Share

Bab 2 Istirahat

Author: Leneva
last update Huling Na-update: 2023-04-05 20:21:16

Akhir pekan yang dinantikan pun tiba, sesudah melaksanakan ibadah wajib bagi pria muslim di hari Jum'at, Karel segera menuju resort mewah langganannya di Tanjung Lesung, yang ditempuh sekitar tiga jam dari Jakarta melewati jalan tol yang belum lama ini diresmikan.

Sesampainya di resort Kaleka, ia melepaskan pakaian kerjanya dan berganti dengan t-shirt dan celana bermuda yang lebih santai. Setelah melaksanakan shalat Ashar, Karel berjalan menyusuri pantai yang memiliki pasir putih dengan air laut yang jernih, sehingga dapat terlihat jelas batuan dan karang di dalamnya.

Matahari perlahan mulai tenggelam di ujung laut, menampakkan semburat warna lembayung senja, meneduhkan hati yang gundah gulana. Karel berdiri menatap keindahan laut dan langit yang perlahan berganti warna.

"It's beautiful, just like ..., hmm siapa? Mom?" lirihnya.

Sesaat itupun, ia mulai merasakan kerinduan akan dekapan seorang wanita, juga rasa ingin mencintai dan dicintai. Tetapi rasa yang telah lama ia kubur jauh di dalam hatinya, tiba-tiba membuncah dan menyesakkan dadanya.

Sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, Karel menengadahkan kepalanya menatap langit senja, lalu ia mulai memanjatkan do'a.

"Ya Allah, pertemukan aku dengan cinta sejatiku, cinta terakhirku, cinta yang tak akan hilang walaupun terpisah oleh jarak dan waktu. Kabulkanlah do'aku, ya Allah."

Lalu, sayup-sayup terdengar suara gelak tawa anak-anak yang sedang bermain di pinggir pantai. Ia pun mencari dari mana datangnya suara yang terdengar indah di telinganya dengan berjalan ke arah resort.

Sesaat itupun ia melihat sosok wanita yang tak asing baginya. Walaupun ia sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya, tetapi ia dapat mengenalinya dengan mudah sosok wanita berhijab syar'i itu.

"Al? Alexa?" lirihnya sambil berjalan menghampiri wanita yang pernah menjadi cinta pertamanya.

Tetapi takdir belum mengizinkannya karena begitu melihat ada seorang pria berjalan ke arahnya dan ketiga putrinya, Alexa segera bergerak menuju cottage.

"Ayo kita balik sekarang, sudah hampir Maghrib!" seru Alexa kepada ketiga buah hatinya.

Ketiga putrinya pun berlarian menuju cottage-nya dan disusul oleh Alexa yang memilih untuk berjalan cepat, hal tersebut membuat Karel mengurungkan niatnya untuk menemui Alexa.

"Hmm kok kabur, kamu masih sama seperti dulu, selalu menghindar dari pandanganku. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak bertemu kembali," lirih Karel yang menghentikan langkahnya dan memilih kembali berjalan menyusuri pantai hingga waktu Maghrib tiba.

Alexa adalah nama yang dapat membuat hati Karel berdesir karena Alexa adalah cinta pertama Karel yang ia kenal semasa SMP. Walaupun penampilan Alexa saat ini sudah jauh berbeda dari yang dulu, tetapi Karel tidak pernah melupakan wajah unik yang dimiliki Alexa.

Alexa adalah wanita asli Jawa dengan wajah oriental yang sering disalahartikan sebagai non muslim, terlebih nama yang disandangnya jauh dari kesan islami. Begitu juga dengan Karel, yang memiliki wajah blasteran Eropa juga dengan nama yang jauh dari kesan Islami.

Walaupun begitu, Karel dan Alexa adalah muslim yang taat, sehingga di saat sekolah, mereka berdua sering terlihat bersama menuju musholla untuk mengikuti shalat Dzuhur berjama'ah.

Rasa penasaran Karel akan Alexa telah terjadi dari awal perkenalan mereka di awal tahun ajaran baru. Tetapi, Karel baru dapat mengakrabkan dirinya dengan Alexa, setelah satu semester berjalan. Di saat itulah, Karel mulai bertanya tentang asal-usul Alexa.

"Al, aku kan jelas punya campuran Belanda makanya namaku Karel, tapi kamu? Blasteran mana emangnya?" canda Karel.

"Blasteran Purwokerto sama Banjarnegara," jawab Alexa tanpa ekspresi.

"Daerah ngapak, puol," lanjutnya lagi.

"Kok kamu nggak ngapak?" goda Karel.

Dengan menarik nafas panjangnya dan menghembuskan perlahan, Alexa pun menjawab pertanyaan Karel, "La kepriben, nyong kok dikon ngapak, ora ngandel apa, ne' nyong kie wong ngapak?"

Mendengar logat ngapak Alexa, Karel pun tertawa terbahak-bahak.

"Wah, aku nggak nyangka punya teman ngapak!" seru Karel.

"Aku memang unik, Karl. Hmm tapi unik dan ajaib itu beda tipis, jadi silahkan pikirkan sendiri, aku itu masuk ke dalam golongan yang mana ?" lanjut Alexa santai yang membuat Karel tertawa semakin kencang.

Itulah sepenggal awal pertemanan antara Karel dan Alexa, dimana perlahan rasa itu berkembang. Karel mulai menyukai Alexa secara diam-diam, karena ia tidak ingin Alexa menjauhinya. Lalu memasuki semester berikutnya, Alexa merubah penampilannya dengan memakai jilbab. Perubahan penampilan Alexa ini cukup membuat Karel terkejut, karena Alexa sama sekali tidak pernah menyinggungnya.

"Al, tumben?" tanya Karel singkat di saat istirahat makan siang.

"Ho oh, lagi insyaf," jawab Alexa tidak kalah singkat.

Semenjak saat itu, Karel sering kali memberikan perhatian lebih kepada Alexa, tetapi semua ia lakukan secara diam-diam.

Semua perhatian yang Karel berikan hanyalah sebuah gangguan aneh dan lucu bagi Alexa, sementara itu Karel tidak pernah mengatakan maksud akan perhatian yang ia berikan untuk Alexa.

Tetapi, tanpa mereka berdua sadari, perhatian yang Karel berikan kepada Alexa, mengundang rumor akan perasaan Karel untuk Alexa, yang bertepuk sebelah tangan, karena Alexa tidak pernah menunjukkan sikap yang sama kepada Karel.

Tetapi sayangnya kenangan itu, terpendam jauh di dalam hati Karel karena dengan mengingat kebersamaannya bersama Alexa membuat hatinya sakit menahan rasa yang tidak dapat ia jelaskan dan mengerti.

Keesokan harinya, Karel keluar lebih awal di saat mata hari mulai menampakkan wajahnya di laut dengan harapan akan perjumpaannya dengan Alexa. Tetapi sayangnya, hingga cahaya matahari mulai bersinar lembut di pagi hari, Alexa dan ketiga putrinya tidak menampakkan dirinya.

Karel pun memutuskan untuk mendatangi cottage tempat Alexa menginap, tetapi sayangnya ia tidak menemukan siapapun, kecuali petugas cleaning service yang sedang membersihkan cottage.

"Mas, keluarga yang kemarin menginap di sini kemana, ya?" tanya Karel.

"Oh, mereka tidak menginap, Pak. Kemarin setelah Maghrib mereka sudah check-out, Pak," jawab petugas cleaning service.

"Kok aneh, check-outnya malam hari?"

"Setahu saya, ibu itu memang tidak menginap disini, tetapi hanya memakai cottage untuk beristirahat saja," jawab petugas kebersihan.

"Mas, saya bisa minta nomor kontak ibu yang menginap disini ?" tanya Karel penuh rasa penasaran.

"Wah maaf, Pak. Saya tidak tahu dan menurut peraturan yang berlaku, kami tidak diperbolehkan memberikan kontak pelanggan kepada pihak lain tanpa izin atau sepengetahuan yang bersangkutan."

Pada akhirnya, Karel harus kembali memendam rindunya untuk Alexa, tetapi sesaat kemudian ia tersadar akan betapa dingin sikap Alexa kepadanya.

"Dari dulu kamu tidak pernah sedikitpun menaruh perhatian padaku, mau sebaik apapun aku. Mungkin rasa ini hanya aku sendiri yang merasakannya, sedangkan kamu tidak. Mungkin seumur hidupku, aku hanya dapat memimpikanmu, Al. Semoga kamu bahagia dengan pria pilihanmu," lirih Karel penuh kekecewaan.

Karel pun menikmati sisa akhir pekan dengan memendam rasa rindu akan Alexa, cinta pertamanya.

Sementara itu, di sebuah hotel di pantai Anyer, Alexa asyik memandang jauh ke lautan lepas dan menikmati angin yang bertiup lembut menerpa kulitnya sambil menikmati sarapan pagi bersama ketiga putrinya.

"Eh Bu, ibu merhatiin nggak, kemarin ada bapak-bapak ganteng yang jalan-jalan sendirian di pantai?" tanya Kiara, putri kedua Alexa sambil menaik-turunkan alisnya.

"Ih kamu, bapak-bapak yang mana?" tanya balik Alexa, yang berpura-pura tidak mengerti akan pertanyaan putrinya.

"Itu lho, yang sore-sore itu jalan sendirian, yang tinggi brewokan rada-rada bule gitu. Emang ibu nggak lihat?" tanya Kiara penuh rasa penasaran.

"Nggak, ibu nggak lihat. Lagian ngapain ngeliatin bapak-bapak, entar kalau istrinya tahu bisa rame," kilah Alexa.

"Ish ibu mah, nggak seru! Lagian siapa tahu, si bapak-bapak itu duda yang sedang mencari janda kembang yang memiliki tiga putri yang cantik rupawan seperti diriku ini," canda Kiara sambil meletakkan kedua telapak tangannya di pipinya.

"Kambuhnya sungguh di saat ibu sedang nggak mood. Jadi sekarepmu wae lah," ucap Alexa datar sambil menyantap saladnya.

"Ih ibu, aku kan pingin ayah baru!" lanjut Kiara dengan menunjukkan wajah kesal.

"Iya Bu, cari duda ganteng trus tajir gitu, Bu. Jadi ibu nggak sibuk ngurusin ini itu, kan nanti punya dayang-dayang yang berbaris rapi menanti perintah," sambung Kimi dengan senyum menggoda.

"Halumu...," sahut Alexa.

"Tuh lihat, Kaiya anteng aja," tunjuk Alexa pada putri bungsunya yang tetap asyik menikmati sarapan paginya tanpa memperdulikan kedua kakaknya.

"Iyalah, Kaiya mah selalu konsentrasi penuh kalau makan," canda Kimi untuk menggoda adiknya.

"Udah, nggak usah gangguin Kaiya. Ayo, segera habiskan sarapannya! Setelah ini, kalian bebas mau ngapain aja, yang jelas ibu mau istirahat," ucap Alexa.

Sesudah sarapan, ketiga putrinya asyik bermain di pantai sementara Alexa memilih bersantai di teras kamarnya yang menghadap langsung ke pantai. Menikmati liburan setelah sepekan penuh menjalankan bisnis kateringnya adalah momen yang selalu Alexa nantikan, semenjak ia bercerai dengan pria yang telah memberinya tiga orang putri.

Pria yang dinilai baik oleh banyak orang, ternyata menyimpan sebuah kebusukan yang membuat Alexa tidak ingin berbagi pengasuhan ketiga putrinya dengan sang mantan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 75 Fisioterapi

    Ada kelegaan di hati Karel, karena walaupun Alexa tidak lagi mengenalnya, ia tidak sedikitpun menolak kehadirannya. Alexa tidak menunjukkan keengganan atau penolakan terhadap kehadiran Karel. Pada hari ke-empat setelah ia sadar, terapi fisik mulai dilakukan untuk mengembalikan kekuatan otot-ototnya dan dilakukan bertahap sesuai dengan kekuatan dan kesanggupan tubuh Alexa. Pagi itu, tirai jendela dibuka. Cahaya matahari masuk perlahan. Beberapa saat sebelum dimulainya terapi, Karel menyuapi Alexa sarapan paginya. "Ada bubur ayam, buah sama puding. Mau yang mana dulu?" tanya Karel. "Buah aja, baru buburnya." Karel membuka plastik penutup, sementara Alexa memandanginya tanpa berkedip dan saat Karel menyadari, Alexa tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Karel. Karel pun tersenyum, duduk di samping tempat tidur dan mulai menyuapi Alexa. "Aku mau makan sendiri," tolak Alexa. Karel mendorong meja mendekati tempat tidur, lalu memposisikan meja di depan Alexa. Walaupu

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 74 Seperti Pertama Kali

    Alexa duduk di ranjang, bersandar pada kasurnya yang ditinggikan empat puluh lima derajat. Wajahnya pucat namun tenang, ia tersenyum menatap ke arah tiga putrinya. Ketika suara pintu dibuka dan putrinya memanggil pria itu dengan sebutan ayah, keningnya berkerut dan membuatnya menoleh. Matanya bertemu mata Karel—sebentar saja. Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada kejutan. Hanya tatapan lembut dua orang dewasa yang belum saling mengenal. “Assalamu'alaikum,” sapa Karel dengan suara yang ia jaga tetap stabil. Alexa menjawabnya dengan nada sedikit bingung, seakan bertanya siapakah pria berperawakan tinggi besar itu. Karel tersenyum dan mendekati perlahan sambil bertanya, "Boleh aku mendekat?" Alexa tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya, ada rasa asing sekaligus ketenangan yang tidak ia mengerti saat ia melihat Karel. Kimi tahu, kedua orangtuanya membutuhkan waktu berdua, maka ia memberikan kode kepada Rangga untuk mengikuti kata-katanya. "Bu, ibu ngobrol dulu aja,

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 73 Memberitahu Anak-anak

    Mendengar pertanyaan yang diajukan Kimi, Karel menjawabnya dengan senyum getir, "Iya, tapi nggak amnesia total, ibu masih ingat kalian kok." "Terus, ibu lupa bagian yang mana?" tanya Kimi lagi. "Kalau dari pemeriksaan awal tadi, ibu itu lupa di bagian abi dan tiga jagoan ini. Kalau kalian semua, nggak ada masalah. Besok masih ada observasi tambahan, yang jelas sudah dikonsulkan ke dokter saraf dan psikolog," jawab Karel. Lalu, tiba-tiba putra bungsunya berucap, "Bi, tapi kalau orang lupa sama kita, kitanya masih boleh sayang, kan?" Karel memeluk Raffi dan berucap lirih di telinganya, "Tentu boleh, terkadang ... justru itu bentuk sayang yang paling jujur dan tulus.” "Menyayangi seseorang yang tidak mengingat kita, tidak mengenal kita, itu adalah bentuk rasa sayang yang paling tulus, karena tanpa mengharapkan balasan. Nah, sekarang karena ibu nggak mengenal kita yang laki-laki ini, jadinya untuk sementara waktu kita gantian menjenguknya dan pelan-pelan, khawatir kaget dan ota

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 72 Ternyata Belum Berakhir

    Sang perawat pun bergegas memeriksa Alexa lalu dengan cepat ia berlari memanggil dokter yang bertugas. Para dokter baik pria maupun wanita berhamburan menuju ruangan tempat Alexa di rawat. Pemeriksaan reguler segera dilakukan, penglihatan, pendengaran dan juga suara, hingga tiba pada tanya jawab yang telah menjadi prosedur utama pada pasien yang baru sadar dari tidurnya. "Bu, kami akan memberikan beberapa pertanyaan, tidak perlu ibu jawab cukup beri kode, satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak. Ibu sudah paham?" Alexa menjawab dengan mengedipkan matanya sebanyak satu kali. Dokter pun melanjutkan, "Apakah ibu sekarang tahu berada di mana?" Alexa tidak segera menjawabnya, matanya berkeliling ke segala arah, lalu ia kembali mengedipkan matanya sebanyak satu kali dan juga pada pertanyaan, "Ibu tahu nama ibu?" "Ibu mengenal bapak ini?" Kali ini Alexa tidak segera menjawabnya, ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Kaki

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 71 Pagi yang Penuh Ketegangan

    Mimpi itu datang menelusup di sela kelelahan yang akhirnya membuat Karel tertidur sangat nyenyak. Ia berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding. Langit tampak rendah, berwarna kelabu pucat seperti pagi yang berawan. Di hadapannya, Alexa berdiri mengenakan gaun putih yang sangat cantik—bukan gaun pengantin, bukan pula gaun pesta. Gaun itu sederhana, jatuh lembut mengikuti tubuhnya, seolah cahaya sendiri memilih beristirahat di sana. Alexa tidak menggunakan jilbabnya, rambutnya yang bergelombang terurai indah, wajahnya tenang, dan senyum itu… senyum yang membuat dada Karel menghangat sekaligus perih. “Alexa …,” panggilnya. Suara itu keluar dari bibirnya, tapi tak pernah benar-benar sampai, seolah udara menelannya kembali. Alexa hanya diam. Senyumnya tak pudar, matanya menatap Karel dengan kasih yang dalam, bahkan terlalu dalam untuk sekadar mimpi. Tatapan itu bukan perpisahan, bukan juga kerinduan. Karel melangkah maju, tetapi kakinya terasa berat, seakan tanah menahann

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 70 Ketegangan yang Belum Berakhir

    "Dasar bajingan pengkhianat! Kamu juga termasuk bagian dari... " "Tetapi nalarku masih berjalan dan aku tidak ingin jauh terlibat dengan kalian." Sebuah kalimat yang sangat dingin keluar dari Karel, tanpa ada rasa takut ataupun terancam. Karel muda adalah seorang yang berjuang dengan menghalalkan segala cara, bahkan hingga ia nekat menjadi anggota jaringan peredaran barang haram, narkoba. Tetapi, hari nuraninya selalu berontak, untuk itu, ia melakukannya dalam diam, sangat rapi dan tersembunyi, bahkan ibu dan kedua adiknya tidak mengetahui bisnis haram yang dilakukan Karel. Setelah dua tahun bergelut dengan barang haram, pundi-pundi di dalam rekening banknya telah membengkak dan ia pun memutuskan untuk berhenti. Tetapi disaat itulah ia tertangkap dan penyidik mempunyai rencana yang lebih indah untuk Karel. "Kami akan mengurangi hukuman atau bahkan melepaskanmu, juga menghapus catatan kejahatan ini, kalau kamu memberikan kami nama-nama dan lokasi transaksi kalian." Setelah memp

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status