Home / Romansa / Balada Perawan Tua / 3. Tuhan, Bantu Aku

Share

3. Tuhan, Bantu Aku

Author: Rahayu Veni
last update Last Updated: 2025-02-03 17:51:29

Sudah tiga puluh menit aku berada di ruangan Pak Anggara, namun tidak ada sepatah-katapun keluar dari bibirnya. Bibir sexy yang menurut Mayang kissable itu sedari tadi.

"Pak?" Aku akhirnya memberanikan diri untuk memanggil namanya. Bukannya apa-apa, pekerjaanku masih banyak dan jika terus-terusan berada di sini tanpa ada tujuan yang pasti, pekerjaanku akan terbengkalai pastinya yang bisa mengakibatkan aku tidak bisa pulang tepat waktu. Aku kan karyawan teladan yang selalu datang dan pulang tepat waktu.

Pak Anggara mendongak. "Ya?" 

Aku menatapnya heran, kenapa dia malah bertanya? Bukannya dia yang tadi memintaku untuk duduk di kursi panas sepanas api neraka? Oke, aku terlalu berlebihan. Kursinya sangat nyaman dan tidak panas sama sekali.

Aku mencoba tersenyum meskipun sedikit kesal. "Tadi Bapak panggil saya, kalau boleh tahu untuk apa ya Pak?"

Pak Anggara manggut-manggut. "Oh itu, saya cuma mau panggil kamu saja."

What the hell? Apa katanya? Cuma mau manggil? Memang dasar sialan atasanku ini. Mentang-mentang bos jadi seenaknya sama wong cilik macam aku.

Aku tetap mempertahankan senyumanku. "Jadi, tidak ada masalah apa-apa Pak?" tanyaku memastikan.

Pak Anggara mengangguk. "Tidak ada masalah, laporan kamu tidak ada masalah. Yang jadi masalah, kamu kebanyakan ngobrol sama si Mayang makanya saya panggil ke sini."

Aku menatapnya dengan tatapan bertanya lalu menoleh perlahan untuk melihat ke arah belakang, ternyata kaca di ruangan atasanku bisa di setting untuk bisa melihat keadaan sekeliling. Aku kira selama ini kaca di ruangan atasanku ini tidak ada gunanya. Sial, berarti selama ini Pak Anggara bisa tahu jika aku sering bergosip dengan Mayang. Haduh, besok-besok aku akan begosip lewat chatt saja supaya lebih aman.

Akhirnya aku berhasil keluar dari ruangan atasanku. Mayang, sudah siap bertanya namun dengan tatapan mata aku berkata jika jangan bertanya.

[Keliatan bapake. jangan ngobrol.] Aku mengirimkan pesan singkat di aplikasi pesan yang sudah aku tautkan pada komputerku.

[Ciyus? Bukannya itu kaca cuma buat ngaca doang?] Ternyata bukan hanya aku yang tidak mengetahui fungsi ganda kaca besar yang ada menjadi dinding pembatas ruangan atasanku.

[Ciyus, tadi aku lihat sendiri kalau di setting pake remote langsung terang benderang bisa lihat ke seluruh penjuru ruangan.]

[Anjayati widodo! Jadi selama ini bapake bisa lihat dong kelakuan kita. Anjir! Mas Cahya kenapa nggak pernah bilang-bilang sih kalau kaca itu bisa jadi tembus pandang!] Mayang menambahkan emoji menangis di akhir ketikkannya.

[Makanya kita harus fokus, jangan keliatan ngobrol. Ocre?]

[Hiks, mudah-mudahan nggak di SP ya karena kebanyakan ngobrol.]

[Kata Mas Cahya, yang penting kerjaan beres. Bapake bukan orang yang suka nyinyir karena kita kebanyakan ngobrol kalo kerjaan kita beres.]

Aku dan Mayang memutuskan untuk mengobrol lewat pesan singkat sembari mengerjakan pekerjaan kami. 

Entah perasaanku saja atau memang karena efek jomlo sedari orok, aku merasa jika da seseorang yang selalu memperhatikanku. Aku memandang ke arah kaca besar ruangan atasanku lalu menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pemikiran gila tentang atasanku yang diam-diam tengah memperhatikanku. Aku rasa, Pak Anggara tidak sekurang kerjaan itu untuk memperhatikan remahan rengginang sepertiku ini. Apalagi setelah melihat wanita yang tadi terang-terangan ditolaknya, makin sadar dirilah diriku ini.

Oke, kembali ke dunia nyata. Aku kembali fokus meneliti grafik, tabel yang berisi angka-angka tentang penjualan parfum dan produk kecantikan yang dijual oleh perusahaan tempatku bekerja. Meskipun masih tergolong perusahaan baru dan kecil namun produk-produk kami bisa bersaing di pasaran. Aku, yang sudah bekerja sejak perusahaan ini didirikan sangat tahu bagaimana usaha Pak Anggara membangun bisnisnya. Setahuku, orang tuanya juga memiliki perusahaan namun aku tidak tahu alasan mengapa Pak Anggara memilih untuk membangun usahanya sendiri dibandingkan meneruskan perusahaan orang tuanya.

"Kayaknya kita mesti ajak bapake buat live deh," ucapku ketika melihat hasil penjualan online hari ini tidak jauh berbeda dari hari sebelumnya.

"Kenapa emang?" tanya Mayang.

"Ini, aku kan lihat live produk sebelah. Nah, mereka ajak bos mereka yang ganteng buat live, banyak yang join live sama beli. Kalau kita coba gimana? Biarin lah dibilang ikut-ikutan yang penting kan jualan laris. Apalagi mukanya bapake kan ganteng, bisa jadi daya tarik buat yang mau beli." Aku memperlihatkan layar ponselku yang sedang menampilkan sesi live shopping sebuah brand.

Mayang manggut-manggut. "Usulin aja Kak sama anak marketing," kata Mayang. 

Aku mengangguk. Aku langsung menghubungi tim marketing yang mengurusi penjualan online. Bibirku mengerucut ketika mengetahui jawaban mereka, ternyata Pak Anggara menolak.

"Kenapa Kak?" tanya Mayang.

"Katanya mereka pernah nyaranin ke bapake, tapi bapake nolak," jawabku lesu. Aneh, anak buahnya ingin jualan jadi laris kok malah nggak mau.

"Nggak pede kali, atau nggak memang bapake nggak suka disorot. Aku liat-liat emang di socmed-nya juga jarang nampilin fotonya dia. Kebanyakan pemandangan aja," ucap Mayang.

"Rugi banget muka ganteng nggak dipamerin. Aku sih udah jelas nggak pernah pajang foto karena nggak fotogenic dan mukanya standar, kalau modelan artis mah pasti cekrak-cekrek mulu anywhere, everywhere," kataku sembari menghela nafas.

"Kak San bujuk aja bapake, kali aja kalau sama Kak San bapake nurut," usul Mayang yang sangat tidak masuk akal.

"Sama anak marketing aja yang jobdesc-nya mereka si bapak nolak, apalagi sama aku May," kataku sembari menggeleng-gelengkan kepala. Memang ada-ada saja isi kepala si Mayang ini, kebanyakan nonton dracin memang.

"Nolak apa San?" 

"Astaganaga!" seruku kaget karena tiba-tiba saja Pak Anggara bertanya, macam makhluk halus kedatangannya tidak terdengar.

"Kamu kaget?" tanyanya dengan raut wajah tidak bedosa.

Aku mengelus-elus dadaku. "Enggak Pak, biasa aja," ucapku sembari mendelik.

"Tadi kamu bilang saya nolak kamu? Emang kamu kapan menyatakan cinta sama saya?" tanyanya.

Mayang terkikik.

"Mana ada saya nyatain cinta sama Bapak. Saya lagi ngobrol sama Mayang, kalau Bapak ikut jadi host waktu live shopping mungkin aja penjualan kita meningkat." Meskipun kesal tentu saja aku harus menjawab pertanyaan atasanku kan.

"Baru mungkin kan?" 

"Ya kalau nggak dicoba nggak akan tahu hasilnya Pak," jawabku.

"Seberapa yakin kalau penjualan kita akan meningkat kalau saya ikut live?" tanyanya dengan pandangan setajam cutter yang baru dibeli.

Aku berpikir keras dan cepat. "100%," jawabku.

Terlihat alis sebelah kanan Pak Anggara naik. "Seyakin itu?"

Aku mengangguk cepat. 

Pak Anggara mengangguk-anggukan kepalanya. "Oke, saya akan coba jadi host. Kita lihat seberapa naik penjualan kita. Kalau tidak naik, kamu berhadapan sama saya ya San."

Aku merinding, apalagi ketika mendapat tatapan super tajam dari sang pemilik perusahan. Aku hanya bisa berdoa jika penjualan hari ini dan besok akan naik secara signifikan ketika atasanku itu ikut menjadi host pada live shopping sore ini.

Tuhan, bantu aku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balada Perawan Tua   15. Rukiyah

    Aku kira ucapan Pak Anggara perihal pertemuannya dengan kedua orang tuaku hanya bualan belaka ternyata semua itu adalah nyata. Buktinya pagi-pagi sekali ibuku menelepon hanya untuk mengabari jika kemarin ada calon menantu yang berkunjung ke rumah kami."Pantesan kamu nggak mau Mama kenalin sama cowok, ternyata udah punya pacar," katanya tanpa basa-basi. "Pacar ganteng nggak pernah dibawa ke rumah.""Aku nggak pacaran Ma.""Nggak pacaran gimana? Kalau nggak pacaran, mana mungkin si Angga datang ke rumah." Suara mamaku berada di antara sewot dan senang.Aku menghela nafas lelah. "Beneran Ma, dia itu emang suka becanda. Lagian dia itu kan boss aku di kantor mana mungkin kita pacaran.""Udah deh jangan banyak alasan, pokoknya minggu depan kamu pulang. Angga sama keluarganya mau silaturahmi."Aku mengerutkan kening. "Serius?""Ya serius, dia sendiri yang bilang," jawab mamaku tercinta.Aku memijat pelipisku yang mendadak pening. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh atasanku yang un

  • Balada Perawan Tua   14. Memintamu

    "Ciee... calon mantunya Ibu," goda Mayang.Aku mendelik. Sungguh di luar prediksi saudara-saudara. Aku tidak pernah menyangka jika orang tua Pak Boss yang ngaku-ngaku mau jadi Bapak-nya anak-anakku itu akan berkunjung. Alhasil sebutan Nyonya Boss berubah menjadi calon mantunya Ibu, kampret sekali memang teman-temanku itu."Bentar lagi kantor kita hajatan guys!" Mba Diah yang mengatakan hal itu. "Waduh! Harus siap-siap nyari kado nih," tambah Pak Harun.Aku manyun. "Hey! Calon mantunya Ibu, tolong bilangin dong sama anaknya Ibu buat approve budget." Kali ini Mas Cahya yang menggodaku.Aku mendelik. "Nyebelin!"Mas Cahya tertawa. "Siapa yang nyebelin? Aku sih nggak mungkin nyebelin, pasti yang nyebelin anaknya Ibu ya?"Aku kembali manyun. Mas Cahya tentu saja tertawa.Aku menatap Mayang yang sedang menatapku sambil tersenyum lebar. "Aku senang Kak San akhirnya mau menikah.""Siapa yang mau nikah May," kataku sewot."Lah, memangnya Kak San mau jomlo seumur hidup?" tanya Mayang kaget.A

  • Balada Perawan Tua   13. Calon Mantu Ibu

    "Mas Cahya, tolong infoin ke Bapak dong approve perubahan SOP yang aku kirim. Dari kemaren belom di approve sedangkan aku harus sosialisasi besok," pinta Sandrina."Kamu telepon aja San, dia pasti angkat," kata Cahya."Mas Cahya aja yang nelepon, please!" Sandrina memohon."Kamu ini, masa sama calon suami sendiri nggak berani nelepon." Cahya berkata sembari menggeleng-gelengkan kepala.Mayang tentu saja terlihat penasaran dengan kalimat yang baru saja diucapkan Cahya."Nggak usah gosip deh Mas." Sandrina manyun."Iya nanti aku bilangin," ucap Cahya. "Emang Bapak kemana sih Mas? Bukannya dinas luarnya udah beres ya?" tanya Mayang."Cuti katanya, mau ketemu calon mertua." Cahya melirik Sandrina, namun sayang yang dilirik tampak sibuk dengan layar komputernya."Bapake udah mau nikah?" tanya Mayang lagi.Cahya manggut-manggut. "Sepertinya gitu. Ya kita doakan yang terbaik aja buat si Bapak dan calon istrinya." Lagi-lagi Cahya melirik Sandrina."Mas Cahya?!" panggil Mayang. "Calonnya Bapa

  • Balada Perawan Tua   12. Tahu Sesuatu?

    Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi tidak bisa, yang aku bisa hanya berteriak dalam hati. Bagaimana caranya, ya teriak saja. Selain berteriak aku ingin menangis karena ketidakberdayaanku berkata tidak karena takut menyinggung perasaan orang tua Pak Anggara. Ah! Sial! Kenapa jiwa membela diriku seperti kerupuk kena angin, sebal! Rasa takut kehilangan pekerjaan ternyata lebih besar dibandingkan mengatakan hal sebenarnya pada kedua orang tua atasanku yang dengan menyebalkannya malah senyum-senyum tidak jelas."Kalau minggu depan kita silaturahmi ke orang tua kamu gimana, sayang?" Pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri diajukan oleh Meiske, ibu Pak Anggara.Aku mengedip-ngedipkan mata tidak percaya dengan apa yang didengar indra pendengaranku. "Bisa Ma, aku emang rencana mau ke sana," jawab Pak Anggara yang membuat kedua orang tuanya tersenyum senang."Syukurlah kalau kamu sudah ada inisiatif. Hal baik jangan ditunda-tunda, iya kan Pa," ucap Bu Meiske pada suaminya. Aduh!

  • Balada Perawan Tua   11. Lamaran, Tunangan, Siraman, Nikahan

    Sandrina tentu saja terkejut ketika mendengar ucapan Anggara yang tiba-tiba. Siapa yang tidak akan terkejut disebut calon istri oleh seseorang, terlebih orang itu adalah pemilik perusahaan tempat kita mencari nafkah. Sandrina langsung mengibas-ngibaskan tangannya. "Bu-bu..." Namun perkataannya tidak bisa dilanjutkan karena Anggara langsung mengapit lengannya dan mengatakan dengan tegas pada ibunya bahwa Sandrina adalah calon istrinya.Meiske, ibu kandung Anggara, terlihat sumringah ketika mendengar dengan jelas bahwa wanita manis di depannya adalah kekasih anak semata wayangnya. Pantas saja anaknya itu tidak pernah mau dikenalkan atau mencoba berhubungan dengan wanita yang ia kenalkan."Jadi, kalian kenal di mana?" tanya Meiske. Mereka sedang berada di sebuah restauran yang menyajikan makanan khas Thailand.Sandrina memandang Anggara."Temen di kantor," jawab Anggara.Mata Meiske membola. "Kamu kerja di tempat Angga?"Sandrina mengangguk takut-takut. Jujur, ia takut seperti di drama-

  • Balada Perawan Tua   10. Calon Aku

    Aku tersenyum ketika melihat wajah Sandrina memberengut saat membaca pesanku yang terakhir. Sungguh menggemaskan sekali. Entah mengapa menjahili Sandrina menjadi kebahagian sendiri untukku akhir-akhir ini. Semacam hiburan di tengah-tengah teror blind date yang sering ibuku rencanakan. Bukan aku tidak tahu jika ibuku ingin segera melihatku berkeluarga. Aku tidak menyalahkan sikap ibuku. Ia pasti khawatir anak semata wayangnya ini tidak akan ada yang menemani di hari tua nanti. Namun, terkadang aku merasa kesal juga jika terus-terusan harus berkenalan dengan anak temannya. Aku kembali menatap Sandrina dari balik kaca ruanganku. Ia sedang dalam mode serius namun kulihat sesekali ia berdiskusi dengan Mayang bahkan tersenyum. Senyumnya yang dulu terlihat biasa saja entah mengapa menjadi terlihat sangat istimewa.Ketika aku sedang larut dalam lamunanku tentang Sandrina, ada seseorang mengetuk pintu. Ternyata Cahya. Ia menginformasikan laporan yang harus segera aku review dan mengingatakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status