Home / Romansa / Balada Perawan Tua / 2. Anggara Prasetya

Share

2. Anggara Prasetya

Author: Rahayu Veni
last update Last Updated: 2025-02-03 16:02:20

Ada apa dengan para wanita itu? Aku sudah menolak mereka tapi mereka masih saja mendekatiku. Apa kata-kataku tidak bisa dimengerti oleh mereka, entahlah aku tidak tahu. 

"Ga, kapan kamu mau kenalin Mama sama calon mantu Mama?" Pertanyaan ibuku selalu terngiang di kepalaku, pertanyaan yang hampir setiap kali beliau tanyakan jika aku mampir ke rumah dan pertanyaan itu pula yang membuatku memilih untuk tinggal di apartemen dibandingkan di rumah orang tuaku.

Ternyata ibuku tidak puas dengan pertanyaan langsung seputar menantu dan pernikahan, ia kembali memborbardir pesan singkat tentang pertanyaan yang sama membuat kepalaku seakan mau pecah. Menikah? Memang gampang?

Seolah dunia tidak ingin membuatku tenang, hari ini lagi-lagi wanita itu kembali menemuiku yang bahkan aku lupa bernama siapa. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya. Sudah jelas-jelas aku mengatakan jika tidak tertarik padanya tapi kenapa wanita itu tetap saja mendekatiku, seperti tidak ada pria lain saja.

"Babe, kamu kenapa sih nggak balas chatt aku. Telepon aku juga kamu nggak angkat," ucap wanita yang sudah duduk di hadapanku, menghalangi pemandangan saja.

Aku enggan menyahut jadi kubiarkan saja wanita itu berbicara.

"Babe," katanya.

"I'm not your babe," sahutku jengah, sungguh ucapannya membuat telingaku berdengung tidak ada indah-indahnya di telingaku.

"Apa sih kurangnya aku buat kamu? Kenapa sih kamu dingin banget sama aku? Aku ini pacar kamu loh Babe."

Sebelah alisku naik mendengar perkataan wanita itu. "Saya? Pacar kamu? Kapan?"

Tidak terdengar jawaban dari wanita itu, mungkin ia malu. Lagipula sejak kapan aku mengajaknya berpacaran? 

"Babe, kita kan udah dekat." Bukannya menjawab malah jadi kemana-mana, dasar wanita.

"Bisa kamu keluar dari ruangan saya? Saya sedang bekerja bukan sedang bertamasya jadi tidak bisa berlama-lama mendengarkan anda bicara," ucapku dengan suara ketus.

Aku sudah kesal karena wanita itu tidak ada malunya. Mengaku-ngaku pacaran denganku hanya karena tempo hari aku pernah mengantarkannya pulang. Menyesal aku sudah mengantarkannya, padahal saat itu aku hanya ingin berbuat baik pada sesama manusia. Jika tahu dia iblis betina, tidak akan mau aku mengantarkannya.

"Aku mau di sini nemenin kamu, aku mau kita makan siang sama-sama," ucap wanita itu dengan nada suara yang membuat telingaku berdenging, menggelikan dan merusak gendang telinga. 

Aku menatap wanita itu tanpa bicara, lalu aku beranjak dari dudukku dan langsung menarik tangannya supaya ia segera meninggalkan ruanganku. Ia berontak dan menolak, ia terus saja mengatakan jika ingin makan siang denganku. Cih, aku tidak sudi. Lebih baik aku makan siang sendiri daripada makan siang dengan kuntilanak yang mengaku-ngaku jadi bidadari.

Jujur, aku tidak suka jika kehidupan pribadiku menjadi konsumsi publik apalagi di hadapan para karyawan yang saat ini meskipun tidak secara terang-terangan menatap aku dan wanita tidak tahu malu itu tapi aku yakin jika telinga mereka dipasang sebaik mungkin untuk mendengar percakapan di antara kami. 

Kekesalanku menjadi-jadi ketika lagi-lagi wanita itu menyebutku dengan sebutan "babe", menggelikan mendengar seseorang yang bukan orang spesial di hatiku tapi dengan lantang dan berani menyebutku dengan sebutan itu. 

Setelah berhasil mengusir wanita yang entah siapa namanya itu, aku langsung kembali ke ruanganku. Niat hati ingin melanjutkan pekerjaan namun pikiranku malah kembali mengingat lirikan mata salah satu karyawanku yang bernama Sandrina tadi. Lirikan mata ingin tahu namun malah membuat hatiku yang ingin tahu apa yang diingin tahukan oleh Sandrina. 

Sandrina memang tidak secantik wanita tadi yang mengaku-ngaku menjadi kekasihku. Tapi, Sandrina memiliki mata yang sangat cantik, menurutku. Apa aku suka padanya, entahlah, masa iya hanya karena matanya cantik aku jadi jatuh cinta. 

Aku memukul kepalaku sendiri karena tiba-tiba saja membayangkan lirikan mata salah satu karyawanku yang sering bertingkah konyol. "Sadar Ga!"

***

[Ga, tadi katanya Michelle datang ke kantor kamu. Kenapa kamu malah marahin dia?] Kulihat pop up pesan dari ibuku. 

Aku memijat keningku. Oh, jadi wanita tadi namanya Michelle. 

[Mengganggu.] Setelah mengetikkan balasan aku memilih untuk mengecek laporan mingguan yang dikirimkan padaku.

[Kurang apa sih si Michelle. Dia itu cantik dan suka sama kamu. Mau cari yang gimana lagi?] 

Aku menghembuskan nafas lelah, ibuku ini tipe ibu-ibu yang tidak akan puas dengan hanya satu jawaban. 

[Kurang suka sama dia.]

[Terus kamu sukanya yang gimana? Mama udah kenalin sama anak-anaknya temen Mama, kamu selalu bilang nggak suka? Apa jangan-jangan kamu sukanya bukan sama wanita?]

Apa ini? Bisa-bisanya ibuku berpikiran seperti itu. Meskipun tidak punya kekasih tapi aku tidak berencana untuk suka dengan pria, aku tetap suka dengan wanita contohnya Sandrina. Eh? Kok jadi tiba-tiba Sandrina, sepertinya aku memang sedang sakit kepala.

[Aku suka wanita.] Balasku.

[Ya udah sama si Michelle aja, dia mau sama kamu.]

[Aku nggak mau sama dia.]

[Terus kamu maunya sama siapa?]

[Sama wanita.]

Bisa kupastikan ibuku akan mengomel panjang lebar setelah membaca pesan terakhirku. Aku tidak peduli, aku malas berurusan dengan wanita yang sudah melahirkanku itu. Ibuku itu terlalu cerewet jika tentang hal yang satu itu, Hanya karena sahabat baiknya sudah memiliki cucu, ibuku jadi ingin ikut-ikutan punya cucu. Padahal dari pada menungguku menikah, lebih baik mengadopsi cucu. 

Kembali mengecek laporan yang sudah masuk, tiba-tiba saja aku ingin menjahili Sandrina. Tidak ada yang salah dengan laporan yang dikirimkannya tapi rasa-rasanya aku ingin menjahilinya saja karena sudah berani melirik-lirik tadi.

Aku ingin tertawa ketika melihat wajah kagetnya saat tiba-tiba aku memanggilnya. 

"Sudah Pak, tadi jam sebelas saya kirim ke email Bapak," jawab Sandrina ketika aku bertanya tentang laporannya. Dari matanya bisa kulihat jika ia takut melakukan kesalahan. Aku ingin tertawa, alhasil aku langsung kembali ke ruanganku setelah mendengar jawabannya. Ia sungguh lucu, tatapannya menggemaskan jadi ingin kubawa pulang. Eh? Sepertinya aku harus memeriksakan kepalaku.

Entah setan apa yang merasukiku, aku jadi ingin terus menjahili Sandrina. Apa ada setan jahil yang menghuni kantor kami sehingga aku yang selalu serius jika di kantor mendadak jahil? 

Pikiranku tentang hantu jahil menguap ketika pintu ruanganku diketuk, ternyata Cahya, asistenku. "Maaf Pak, Bapak nggak makan siang? Atau mau saya pesankan?"

Aku melihat jam di pergelangan tangan kiriku. "Tolong pesankan ayam bakar."

Kulihat Cahya mengangguk. Sebelum Cahya menutup pintu aku kembali memanggil namanya. "Kalau ketemu Sandrina tolong bilang, nanti langsung menghadap saya setelah makan siang."

Kulihat Cahya mengerenyit, ia pasti ingin bertanya alasan Sandrina harus menghadap diriku karena aku yakin dia sudah mengecek laporan yang dikirimkan oleh Sandrina yang seperti biasa selalu sempurna tanpa cela.

"Saya lapar, tolong cepat pesankan," ucapku sebelum Cahya bertanya tentang Sandrina. Aku tidak sabar melihat tatapan lucu Sandrina nanti ketika menghadapku. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balada Perawan Tua   17. Dibeli Pake Cinta

    Setelah perbincangan tentang cucu, aku merasa tidak tenang. Karena pandangan si Bapak yang konon katanya akan menjadi suamiku semakin intens. Aduh! Kok aku jadi merinding."San-san, kapan-kapan main ke ke rumah Mama." Kami sudah selesai makan dan kedua orang tua Pak Anggara mengatakan akan langsung pulang.Aku mengangguk sembari melepas kepergian mereka. Di sebelahku, Pak Anggara masih tetap menatapku."Bapak ih, ngeliatin terus. Serem tahu!" Pria itu malah terkekeh. "Tahu nggak, saya lagi bayangin waktu bikin cucu buat Mama Papa sama kamu," bisiknya dengan seringai jahil yang sering ia perlihatkan akhir-akhir ini.Aku bergidik ngeri. Ia malah tertawa."Suka ih, godain kamu."Aku melengos. Pria ini berbeda sekali dengan kesehariannya di kantor. "San, kita jalan-jalan dulu yuk," ajaknya."Jalan ke mana?" tanyaku."Ya kemana aja, masih pengen berduaan sama kamu soalnya," katanya.Kok aku takut ya mendengarnya. Aku menyipitkan mata. "Bapak nggak akan berbuat aneh-aneh kan?"Pak Anggara

  • Balada Perawan Tua   16. Punya Anak

    Teman-temanku tidak percaya jika aku dan atasanku tidak benar-benar menjalin hubungan istimewa. "Nggak usah malu San, kita tahu kok." Begitu kira-kira ucapan mereka setiap kali aku menyangkal. Mayang pun menjadi getol menggodaku, ada saja pembahasan tentang atasanku di sela-sela perbincangan kami. Bahkan ketika membicarakan tentang makanan pun ujung-ujungnya pasti nama Pak Anggara muncul dalam pembahasan. "Kamu kalau naksir bapake ngaku aja May," kataku sembari geleng-geleng kepala."Kak San nggak usah cemburu gitu deh, aku bukan orang yang suka nikung laki orang kok. Aku mah setia sama si gedung sebelah aja." Mayang malah menggoda. Aku mencebik. "Yang sebelah mana? Kiri atau kanan?" "Kanan dong, kan sebelah kanan lebih baik," jawabnya sembari menaik-turunkan kedua alisnya. "Kayak orang yang ada di sebelah Kak San, itu yang terbaik buat Kak San." Mayang melirik ke arah sebelah kananku, dari wangi parfumnya sih aku bisa pastikan yang berada di sana adalah atasanku. "San, nanti ka

  • Balada Perawan Tua   15. Rukiyah

    Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un

  • Balada Perawan Tua   14. Memintamu

    "Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A

  • Balada Perawan Tua   13. Calon Mantu Ibu

    "Mas Cahya, tolong infoin ke Bapak dong approve perubahan SOP yang aku kirim. Dari kemaren belom di approve sedangkan aku harus sosialisasi besok," pinta Sandrina."Kamu telepon aja San, dia pasti angkat," kata Cahya."Mas Cahya aja yang nelepon, please!" Sandrina memohon."Kamu ini, masa sama calon suami sendiri nggak berani nelepon." Cahya berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala.Mayang tentu saja terlihat penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cahya."Nggak usah gosip deh Mas." Sandrina manyun."Iya nanti aku bilangin," ucap Cahya. "Emang Bapak kemana sih Mas? Bukannya dinas luarnya udah beres ya?" tanya Mayang."Cuti katanya, mau ketemu calon mertua." Cahya melirik Sandrina, namun sayang yang dilirik tampak sibuk dengan layar komputernya."Bapake udah mau nikah?" tanya Mayang lagi.Cahya manggut-manggut. "Sepertinya gitu. Ya kita doakan yang terbaik aja buat si Bapak dan calon istrinya." Lagi-lagi Cahya melirik Sandrina."Mas Cahya?!" panggil Mayang. "Calonnya Bapa

  • Balada Perawan Tua   12. Tahu Sesuatu?

    Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak bisa, yang aku bisa hanya berteriak dalam hati. Bagaimana caranya, ya teriak saja. Selain berteriak aku ingin menangis karena ketidakberdayaanku berkata tidak karena takut menyinggung perasaan orang tua Pak Anggara. Ah! Sial! Kenapa jiwa membela diriku seperti kerupuk kena angin, sebal! Rasa takut kehilangan pekerjaan ternyata lebih besar dibandingkan mengatakan hal sebenarnya pada kedua orang tua atasanku yang dengan menyebalkannya malah senyum-senyum tidak jelas."Kalau minggu depan kita silaturahmi ke orang tua kamu gimana, sayang?" Pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri diajukan oleh Meiske, ibu Pak Anggara.Aku mengedip-ngedipkan mata tidak percaya dengan apa yang didengar indra pendengaranku. "Bisa Ma, aku emang rencana mau ke sana," jawab Pak Anggara yang membuat kedua orang tuanya tersenyum senang."Syukurlah kalau kamu sudah ada inisiatif. Hal baik jangan ditunda-tunda, iya kan Pa," ucap Bu Meiske pada suaminya. Aduh!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status