Share

Balada Cinta Duda Belanda
Balada Cinta Duda Belanda
Penulis: Leneva

Bab 1 KAREL HARDYS

Penulis: Leneva
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-05 14:13:05

Matahari di ibukota memancarkan sinarnya dengan terik menyengat. Hawa panas membuat sebagian besar orang memilih bertahan di dalam ruangan berpendingin udara. Tidak terkecuali Karel Hardys, yang masih setia berhadapan dengan layar komputernya meski jam makan siang hampir berakhir.

Karel adalah pria keturunan Belanda-Betawi yang menjabat sebagai Direktur Operasional PT. Lazeesfood. Sejak pagi, ia sibuk menelaah berkas kerja sama dengan sejumlah UMKM di bawah naungan perusahaannya. Fokusnya nyaris tak terganggu, bahkan oleh rasa lapar.

Sekar, sekretarisnya yang telah membersamai selama hampir lima tahun, berdiri di depan meja kerja dengan wajah penuh pertimbangan.

“Pak, sekarang sudah jam dua belas empat puluh. Bapak nggak istirahat?” tanyanya.

Tanpa mengalihkan pandangan dari layar, Karel menjawab santai, “Saya sudah istirahat. Tadi sudah salat Dzuhur.”

“Maksud saya… Bapak nggak makan siang?” Sekar memperjelas.

“Sudah,” jawab Karel singkat. “Bekasnya ada di meja.”

Sekar menatap dua bungkus kecil biskuit berserat yang tergeletak di sudut meja, ia pun menghela napas panjang.

“Pak, ini cuma dua bungkus pit bur?”

Karel mengangguk ringan.

“Kalau sering begini, lama-lama Bapak bisa sakit,” protes Sekar.

Karel akhirnya meliriknya. “Kenapa? Kamu khawatir atau malah ngedoain saya sakit?”

“Dengan segala hormat, bahkan hormat bendera sekalipun, saya tidak membenarkan tuduhan tidak berdasar itu,” jawab Sekar serius.

Karel tersenyum tipis. “Baiklah. Silakan nikmati sisa waktu istirahatmu, masih ada lima belas menit lagi.”

Sekar beranjak dari hadapan Karel, tetapi bukan untuk kembali ke mejanya, ia justru membuka pintu dan mempersilakan OB masuk yang membawa nampan makan siang untuk atasannya.

Makanan di hidangkan di atas meja tamu dan sebelum sempat Karel bertanya, Sekar segera menjelaskan

“Saya sudah pesan makanan bergizi. Tolong dimakan. Saya tidak mau bawakan obat maag lagi. Ini perusahaan makanan, Pak. Masa direkturnya nggak makan?”

Karel hanya dapat tersenyum dan memandangi Sekar, bergantian dengan piring-piring yang berisi makanan-makanan kesukaannya.

Ia pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih dari Karel.

Karel menatap makanan itu: krim sup ayam jagung, tenderloin steak lengkap dengan mashed potato, serta buah potong berbalut yoghurt. Semua ini membuat senyuman kecil muncul di wajahnya.

“You always know what I need,” gumamnya.

Namun, ia masih sempat kembali bekerja sampai akhirnya perutnya berontak, dengan menahan nyeri, ia duduk di sofa dan mulai menikmati makan siangnya perlahan. Saat itulah ponselnya bergetar dan ternyata pesan singkat dari sang ibu.

Karl, sudah makan belum? Jangan telat lagi. Mama sering dapat laporan dari sekretarismu kalau kamu sering terlambat makan. Ingat, kamu harus menjaga kesehatanmu.

Barusan, mama kirim makanan ke rumah. Mama sudah pesan ke Narsih, untuk menyimpannya di kulkas.

Hati Karel menghangat dan ia merasa tak sepenuhnya sendiri. Ternyata masih ada orang-orang yang peduli padanya.

Sayangnya, beberapa saat setelah ia menyelesaikan makan siangnya, sakit kepala langganannya tiba-tiba menyerang. Ia memijat pelipisnya, berharap sakit itu pergi. Walaupun ia tahu, satu-satunya obat adalah istirahat, tetapi Karel kembali mengabaikannya dan malah menghubungi Mario, sahabat sekaligus dokter pribadinya.

“Aku nggak bisa tidur sekarang… lebih baik telpon Mario.”

Tak lama, ia tersambung, “Kenapa, Bro?” suara Mario terdengar lelah.

“Sakit kepala kambuh lagi.”

Mario mendesah sambil menggelengkan kepalanya, karena keluhan itu sudah tak terhitung keluar dari mulut Karel.

“Karl, mau seratus obat pun nggak akan ngaruh. Masalahmu di psikis. Kamu terlalu memforsir badanmu berbulan-bulan!”

“Aku nggak butuh ceramah. Aku butuh obat."

"Kamu dengar nggak barusan aku bilang apa? Look, aku nggak akan kasih kamu obat lagi. Kamu butuh liburan dan jangan kerja seperti orang gila! Get a vacation! Ke pantai, ke gunung atau ke hati janda yang mau nampung kamu!" seru Mario yang mulai kesal dengan keluhan sahabatnya.

"Usulan yang ke-tiga, kayaknya boleh tuh. Kamu ada kenalan janda kembang nan cantik rupawan dan shalihah?" canda Karel sambil tertawa.

"Oh Man! Kamu memang butuh liburan, statusnya sudah akud! Bukan pakai T lagi, tapi pakai D, plus ada qalqalahnya!" geram Mario tetapi malah membuat Karel terbahak

"Aku nikahin kamu aja deh, you are my healing," canda Karel sambil terkekeh.

"Ih najis! Jijai Lo, Rel! Udah ah, aku nggak akan kasih kamu obat lagi karena obatmu cuma satu, liburan and get a wife!"

"Don't call me again, kalau kamu nggak sedang berlibur atau mau kirim undangan! Bye!" ucap Mario yang segera memutuskan sambungan teleponnya.

"Lah, dokter macam apa ini? Pasiennya nelpon malah dimatiin?!"

Karel pun memainkan kursi kerjanya dengan berputar dan bergerak ke kanan dan ke kiri, mulai mempertimbangkan usul sahabatnya untuk berlibur karena untuk menikah Karel masih membutuhkan waktu untuk memikirkannya, terlebih jika menikah ia harus memulai dari awal kembali dan untuk usianya yang telah lebih dari empat puluh tahun, itu bukanlah hal yang mudah. Di usianya yang seharusnya telah menikmati buah pernikahannya, Karel malah harus kembali single, setelah perceraiannya setahun yang lalu.

Usianya sudah lewat empat puluh dan setahun yang lalu, hidupnya runtuh.

Ingatan pahit itu datang tanpa diundang.

Ia menemukan bukti perselingkuhan Meita—istri yang dicintainya sejak SMA, yang dinikahinya lebih dari lima belas tahun.

“Aku tidak pernah berpaling. Kenapa kamu berkhianat?” bentaknya kala itu.

Meita hanya diam, berdiri dengan pakaian setengah terbuka.

“KENAPA DIAM?!” teriak Karel.

“Aku bosan!” Meita akhirnya berteriak sambil menangis.

“Aku bosan dengan hidup kita yang terlalu sempurna. Aku bosan dengan kamu yang selalu jadi pria baik!”

Emosi Karel meledak. Ia meninju dinding dan darah mengalir dari buku-buku jarinya.

“Jangan sakiti diri kamu,” isak Meita sambil mencoba menahannya.

Karel menepisnya. Dengan mata terpejam dan istighfar lirih, ia mengucapkan kalimat paling menyakitkan dalam hidupnya.

“Untuk apa kamu menyentuhku, setelah kamu menyentuh pria lain?”

“Aku ceraikan kamu sekarang juga!”

Ia pergi di tengah hujan, mengemudi tanpa arah hingga mobilnya kehabisan bensin. Di dalam mobil yang mati mesin, Karel menangis sejadi-jadinya.

“Why, Ta… why?”

Setelah peristiwa itulah, Karel mulai menghabiskan waktu di kantornya dengan bekerja hingga melewati batas waktu. Bukan hanya itu, wajah ramah dan murah senyumnya berubah menjadi kaku dan dingin.

Dengan perawakannya yang tinggi, nyaris 190 cm dan berat mencapai 90 kg, wajahnya yang dihiasi janggut, serta alis tebal yang nyaris bertaut, perubahan karakter ini membuat Karel ditakuti oleh karyawannya, kecuali Sekar. Sekertaris kepercayaannya yang mendampingi selama hampir lima tahun.

“Jadwal kosong saya kapan?” tanya Karel.

Setelah mengecek ponselnya, Sekar menjawab, “Ada Sabtu, tanggal 15, bulan depan.”

“Jum’atnya?”

“Rapat direksi sampai jam sebelas. Setelah itu kosong.”

Karel tersenyum lebar. “Kalau begitu, saya izin Jum’at siang.”

“Izin ke mana, Pak?” tanya Sekar curiga.

Karel bersandar santai.

“Mau cari istri.”

Sekar terdiam.

Dan untuk pertama kalinya setelah setahun, udara di ruang kerja itu terasa… lebih ringan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 75 Fisioterapi

    Ada kelegaan di hati Karel, karena walaupun Alexa tidak lagi mengenalnya, ia tidak sedikitpun menolak kehadirannya. Alexa tidak menunjukkan keengganan atau penolakan terhadap kehadiran Karel. Pada hari ke-empat setelah ia sadar, terapi fisik mulai dilakukan untuk mengembalikan kekuatan otot-ototnya dan dilakukan bertahap sesuai dengan kekuatan dan kesanggupan tubuh Alexa. Pagi itu, tirai jendela dibuka. Cahaya matahari masuk perlahan. Beberapa saat sebelum dimulainya terapi, Karel menyuapi Alexa sarapan paginya. "Ada bubur ayam, buah sama puding. Mau yang mana dulu?" tanya Karel. "Buah aja, baru buburnya." Karel membuka plastik penutup, sementara Alexa memandanginya tanpa berkedip dan saat Karel menyadari, Alexa tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Karel. Karel pun tersenyum, duduk di samping tempat tidur dan mulai menyuapi Alexa. "Aku mau makan sendiri," tolak Alexa. Karel mendorong meja mendekati tempat tidur, lalu memposisikan meja di depan Alexa. Walaupu

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 74 Seperti Pertama Kali

    Alexa duduk di ranjang, bersandar pada kasurnya yang ditinggikan empat puluh lima derajat. Wajahnya pucat namun tenang, ia tersenyum menatap ke arah tiga putrinya. Ketika suara pintu dibuka dan putrinya memanggil pria itu dengan sebutan ayah, keningnya berkerut dan membuatnya menoleh. Matanya bertemu mata Karel—sebentar saja. Tidak ada kilat pengenalan. Tidak ada kejutan. Hanya tatapan lembut dua orang dewasa yang belum saling mengenal. “Assalamu'alaikum,” sapa Karel dengan suara yang ia jaga tetap stabil. Alexa menjawabnya dengan nada sedikit bingung, seakan bertanya siapakah pria berperawakan tinggi besar itu. Karel tersenyum dan mendekati perlahan sambil bertanya, "Boleh aku mendekat?" Alexa tersenyum tipis sambil mengangguk kepalanya, ada rasa asing sekaligus ketenangan yang tidak ia mengerti saat ia melihat Karel. Kimi tahu, kedua orangtuanya membutuhkan waktu berdua, maka ia memberikan kode kepada Rangga untuk mengikuti kata-katanya. "Bu, ibu ngobrol dulu aja,

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 73 Memberitahu Anak-anak

    Mendengar pertanyaan yang diajukan Kimi, Karel menjawabnya dengan senyum getir, "Iya, tapi nggak amnesia total, ibu masih ingat kalian kok." "Terus, ibu lupa bagian yang mana?" tanya Kimi lagi. "Kalau dari pemeriksaan awal tadi, ibu itu lupa di bagian abi dan tiga jagoan ini. Kalau kalian semua, nggak ada masalah. Besok masih ada observasi tambahan, yang jelas sudah dikonsulkan ke dokter saraf dan psikolog," jawab Karel. Lalu, tiba-tiba putra bungsunya berucap, "Bi, tapi kalau orang lupa sama kita, kitanya masih boleh sayang, kan?" Karel memeluk Raffi dan berucap lirih di telinganya, "Tentu boleh, terkadang ... justru itu bentuk sayang yang paling jujur dan tulus.” "Menyayangi seseorang yang tidak mengingat kita, tidak mengenal kita, itu adalah bentuk rasa sayang yang paling tulus, karena tanpa mengharapkan balasan. Nah, sekarang karena ibu nggak mengenal kita yang laki-laki ini, jadinya untuk sementara waktu kita gantian menjenguknya dan pelan-pelan, khawatir kaget dan ota

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 72 Ternyata Belum Berakhir

    Sang perawat pun bergegas memeriksa Alexa lalu dengan cepat ia berlari memanggil dokter yang bertugas. Para dokter baik pria maupun wanita berhamburan menuju ruangan tempat Alexa di rawat. Pemeriksaan reguler segera dilakukan, penglihatan, pendengaran dan juga suara, hingga tiba pada tanya jawab yang telah menjadi prosedur utama pada pasien yang baru sadar dari tidurnya. "Bu, kami akan memberikan beberapa pertanyaan, tidak perlu ibu jawab cukup beri kode, satu kedipan untuk iya dan dua kedipan untuk tidak. Ibu sudah paham?" Alexa menjawab dengan mengedipkan matanya sebanyak satu kali. Dokter pun melanjutkan, "Apakah ibu sekarang tahu berada di mana?" Alexa tidak segera menjawabnya, matanya berkeliling ke segala arah, lalu ia kembali mengedipkan matanya sebanyak satu kali dan juga pada pertanyaan, "Ibu tahu nama ibu?" "Ibu mengenal bapak ini?" Kali ini Alexa tidak segera menjawabnya, ia terdiam cukup lama, hingga akhirnya ia mengedipkan matanya sebanyak dua kali. Kaki

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 71 Pagi yang Penuh Ketegangan

    Mimpi itu datang menelusup di sela kelelahan yang akhirnya membuat Karel tertidur sangat nyenyak. Ia berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding. Langit tampak rendah, berwarna kelabu pucat seperti pagi yang berawan. Di hadapannya, Alexa berdiri mengenakan gaun putih yang sangat cantik—bukan gaun pengantin, bukan pula gaun pesta. Gaun itu sederhana, jatuh lembut mengikuti tubuhnya, seolah cahaya sendiri memilih beristirahat di sana. Alexa tidak menggunakan jilbabnya, rambutnya yang bergelombang terurai indah, wajahnya tenang, dan senyum itu… senyum yang membuat dada Karel menghangat sekaligus perih. “Alexa …,” panggilnya. Suara itu keluar dari bibirnya, tapi tak pernah benar-benar sampai, seolah udara menelannya kembali. Alexa hanya diam. Senyumnya tak pudar, matanya menatap Karel dengan kasih yang dalam, bahkan terlalu dalam untuk sekadar mimpi. Tatapan itu bukan perpisahan, bukan juga kerinduan. Karel melangkah maju, tetapi kakinya terasa berat, seakan tanah menahann

  • Balada Cinta Duda Belanda   Bab 70 Ketegangan yang Belum Berakhir

    "Dasar bajingan pengkhianat! Kamu juga termasuk bagian dari... " "Tetapi nalarku masih berjalan dan aku tidak ingin jauh terlibat dengan kalian." Sebuah kalimat yang sangat dingin keluar dari Karel, tanpa ada rasa takut ataupun terancam. Karel muda adalah seorang yang berjuang dengan menghalalkan segala cara, bahkan hingga ia nekat menjadi anggota jaringan peredaran barang haram, narkoba. Tetapi, hari nuraninya selalu berontak, untuk itu, ia melakukannya dalam diam, sangat rapi dan tersembunyi, bahkan ibu dan kedua adiknya tidak mengetahui bisnis haram yang dilakukan Karel. Setelah dua tahun bergelut dengan barang haram, pundi-pundi di dalam rekening banknya telah membengkak dan ia pun memutuskan untuk berhenti. Tetapi disaat itulah ia tertangkap dan penyidik mempunyai rencana yang lebih indah untuk Karel. "Kami akan mengurangi hukuman atau bahkan melepaskanmu, juga menghapus catatan kejahatan ini, kalau kamu memberikan kami nama-nama dan lokasi transaksi kalian." Setelah memp

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status