dengan noda di bagian kerah. “Ini kemeja suami saya. Sebelum dicuci kondisinya masih bagus, tapi sekarang malah seperti ini,” protesnya sambil menunjuk noda tersebut. Aya menerima kemeja itu dan memeriksanya sebentar. “Ibu menyerahkan pakaian ini ke sini untuk dicuci?” “Iya. Asisten saya yang mengurusnya. Dia bilang kemeja ini dicuci di sini,” jawab wanita itu dengan nada kesal. Aya berusaha tetap tenang meskipun wanita tersebut terus menatapnya dengan tajam. “Baik, Bu. Kalau begitu, boleh saya melihat nota pesanannya?” “Saya tidak membawanya,” jawab wanita itu. “Memangnya tidak bisa dicek dengan cara lain?” “Kami bisa mencoba mencarinya, Bu. Namun, kami tetap harus menjalankan sesuai prosedur,” jelas Aya. Linda yang sejak tadi memperhatikan dari belakang akhirnya menghampiri mereka. “Kalau Ibu tidak membawanya, mungk
Malam itu, Vindra baru saja tiba di rumah sewanya setelah menutup laundry. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu merebahkan tubuh sejenak. Rasa lelah belum sepenuhnya hilang. Namun, pikirannya justru kembali pada percakapan saat ia mengajak Aya makan malam beberapa waktu lalu.Hari itu, sebenarnya Vindra sempat ingin menanyakan satu hal. Ia penasaran apakah Aya sudah memiliki seseorang di sisinya. Tetapi pertanyaan itu urung keluar karena terasa terlalu pribadi untuk diucapkan. “Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti itu?” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit rumah. Vindra mengusap wajahnya perlahan. Selama ini ia tidak pernah mencampuri kehidupan pribadi siapa pun, tetapi entah mengapa ia justru ingin mengenal Aya lebih jauh. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama asistennya muncul di layar sehingga Vindra segera mengangkat panggilan itu.“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu.” Suara asisten itu terdengar gugup. Vindra segera duduk tegak. “Tidak apa-apa. Ada masalah?”
Begitu membukanya, seorang wanita berambut pendek dengan daster sederhana sudah berdiri di hadapannya. Aya mengenali wanita itu sebagai salah satu penghuni rumah susun yang tinggal di lantai bawah. "Ya, ada apa?" tanya Aya sambil menatap wanita itu dengan bingung. Wanita itu melongok ke dalam kamar Aya sejenak, seolah memastikan sesuatu. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan." Aya mengernyitkan kening. "Memastikan apa, Bu?" "Tadi saya melihat ada seorang pria," ujar wanita itu sambil tersenyum kecil. "Sudah pulang, ya?" Aya memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan rasa pening di kepalanya. Pria yang dimaksud wanita itu pasti Vindra. Mungkin ia melihat Vindra keluar dari kamarnya atau melihat mobil pria itu yang terparkir di depan rumah susun. "Iya, dia datang untuk menjenguk saya," jawab Aya berusaha tetap tenang. "Apa dia saudaramu?" tanya wanita itu memastikan. Aya tersenyum tipis sebelum menjawab. "Bukan. Dia teman saya." Mendengar jawaban Aya, wanita itu
Tatapan Vindra bertahan beberapa saat pada Aya. Ada sedikit keraguan pada sorot matanya. “Aku ingin tahu ....” Kalimat itu terhenti ketika ponsel di atas meja berdering. Vindra mengalihkan pandangannya ke layar. Nama salah satu rekan bisnisnya terpampang di sana. “Maaf.” Ia meraih ponselnya. “Sebentar.” Vindra mengangkat panggilan itu dan berbicara singkat. Tak sampai dua menit, ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. “Maaf,” ucapnya sekali lagi. Vindra sempat membuka mulut, seolah hendak melanjutkan pertanyaannya. Namun, ia mengurungkannya. “Lain kali saja, mari lanjutkan makannya.” *** Aya membuka mata dengan susah payah. Tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya, sementara kepalanya masih berdenyut sejak semalam. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi rasa pusing yang datang membuatnya kembali terduduk di tepi ranjang. Mengembuskan napas pelan, Aya meraih ponselnya. Setelah berpikir sejenak, ia membuka ruang obrolan Vindra lalu mulai mengetik pe
Tatapan Vindra masih tertuju pada jalan yang baru saja dilalui Aya. Untuk beberapa saat, pria itu tetap diam di balik kemudi mobilnya.“Kenapa aku malah memperhatikannya?” Vindra menggeleng pelan, seolah ingin membuang pertanyaan yang baru saja muncul.Baginya, Aya hanyalah salah satu karyawan yang baru mulai bekerja hari itu. Tak lebih dari seorang teman lama yang kembali ia temui secara kebetulan.***Sebulan berlalu sejak Aya mulai bekerja. Kesibukan yang dulu terasa asing kini perlahan berubah menjadi rutinitas. Tangannya semakin terbiasa memilah pakaian, mencatat pesanan, hingga melayani pelanggan yang silih berganti datang.Siang itu, mereka berempat berkumpul di ruang istirahat lantai dua untuk menikmati makan siang setelah sibuk melayani pelanggan sejak pagi.Alya membuka kotak bekalnya dengan malas. “Lagi-lagi ibu memasak ayam goreng.”Naura melirik isi kotak makan Alya sebelum terkekeh pelan. “Memangnya kenapa? Terlihat enak.”“Bosan.” Alya menyuap nasi ke mulutnya. “Aku ing







